
Puan masih berdiri di depan jendela. Memandangi kerlap kerlip cahaya lampu di luar kamarnya. Jauh di dalam kegelapan, penglihatannya melewati deburan ombak menuju ke Pulau Kumbang.
"Apa yang sedang kamu lihat, Puan?"
Tiba-tiba, Alex muncul. Puan sedikit terkejut.
"Tuan? Kenapa selalu datang tiba-tiba?"
Alex tertawa kecil.
"Kamu saja yang lagi melamun. Apa sih yang sedang kamu pikirkan?"
Puan kembali melepas pandangannya ke luar jendela.
"Aku sudah tidak sabar bermain air di pantai! Aku merindukan semilir angin di Pulau Kumbang!" jawab Puan tanpa mengalihkan pandangannya.
Sebenarnya, Alex tahu apa yang sedang dipikirkan Puan. Namun, dia hanya pura-pura tidak tahu saja.
"Hhmmm, bagaimana kalau sekarang kita ke pulang saja!" celetuk Alex.
"Pulang? Bagaimana bisa, sedangkan di luar sudah gelap."
"Apa kamu tidak ingat? Aku membawamu ke rumah sakit ini juga ketika gelap. Aku akan membawamu menaiki burung raksasa!"
Puan terdiam. Mencoba mengingat apa yang dikatakan Alex. Namun tak bisa mengingatnya sedikitpun.
"Burung raksasa?"
Puan menatap Alex setengah percaya. Dia tahu Alex sedang bercanda.
"Apa kamu tidak percaya padaku? Baiklah! Kita akan melihat burung raksasa itu sekarang juga dan kembali ke Pulau Kumbang!"
Alex menggenggam tangan Puan erat. Dia juga tak sabar memperlihatkan keadaan Pulau Kumbang sekarang.
Beberapa saat kemudian.
Puan tertegun melihat sesuatu yang dikatakan Alex sebagai burung raksasa.
"Itu bukanlah seekor burung, Tuan!"
Alex tertawa. Dia senang melihat Puan kebingungan.
"Ya, itu memang bukan burung sebenarnya. Benda ini hanya burung besi, tapi bisa terbang seperti burung. Namanya helikopter. Ayolah, kita naik!"
Alex menarik tangan Puan yang masih kebingungan. Sebentar lagi mereka akan terbang.
"Apa kita sudah terbang, Tuan?" tanya Puan yang tanpa sadar memejamkan mata.
"Tentu saja kita sedang terbang! Bukalah matamu. Sekarang kita sedang berada di atas lautan. Sayang, keadaan gelap jadi tidak bisa melihat dengan jelas!"
Perlahan, Puan membuka mata. Samar, dia melihat deburan ombak di bawah burung besi itu.
"Nanti, kita bisa melihatnya dengan jelas jika sudah terang!"
Puan hanya diam saja. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
"Mengapa kepalaku pusing, Tuan?"
Alex sedikit risau mendengar pengakuan Puan.
"Mungkin kamu tidak terbiasa terbang. Tenanglah! Sebentar lagi kita sampai!"
__ADS_1
Puan memilih untuk tetap memejamkan mata. Sampai akhirnya burung besi itu tidak bergerak lagi. Tanpa sadar, Puan tertidur.
Tiba-tiba, Puan membuka mata. Dia melihat Alex ada disebelahnya dan menggenggam tangannya erat.
"Dokter Alex?"
Alex terbelalak. Dia menatap Puan lekat. Ada yang aneh dengan kata-kata Puan.
"Kamu, Dara?"
"Di mana kita, dokter?"
Alex buru-buru melepaskan genggaman tangannya.
"Kita sedang di dalam helikopter menuju ke Pulau Kumbang. Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku seperti bermimpi sangat aneh. Aku bisa melihat namun tidak bisa mengingat. Apa aku lupa ingatan?"
Alex tidak tahu harus berbuat apa. Dia sendiri tidak menyangka kalau Dara bisa kembali ke dalam tubuhnya sendiri. Berarti Puan tidak seutuhnya kembali.
"Mungkin karena kecelakaan itu yang membuatmu sedikit lupa ingatan!" Alex berusaha tenang.
"Kecelakaan? Aku ingat ada seseorang yang sudah menculikku. Apa mereka sudah ditangkap?"
Dara yang sudah kembali masih ingat kejadian yang menimpanya.
"Tidak! Mereka belum tertangkap. Tenanglah, nanti juga polisi akan menyelidikinya. Istirahatlah!"
Dara tersenyum dan mengangguk. Tak lama dia pun kembali memejamkan mata.
Alex hanya diam saja. Senyuman Puan dan Dara tidaklah sama. Entah mengapa Alex merindukan keduanya!
*****
"Tenanglah! Jiwa puterimu tidak benar-benar pergi!"
"Dato Patra?"
Nara sangat senang dengan kedatangan Dato Patra. Dia adalah satu-satunya keluarga dari keturunan siluman harimau.
