Kisah Cinta Noura

Kisah Cinta Noura
bab 98


__ADS_3

Noura melihat semua yang dipersiapkan oleh Joaquin untuk memberinya kejutan berupa pesta pernikahan yang dulu pernah gagal karena terjadinya musibah yang menimpanya. Noura tak mampu berkata-kata lagi saat melihat betapa ke tulisan yang diperlihatkan oleh suaminya itu.


Tempat yang didesain seperti apa yang selalu Noura inginkan. Dengan gaun yang begitu indah yang sekarang ini tengah dikenakannya. Belum lagi banyaknya tamu undangan yang juga ada beberapa temannya. Bisa dikatakan ini adalah hari yang paling membahagiakan untuknya, lebih bahagia ketika pertama kali dia menemukan cinta pertamanya yang ternyata masih hidup.


" Kenapa menangis? Apa kau begitu sedih menikah dengan ku? " tanya Joaquin yang sedang menggoda Noura. Dia tahu alasan kenapa Noura menangis, tapi rasanya sangat menyenangkan bila bisa digoda seperti sekarang ini.


" Hiks.... Kau... Hiks....Bagaimana.... bisa kau mempersiapkan semua... ini tanpa aku tahu? " tanya Noura menjawab pertanyaan Joaquin.


" Untuk membahagiakan mu apa yang tidak aku lakukan. Apapun akan aku lakukan jika itu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia. Mari kita ciptakan banyak kenangan bahagia yang akan menghapus kenangan kita selama empat tahun terpisah jarak, ruang dan waktu. " tangah Joaquin menengadah menunggu disambut oleh wanitanya, wanita yang begitu sangat dia cintai.


" Hm... " tangan Noura terulur menyambut tangan Joaquin. Mereka bergandengan tangan, menatap banyak orang yang sedang menatap mereka juga.


Lagu yang begitu romantis tengah dimainkan oleh orkestra yang disewa Joaquin untuk memeriahkan pesta pernikahannya. Lagu A Thousand Years diputar mengiringi beberapa pasang manusia yang sudah turun ke lantai dansa, berdansa dengan pasangannya.


Joaquin mengajak Noura untuk turun ke lantai dansa, ikut bergabung dengan pasangan lain yang sudah lebih dulu turun. Ada daddy Adeard dan juga mommy Rita, saudara angkat Joaquin dengan pasangan masing-masing juga sudah turun ke lantai dansa.


" Itu yang bersama dengan Dan siapa sayang? " tanya Noura yang masih asyik memeluk tubuh Joaquin saat berdansa.


" Istri Dan sayang. " jawab Joaquin dengan senyum uang begitu manis. Sampai Noura merona ditatap oleh Joaquin.


" Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu? " pekik Noura yang masih bisa dikondisikan sehingga hanya Joaquin yang mendengarnya.


" Whitney hamil duluan, dan Daniel tidak mau bertanggung jawab karena baginya mungkin Lucena, putri dari Whitney bukan anaknya. Tapi Theo mencari tahu dan Lucena adalah memang anak kandung Dan. Aku waktu itu turun tangan dengan pergi ke kota M, menitipkan anak-anak pada saudara ku yang lain. Kalau tidak salah ingat, saat itu adalah kali pertama Gege tinggal bersama ku. " cerita Joaquin yang mencoba mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Mesti maklum karena usianya sudah mendekati kepala empat, jadi suka lupa.


Noura manggut-manggut mendengar cerita dari Joaquin, tidak menyangka saja Daniel sampai menikah dengan sedikit drama diawalnya. Meski begitu bisa Noura lihat bahwa Daniel sangat mencintai sang istri, terlihat dari senyum yang sama sekali belum pernah dilihat Noura.


" Boleh aku mengobrol dengan istri Dan nanti, sayang? " Noura meminta izin.

__ADS_1


" Tentu saja boleh, sekalian akrabkan istri Dan dengan kedua ipar ku. Sepertinya dia terlalu pemalu dan introvert, sehingga tidak dekat dengan istri Gilbert dan Theo. " ujar Joaquin.


" Siap bos... " Noura mencium pipi Joaquin sebagai tanda sayang dan Terima kasih.


Blush


Pipi Joaquin merona, dia jadi gampang salting jika Noura memujinya atau pun melakukan hal-hal yang berbau keromantisan. Noura yang tahu bahwa sang suami tengah malu, kembali mencium, namun kini yang dicium adalah bibir Joaquin. Langsung semakin memerah wajah Joaquin bak kepiting rebut.


