
Puan pertama kali menginjakkan kaki di kampus Universitas Anthony. Dia tidak menyangka, kalau Tuan Antony juga mendirikan universitas selain rumah sakit dan resort.
Di taman banyak mahasiswa dan mahasiswi bercengkrama, sebagian sibuk mengerjakan tugas dan sebagian sendirian bersama hapenya.
"Apa yang akan aku lakukan di sini?" tanya Puan yang masih kebingungan.
Keanu yang mendampinginya memikirkan sesuatu, "biasanya ada orientasi mahasiswa baru. Tapi, kalau disini sih tidak ada. Hanya ada perkenalan grup ekstra kurikuler. Ratu, eeem kamu bisa memilih salah satu bidang yang paling disukai," jelas Keanu kaku. Dia masih singkan berbicara santai dengan Ratu Puan.
Puan membayangkan apa yang akan diambil, ""hhmm, aku mau masuk bidang apa, ya? Mungkin berkuda atau berburu!" celetuknya.
Keanu tersenyum, "bidang itu sudah tidak ada. Mungkin memanah masih ada. Itu sudah tergolong olahraga!" jelas Keanu lagi.
Wajah Puan bertambah semringah, "benarkah? Dulu aku juga sangat suka memanah! Ya sudah. Aku akan memilih bidang memanah saja!" ucap Puan antusias.
Keanu tertawa kecil melihat sikap Puan yang seperti anak kecil. Dia merasa sedang bersama keponakannya sendiri.
"Saya sarankan kamu memilih bidang yang sesuai dengan jurusan yang kamu ambil, Dara!"
Puan kembali serius, "memangnya aku kuliah di jurusan apa?" tanyanya kebingungan. Dia bahkan tidak tahu kuliah di jurusan apa.
"Kamu akan kuliah di jurusan hukum. Lebih baik mengambil bidang yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Disana kamu bisa mempelajari hukum apa saja yang berlaku!" jelas Keanu lebih mendetail.
Puan manggut-manggut, "terlalu berat! Aku pilih kelas memanah saja," ucapnya seraya ngeluyur pergi.
Keanu hanya tersenyum melihat sikap Puan yang sangat berubah. Ketika bertemu pertama kali, Puan masih kebingungan. Kali ini, dia bisa memilih apapun yang disukainya.
Puan terus memerhatikan anak-anak muda di sana. Mulai dari dandanan sampai gaya busana tidak lepas dari matanya. Ternyata, kehidupan di kampua sudah sangat maju.
Tak lama, Puan berhenti, "mereka sedang apa? Apa sedang menonton tv?" tanyanya ketika melihat segerombolan mahasiswa melihat layar kecil seperti tv.
"Oh, itu adalah laptop. Nanti kamu juga akan memakainya," jawab Keanu. Dia merasa bersalah karena belum sempat memperlihatkan benda yang sangat penting itu.
"Laptop? Bagaimana cara memakainya? Apakah seperti hape ini?" Puan mengeluarkan hape dari dalam tasnya.
"Bisa juga, tapi kalau laptop itu lebih besar!"
__ADS_1
Puan kembali menganggukan kepalanya. Masih banyak yang belum ia ketahui. Jika saja ada Alex, dia pasti akan mengajarkan Puan banyak hal.
Entah kenapa, Puan mulai merindukan Alex padahal belum saja sehari mereka tidak bertemu. Puan memandang langit biru yang sangat cerah. Alex pasti masih berada di angkasa dan tengah memandanginya dari kejauhan.
*****
Saka berpikir keras agar bisa masuk ke dalam lapas tanpa dicurigai siapapun. Kalau perlu Saka akan menjadi tahanan.
Wajahnya langsung cerah. Ya! Dia akan menyamar menjadi tahanan saja agar bisa masuk ke lapas dengan mudah.
"Gila kau! Di dalam lapas itu bukan tempat bermain. Kau malah bisa menjadi bulan-bulanan kalau para tahanan tahu kalau kau itu seorang polisi!" Bonar sangat terkejut mendengar cerita Saka.
Saka tetap bersikeras dengan niatnya, "pokoknya aku harus masuk ke sana! Aku sangat yakin kalau pembunuh itu ada di dalam lapas. Aku punya foto mereka memasuki pintu gerbang dengan mudah!" katanya penuh bara.
Bonar terdiam. Dia tahu kalau Saka akan tetap melakukannya meski tanpa bantuan.
