
Langit malam yang indah menjadi saksi kedua insan yang sekarang ini tengah menikmati hidangan makan malam mereka di tepi pantai. Langit malam yang bertabur bintang menjadi pemandangan romantis untuk dipandang mata.
Noura terus tersenyum merasakan kebahagian yang lama sekali ingin dia rasakan. Makan malam romantis bersama pria yang dicintai, bukankah sebuah kebahagian. Joaquin juga merasa senang karena bisa melihat senyum indah milik Noura. Senyum yang semakin mempercantik wanitanya itu.
" Tolong kalian ambilkan selimut untuk nyonya kalian. Angin malam tak baik untuk ibu hamil. " tiga Joaquin pada pengawal yang berdiri tak jauh dari mereka.
" Baik tuan. " pengawal itu pun berlari ke arah villa untuk mengambil selimut.
Tak lama pengawal itu membawa dua selimut, inisiatif nya sendiri siapa tahu tuan muda mereka juga membutuhkannya. Joaquin langsung memakaikan selimut itu ke tubuh Noura yang semakin berisi saja sejam kehamilannya.
" Pakai ini, aku takut kau masuk angin nanti. " Joaquin memakaikan selimut itu pada istrinya.
" Kau juga pakailah, bukankah selimut nya ada dua. Aku juga tak ingin kau kedinginan atau sakit. " ujar Noura.
" Heem. "
Keduanya kembali menikmati kencan romantis mereka. Tak pernah Joaquin sangka di kehidupannya ini akan ada halal romantis seperti ini. Setengah dari hidupnya dipakai untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya, jadi tak pernah terpikirkan olehnya bisa merasakan kebahagian semacam ini.
Joaquin terus menatap wajah Noura yang entah kenapa nampak sangat seksi saat sinar bulan menyorot wajahnya. Jika tak ingat pesan dari dokter kandungan Noura, rasanya Joaquin sangat ingin menerkam Noura sekarang juga. Tapi hal ini harus ditahan olehnya agar tak menyakiti anak dan istrinya.
" Boleh aku tanya sesuatu padamu? " tanya Noura, matanya masih menatap lautan yang disinari rembulan.
" Tanya saja. Aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan. " jawab Joaquin.
" Tentang paman mu. Kau sudah merelakan semua dendam mu? "
__ADS_1
" Sudah. Dia sudah menyesali kebodohannya. Doa juga sudah mengerti maksud kedua orang tuaku. Saat hukuman itu dijatuhkan dia juga sempat bicara padaku kalau dia sangat menyesal. Lagi pula hukuman yang paling baik untuknya adalah penyesalan. " jawab Joaquin. Pikirannya melayang pada hari dimana pamannya menjalankan hukumannya. Hari yang menjadi hari terakhir mereka bisa bertemu.
Flashback
Joaquin berjalan menyusuri lorong yang ada di penjara tempat pamannya menjalani hukuman. Lorong menuju tempat eksekusi pamannya itu membuat hatinya terasa tak menentu. Sedih, lega, dan bahagia terus meliputi hatinya. Sebenarnya saat melihat pamannya yang menyesal saat mengetahui maksud sebenarnya kedua orang tuanya, Joaquin sudah sangat ingin mengampuni pamannya. Tapi kembali lagi, hukum tetap harus ditindak.
" Kau datang Jo. " sapa Joshua tersenyum bahagia melihat keponakannya datang di hari terakhirnya bisa hidup di dunia.
" Ehmmm..... " Joaquin menjawab dengan deheman
" Ini. Kau yang berhak memilikinya. Semua yang ada di bawah keluarga ku akan tunduk pada mu saat kau memperlihatkan hal ini. " Joshua memberikan lencana dengan lambang keluarganya pada Joaquin.
" Ambil saja paman, kau bisa membawanya pergi bersamamu. Aku sudah berencana untuk mengoperasikan mereka secara legal. Jadi aku tak membutuhkan lagi benda itu. " tolak Joaquin.
" Terima kasih Jo. Dan maafkan aku atas semua yang telah aku perbuat padamu. Aku..... aku.... telah... membuatmu.. men... menderita. " ujar Joshua terisak. Rasanya tak pantas jika dia masih mendapatkan maaf dari Joaquin setelah apa yang diperbuatnya di masa lalu.
