
Masih tersambung dalam video call, Joaquin dan ketiga saudaranya masih asyik bercerita. Rapat ya cuma dia saudara angkat Joaquin yang asyik, yang satunya tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Daniel nampak diam tak menanggapi apa yang diceritakan oleh Joaquin. Saat awal tadi Joaquin berucap mengenai kasus yang ada hubungan dengan hipnotis perasaan Dan langsung tak enak. Dia merasa kenal betul dengan orang yang cirinya disebutkan oleh Joaquin.
" Tidak mungkin dia kan. Tapi kejadian ini bertepatan dengan pulangnya anak itu. Semoga saja bukan dia atau aku tak tahu harus berbuat apa lagi. " batin Dan gelisah.
" Dan... " panggil Theo dan Gilbert.
" Ya? " jawab kaget Dan.
" Kau itu dipanggil oleh kakak kenapa justru melamun. " kesalahan Theo.
" Iya tuan. Maaf saya tiba-tiba kepikiran dengan kasus yang tuan tanyakan tadi. " Dan mengucapkan alasannya. Dia tak sepenuhnya berbohong karena memang itu yang sedang dia pikirkan.
" Tidak usah kau pikirkan, aku akan melihat dulu apa yang akan dia lakukan setelah ini. " ujar Joaquin menenangkan.
Percakapan keempat pria tampan dengan kharisma yang berbeda-beda itu terus berlanjut. Kalau saja Moses tak mengetuk pintu ruang kerja Joaquin, pasti obrolan itu akan bertahan sampai jam makan siang selesai.
"Maaf tuan apa saya menganggu anda? " tanya Moses. Dirinya merasa tak enak saat tahu bosnya itu masih berbincang.
" Kak apa itu suara Malik? " tanya Theo yang memang sudah pernah bertemu dengan Malik.
" Bukan dia adik dari Malik bernama Moses. " jawab Joaquin membenarkan.
Panggilan itu pun diakhiri dan sekarang ini Joaquin tengah fokus mendengar laporan Moses. Rupanya ayah dari Robin tak mengindahkan ucapan Joaquin saat itu. Secara diam-diam Luizi itu mengumpulkan dewan direksi yang tak setuju dengan pengangkatan Joaquin. Luizi ingin agar Joaquin dilengserkan.
" Kau urus saja mereka. Dan bagi dewan direksi yang mendukung pria itu pecat saja dan ganti yang baru. " titah Joaquin.
" Ya tuan? " Moses terkejut. Memecat dewan direksi lalu bagaimana kedepannya nanti.
__ADS_1
" Kau urusan saja seperti yang aku perintahkan. Biar aku yang urus sisanya. " ujar Joaquin.
Moses pamit pergi dari ruangan Joaquin untuk menjalankan misinya. Menurut penyelidikannya ada empat anggota dewan direksi dan bawahannya yang memihak Luizi. Dan tugas Moses adalah memberhentikan mereka semua. Tujuan Moses saat ini adalah ruangan HRD.
" Apa kau bilang? Apa tuan Joaquin tak salah dalam memberikan perintah? " tanya Jarvis selalu direktur bagian HRD.
" Tentu saja itu benar. Kalau kau tak percaya telfon saja. " ujar Moses. Dirinya pun awalnya tak percaya. Tapi dia akan melakukan apapun yang diperintahkan atasannya.
" Semua dewan direksi itu adalah dewan direksi internal. Kau saja emang mengurus semuanya. Karena aku punya tugas lain. "
" Memang apa lagi tugasmu itu? " tanya Jarvis
" Menyelidiki dewan direksi eksternal. Kau tahu sendiri akhir bulan ini adalah rapat tiga bulanan. Kalau sampai ada yang bertindak di luar batas aku harus mencegahnya terlebih dahulu. " Jawab Moses berlalu pergi.
Setelah Moses pergi Jarvis mulai membuat laporan pemecatan juga membuat surat pemecatan bagi orang-orang yang sudah ditunjukkan oleh Moses tadi. Jarvis tak habis pikir, CEO baru di perusahaan tempat dirinya bekerja benar-benar sangat berani dalam mengambil keputusan. Benarkah Joaquin de Niels sehebat seperti yang dibicarakan orang-orang?
" Selesai. Aku tinggal menyerahkan ini pada CEO dan meminta tanda tangannya. " gumam Jarvis. Dia membereskan mejanya sebelum mendatangi kantor CEO nya.
" Masuk. " seru Joaquin dari dalam ruangannya.
