
Dua puluh tahun kemudian
Puan cukup bahagia dengan dua anak yang cantik dan tampan, juga seorang suami yang penuh kesabaran. Singgasana ratu siluman harimau masih tetap tertulis dalam takdirnya.
Keadaan di Pulau Kumbang sudah banyak berubah. Kini, banyak siluman harimau yang tinggal disana. Namun pulau itu tidak menakutkan seperti dulu karena sudah ada tempat penyeberangan menuju ke desa manusia.
Puan sudah berusaha menjadi ratu yang baik. Menjadi penengah dan penentu. Membuatnya kehilangan waktu untuk dirinya sendiri.
Hanya saja, Puan merasa kekuatannya semakin lemah. Dia sadar telah terjadi hal buruk di dalam tubuhnya. Puan hanya diam tanpa ada seorang pun yang tahu.
"Ibu ...."
Puan menoleh. Dia melihat bayangan dirinya pada putrinya yang cantik.
"Ada apa, Ratih?"
Gadis muda itu tersenyum.
"Apa ibu tidak merasa dingin. Angin laut semakin kencang!"
Puan baru tersadar. Menjelang malam, dia selalu menghabiskan waktu di tepi pantai. Menatap keseberang lautan dan menunggu sesuatu.
"Disana cuma ada kegelapan, Bu. Mengapa ibu sangat betah melihatnya bahkan sampai pagi menjelang?"
Ratih juga melepaskan pandangannya seperti sang ibu. Disana hanya ada kegelapan.
Puan hanya tersenyum tipis. Disana memang hanya ada kegelapan. Namun, disana juga menyimpan banyak kenangan.
"Apa kamu siap untuk menikah, Ratih? Usiamu sudah cukup untuk memiliki keluarga!"
__ADS_1
"Tentu saja Ratih mau menikah, Bu. Tapi gak mau sama siluman harimau. Ratih hanya ingin menikah dengan manusia biasa."
Puan menatap puterinya itu lekat.
"Apa kamu yakin? Manusia lebih jahat dari makhluk manapun. Mereka bisa membuatmu celaka!"
"Gak semua manusia seperti itu, Bu! Ratih yakin bisa bertemu dengan manusia yang baik. Ratih sering ke pasar di seberang pulau. Mereka baik-baik bahkan membantu Ratih!"
"Mengapa kamu kesana, Ratih? Mereka bisa mencelakakan kamu jika tahu kamu sebenarnya!"
Puan menjadi sangat khawatir.
Ratih hanya tertawa kecil.
"Aah, Ibu. Gak apa-apa, kok. Ratih sudah sering kesana bersama ayah sejak kecil."
"Sejak kecil, ibu sudah dijauhkan dari kehidupan manusia biasa. Itu karena orang tua ibu meninggal karena kejahatan orang-orang itu. Ibu takut terjadi hal buruk padamu. Jangan pergi kesana apalagi kalau kamu sendirian!"
"Tapi, bu ....."
Puan memegang tangan putrinya itu erat dan menatapnya lekat. Ratih melihat bayangan di mata ibunya. Sebuah kejadian dimana manusia biasa memburu harimau dan membunuhnya hanya demi uang.
"Itulah kejahatan mereka, Ratih. Ibu sangat khawatir denganmu!"
Ratih tidak berani membantah ibunya lagi setelah melihat bayangan itu. Sesuatu yang sangat mengerikan.
*****
Sebenarnya Ratih sudah mempunyai kekasih seorang manusia biasa. Dia putera seorang ulama. Adab dan sikapnya sangat sopan. Dia tidak tega menyakiti binatang. Itulah yang disukai Ratih dari laki-laki itu.
__ADS_1
Sudah hampir seminggu, Ratih tidak ke desa. Dia berniat hari itu pergi sendiri dengan menaiki perahu.
Sekarang sudah ada perahu yang cukup besar untuk menyeberang. Manusia harimau lain juga sering ke desa untuk sekedar melihat-lihat atau membeli keperluan.
Ratih mengendap-endap keluar dari kamarnya kemudian langsung berlari menuju ke tempat penyebrangan.
Puan mengetahui gelagat puterinya dan mengikuti Ratih.
"Mau kemana kamu, Ratih?"
Ratih sangat terkejut ketika sang ibu menemukannya.
"Ibu ...."
"Hei, kalian mau ikut tidak?" tanya seorang laki-laki tukang perahu. Dia adalah manusia biasa dan tidak tahu siapa Puan.
"Iya, Pak. Kami ikut!"
Ratih menarik tangan ibunya dan langsung menaiki perahu.
Puan tidak bisa menolak dan mengikuti kemauan puterinya. Ini baru pertama kalinya Puan meninggalkan pulau kumbang.
Ombak laut membuat perahu terombang-ambing. Sebuah bayangan terlintas di mata Puan.
"Suatu saat aku akan mengajakmu keluar dari pulau ini, Puan!"
Janji itu keluar dari mulut Anthony. Namun kenyataannya, dia pergi sendirian tanpa Puan.
*****
__ADS_1