
Hari yang dinantikan pasangan Theo dan Vinda akhirnya tiba. Pagi ini cuaca sangat terang, langit benar-benar mendukung bersatu dua insan ini.
Vinda kini di rias oleh make up artis di salah satu kamar di mansion itu. Semua wanita yang menjadi bridemaid pun ikut di rias di kamar lainnya.
Theo tidak berhenti mondar mandir di dalam kamar. Membuat siapapun yang melihat nya akan pusing sendiri. Di dalam kamar itu ada Joaquin, Daniel dan Theo.
" Oh ayolah Theo, berhentilah mondar mandir seperti itu. " tegur Dan
" Hiissss.. Kau itu tidak tahu bagaimana rasanya jadi pengantin. Aku Do'akan ketika kau menikah kau akan lebih parah dari aku. " Theo sewot.
" Oh ya siapa yang akan jadi walimu nanti? " tanya Dan
" Jelas Kak Joaquin lah. Siapa lagi?.. Kau... Aku tak mau. " ujar Theo
" Cih siapa juga yang mau jadi walimu. " timpal Dan
" Kenapa harus aku. Kau bisa minta daddy atau uncle Noura? " Joaquin menolak
" Oh ayolah kak, kau adalah kakakku. Jelas kau yang harus menjadi waliku. " kekeh Theo
" Kau tak malu pada keluarga pengantin perempuan jika walimu orang cacat. "
" Kak".... " Tuan. " Daniel dan Theo memekik berbarengan.
" Jangan seperti itu. Kau tidak cacat hanya belum waktunya berjalan. Jadi jangan bicara seperti itu. " Theo menegur Joaquin.
" Woiii... Kenapa atmosfirnya tidak enak begini. Kau berniat lari dari pernikahan ini. " Gilbert datang.
" Ya.... Kalau ngomong jangan sembarangan. " Theo emosi.
" Ayo turun, semua sudah siap tinggal menunggu kau dan pengantin wanita. "
Mereka berempat turun menuju halaman belakang mansion yang sudah di sulap menjadi tempat Theo dan Vinda mengucap janji.
Kini beralih ke pengantin wanita.
Vinda terus menggengam erat telapak tangannya yang mulai berkeringat dingin. Dia sangat gugup, takut bila nanti karena gugup sampai salah mengucap janji suci.
__ADS_1
" Hai Vinda, look you're very beautiful. " Noura masuk dan langsung kagum dengan riasan Vinda.
" Nou, aku gugup sekali. Aku takut salah. " Vinda menggengam tangan Noura
" Jangan khawatir ya, semua pasti akan berjalan lancar. " Noura menepuk pelanggan punggung tangan Vinda.
" Nona, ini waktunya pengantin wanitanya untuk turu. " salah seorang pelayanan memanggil Vinda
Vinda berjalan bergandengan tangan bersama Noura sampai turun ke bawah. Di sana pamannya sudah menunggu untuk mendampingi Vinda berjalan menuju altar. Ayah Vinda sudah meninggal dunia jadilah pamannya yang menjadi walinya.
Paman Vinda tersenyum pada keponakannya memberi ketenangan untuk Vinda agar tidak terlalu gugup.
Vinda dan pamannya mulai berjalan selangkah demi selangkah melewati jalan khusus yang langsung mengarah ke altar dimana seorang Pendeta sudah di sana untuk memimpin upacara pernikahan ini.
Nampak dari kejauhan Theo tersenyum ke arah Vinda. Melihat senyum pria yang dicintainya membuat rasa gugup itu menguap hilang diganti dengan kebahagiaan.
Sesampainya di altar tempat pengucapan janji suci, paman Vinda menyerahkan tangan keponakannya untuk disambut oleh Theo.
" Berjanjilah kau akan membahagiakannya dan menjadikan dia ratu dalam hidupmu. " Paman berkata lalu tangannya menyerahkan tangan Vinda pada Theo.
" Aku berjanji. " janji Theo ketika tangan Vinda sudah ada di genggamannya.
" Silahkan ucapkan janji suci mempelai masing-masing. " Pendeta mempersilahkan mempelai untuk mengucap janji Suci.
