
Mata Joaquin tidak pernah lepas memandang ke arah dimana sang istri berada. Silahkan orang mengatakan dia possesiv, over, ataupun bucin sekalipun, baginya yang terpenting dia bisa melihat kemana saja dan bagaimana sang istri berekspresi. Empat tahun, mengajarkan banyak hal pada Joaquin. Salah satunya adalah waktu perpisahan baik sementara atau selamanya tidak ada yang tahu. Maka Joaquin akan sebanyak-banyaknya membuat kenangan tentang mereka.
" Kak, ada tamu penting yang hadir. Malik bilang dia adalah salah satu teman kakak." ujar Theo. Kedatangannya telah menganggu Joaquin yang asyik melamun.
" Mungkin dia Hoshi Narita, pewaris tahta bisnis keluarga elite di Jepang." terang Joaquin menebak siapa tamu penting yang dibicarakan oleh Theo.
Joaquin menghampiri meja dimana sang istri tengah asyik bergosip dengan ipar Joaquin. Keinginannya untuk mengenalkan sang istri pada teman baik yang pernah menolongnya itu kini akan dia wujudkan. Joaquin mengajak Noura untuk mendatangi tempat dimana Hoshi Narita dan keluarganya berada saat ini.
" Kak Jo.." panggil Bintang yang tadinya akan duduk tapi begitu melihat sang pemilik acara dia langsung memanggil. Joaquin menggandeng tangan Noura menuju ke meja yang diduduki oleh Bintang.
" Terima kasih sudah datang." ujar Joaquin menjabat tangan Bintang dan Bulan, nyonya muda narita.
" Apa ini adalah istrimu kak Jo?" tanya Bintang saat menjabat tangan Noura.
" Hm... Dia adalah nyonya Niels." jawab Joaquin.
" Senang bertemu dengan anda kakak ipar, ini istriku Bulan dan ketiga putra ku."Bintang memperkenalkan keluarganya.
" Anak kalian kembar tiga?" tanya Noura terlihat antusias.
" Kenapa anda terlihat terkejut sekali kakak ipar, bukankah anak anda kembar lima." ujar Bintang.
" Kamu benar, apa kalian ingin berkenalan dengan kelima anak kami?" tawar Noura.
" Tentu saja, pasti anak-anak akan senang bertemu dengan orang-orang baru." Bintang mengiyakan tawaran dari Noura.
__ADS_1
Joaquin pun meminta tolong pada Malik untuk mengajak kelima anaknya kemari. Joaquin ingin ada hubungan yang baik antara anak-anak sama seperti hubungan baik antara orang tuanya. Siapa tahu ketika dewasa nanti akan bertemu lagi di dalam dunia bisnis dan bisa saling membantu.
Sambil menunggu kelima anaknya menemui mereka, Joaquin dan Noura berbincang ringan dengan Bintang dan Bulan. Mulai masalah bisnis hingga masalah perempuan pun mereka bicarakan. Bulan merasa sangat cocok dengan sosok Noura meski baru pertama kali bertemu begitu pula sebaliknya.
" Aku nggak nyangka lho, kita baru ketemu tapi sudah nyambung ngomongnya. " ujar Noura merasa senang karena memiliki teman baru.
" Aku juga merasa begitu kak, seneng ya suami kita cocok kitanya juga. Kan ada tuh yang suaminya cocok tapi istri-istrinya perang batin. " Bulan menimpali.
" Hemmm kapan-kapan kita jadwalin ya liburan bareng, sebelum kamu berangkat ke Jepang. Kan seru nantinya. " ujar Noura senang.
" Boleh kak, kira pilih tempatnya yang muat buat kita ya. Karena aku pengen ngajak abang aku yang nikah sama sepupunya suami aku. "
" Benaran? Wah bener deh dunia cuma selebar daun kelor. " keduanya tertawa bersama. Seneng juga sama-sama nyambung ketika bicara.
Joaquin tersenyum melihat sang istri yang tertawa bersama dengan istri temannya. Bahagianya dia hari ini karena berulang kali bisa membuat Noura tersenyum dan tertawa bahagia. Menghapus semua kenangan pahit dan menyedihkan bagi mereka selama empat tahun belakangan ini.
