
Noura semakin tersiksa dengan ketidak mampuan nya yang membuatnya harus jauh dari sang kekasih. Pernah kehilangan membuatnya semakin ketakutan peristiwa serupa akan terulang.
Pagi-pagi sekali dia sudah meminta Gilbert untuk menjemputnya di kediaman Robinson. Noura ingin bertemu dan menghabiskan waktu bersama Joaquin sebelum besok dia harus kembali lagi ke negaranya.
Gilbert menjemput Noura, kemudian mengantarkan kekasih kakak angkat itu ke mansion Niels. Kebetulan dirinya juga ingin bertemu dengan Joaquin untuk melaporkan perihal persiapan timnya yang sudah sempurna.
" Gilbert, apa kalian merencanakan sesuatu di belakangku.? " tanya Noura penuh selidik.
" Apa.... Em.... Tidak.... Tentu saja tidak. Kenapa kami harus menyembunyikan sesuatu padamu. " elak Gilbert. Dirinya sudah sangat gugup mendapat pertanyaan itu dari Noura.
" Kau yakin. " Noura memincingkan mata menatap Gilbert.
" Iya aku yakin. " terang Gilbert, " Oh kak, kenapa kakak ipar sekarang auranya menyeramkan sepertimu. " batin Gilbert.
Mobil yang dikendarai Gilbert sudah memasuki kawasan hutan milik Joaquin. Mobil itu melaju kencang karena memang jalan satu arah. Bila keluar dari wilayah Joaquin memang menggunakan jalur yang berbeda.
Hanya butuh sepuluh menit mobil yang membawa Gilbert dan Noura sampai di depan mansion de Niels.
" Selamat datang nona dan tuan. " sapa salah seorang pelayan mansion yang kebetulan berada di dekat pintu.
" Di mana Joaquin? " tanya Noura tidak memperdulikan sapaan palayan tersebut.
" Tuan masih berada di kamarnya nona. " jawab pelayang itu menundukkan kepalanya memberi hormat.
Gilbert tidak ingin menjadi orang ketiga pun memilih pergi ke markas GhostNight saja.
Noura menaikki tangga menuju lantai dua. Karena fokus pada Joaquin dirinya sampai melupakan kalau di mansion itu ada lift yang biasa digunakan Joaquin.
Tok.. Tok.. Tok..
" Sayang apa kau sudah bangun? " Noura memanggil Joaquin juga menggedor pelan pintu kamar utama.
Tidak ada jawaban membuat Noura meraih handle pintu dan memutarnya. Tidak dikunci, Noura langsung bergegas masuk ke dalam kamar itu.
__ADS_1
Joaquin nampak masih asyik bergelut di bawah selimut. Noura mendekat dan berjongkok di lantai tepat di depan wajah tampan milik Joaquin. Noura memandang lekat wajah tampan dan berkharisma milik kekasihnya. Adanya sebuah luka diantara kedua mata milik Joaquin pun tidak mengurangi ketampanan nya sedikitpun.
Noura langsung ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di belakang Joaquin. Noura memeluk Joaquin dari belakang dan memejamkan mata. Tanpa disadari dirinya larut kedalam kehangatan dan bau tubuh Joaquin membuatnya menuju alam mimpi.
Tak seberapa lama setelah Noura ikut naik ke ranjang Joaquin, dirinya mulai terbangun. Dia merasakan seperti ada seseorang yang memeluknya.
Bergerak pelan, Joaquin memutar tubuhnya. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat Noura sudah lelap di belakangnya.
" Kapan kau datang sayang? " ucap Joaquin pelan. Tangannya mengelus lembut dan pelai rambut milik Noura. Joaquin adalah seorang pria normal, berada di dekat Noura selalu membuatnya menahan hasrat untuk menyentuh Noura. Dia takut dirinya yang seperti itu justru membuat Noura tak bahagia.
Pelan Joaquin turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit dirinya keluar dari kamar mandi dan Noura masih tertidur.
Joaquin menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Kaos berwarna hitam berlengan pendek dipadukan dengan celana kain pendek di atas lutut. Usia berganti pakaian Joaquin kembali naik ke ranjang untuk menemani Noura.
