
Masih di kamar hotel 503,Joaquin duduk di kursi samping ranjang tetap terus mengawasi istrinya. Sudah tiga jak sejak Joaquin menemukan istrinya dalam kondisi tak sadarkan diri dan tanpa busana, tapi istrinya tak kunjung bangun juga. Langit di luar jendela hotel itu sudah berubah warna keemasan dimana matahari hampir terbenam.
Joaquin terus berbalas pesan dengan Bart mengenai penyelidikan kasus penculikan Noura. Bart bahkan diminta untuk menemui Widi, namun hasilnya nihil karena saat itu Widi sedang di kamar mandi karena diare hebat. Bart baru mengetahui ternyata minuman Widi dan Noura telah diberi obat oleh seseorang.
Bart menangkap pelayan yang melakukan itu, tapi anehnya pelayan itu linglung seperti orang yang terkena hipnotis. Dia bahkan tak sadar jika dirinya masuk kerja padahal hari ini adalah hari liburlnya. Sungguh aneh, dicari ke semua sudut buntu tak ada jalan keluar.
Dalam diamnya Joaquin terus memikirkan situasi aneh dalam kasus penculikan ini. Joaquin merasa apa yang terjadi saat ini seperti pernah diketahuinya. Dia merasa familiar dengan situasi ini tapi dicoba ingat beberapa kali pun dia tetap tak mampu mengingatnya.
" Seperti aku pernah mengetahui masalah ini. Tapi kapan dan dimana aku tak ingat. " gumam Joaquin yang merasa buntu kali ini.
Dia bingung harus bagaimana menyelesaikan masalah ini, belum lagi daddy dan mommy Noura pasti akan bertanya padanya. Bagaimana cara menjelaskannya Joaquin masih bingung.
" Jo. " panggil daddy Adeard yang baru memasuki kamar 503 itu.
" Maaf dad, ini semua karena kelalaianku. " ujar Joaquin menunduk penuh sesal.
" Ini bukan salahmu Jo. Lawan kita kali ini memakai cara yang sedikit diluar nalar kita. Jangan menyalahkan dirimu. " ujar daddy Adeard menenangkan. Daddy Adeard sudah mengetahui situasinya dari Bart tadi. Marah dan kesal jelas pasti yang diganggu adalah anaknya. Tapi motiv dan siapa orang ini mereka masih dibuat pusing karena tak mampu menemukan petunjuk satu pun.
" Aku seperti pernah mengetahui kasus serupa dad. Tapi aku benar-benar tak ingat kejadiannya. Tapi untuk kejahatan dengan hipnotis aku seperti pernah mendengarnya di negaraku. " terang Joaquin.
Daddy Adeard dan Joaquin terus berbincang mengenai masalah ini. Mereka berusaha menyusun kepingan demi kepingan puzzle agar dapat menemukan petunjuk siapa pelakunya. Keduanya terlibat pembicaraan yang serius dan akhirnya sepakat untuk tak mengatakan apapun pada Noura. Mereka ingin mencegah kejadian buruk pada Noura dan janin yang dikandungnya.
Tepat pukul 10 malam, Noura mulai membuka matanya. Mata indah itu menelisik setiap sudut di ruangan itu dan dia menyadari ini bukan kamarnya. Berusaha mengingat kejadian tadi tapi nihil, dia lupa semua kejadian setelah makan dengan Widi.
" Sudah bangun sayang. " sapa Joaquin mendekat ke ranjang. Tadi dia baru saja ke kamar mandi.
" Kita dimana ini sayang? dan kenapa kamu disini bukannya tadi kamu pergi dinas di desa pinggiran kota? " tanya Noura.
__ADS_1
" Ini sudah jam sepuluh malam sayang, jelas aku sudah pulang. Aku tadi ditelfon oleh anak buahku katanya kau ketiduran di cafe jadi aku membawamu ke sini. " jawab Joaquin.
" Tapi kenapa dibawa ke hotel? Kan bisa di bawa ke rumah. " protes Noura.
" Tadi kan aku masih ada meeting penting sayang, jadi saran kolega bisnis aku buat bawa kamu ke sini. " Joaquin berusaha menghilang kecurigaan Noura.
" Aku kira kau ingin kita menginap di hotel. " Noura tersenyum.
Joaquin menggelengkan kepalanya, lalu mendekati sofa dan mengambil beberapa paper bag untuk diberikan pada Noura. Ada makanan dan juga baju ganti untuknya.
" Bebersih di sini aja ya sayang. " ujar Joaquin memberikan saran.
" Oke. Aku ke kamar mandi dulu baru makan. " pamit Noura langsung masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga.
