
Tidak sampai sehari, kondisi Dara sudah stabil. Tinggal menunggu waktunya membuka mata.
Nara tidak beranjak sedikit pun dari samping puterinya. Rasa khawatirnya belum hilang meski kondisi Dara sudah membaik. Bahkan jika membuka mata, sesuatu yang lain juga akan terjadi. Nara hanya bisa menunggu dengan hati penuh debar.
Diva juga ada di sana. Menguatkan perempuan yang pernah dekat dengannya. Takdirlah yang memisahkan mereka. Tersadar, Diva hanyalah seorang pelayan.
Yah! Sebelum menikahi orang biasa, Nara dan Diva sempat dekat. Awal mulanya, dokter Alex menugaskan untuk menjaga Nara. Saat itu, Nara masih remaja.
Perlahan perasaan lain muncul. Diva tersadar sudah jatuh cinta pada Nara. Kini, dia hanya bisa memandanginya dari kejauhan.
"Apa kata dokter Alex? Apa puteri saya akan baik-baik saja?" tanya Nara sedikit canggung.
Nara juga tidak melupakan ada sesuatu di hatinya setiap kali Diva di dekatnya. Dia memilih menikahi orang lain karena sikap Diva yang selalu menjaga jarak.
Dara juga tahu kalau Diva sudah cukup lama ada di sampingnya. Meskipun Diva tak pernah banyak bicara.
"Kondisi Dara sudah lebih baik. Sebentar lagi, Dara pasti siuman!" jawab Diva singkat.
Nara terdiam. Sikap Diva selalu sama. Terkadang Nara ingin membuat Diva berbicara lebih banyak. Tentang kisah hidupnya yang juga sangat panjang. Tentang perasaan mereka yang terkekang sekian lama.
Tiba-tiba, Nara menoleh dan menatap Diva lekat. Pelayan dokter Alex itu hanya berdiri tegak dengan setelan jas yang membuatnya sangat berkharisma.
"A-ada apa?" tanya Diva yang sedikit salah tingkah.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin melihatmu saja!" jawab Nara seraya kembali memalingkan mukanya.
"Hampir dua puluh tahun kita saling mengenal. Wajah dan sikapmu selalu sama. Dingin dan tak punya perasaan. Aku curiga kalau kamu itu bukan manusia!" celetuk Nara lagi sedikit bercanda.
Diva hanya menarik napas panjang. Yang dikatakan Nara benar. Dia memang bukan manusia. Entah siapa dirinya. Sejak Tuan Anthony menjadikannya pelayan vampire dan memberikan hidup abadi. Diva tak pernah tahu jalan hidupnya akan seperti apa.
"Aku masih orang yang sama!"
Nara tersenyum tipis. Dia juga masih punya ingatan. Suatu hari, dia memutuskan untuk menjauh.
"Ya! Kamu adalah orang yang sama. Tidak berubah sedikitpun!" ucap Nara sedikit menyindir.
"Aku masih orang yang sama yang akan menjagamu seumur hidupku!" lanjut Diva. Tadi tenggorokannya terasa kering.
__ADS_1
"Terima kasih ...," ujar Nara pelan. Dadanya masih terasa sesak. Sekian tahun menahan sesuatu yang tidak akan terucapkan.
Wajah Nara berubah tegang ketika Dara sedikit bergerak.
"Daraa, bangunlah, Nak. Ini ibumu ...," panggil Nara pelan.
Diva pun bereaksi dan mendekat. Dia teringat perkataan dokter Alex. Dara akan bangun sebagai orang lain.
Perlahan, Dara membuka mata. Namun tatapannya kosong seperti bayi yang baru saja dilahirkan. Dia hanya melihat kesekeliling ruangan dengan pandangan asing. Kemudian berhenti pada perempuan yang tadi memanggilnya.
"A-aku ada di mana? Si-siapa kamu?"
Dara tertegun. Dia tidak mengenali tatapan puterinya yang terasa asing. Jangan-jangan, dia bukanlah Dara, puterinya!
*****
Alex berdiri di depan jendela kantornya. Memejamkan mata dan merasakan angin berembus lewat jendela. Dia pun menarik napas dalam-dalam. Merasakan sesuatu di dalam hatinya. Debar itu kembali terasa. Aneh! Padahal jantungnya sudah lama berhenti berdenyut.
"Puan ...," ucapnya pelan.
Alex merasakan kehadiran Puan. Akhirnya saat itu tiba juga. Sebentar lagi, Puan akan terlahir kembali.
"Tuaan, tuaan!"
Alex membuka mata. Dia mendengar Puan memanggilnya. Dia harus bertemu dengan Puan secepatnya.
*****
"Siapa kamu? Siapa aku?"
Dara sudah terjaga, tapi kehilangan ingatan. Bahkan dia tidak bisa mengenali dirinya sendiri.
Nara tertegun. Dara sudah tidak mengenalinya lagi.
"Puan?!"
Tiba-tiba, Alex muncul.
__ADS_1
Dara langsung menatap Alex tajam.
"Puan? Apakah itu namaku?" tanya Dara yang masih kebingungan.
"Tidak! Namamu adalah Dara. Aku adalah ibumu!" celetuk Nara yang tidak mau kehilangan puterinya.
"Tapi aku tidak punya ibu!"
Nara tercengang. Tubuhnya gemetar. Gadis itu bukanlah puterinya!!!
Alex mendekat dan menatap Dara lekat.
"Kamu pasti mengenaliku!"
Dara yang sudah menjadi Puan pun menatap Alex lekat seakan sedang mengenalinya. Wajah berkulit pucat itu tidak asing. Tak lama dia pun tersenyum.
"Ya, tuan. Aku mengenali Tuan Anthony!"
Alex pun tersenyum mengembang. Setelah ratusan tahun menunggu, akhirnya bisa bertemu dengan kekasihnya lagi.
Alex pun menggenggam tangan Puan erat. Kali ini, dia tidak akan melepaskan Puan sampai kapanpun.
Sementara itu, airmata membasahi pipi Nara. Tetap saja, dia sudah kehilangan puterinya.
Dengan langkah gontai, Nara melangkah keluar. Puterinya memang sudah sembuh, namun jiwanya hilang. Air matanya semakin deras mengalir, tak mampu mengembalikan semua kenangan.
"Tenanglah, Dara pasti baik-baik saja!"
Diva tak sanggup melihat kesedihan Nara. Dia tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai.
"Lalu, di mana puteriku?"
Nara menghapus airmatanya dan berusaha tegar. Dia tidak ingin Diva melihat kelemahannya.
"Dara selalu ada di hatimu, di hati kita semua," jawab Diva dengan sedikit gemetar.
Nara mendongak begitu mendengar ucapan Diva. Kali ini, Nara melihat Diva dalam sosok berbeda. Kata-katanya cukup membuat hatinya tenang.
__ADS_1
*****