Theo nampak menghela nafas panjang, menetralkan rasa gugup yang melanda nya.
" In the nama of God, I, Matheo de Niels take you Vinda Trafagar to be my wife to have and to hold from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer in sickness and health, to love and to cherish, until we are partes by death. This is my Solemn yow. " Theo mengucap janji dengan mantap.
" In the name of God, I, Vinda Trafagar take you Matheo de Niels to be nya husband........ " Vinda juga mengucapkan janji dengan mantap.
" Silahkan memasangkan cincin pada pasangan."
Theo mengambil cincin dengan berlian merah di tengahnya lalu memasangkannya pada jari manis Vinda begitu pula sebaliknya.
" Silahkan mencium pasangan anda. "
Pipi Vinda sudah merona merah karena malu. Ini adalah ciuman pertama mereka setelah sekian tahun mereka berpisah.
" Cium... Cium... Cium... " para tamu undangan meneriaki pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
Theo mencodongkan kepalanya, laku secara perlahan menyatukan bibirnya dengan bibir Vinda. Mereka berdua saling me****t bibir masing-masing. Setelah beberapa saat ciuman itu akhirnya selesai. Para tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah. Menyambut pasangan baru itu.
Vinda sudah bersiap membelakangi para tamu undangan. Ini adalah saat yang paling ditunggu oleh tamu undangan yaitu pengantin wanita yang melempar bucket bunga.
Dipercaya yang menangkap bucket itu akan segera menikah. Hal itu menjadikan antusias para tamu undangan meningkat. Mereka yang berjenis kelamin perempuan bergerombol di belakangan pengantin wanita. Vinda melemparkan bucket bunga itu tanpa melihat ke belakang.
Happp
Noura lah yang menangkapnya, padahal dia berdiri paling belakang tapi malah dia yang berhasil menangkapnya.
" Wah kakak, ditunggu lamarannya tuh sama kakak ipar. " celoteh Theo.
Semua tamu undangan dan keluarga pengantin itu dibuat tertawa oleh celotehan sangat pengantin pria. Daniel dan Gilbert juga tertawa sambil menepk pelan pundak Joaquin. Yang sedang digoda justru memalingkan wajah karena malu.
" Kakak ipar kami semua menunggu undangan pernikahan kalian ya. " Gilbert menggoda Noura.
" Kalian salah jika mengatakan itu padaku. Tuh tanya kakak kalian. " Noura menunjuk Joaquin. Sedang yang ditunjuk hanya tersenyum tipis memandang Noura.
q
Ini foto pengantinya ya.
Daddy Adeard dan paman Lucio mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan.
Langit nampak akan berganti warna tapi tidak menyurutkan antusiasme para tamu undangan untuk menikmati hidangan. Di tengah meja perjamuan ada lantai dansa. Siapa saja yang ingin berdansa diperbolehkan naik lantai dansa.
Joaquin dan Noura duduk di meja yang sedikit jauh dengan lantai dansa. Sifat Joaquin yang tidak menyukai keramaian membuatnya memilih menepi, Noura pun memilih menemani kekasihnya itu.
" Kau senang" Joaquin bertanya.
Noura hanya mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Joaquin. Walaupun di sudut hatinya merasa iri pada Vinda dan Theo. Joaquin tidak kunjung membicarakan keseriusannya untuk menjadikan Noura pendamping hidupnya. Noura sendiri merasa tak enak bila bertanya.
" Maaf aku belum bisa mewujudkan mimpimu. Setidaknya tunggu sampai aku bisa memantaskan diriku bersanding denganmu. Aku tidak ingin kau menjadi bahan omongan orang jika aku menikahimu dalam kondisi seperti ini. " Noura langsung menatap Joaquin.
" Aku akan menunggumu. Itu janjiku. " Noura tersenyum
__ADS_1
Noura percaya bahwa pasti akan berakhir dengan indah kisah cintanya. Karena itu dia akan bersabar menunggu sampai kekasihnya itu siap. Bukankan bersabar termasuk pengorbanan untuk cinta.