Kisah Cinta Noura

Kisah Cinta Noura
Robin dan Siska


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah, sepasang suami istri sedang bertengkar hebat. Hubungan mereka yang terjalin karena rasa tanggung jawab, dalam waktu satu tahun sudah nampak sekali aslinya. Awal yang dulu mereka terlihat mesra kini mulai saling cekcok.


Robin yang menikahi seorang wanita yang mengaku hamil anaknya dan meninggalkan tunangannya sendiri saat acara pernikahannya. Robin yang tidak tahu harus berbuat apa terpaksa menikahi Siska yang tengah mengandung anaknya. Dia harus melepaskan wanita yang dicintainya.


Siska adalah seorang wanita yang usianya masih sangat muda tapi menjalani hidup gang keras. Sejak SMP dia sudah kehilangan keperawanannya agar bisa membiayai hidupnya sendiri. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan meninggalkan banyak hutang untuk nya.


Merasa kagum dengan sosok Robin, Siska yang satu fakultas dengan Robin mulai merancang rencana agar bisa mendapatkan Robin. Dan malam itu, saat pesta di bar bersama semua teman satu fakultas dengannya, Siska menjebak Robyy dengan memberi obat perangsang pada Robin hingga malam panas itu pun tak terelakkan.


Lima bulan setelah peristiwa malam itu, dua bulan sebelum pernikahan Robin, Siska mendatanginya dan mengatakan sedang mengandung anaknya. Robin pun menikahinya, awal hubungan pernikahan mereka sangat baik, tapi semua itu berubah saat Noura kembali ke negaranya.


" Dasar ja**** , gara-gara kau aku harus kehilangan wanita yang aku cintai. " hardik Robin.


" Dengar awalnya pernikahan kota baik-baik saja tapi kenapa setelah Noura kembali kau malah kasar padaku. Noura sudah menikah dan akan segera memiliki anak kau berpikir siapa kau bisa kembali padanya. " sentak Siska.


" Diam kau. " bentak Robin, tangannya sudah mencengkeram rahang milik Siska.


" Ini semua karena kau, dan kau harus tanggung jawab. Terima nasib mu saat nanti aku membalas setiap rasa sakitku. " bisik Robin dengan nada yang sangat dingin di telinga Siska. Saking dinginnya sampai Siska bergidik ngeri.


Robin melepaskan cengkramannya pada rahang Siska lalu pergi berlalu meninggalkannya begitu saja. Robin bahkan membanting pintu apartemen yang dia tinggali dengan Siska


" Hiks.... Hiks... Apa aku ini tidak pantas bahagia? Ini semua karena Noura, seandainya dia tidak kembali pasti Robin akan tetap bersikap baik padaku. " gumam Siska terisak hebat.


" Kau membuat hidupku jadi berantakan Nou. Ini semua salahmu. " raung Siska.


Masih terisak tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Nada ini adalah nada bila ada panggilan masuk ke ponsel miliknya. Dilihatnya sekilas ternyata hanya nomer tak dikenal, Siska pun mengabaikannya. Alangkah sangat menyebalkannya saat kita sedih justru ponsel tak berhenti berbunyi. Dengan sedikit kadar, Siska mengangkat telfon tersebut.


" Halo... Siapa sih ini? saya sedang tidak ingin diganggu " ketus Siska mengangkat.


" Noura Robinson.... "

__ADS_1


Degh... Degh... Degh...


Jantung Siska bertalu kencang, baru saja dia membicarakan orang itu, kini orang lain menyebut namanya.


" Kau ingin balas dendam padanya? " tanya si penelpon.


" Kau iya memang kenapa? " tanya Siska dengan ketus. Dia malas sebenarnya menjawab telfon ini.


" Saya bantu kamu membalaskan dendam mu. Tinggal melaksanakan rencana saya saja. " jawab si penelfon yang bila didengar seperti suara palsu.


" Maksud mu? "


" Cukup bantu saya melancarkan rencana saya maka Noura Robinson akan lenyap dari dunia ini. Saya dan kamu sama, orang yang kota cintai direbut oleh wanita bernama Noura Robinson itu. " terang si penelpon berusaha untuk mengambil hati Siska.


" Apa kau bisa dipercaya? " tanya Siska memastikan. Dia tidak mau jika dijadikan kambing hitam.


" Baik aku ikut kau. " ujar Siska setelah lama dia berpikir.