Noura yang berhasil menggoda suaminya, langsung berlalu meninggalkan Joaquin untuk berkumpul sebagai ipar Joaquin yang sudah melambaikan tangan memanggilnya. Di meja khusus ipar Joaquin itu ada Sherly, Vinda dan Whitney yang merupakan anggota terakhir yang masuk ke jajaran wanita de Niels.


" Apa yang kau lakukan sampai wajah kakak ipar kami semerah kepiting rebus begitu? " tanya Sherly meledek.


" Aku hanya mencium pipi dan bibirnya. Entah kenapa sejak aku kembali dari pengobatan, Joaquin jadi seperti itu, padahal sebelumnya tidak pernah. " Noura terkekeh, mengingat setiap kejadian dimana dia menggoda suaminya hingga wajah suaminya merona.


" Wah jangan-jangan kakak ipar kami jadi bucin karena sudah lama berpisah dengan mu dan sekarang bisa bersama lagi. " Vinda berucap mengutarakan pendapatnya.


" Sudah lah kalian jangan berdebat hal yang tidak penting begitu. Apapun alasannya versi suami ku yang sekarang sangat mengemaskan. " ujar Noura terkikik.


" Oh ya kenalkan ini Whitney, istri dari kak Dan. " Vinda memperkenalkan anggota mereka yang termuda dan juga bergabung paling akhir.


" Hai, aku Noura. " sapa Noura.


" Hai kakak, aku Whitney. Suamiku senang sekali bercerita tentang kakak. " sapa balik dari Whitney.


" Haish... Kenapa dia menceritakan tentang akau? Bukan tentang kehidupan pribadinya. " protes Noura bercanda.


Obrolan para wanita itu berlanjut sangat seru sekali. Dari gosip para pekerja rumah mereka, sampai gosip mengenai wanita sosialita mereka bicarakan. Hanya Whitney yang masih canggung dengan suasana baru yang dia hadapi ini. Tidak menyangka saja, para wanita anggota de Niels ini justru bergosip jika bertemu..

__ADS_1


Whitney nampak kebingungan untuk sekedar menanggapi bahan pembicaraan dari sesama wanita yang duduk satu meja dengannya. Kepala Whitney hanya bisa menengok ke kanan, ke kiri atau bahkan menatap depan melihat siapa dari kakak-kakaknya itu yang bicara. Tapi sepatah katapun tak keluar dari mulutnya.


Apa yang tengah dikerjakan oleh para wanita itu tak luput dari perhatian para pria yang ada di seberang meja dengan para wanita itu. Daniel tersenyum sendiri melihat istrinya nampak kebingungan menghadapi para kakaknya yang sedang asyik bergosip..


" Kau harus terbiasa nantinya sayang. " gumam Daniel.


" Cieh yang bucin, dulu aja sok-sokan nolak. " ledek Theo.


" Emang kamu bucin, mana ada aku bucin. " sangat Daniel tak Terima diledek bucin oleh orang yang bucin.


" Sesama bucin dilarang saling menghina ya. " ujar Gilbert menengahi.


" Kau juga sama saja, " ledek Theo.


" Namun aku tidak separah kalian berdua. Hehehehehe... " ujar Gilbert membela dirinya.


Gilbert menyenggol lengan Theo, lalu menunjuk Joaquin dengan dagunya. Dia ingin meledek Joaquin namun tidak berani jika sendirian. Bila-bila jatahnya berkurang nantinya jika dia meledek Joaquin sendiri.


Theo dan Daniel mengerlingkan mata mereka menandakan mereka berdua tahu apa yang dimaksud oleh Gilbert. Mereka bertiga mulai menggeser kursi mereka mendekat ke kursi yang di duduki Joaquin.


" Kak, apa kakak bucin dengan kakak ipar? " tanya Theo. Biasanya yang paling sering adu argumen dengan Joaquin adalah dirinya, jadi dia yang lebih berani untuk mendebat Joaquin.


" Kenapa memangnya? Bukankah kalian juga begitu. Wajar kita begitu dengan istri. " jawab Joaquin yang membuat kaget saudara angkatnya sendiri.


" Kok kakak nggak ngelak? " tanya Theo heran.


" Buat apa, toh kalian juga sudah tahu. Aku menang begitu mencintainya. Sama seperti kalian dengan istri kalian. " jawaban Joaquin membungkam mulut ketiga saudara angkatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2