Tak perlu menunggu lama, lima belas menit Noura sudah keluar dan kini duduk di samping Joaquin menikmati berbagai makanan yang dipesan oleh Joaquin tadi. Tidak satu jenis masakan rapi ada tujuh jenis masakan menghiasi meja di kamar hotel 503 itu.
Noura dan Joaquin memilih berjalan-jalan disekitar hotel agar nasi dalam perutnya bisa turun dan tak begah diperut. Kedua jari tangan mereka saling bertaut menyelusuri jalanan ibukota di malam hari. Keduanya melihat-lihat beberapa warung yang berjualan di trotoar. Siapa tahu jika Noura menginginkan sesuatu bisa langsung dibelikan.
Joaquin yang pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian tadi, secara tiba-tiba mengingat tentang saudaranya. Jika Joaquin merasa tak janggal ketiga saudara angkatnya pasti tahu. Mungkin besok saat di kantor dia akan menelfon mereka bertiga mendiskusikan masalah ini. Karena bila melakukan pembicaraan di kantor akan aman karena Noura tak akan tahu tentang hal itu.
Joaquin mengajak Noura untuk duduk di taman kota melihat gemerlapnya lampu yang menyala di malam hari. Karena kenyang dan suasana yang mendukung akhirnya Noura tertidur dalam pelukan Joaquin sambil terduduk. Joaquin meringankan pengawal yang mengikutinya untuk mengambil mobil lalu berencana pulang ke mansion Robinson.
Keesokan harinya Joaquin sudah bersiap ke kantor. Pagi ini dia harus bersiap sendiri karena sangat istri sedang tertidur. Tadi waktu subuh, Noura mual dan muntah sampai lemas. Joaquin pun meminta Noura untuk kembali tidur dan istirahat, semua kebutuhan Joaquin akan disiapkan ya sendiri namun noura menolak. Dengan sedikit paksaan pun akhirnya Noura menuruti permintaan Joaquin.
" Halo Moses, tolong undur semua kegiatanku selamat 2 jam. Aku punya hal penting yang harus diurus. " titan Joaquin yang sedang menyetir sambil memberikan perintah pada anak buahnya.
"Baik Pak. " seru Moses tertunduk patuh.
__ADS_1
" Thanks.. " Joaquin langsung mematikan sambungan telefonnya.
Dengan kecepatan penuh mobil yang dikendarai Joaquin menuju ke kantor Ad company. Dia sudah memberikan kabar pada ketiga saudara angkatnya untuk mengajak mereka melakukan panggilan video bersama untuk membahas mengenai apa yan kemarin terjadi pada Noura.
Sepuluh menit mobil Joaquin sudah tiba di depan perusahaan yang sekarang ini dibawah kepemimpinannya. Segera saja dia naik ke lantai tempat ruangannya berada. Joaquin sudah tak sabar untuk berbincang dengan saudara angkatnya.
Joaquin duduk manis di kursi kebesarannya sedang memperhatikan layar laptop miliknya. Menghubungi ketiga saudaranya tapi masih juga belum tersambung.
" Kemana ketiga orang ini? bukankah aku sudah katakan akan menghubungi mereka. Ini sudah lima belas menit." mulut Joaquin terus saja menggerutu.
" Hai kak apa kabar?" sapa Theo. Setelah menunggu lebih dari setengah jam akhirnya panggilan itu di jawab. Nampak ketiga wajah bantal saudaranya itu. Perbedaan waktu membuat mereka sekarang pada waktu yang berbeda. Jika Joaquin sedang waktu bekerja lain dengan ketiga saudaranya yang berada di waktu untuk tidur malam.
" Kalian kemana saja? Aku sampai kesal dibuat kalian." protes Joaquin.
" Maaf kak, kami bertiga ketiduran." jawab Theo menjelaskan agar sang kakak tak marah.
" Langsung saja ya, waktu tak banyak. jadi kemarin itu Noura......" panjang kali lebar Joaquin bercerita.
Ketiga saudara angkat Joaquin menyimak dengan seksama dengan wajah yang serius. Ini menyangkut kakak ipar mereka jadi tak boleh tidak serius.
" Kalian ingat pernah ada kasus tentang hipnotis kan di sana?" tanya Joaquin.
" Ingat kak, pelakunya tak tertangkap sampai sekarang." jawab gilbert.
Daniel termenung mendengar cerita saudara itu. Dia memiliki perasaan yang sedikit tak enak membicarakan kasus mengenai hipnotis yang akhirnya membuat seorang siswa bunuh diri. Dan tahu betul kasus itu dan tahu betul siapa pelakunya.
" Semoga yan ada dipikiran ku salah."
__ADS_1