"Kau harus senang karena di dalam tubuh putrimu ada titisan Ratu Puan. Namun, itu tidak akan selamanya. Jika waktunya tiba, putrimu yang akan menggantikan tempatnya!"
"Maksud Dato? Nanti, jiwa puteri saya akan kembali di dalam tubuhnya?"
"Ya! Tapi sampai Ratu Puan kembali membangkitkan para siluman harimau. Aku sendiri tidak bisa menjadi harimau. Namun di tempat lain pasti masih banyak. Mereka akan berkumpul kembali seperti dulu!" jelas Dato Kumbang.
"Apakah nanti puteri saya kembali menjadi manusia biasa, Dato?"
Dato Patra hanya diam saja. Semuanya tidak akan kembali seperti semula. Tapi, dia tidak akan membuat Nara semakin khawatir.
"Ya! Dara akan kembali menjadi manusia biasa!"
Hati Nara sudah tenang. Setidaknya masih ada harapan bertemu lagi dengan puterinya. Untuk saat ini, Nara hanya bisa menunggu.
*****
"Cepatlah! Kamu harus ke rumah Tuan Alex," ucap Diva yang muncul pagi-pagi sekali.
"Memangnya ada apa? Kenapa harus sepagi ini?"
Nara sedikit heran. Biasanya dia memang selalu ke rumah dokter Alex tapi tidak sepagi ini.
__ADS_1
"Ratu Puan eeeh Nona Dara sudah kembali!"
"Apa? Dara sudah pulang? Mengapa tidak pulang ke sini?"
Nara lupa kalau di dalam diri puterinya ada orang lain. Dia pun kembali terdiam.
"Setidaknya, kamu masih bisa berada di samping puterimu!"
Diva juga tidak bisa menjelaskan. Dia tahu apa yang dirasakan Nara.
"Baiklah! Aku akan ikut denganmu."
Nara berusaha menguatkan hatinya. Yang dikatakan Diva benar. Dia masih bisa menjaganya sebagai seorang ibu.
*****
Puan membuka matanya pelan-pelan. Semalam dia tertidur dengan nyenyak. Bahkan, ketika terjaga sudah berada di atas tempat tidur.
Hawa dingin berhasil masuk dari jendela dan membuat Puan sedikit merinding. Cahaya matahari sudah mulai meninggi namun tak berhasil mengusir dinginnya.
"Apakah Ratu sudah bangun?"
Puan menoleh. Ternyata di dekatnya sudah berdiri seorang wanita setengah baya.
"Jangan panggil aku seperti itu. Aku tidak tinggal di jaman dahulu. Panggil namaku saja!" ucap Puan dengan senyuman di sudut bibirnya.
Perempuan setengah baya itu adalah Nara. Hatinya sangat sakit ketika puterinya sendiri tidak mengenalinya.
"A-apa boleh saya memanggilmu dengan sebutan nona?" tanya Nara berusaha tenang.
"Baiklah! Apa aku boleh memanggilmu ibu?"
Nara tertegun. Tak menyangka Puan akan memanggilnya seperti Dara.
"Baik, nona. Saya memang seorang ibu!"
"Benarkah? Di mana anakmu? Apakah dia laki-laki atau perempuan?"
"Anak saya perempuan, nona. Namanya Dara," jawab Nara sedikit ragu. Menceritakan perihal puterinya dengan puterinya sendiri.
"Nama yang cantik! Apakah aku bisa bertemu dengannya nanti?"
"Bisa, nona. Tapi sekarang dia sedang sibuk ujian sekolah!"
Nara sangat menyesal karena sebentar lagi Dara akan lulus sekolah. Namun, tak bisa terwujud karena tidak bisa mengikuti ujian.
"Ujian sekolah? Apakah sekolah berkuda? Aku bisa mengajarinya sedikit. Dulu aku pandai menaiki kuda ke sekeliling pulau!"
Puan jadi teringat kesenangannya dulu. Dia akan menaiki kuda sampai petang.
"Bukan seperti itu, Nona. Tapi sekolah untuk belajar ilmu pengetahuan. Puteri saya sangat pandai dan selalu menjadi juara satu!"
Dara memang anak yang pintar. Dari kecil selalu.menjadi juara di kelasnya.
"Wah! Sekolah ilmu pengetahuan, ya. Aku juga mau belajar seperti itu. Apakah aku bisa belajar dengan puterimu?"
Nara terdiam. Kali ini, tak mampu untuk menjawab pertanyaan Puan.
"Tentu saja kamu bisa, Puan. Tapi tak perlu sekolah lagi. Aku akan mengajarimu apapun yang kamu ingin pelajari!"
Tiba-tiba, dokter Alex muncul. Nara menjadi sedikit cemas. Perlakuan dokter Alex sangat berbeda. Dia tahu hubungan dokter Alex dengan Puan dahulu sangat dekat. Namun, bukan dengan tubuh puterinya!
__ADS_1
*****