Kisah Cinta Noura

Kisah Cinta Noura
NOURA PULANG


__ADS_3

Langit kini sudah berubah warna, bukan lagi gelap tapi sudah terang. Pasangan pengantin baru itu masih terlelap dibawah selimut yang sama, padahal matahari sudah tinggi.


Hari ini Noura akan kembali ke negaranya, mereka akan berpisah sementara waktu. Pesawat yang akan membawa keluarga Robinson kembali akan berangkat pukul tiga sore waktu setempat.


" Apa perlu kita bangunkan mereka? " tanya Rein


" Biarkan saja, jangan menganggu kesenangan mereka. " jawab uncle Lucio.


" Kalau kau ingin yang senang-senang ya cepet nikah. Kasih tuh orang tua kamu cuci secepatnya. " timpal mommy Rita.


Rein mencebik, selalu saja pembicaraan mereka akn mengarah ke masalah itu. Rein bukannya tidak ingin segera memberi cucu, hanya saja dia belum menemukan pasangan hidup yang tepat.


" Tuan pesawat anda akan siap satu jam sebelum keberangkatan anda. " Dan memberi laporan.


" Terima kasih Dan. " ujar daddy Adeard.


Mereka semua saat ini sedang berkumpul diruang keluarga. Sekitar dua jam yang lalu mereka sarapan bersama. Tidak menunggu pengantin baru karena pasti akan turun lambat.


Keluarga Robinson sedang mempersiapkan kembali barang bawaan mereka yang sebelumnya sudah dibawa ke mansion satu hari sebelum pernikahan Joaquin dan Noura. Mereka akan berangkat ke bandara langsung dari mansion.


Joaquin dan Noura masih mengatur nafas setelah kembali mengulang pergumulan panas seperti semalam. Mereka sudah bangun sedari tadi, tapi memilih untuk tetap tinggal di kamar.


" Hei ada apa sayang? " tanya Joaquin. Joaquin merasa dada nya basah. Ternyata Noura sedang menangis.


" Kenapa nggak dari kemarin kita menikah, hari ini aku pulang. Kita akan berpisah untuk waktu yang lama. Aku nggak sanggup. " Noura kembali terisak.


" Sayang, plissss jangan nangis ya. Kamu nangis gini hati aku sakit sayang. " Joaquin menenangkan Noura.


Tidak ada jawaban, Noura masih menangis. Andai dia bersama sedari dulu, andai menikah lebih awal, dia bisa membuat banyak kenangan indah.


" Bersabarlah, aku janji akan menyelesaikan ini dengan cepat lalu kita akan hidup bahagia bersama anak, cucu kita tanpa takut dengan kejahatan mereka. " ujar Joaquin. Dirinya juga tidak mau berpisah, tapi jika masalah ini tidak cepat diselesaikan pasti banyak korban yang akan berjatuhan kembali.


Joaquin bangun kemudian mengangkat tubuh Noura menuju kamar mandi. Sudah waktunya mereka bebersih, membersihkan sisa pertempuran tadi.

__ADS_1


Seusai berganti pakaian Joaquin mengajak Noura untuk turun. Mereka sudah merasa lapar, karena tenaga mereka yang terkuras.


" Cieh... cieh... pengantin baru jam segini baru turun, Berapa ronde semalam dan tadi. " ledek Rein.


Pipi Noura langsung bersemu merah mendapat ledekan dari adik sepupunya itu.


" Kamu jangan godain kakak ipar terus, nanti wajahnya bisa nyaingin kepiting rebus. " seloroh Theo.


" Bener tuh, lagian nggak usah ditanya berapa ronde. Pasti berkali-kali. " timpal Gilbert.


Semuanya tertawa kecuali pengantin baru tentunya. Rasanya menyenangkan sekali menggoda Noura. Responnya itu sangat lucu bagi mereka.


Joaquin diam saja, tidak menanggapi keluarganya itu. Takut Noura semakin malu bila dia menanggapi godaan saudara-saudaranya.


Noura dan Joaquin duduk di meja makan menyantap sarapan yang terlambat itu. Seharusnya sudah bukan sarapan lagi karena sekarang sudah jam sebelas siang.


Noura sebenarnya sedang menutupi kesedihannya, takut semua orang merasa tidak enak. Kepulangannya Noura adalah kesepakatan bersama mereka semua. Tujuannya untuk melindungi Noura agar paman Joaquin tidak mengincar nyawa Noura.


" Kakak ipar jangan khawatir, Vinda juga akan ikut kalian kembali ke negara kalian. " ujar Theo.