" Selamat siang Pak. Saya datang membawa apa yang tadi anda perintahkan pada pak Moses. " ujar Jarvis langsung menyerahkan berkas-berkas yang tadi dibuatnya.
" Terima kasih. Sekalian kamu umumkan perusahaan kita membutuhkan tenaga baru. Jika menurutmu ada karyawan lain yang bisa menggantikan mereka kau beri mereka promosi kenaikkan jabatan. Jika tak ada ambil dari para calon yang ikut mendaftar. " perintah Joaquin.
" Baik Pak. Tapi untuk sementara waktu ini bagaimana Pak? " tanya Jarvis hati-hati takut menyinggung bosnya.
" Suruh saja karyawan di divisi itu yang menghandle nya. Tak mungkin mereka tak bisa kan. " jawab Joaquin.
Setelah mengurus perusahaan kini sudah waktunya Joaquin untuk kembali pulang ke rumah. Dia mampir sebentar ke toko kue kesukaan Noura semenjak hamil. Tiap pulang kerja Joaquin harus membawakan kue dari toko kue itu untuk Noura.
__ADS_1
Hari ini Joaquin membeli blackforest dengan selai blueberry di tengahnya. Roti kesukaan bumil yang menunggunya di rumah. Joaquin kembali membelah jalanan untuk segera sampai di rumah karena sudah merindukan Noura.
" Sayang, Jo sudah pulang. " teriak mommy Rita yang sedang berada di ruang keluarga bersama daddy Adeard.
Noura pun segera keluar dari kamar lalu memasuki lift yang ada di dalam rumahnya. Lift yang sudah lama ada di sana untuk memudahkan pelayan yang membersihkan lantai dua dan tiga karena harus membawa banyak alat kebersihan. Lift yang juga biasa digunakan keluarga Robinson apalagi Noura yang sekarang ini sedang mengandung.
" Sayang. " pekik Noura berjalan cepat memeluk tubuh suaminya yang baru saja keluar dari mobil.
" Nou... Kau bisa jatuh. " pekik Joaquin kala Noura sudah berada dalam pelukannya.
" Hehehehe.... Anak kita begitu merindukan daddynya. " Noura nyengir kuda. Dia lupa sedang hamil saat melihat Joaquin tadi.
" Siap-siap mendapatkan ceramah panjang kali lebar malam ini. Aish kenapa aku selalu lupa kalau hamil. " batin Noura.
" Ini buat kamu dan anak kita yang ada di dalam sini. " Joaquin meletakkan paper bag berisi kue yang tadi dibelinya di atas meja makan. Noura dengan tak sabaran langsung membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya.
Joaquin pun dengan sigap mengambilkan piring v kecil dan juga garpu untuk Noura gunakan makan kue tersebut
" Enak? " tanya Joaquin yang melihat Noura dengan lahap memakan kue blackforest itu.
" Sangat enak. " Noura memberi dua jempol pada Joaquin. Noura pun mengambilkan sepotong kue untuk suaminya. Kan kasihan lihat suaminya bengong di samping nya.
Joaquin dan Noura kini berada di balkon kamar mereka. Memandang langit yang dipenuhi bintang, sungguh sangat romantis. Keduanya berbincang menceritakan kegiatan mereka hari ini. Joaquin juga menceritakan bahwa tadi dia bertelefonan dengan saudara angkatnya, tapi Joaquin tak mengatakan apa yang dibicarakannya dengan saudaranya pada Noura.
Mereka duduk saling berpelukkan, ditemani secangkir kopi dan susu ibu hamil ditambah dengan beberapa cemilan untuk Noura dan Joaquin. Untuk Noura tentunya cemilan yang bergizi dibuat langsung oleh chef Ardi. Joaquin sangat melarang Noura jajan sembarangan bila ngidamnya tak meminta untuk makan diluar. Sebisa mungkin untuk kelima anaknya dalam kandungan Noura harus mendapatkan yang terbaik.
" Nou, kau tahu aku sangat bahagia saat ini. " ujar Joaquin.
" Tahu lah. Kan pasti karena aku ada di sampingmu kan. " sahut Noura. Joaquin tersenyum menatap manik mata indah milik Noura.
__ADS_1
" Kau benar, hidupku berwarna karena ada kau, dulu, sekarang dan selamanya. Andai kau tak hadir dalam hidupku, entah apa yang aku rasakan sekarang. "
" Nou, aku tak akan menjanjikan apapun padamu karena janji hanya kata lain dari kebohongan. Aku takut berjanji lalu membohongimu yang bisa aku pastikan adalah bahwa cintaku padamu tak akan pernah habis ditelan waktu dan usia. "