" Baik, tunggu kabar dariku saat rencana itu dimulai. "


Siska tersenyum puas saat tahu ternyata ada juga yang membenci Noura. Siska akan menjadikan ini sebagai awal dari pembalasan dendamnya pada Noura. Siska ingin, Noura bisa merasakan rasa sakit seperti dirinya.


" Lihat saja Nou. Kau juga akan merasakan yang aku rasakan. "


Keesokan harinya, Robin kembali ke apartemen dalam keadaan sehabis mabuk. Siska semakin dibuat geram saat Robin tak memperdulikannya dan juga anak mereka. Padahal saat itu putranya sedang menangis ingin digendong daddynya.


" Robin, ini Romeo sedang pengen digendong sama kamu. Kamu sebagai daddy nya nggak boleh dong cuek begitu aja. " sentak Siska sambil menggendong Romeo.


" Berisik sekali sih kalian. Aku capek aku pengen tidur. Keluar kalian!! " hardik Robin.

__ADS_1


Mendengar nada keras dari pembicaraan keduanya orang tuanya Romeo semakin histeris menangis. Bayi gembul yang kini berusia delapan bulan itu terus menangis tak mau berhenti. Robin yang merasa terganggu dan kesal lalu mendorong pelan tubuh Siska kemudian membanting pintu kamarnya.


" Ya Tuhan.. " Siska kaget. Pintu itu tertutup tepat dihadapannya. Sontak Romeo semakin menangis tak mau berhenti.


" Cup.... cup... cup... Sayang jangan nangis ya itu daddy lagi ngantuk pengen bobo. Yuk Romeo ikut sama bunda aja ya kita ke rumah opa sama oma. " Siska menimang-nimang anaknya agar berhenti menangis.


Siska akan pergi ke kediaman Luizi untuk mengadukan Robin pada kedua orang tua Robin sendiri. Meski Siska tak dianggap oleh mertuanya tapi jika itu mengangkut Romeo pasti kedua orang tua Robin akan menegur putra mereka yang terkesan cuek pada Romeo.


Siska membereskan beberapa kebutuhan Romeo yang harus dibawa bila sedang keluar rumah. Siska memasukan kebutuhan Romeo ke dalam tas yang agak besar yang merupakan tas khusus untuk membawa perlengkapan bayi.


Siska memesan taksi online untuk membawanya ke rumah mertuanya. Ribut jika berkendara sendiri tanpa ada yang membantu dia menjaga Romeo. Dua pulih menit, mobil yang ditumpangi oleh Siska sampai di depan rumah besar milik keluarga suaminya. Siska kemudian dihampiri oleh penjaga pos keamanan di kediaman itu. Penjaga itu membantu Siska membawa beberapa paper bag dan tas milik Romeo.


" Mama, selamat pagi. " sapa Siska. Sekarang ini masih jam delapan pagi. Siska melihat mama mertuanya sedang berjalan dari ruang keluarga ke ruang makan, langsung saja menyapanya.


" Kamu ngapain pagi-pagi udah sampai sini. Memangnya kamu nggak nyiapin kebutuhan suami kamu ya? " cerca Mama Lucia.


" Robin kelihatannya nggak ngantor ma. Semalam dia nggak pulang dan sekarang masih tidur. Aku pengantin ngajak dia ke sini tapi dia nya malah marah. Romeo nangis aja dia nggak peduliin. " ujar Siska mendramatisir.


" Apa kamu bilang, Romeo dicuekin Robin? " tanya papa Luizi yang tiba-tiba keluar dari ruang makan.


Dengan sigap papa Luizi menggendong tubuh gembul milik Romeo. Diajaknya cucunya itu untuk bercanda, Romeo pun berceloteh tak jelas dan tertawa.


Siska melihat hal itu sangat senang, setidaknya karena Romeo dia masih akan tetap menjadi istri dari Robin. Sengaja Siska merawat sendiri Romeo agar anaknya itu memiliki kedekatan khusus dengannya. Sehingga suatu saat nanti keduanya tak akan bisa dipisahkan.


Siska yang tengah asyik melamun tiba-tiba kaget saat merasakan ponsel yang ada di saku belakang celananya bergetar. Siska merogoh ponsel itu lalu melihat nomer tak dikenal menelfon nya. Siska pun berpamitan ke kamarnya dulu untuk mengangkat telepon itu karena dia tahu siapa penelfonnya.


" Halo. " Siska mengangkat telefon itu.


" Kita ketemu nanti malam di cafe cofee di Super Mall. Aku tunggu kau jam tujuh malam. "

__ADS_1


__ADS_2