" Iya Nou, kami berdua memutuskan bahwa aku akan ikut kalian. Aku tidak ingin jadi beban Theo. " terang Vinda.


" Salah sayang, kamu bukan beban. Kamu adalah seseorang yang sangat berarti untukku. Ini untuk melindungimu dan anak kita. " Theo memberi penjelasan tentang keputusan yang mereka buat.


" Senangnya ada teman nantinya. " Noura tersenyum.


" Hei... Hei.. Jangan tinggalkan aku. Aku juga akan ikut. " ujar Sherly yang berjalan mendekati semuanya.


" Yey.... Pasti menyenangkan. " Vinda bersorak kegirangan.


Obrolan-obrolan santai pun menjadi kegiatan siang mereka. Noura duduk disamping Joaquin mendengarkan keluarganya itu bercerita. Dia benar-benar tidak mau jauh dari Joaquin. Dia menempel bak lem, terus mendempel suaminya.


Berat itu pasti, baru saja mereka bersama, baru saja mereka berumah tanggan tapi harus terpisah. Ingin bersama menghadapi segalanya, tapi Joaquin tidak akan berhenti menyalahkan diri sendiri bila sampai sesuatu yang buruk menimpa Noura.

__ADS_1


Jadi mau tidak mau mereka harus sementara berpisah. Demi masa depan yang lebih baik untuk semuanya.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Setelah makan siang bersama, keluarga Robinson meninggalkan mansion menuju bandara.


Sudah waktunya mereka berangkat. Jarak mansion milik Joaquin dan bandara harus menempuh perjalanan satu jam, karena itulah mereka berangkat dua jam lebih awal dari waktu keberangkatan pesawat.


Joaquin tidak mengantar, tidak mau hubungan mereka diketahui orang. Agar bila nanti Joshua mencari tahu tentang Joaquin, nama Noura tidak akan muncul.


Noura masih terisak walau sudah berada dalam mobil yang mengantarnya ke bandara. Dia belum siap berpisah. Siap tidak siap mereka memang harus seperti ini dulu. Noura berusaha untuk menjadi istri yang baik makanya dia menuruti rencana Joaquin.


Di dalam mansion, Joaquin masih duduk di teras. Padahal mobil yang membawa Noura sudah berangkat tiga puluh menit yang lalu.


" Maafkan aku belum bisa membuatmu bahagia sayang. Aku berjanji setelah semuanya selesai, aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia. " gumam Joaquin.


Pesawat yang ditumpangi keluarga Robinson sudah lepas landas dari bandara kota M menuju Negara I. Noura terus memandang ke arah jendela, tubuhnya ada dalam pesawat tapi hati dan pikirannya masih berada di samping Joaquin.


Rombongan keluarga Robinson nampak mulai memejamkan mata mereka. Perjalanan ini akan sangat panjang. Pesawat yang mereka tumpangi akan mendarat di bandara negara I, delapan belas jam yang akan mendatang.


Mereka juga harus transit terlebih dahulu sebelum sampi di tempat tujuan. Meski yang lain tertidur, tapi tidak dengan Noura. Dirinya terus memikirkan Joaquin, takut kehilangan itu lebih pastinya.


" Aku harap kami selalu baik-baik saja. Tolong jangan terluka, dan cepatlah jemput aku. Aku merindukanmu, dan aku mencintaimu Joaquin. " gumam Noura.


Hati sudah berganti malam, langit malam menyelimuti mansion Joaquin. Kini dengan dipimpin Joaquin, semua anggota GhostNight berkumpul untuk membahas kesiapan mereka untuk membalas semua perbuatan Joshua.


" Kalian bertiga pergi gempur markas miliknya. Bawa tanda bukti tentang anak Vincent Cassano yang masih hidup. Bagi yang mau bergabung rangkul mereka, bila tidak habisi saja. Aku ingin semua bersih sampai ke akarnya. " Joaquin menjeda.


" Aku yang akan menghambat pria itu kembali. Aku juga yang akan menghadapinya. " Joaquin menambahkan.


" Kak, itu sangat berbahaya. Biar Dan disini menemani kakak ya. " Theo menentang keputusan Joaquin.


" Ini keputusan final, tidak ada dari kalian yang akan mengubahnya. Bubar. " tegas Joaquin.


Joaquin melihat ke arah jendela, nampak langit malam ini sangat indah. Banyak bintang dan Bulan dengan anggunnya ikut menghiasa langit malam ini.

__ADS_1


" Aku harap bulan dan bintang di sini akan sama dengan bulan dan bintang di tempat kau berada. Maka aku akan dengan mudah menemukanmu. Aku mencintaimu Noura. "


__ADS_2