Eksekusi pun dilaksanakan. Joshua lebih memilih meminum racun daripada harus digantung di depan umum. Setidaknya dia ingin mati dengan cara yang terhormat. Joshua ingi, semua orang yang pernah mengenalnya tak akan menghinanya karena dihukum gantung.
Joaquin memeluk untuk terakhir kalinya sang paman. Sosok paman yang begitu dikaguminya sejak masih kecil. Sosok paman yang selalu ada di sampingnya dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Joaquin ingin melepas pamannya sebagai keluarga, bukan sebagai musuh.
" Istirahatlah dengan tenang paman. Semoga kau bisa mendapat pengampunan dari Allah. " ucap Joaquin saat sang paman sudah tak bernyawa lagi.
Untuk menghormati keluarganya, Joaquin juga memakamkan jasad pamannya di ladang bunga matahari bersama dengan kedua orang tuanya. Joaquin berharap, mereka bertiga bisa menyelesaikan kesalahpahaman mereka di atas sana.
Flashback off
__ADS_1
Joaquin mengajak Noura masuk ke dalam saat hari sudah semakin malam, angin juga sudah semakin dingin. Joaquin mengajak Noura beristirahat setelah sebelumnya membersihkan diri mereka. Malam ini kembali diakhiri dengan senyum yang terus mengambang di kedua bibir mereka.
Keesokan harinya Joaquin mengajak Noura untuk bermain di pantai. Ini adalah pertama kalinya mereka bermain bersama seperti hari ini. Kencan di hari kedua telah dimulai.
Joaquin dan Noura saat ini sedang berjalan menyusuri pantai sambil melihat lautan luas yang selalu saja membuat mereka terpesona. Apa lagi ketika melihat langit dan lautan menjadi satu di titik terjauh pandangan mereka.
" Pantai adalah tempat yang sangat mengesankan. Sayang aku sedang hamil jika tidak aku ingin sekali menyelam melihat indahnya dunia bawah laut. " ucap Noura. Dia termasuk salah satu penyelam handak karena itu adalah hobinya sejak kecil.
" Suatu hari nanti kita akan menyelam bersama anak-anak kita. " Joaquin berusaha menghibur Noura. Mood swing yang dialami oleh bumil, termasuk Noura menjadikan masalah sepele menjadi masalah besar.
" Kau benar, kita akan liburan lagi di pantai saat anak-anak kita sudah lahir. " Noura tersenyum.
Keduanya juga berfoto ria mengabadikan momen indah kencan pertama mereka ini. Dulu saat di negara Ini mereka tak pernah kencan karena saat itu Joaquin masih duduk di kursi roda. Sekarang ini Joaquin sudah bisa berjalan, jadi dia sangat bersemangat mengajak istrinya untuk kencan. Justru lebih menyenangkan jika berkencan saat sudah menikah, lebih leluasa karena sudah sah.
" Kita cetaknya nanti, lalu kita pajang di kamar kita. Aku ingin setiap momen berharga dan bahagia kita akan selalu diabadikan seperti saat ini. " ujar Noura terlihat bersemangat.
" Aku akan menuruti apapun keinginan Ratu dalam hidupku ini. Kita akan membuat banyak momen indah bersama sekarang dan seterusnya. "
Mereka berdua kembali ke arah villa saat dirasa sudah lelah dan lapar karena mereka belum sarapan. Joaquin yang melihat Noura sedikit lambat berjalan karena lelah pun mengendong istrinya itu ala bridal style.
Noura tersenyum merasakan perhatian dari pria yang sudah menguasai hatinya ini. Meski sudah lima tahun bersama Robin, tapi tak sekalipun Noura melupakan sosok anak laki-laki yang selalu menemaninya kalau berlibur ke rumah uncle nya. Meski kabar saat itu mengatakan bahwa anak laki-laki itu sudah meninggal dunia.
Bibir keduanya tak pernah menyurutkan senyum bahagianya. Melihat mereka berdua seakan kota semua ini hanya numpang hidup di bumi, dunia milik berdua lah pokoknya.
__ADS_1
" I love you... "
" Loye you too.. "