
Dia sebuah rumah sakit ternama di kota M, Daniel beserta dengan Ryo sedang menunggu hasil dari tes DNA yang dia lakukan dengan anak dari perempuan bernama Whitney itu beberapa hati yang lalu. Daniel terus saja mondar-mandir, tidak tenang dengan kabar yang akan dia dapatkan saat ini. Dia takut apa yang dia percaya salah dan justru membuatnya menelantarkan anak kandungnya.
Joaquin langsung pulang pada malam hatinya, setelah menyidang Daniel dan Whitney. Joaquin takut saudaranya dan juga iparnya kewalahan mengurus empat putra Joaquin yang bisa dibilang cukup istimewa. Jika tentang putri bungsunya, Joaquin yakin tidak akan ada masalah karena sudah dirawat oleh Theo dan Vinda sejak masih berusia nol bulan.
" Tuan... Apa anda tidak bisa duduk? Saya sudah sangat pusing dan karena anda, pusing di kepala saya tambah parah. " tanya Roy sarkas.
" Ck... Memang apa yang membuat mu pusing Ha. " sentak Dan saking emosinya.
" Apa anda tidak tahu bahwa tuan muda Joaquin sudah membeli perusahaan swasta yang bergerak di bidang keuangan? " tanya Roy lagi.
" Memang apa susahnya jika tuan Joaquin membeli perusahaan swasta perbankan? " ledek Daniel.
" Perusahaan itu bangkrut tuan, dan tuan Joaquin memberi kita waktu tiga bulan untuk memulihkan perusahaan itu. " jawab Roy santai, dia begitu penasaran akan reaksi tuannya ini
" APA.... MATI AKU. " pekik Daniel. Inikah hukuman dari Joaquin karena dia telah membuat masalah hingga akhirnya Joaquin gang harus turun tangan.
" Karena itu tuan, lebih baik anda tenang saja. Banyak yang harus kita urus setelah ini. " ujar Roy mencoba mencegah tuannya agar tak lagi mondar-mandir.
Tak berapa lama, keluar dokter yang bertanggung jawab pada ruang laboratorium yang biasa digunakan untuk tes semacam tes DNA ini. Dokter itu tersenyum hangat, mendatangi Daniel dan Roy dengan membawa map kecil berwarna coklat. Sepertinya itu adalah hasil tes DNA yang dilakukan Daniel de Niels beberapa hari yang lalu.
Dengan tangan yang bergetar Daniel membuka mao itu. Matanya terpejam, dia seolah tidak sanggup jika ternyata benar adanya yang sebenarnya terjadi sama seperti apa yang dikatakan oleh Joaquin
" 99% Lucena adalah anak dari Daniel de Niels. " dalam hati Dan membaca apa yang tertulis di kertas yang sekarang ini dia pegang.
__ADS_1
" Roy, bayi perempuan mungil itu, dia.... dia.... dia benar.... adalah... anakku. " Daniel menoleh ke arah Roy yang ada di sampingnya. Bicaranya tergagap seolah memperlihatkan kegugupan nya.
" Tuan...... Apa yang anda lakukan setelah ini? " tanya Roy. Sejujurnya dia tak kaget mendengar ini karena dia sudah percaya dengan Joaquin sejak awal. Tuan mudanya itu tidak akan sembarangan menyimpulkan atau memutuskan sesuatu.
" Kita ke rumah wanita itu sekarang. Jika dia tidak mau menerimaku asalkan aku bisa bertanggung jawab pada Lucena itu sudah cukup. " ujar Daniel.
Daniel dan Roy langsung menuju ke mobil merela yang ada di parkiran rumah sakit ini. Roy langsung memacu mobil sport milik Daniel ini menuju ke sebuah daerah pemukiman penduduk yang berada di sekitar tempat pembangunan perusahaan baru milik Joaquin.
Sekitar tiga puluh menit, mobil sport milik Dan yang dikendarai Roy sampai di depan rumah sari Whitney Sprout, wanita yang begitu Daniel benci tapi nyatanya adalah wanita yang memberinya keturunan.
Tok... Tok... Tok....
" Maaf dengan siapa ya? " tanya seorang wanita tua yang nampak menggendong bayi mungil yang disinyalir merupakan Lucena, putri kandung Daniel.
" Saya mencari Whitney nyonya Sprout. Apa dia???? ada? " Daniel balik bertanya.