" Sepertinya ada yang makin bucin nih. " ledek Bintang. Dia menatap Joaquin yang senyum sendiri saat kedua matanya menatap wajah sang istri yang tersenyum.
" Cih... memangnya kau tidak? Lihat saja kau akan tahu bucin atau tidak saat saingan cintamu itu datang mengambil istrimu. "
" Jangan.... " pekik Bintang. Joaquin langsung tergelak, lucunya teman yang sudah seperti adiknya itu jika dicandai perihal sang istri dan saingan cintanya.
" Kakak menyebalkan... Eh itu..... kenapa mirip.... mirip.... sekali.... dengan mu .... kak? " Bintang bicara tergagap saat melihat tak jauh dari tempatnya ada lima anak kembar tapi ada satu yang wajahnya begitu mirip dengan Joaquin.
" Ohh... Itu Gaffi, kembar nomor tiga. " ujar Joaquin menuntaskan keheranan Bintang.
__ADS_1
Joaquin memperkenalkan anak-anaknya dan Noura pada Bintang dan Bulan. Dari Galen sampo Geya, diperkenalkan. Bintang dan Bulan yang melihat itu semua begitu senang yang tak terkira lagi. Keduanya membayangkan triplet ketika umur empat tahun pasti selucu anak-anaknya Joaquin dan Noura ini.
" Sayang sekali kami tak punya anak perempuan, jika punya pasti akan sangat menyenangkan jika dijodohkan. Benarkan Shujin? " celetuk Bulan.
" Hahhahaha.... Kalau itu gampang sayang, kita tinggal buat lagi. " Bintang menaik turunkan alisnya dengan menampilkan senyum mesum khasnya.
" Heh... Siapa yang bilang triplet saja cukup? Kenapa sekarang ingin minta lagi. " Bulan mencubit pinggang Bintang keras sekali. Yang dicubit langsung meringis menahan rasa sakitnya.
Semuanya tergelak, bahkan anak-anaknya Joaquin dan Noura yang dianggap seusia itu belum paham, tapi karena kecerdasan mereka yang di atas Rata-rata jadinya mereka paham betul apa yang Bulan dan Bintang perdebatkan.
Joaquin saja begitu jenius, sudah pasti hal itu menurun pada anak-anak nya. Hanya saja yang paling jenius adalah Galen putra pertama mereka.
Kelima anak Joaquin dan Noura mendekat ke arah stroller bayi yang ada triplet di sana. Galen mendekat ke arah Dai, kemudian dia mengeluarkan pipi dari bayi gembul itu. Dai langsung menggenggam tangan Galen yang menyentuh pipinya.
" Tatak.... " ujar Dai memanggil Galen dengan sebutan kakak.
" Dia akan menjadi orang hebat ketika dewasa nanti. Paman dan bibi beruntung memilikinya. " ujar Galen seperti seorang peramal saja berucap seperti itu.
" Hehehehehe... Benarkah begitu? " Bintang tersenyum kikuk. Bukannya tak percaya, tapi rasanya Galen terlalu kecil untuk mengerti akan hal semacam itu.
" Apa paman tidak percaya? Tapi apa yang dikatakan Galen selalu benar adanya paman. " nampak Geya berceloteh.
" Bukan paman tidak percaya sayang, tapi masa depan seseorang itu tidak ada yang tahu. " ujar Noura mencoba menjelaskan pada Geya, bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Galen adalah doa, bukan ramalan.
Anak-anak dan orang dewasa masing-masing melakukan apa yang mereka suka. Bulan dan Bintang masih asyik ngobrol dengan Noura dan Joaquin. Memiliki teman baru yang sefrekuensi itu gampang-gampang susah. Tapi dengan satu sama lain, kedua pasangan itu merasa cukup nyaman saat berkumpul bersama seperti ini.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit kisah Noura dan Joaquin akan bergeser menjadi kisah kelima anaknya ketika mereka besar nanti. Joaquin dan Noura tidak sabar untuk segera bisa melihat anak-anak mereka menjadi dewasa dan mengalami apa yang Joaquin dah Noura alami saat ini, yaitu rumah tangga.
-