
Anthony bergegas menemui Raja vampire putih kembali dan meminta untuk melepaskan gelar bangsawannya. Gelar itu bukan dia yang meminta tapi membuat hidupnya terikat.
"Apa yang sudah terjadi? Kau berjanji akan menikahi Gisel?" tanya Sang Raja penasaran. Padahal Anthony sudah berjanji untuk melakukannya.
"Maaf, Raja. Ada yang lebih penting daripada itu. Yaitu hati saya!" jawab Anthony penuh keyakinan.
Raja hanya tertawa mendengar jawaban Anthony.
"Apa kau lupa kalau vampire tidak punya hati?" tanyanya lagi.
"Hati itu saya dapatkan dari seorang gadis siluman harimau. Meskipun waktu sudah berjalan lama namun hati itu masih sama. Karenanya saya menjadi manusia, Tuanku!"
Sang Raja terdiam. Dahulu dia tidak mengerti, mengapa Anthony meninggalkan semua kemewahan dan kejayaan yang dia berikan. Kini, dia juga melakukan hal yang sama.
"Aku ingin bertemu dengan gadis yang kau sebutkan itu!"
"Sudah tidak ada waktu lagi, Tuan. Waktunya segera tiba. Dia akan kembali ke alamnya. Makanya saya harus segera pergi untuk menemuinya. Tolong izinkan saya,Tuan!" pinta Anthony dengan penuh perasaan sambil menundukan kepalanya.
Tidak jauh dari singgasana, Gisel memerhatikan mereka dengan tatapan sedih. Ramalannya tidak pernah salah. Meskipun Puan sudah tidak ada, masih ada gadis lain yang mengisi hati Anthony.
Akhirnya, Sang Raja menuruti permintaan Anthony. Tapi dengan syarat, Anthony harus membawa gadis yang dinaksudnya ke hadapan Raja. Sesuatu yang mustahil karena lokasi kerajaan yang tidak pernah dijamah manusia biasa.
Anthony menyanggupi syarat yang diajukan Raja. Yang ada di dalam pikiran Anthony adalah bertemu dengan Puan secepatnya.
"Aku ingin ikut denganmu, Anthony. Setidaknya aku bisa membantumu melawan para vampire hitam!" ucap Gisel sebelum Anthony pergi.
"Tidak, Gisel. Jangan kotori tanganmu dengan darah. Tetaplah di sini menjaga keseimbangan para vampire. Aku yakin kamu bisa melakukannya!" jawab Anthony yang menolak permintaan Gisel.
"Suatu saat aku akan menyusulmu, Anthony. Aku sangat ingin bertemu dengan gadis yang sudah membuatmu seperti ini!"
Tak ada kesedihan bagi Gisel. Vampire hanya berbentuk manusia namun tanpa hati dan perasaan. Namun, Gisel mampu melihat masa depan. Dia melihat dirinya melihat dunia Anthony. Meskipun tak pernah tahu kapan waktunya.
Tak lama kemudian, Anthony sudah berada di bandara. Masih ada waktu setengah jam sebelum take-off. Dia sengaja menunggu agar tidak cepat masuk ke dalam pesawat.
Perlu beberapa hari lagi untuk sampai di hadapan Puan. Handphonenya sama sekali tidak berfungsi. Tidak ada jalan lain agar bisa mendengar suaranya. Berharap masih ada waktu untuk bertemu dengan Puan langsung dan mengucapkan perpisahan.
Di dalam istana, Gisel terjaga dari tidurnya. Dia melihat pandangannya menjadi hitam. Perasaannya tidak enak. Bayangan Anthony singgah di benaknya. Ada pesawat yang meledak. Anthony ada di dalamnya!!!
"Aku harus segera menyusul Anthony. Akan terjadi hal buruk padanya!"
__ADS_1
Gisel segera menyusul Anthony dan berbaur dengan keramaian. Sudah puluhan tahun dia tidak pernah keluar dari istana. Sudah banyak kemajuan yang terjadi. Dia harus memakai jubah yang hampir menutupi seluruh tubuhnya karena matahari selalu membuatnya kesakitan.Tidak ada waktu lagi. Anthony harus membatalkan kepergiannya!
*****
Sementara itu, di Pulau Kumbang. Para sipir tidak berkutik ketika puluhan tentara merangsek masuk. Mereka malah bersyukur karena bisa lepas dari kekangan para vampire.
Para tentara dan Bonar sudah sampai di bawah tanah dimana ada ruang isolasi. Ruangan itu sangat pengap dengan bau amis darah kambing yang masih menempel di lantai.
"Mereka ada di salah satu ruang isolasi, pak!" lapor seorang tentara.
"Apa benar mereka adalah kedua pembunuh yang kita cari?" tanya Bonar memastikan.