" Baik nyonya, Terima kasih. "
Daniel pun memilih masuk ke dalam rumah sederhana milik keluarga Sprout. Ketika duduk di sofa usang yang ada di dalam rumah itu, pandangan Daniel menelisik setiap sudut rumah ini Rumah yang sangat sempit jika ditinggali oleh dua orang dewasa dan satu bayi mungil.
Dalam hati Dan ini mengajak keluarga ini untuk tinggal di tempat yang lebih baik. Setidaknya meski Whitney tidak mau menerima pertanggung jawaban dari Dan, pria itu masih bisa menafkahi anak kandungnya.
Beberapa lama menunggu, orang yang tengah dinantikan kedatangannya oleh Daniel akhirnya pulang juga. Dengan memakai pakaian santai yang sedikit kebesaran di bagian kaosnya, Whitney terlihat sangat imut dan manis. Daniel sampai tak bisa mengalihkan tatapan matanya dari sosok Whitney.
__ADS_1
" Tuan.... Tuan, ada gerangan apa anda datang kemari?" tanya Whitney yang tidak bisa menutupi keterkejutannya.
" Mencari mu dan ingin bicara empat mata dengan mu. Apa kau bisa ikut aku sebentar, aku tak akan menyakitimu?" jawab Daniel.
" Ba....baik tuan."
Daniel mengajak Whitney ke sebuah restoran yang seluruhnya disewa oleh Daniel. Dia tidak ingin pembicaraannya didengarkan oleh orang lain yang tidak memiliki kepentingan dengannya maupun Whitney.
Selama beberapa menit kedua manusia ini nampak saling berdiam diri. Tak mengeluarkan satu pun suara mereka juga tak melakukan hal apapun selain saling pandang untuk mengetahui hati dari orang yang ada di depan mereka.
Mata adalah bagian dari tubuh manusia yang tidak pandai daam berbohong. Seperti apapun perasaan seseorang akan nampak dari mata mereka. Mata selalu jujur dengan menampilkan setiap isi hati pemiliknya kepada orang yang melihatnya.
" Tuan, jika tidak ada yang ingin dibicarakan, bolehkah saya pulang tuan. Saya takut putri saya akan mencari dan menangis." ujar Whitney yang sudah mulai mengangkat pantatnya.
" Aku akan bertanggung jawab atas kalian. Kau, ibumu dan juga Lucena." ucap Daniel yang terdengar seperti sedang marah.
" Tidak perlu tuan. Saya masih sanggup membiayai hidup kami. Saya tidak ingin dikasihani tuan." ujar Whitney menolak keinginan Daniel dengan cara yang sehalus mungkin.
" Kau tahu aku tidak butuh pendapatmu. Aku akan melakukannya meski kau menolak. Lucena adalah putriku jadi aku berhak juga memberikan yang tebaik untuknya." kekeh Daniel.
Perdebatan diantara keduanya pun tak bisa terelakan. Daniel dan Whitney adalah manusia yang keras kepala. Entah siapa yang akhirnya nanti menang adu argumen tersebut. Roy yang mulai jengah menunggu di mobil pun memilih untuk melihat ke dalam restoran. Saat sampai tak jauh dari tuannya duduk, Roy dapat melihat tuannya dan calon nyonya sedang terlibat dalam perdebatan tak berfaedah pastinya. Rasanya bodoh sekali dirinya yang menanti di dalam mobi sedangkan tuannya nampak ingin bersenang-senang.
" Aku beri waktu satu jam berpikirlah. lagipula tak ada yang rugi kika kau bersedia menerima pemberianku dan juga tanggung jawabku. Dalam satu minggu kau sudah harus memberikan jawaban untukku." titah daniel.
__ADS_1
" Bukankah anda yakin dia bukan putri anda. kenapa sekaran anda sok sekali menawarkan pertanggung jawaban. Lalu dimana anda selama ini tuan?' sarkas Whitney.
" Izinkan aku untuk menebus dosaku karena telah meragukan kalian. Aku ingin tanggung jawab bukan hanya pada Lucena, tapi juga ibu dan kau. Aku sudah lama sekali tak tahu bagaimana sebah keluarga ini. Maukah kau berada di sampingku untuk menunjukkan pada ku bagaimana sebuah keluarga itu seharusnya."