Satu jam berlalu, Noura mulai mengerjakan matanya pelan. Begitu kesadarannya sudah terkumpul, bibir warna cherry itu mengulas senyum kalau melihat kekasih hatinya yang tersenyum memandang dirinya.
" Kapan kau datang? " tanya Joaquin. Tangannya mengelus pelan pipi putih milik Noura.
" Kalau begitu kita turun untuk sarapan dulu ya. " ajak Joaquin. Perutnya memang sudah keroncongan tapi dia tetap menunggu Noura bangun agar bisa sarapan bersama.
" Kita makan di sini saja ya. Aku ingin bicara penting denganmu. " pinta Noura.
Joaquin mengangguk lalu berjalan ke arah nakas tak jauh dari ranjang. Dia menelfon pelayan yang ada di bawah untuk membawakannya sarapan ke kamar.
" Siapa yang mengantarmu kemari? " tanya Joaquin yang sudah berada di samping Noura.
" Gilbert. " jawabnya singkat.
" Joaquin dengarkan aku. Ini adalah keinginanku dan kau harus menurutinya. " Noura berkata
" Apa itu sayang? Aku akan memastikan semua keinginan mu terkabul. " terang Joaquin.
" Hati ini juga ayo kita menikah. Aku tidak ingin jauh darimu tanpa status yang kuat. Aku tidak mau menyesal di ujung nanti. "
__ADS_1
" Noura, kau tahu alasanku tidak segera menikahimu kan. "
" Aku mengerti dan aku menerima itu semua. "
" Semua nya tidak bisa semudah itu Nou "
" Baik jika kau menolak. Aku pastikan saat berada di negaraku aku tidak akan menolak lelaki manapun yang meminang ku. Untuk apa aku menunggumu kalau kau tidak ada niat menjadikan ku yang pertama dan terakhir untukmu. " Noura segera bangkit dari ranjang dan langsung berlari keluar dari kamar Joaquin.
Joaquin yang khawatir dengan kondisi Noura mengejar Noura tanpa memikirkan kakinya. Tepat Noura di ujung tangga lantai satu, Joaquin keluar dari lift. Dia langsung berlari dan mencekal tangan Noura.
" Nou, baik aku akan menikahi mu sekarang. Tolong jangan berkata seperti itu. Aku tak bisa hidup tanpamu sayang. " Joaquin langsung membenamkan tubuh Noura ke dalam pelukannya.
" Kau... Kau... Kau... Bisa berjalan Joaquin. Kau bisa berdiri dan berjalan. Apa aku mimpi? " air mata Noura sudah turun tanpa dipinta.
Joaquin Menganggukan kepalanya. " Iya, tapi aku punya batas waktunya. Hanya 6 jam saja. " terang Joaquin
" That' s enough. Nanti juga akan bisa berjalan normal lagi. Ini kemajuan yang luar biasa. Tapi sejak kapan? "
" Tiga hari yang lalu sayang. "
Joaquin memeluk Noura dengan erat. Melihat kebahagiaan dari wajah Noura saat melihatnya bisa berjalan adalah suatu hadiah terindah untuknya.
Sesuai dengan keinginan Noura, Joaquin meminta anak buahnya untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan. Dirinya juga menelfon keluarga Noura yang juga mendukung keputusan itu.
" Maaf Nou, aku membuatkan pesta yang megah untuk Theo tapi justru memberimu pesta pernikahan yang sangat sederhana. " sesal Joaquin
" Aku tidak apa-apa. Aku tidak peduli mewah atau tidaknya, yang penting aku bisa menikah denganmu sekarang. " Noura mengulas senyum yang sangat tulus di depan Joaquin.
Keluarga Noura sudah tiba di mansion milik Joaquin . Masing-masing dari mereka segera di rias. Walau pesta pernikahan yang sederhana tapi tetap harus berkelas.
Noura kini sedang dirias di salah satu kamar di mansion tersebut. Bibirnya terus tersenyum menunjukkan bahwa dia sangat bahagia saat ini. Keinginannya terwujud, menjadi nyonya Joaquin de Niels.
" Terima kasih Joaquin kau mau mengabulkan keinginan ku ini. Betapa beruntungnya aku menjadi istrimu. Semoga pernikahan ini akan menjadi awal yang indah bukan akhir yang memilukan. "
__ADS_1