"Benar, pak. Seperti yang ada di dalam video. Mereka sudah berubah menjadi makhluk menyeramkan," jawab tentara itu.
"Baiklah! Aku akan melihat mereka langsung," ucap Bonar penuh keberanian. Dia memegang erat pistol yang diberikan Saka sebelumnya.
"Hati-hati, pak. Mereka sangat berbahaya!"
Bonar mengangguk dan menunggu dengan hati penuh debar. Pintu ruang isolasi itu pun dibuka pelan-pelan. Tiba-tiba, dari dalam berkelebat dua bayangan yang bergerak sangat cepat.
"Apaan itu tadi?" tanya Bonar yang keheranan. Beberapa tentara masuk ke dalam ruangan itu. Bau amis darah semakin menyeruak membuat napas menjadi sesak. Mereka pun tidak kalah terkejut. Ternyata ruangan itu sudah kosong.
"Apakah bayangan tadi adalah mereka?" tanya Bonar penasaran.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bagian belakang.
"Lapor, pak. Ada seorang anggota yang hilang!" ujar seorang tentara.
Jangan-jangan, makhluk itu sudah membawanya!!!
Ya! Rio dan Gerry yang sudah menjadi vampire muda segera kabur begitu pintu di buka. Mereka akan mencari mangsa karena rasa hausnya kembali lagi.
Mereka berhasil menarik seorang tentara yang paling belakang. Kemudian membawa tentara itu ke taman belakang yang sangat gelap.
Saka terus mencari keberadaan kedua vampire. Dia bisa melihat mereka meski berada di dalam gelap.
Tapi, Jack dan Daniel sudah jauh meninggalkan lapas bersama seorang tahanan narkoba. Nama tahanan itu adalah Salman. Dia adalah orang kaya meski kekayaannya didapat dari hasil menjual narkoba.
Di sudut gelap, Saka menemukan dua bayangan muncul. Dia mengira kalau itu adalah Jack dan Daniel. Ternyata mereka adalah Rio dan Gerry.
__ADS_1
Kedua vampire muda itu siap memangsa korbannya yang seorang tentara. Untung saja, Saka datang di saat yang tepat.
"Hei! Hentikan. Lawanmu adalah aku, bukan manusia itu. Darahku lebih lezat darinya!" teriak Saka cukup kencang. Dia pun merobek ujung jarinya dengan pedang. Darah segar pun mengalir ke pedang yang ada di tangannya.
Bau amis darah segar membuat kedua vampire itu terpengaruh. Mereka pun melepaskan korbannya dan beralih kepada Saka. Tentara itu langsung berlari cepat ke dalam gedung meski badannya masih gemetaran.
"Ya, kalian kemarilah. Darahku harum kan? Aku akan memberikan cuma-cuma kepada kalian!"
Kedua vampire muda itu tidak tahu siapa Saka. Mereka sudah tersihir dengan darah Saka yang ada terus mengucur di pedangnya.
Dengan secepat kilat, kedua vampire itu melayang ke arah Saka dan siap menyerangnya. Tapi, Saka sudah siap sedia. Tanpa menunggu lama, dia pun menebas leher keduanya dengan pedangnya.
Kedua kepala vampire muda itu pun langsung jatuh ke atas tanah. Tak lama tubuh mereka pun menyusul, kemudian hancur sampai tak bersisa.
"Mana vampire itu, Saka. Aku sudah siap membunuh mereka!" teriak Bonar yang baru muncul.
"Itu mereka!" jawab Saka seraya menunjuk ke bawah dimana ada bekas baju kedua vampire itu.
"Apa mereka benar-benar sudah mati?" tanyanya sambil menginjak baju kedua vampire itu dengan ujung kakinya.
"Tenanglah! Mereka sudah mati. Aku akan mencari yang lain!"
Bonar hanya tertegun mendengar ucapan Saka.
"Apa masih ada yang lain?"
Saka mengangguk dan memasukan pedangnya ke tempatnya semula.
"Tapi, mereka sudah jauh. Aku harus menemukan mereka secepatnya!" jawab Saka seraya melangkah pergi.
"Lalu bagaimana dengan semua anggotaku?" tanya Bonar sedikit bingung.
"Terserah kaulah!" jawab Saka santai. Dia yakin Bonar bisa mencari alasan menghadapi pertanyaan dari atasannya.
Malam sebentar lagi berakhir. Saka masih harus memburu vampire yang tersisa. Mereka bisa mendapatkan pengikut dengan mudah. Saka berjanji tidak akan melepaskan mereka sampai kapanpun!!!
Kisah cinta Anthony dan Puan mungkin akan berakhir. Tapi masih ada kisah cinta yang lain. Kisah cinta siapa, yaa??? Ikutin terus jalan ceritanya yaaa ...
❤❤❤❤❤
__ADS_1