"Okelah kalau begitu. Aku akan bantu kau masuk ke sana. Tapi kalau sudah di dalam aku tidak tahu. Tidak satupun intel yang sanggup bertugas di dalam. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri!"
Saka semringah mendengar perkataan rekannya yang sesama intel. Dia sengaja tidak memberi tahu Kapten Aris karena dia adalah kaki tangan Pak Iskandar.
Untuk melakukan penyamaran itu, Saka mengambil cutinya selama tiga hari. Lagi pula, Saka juga akan mengantarkan adiknya yang mau kuliah ke Universitas Anthony seperti Dara juga.
"Sudahlah! Kamu tetap kerja aja, Nak Saka. Biar Ratih tinggal bersama kami. Dara pasti senang kalau melihat adikmu!" ujar Nara yang sangat antusias karena Ratih akan menyusul Dara kuliah juga.
"Maaf kalau merepotkan ya, bu. Adik saya sedikit ceroboh!" ujar Saka ketika kembali menemui Diva.
Diva tidak bisa mencegah kemauan Nara. Lagipula, Saka akan membantunya menyelidiki masalah vampire hitam.
"Iya, Saka. Nanti sore kami akan berangkat. Ajaklah adikmu ke sini agar kami berangkat sama-sama," ucap Diva yang mulai melunak. Dia sadar kalau kemauan Nara karena untuk kebaikan puterinya juga.
"Siap, pak!" ujar Saka seraya bersikap seperti kepada atasannya.
Nara semakin memuja Saka. Dia sudah membayangkan kalau Dara akan mendampingi Saka sebagai istri polisi.
Diva kembali melihat tatapan Nara yang penuh binar kepada Saka. Kali ini, Diva berusaha menahan rasa cemburunya. Nara hanya bersikap sebagai seorang ibu yang ingin mempunyai menantu seorang polisi.
__ADS_1
"Jadi kapan kamu akan masuk ke lapas?" tanya Diva ketika Nara tidak ada.
"Besok pagi, tuan. Saya akan berkoordinasi dengan rekan yang lain agar lebih meyakinkan," jawab Saka yakin.
Diva mengangguk pelan, "sebaiknya jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Aku hanyalah pelayan. Panggil aku dengan paman atau apalah!" tegur Diva.
Saka mengerutkan keningnya, "baiklah. Saya panggil bapak saja. Kan nanti juga akan menjadi bapak mertua saya!" ledek Saka.
Diva malah melotot mendengar perkataan Saka. Dia malah mendukung kemauan Nara. Atau Saka memang menyukai Dara juga?
*****
Ternyata di dalam mobil mewah yang masuk ke dalam lapas, ada Iskandar dan Harry. Iskandar akan menemui Jack dan Daniel sementara Harry akan menemui Rio dan Gerry.
Harry sengaja memisahkan diri dari ayahnya dan mencari keberadaan Rio. Dia akan membicarakan soal tempat persembunyiannya di lapas. Bahkan Harry berniat mengangkat mereka menjadi sipir.
"Aku akan menemui dua orang yang aku titipkan padamu kemarin!" ucap Harry kepada salah satu sipir.
Sipir itu sangat terkejut melihat kedatangan Harry. Wajahnya pun berubah menjadi pucat.
"Eeh anu, pak. Apa kedua vampire itu tidak membicarakannya dengan bapak?" kata sipir itu seidkit gugup.
"Membicarakan soal apa?" tanya Harry yang tidak tahu apa-apa.
"Anu, pak. Orang titipan bapak ada di ruang isolasi. Semalam mereka dijadikan vampire oleh tuan Jack dan Daniel!" jelas sipir itu lagi.
"Apa? Mereka dijadikan vampire?!"
Harry tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dia tidak menyangka kalau kedua vampire itu sudah melakukan keinginan mereka tanpa bicara dengannya lagi.
"Lalu, di mana mereka sekarang?" tanya Harry ingin tahu.
"Masih di ruang isolasi, pak. Mereka berubah menjadi liar dan membuat keributan sepanjang malam. Mereka baru diam setelah memangsa seekor kambing," ungkap sipir itu.
Harry kembali terdiam. Situasi sudah berjalan jauh. Rencananya tidak sesuai dengan yang dipikirkan dulu. Harry harus mengambil sikap. Mau tidak mau harus mengikuti kemauan ayahnya.
__ADS_1
Haruskah dia juga menjadi kaki tangan vampire?
*****