KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
MENIKAHLAH DENGANKU #1


__ADS_3

Alex membawa pulang Puan ke rumahnya. Lagi pula Nara masih bersama Diva. Alex tidak mau meninggalkan Puan sendirian.


"Istirahatlah! Nara masih bersama Diva. Sepertinya mereka tidak langsung pulang!" ucap Alex ketika melihat Puan kelihatan lelah.


Puan membuang pandangannya ke pantai, "tidak, tuan. Aku sangat suka melihat matahari pagi di pantai, masih terasa hangat. Aku ingin berjalan-jalan sebentar!" ungkap Puan tanpa melepaskan pandangannya dari matahari yang baru saja muncul di ufuk timur. Semburatnya sangat indah yang masih bercampur warna kelabu.


"Baiklah, kita akan jalan-jalan sebentar!" Akhirnya Alex memenuhi permintaan Puan dan ikut menemaninya.


Setelah peristiwa semalam, Alex tidak akan meninggalkan Puan sendirian lagi. Kedua vampire itu juga entah ada dimana. Bisa saja, mereka tiba-tiba muncul.


Untuk sementara, Puan ingin menikmati matahari pagi. Dia harus melakukan tugas secepatnya. Waktunya tidak banyak. Puan tidak bisa terlalu lama berada di dalam tubuh Dara.


"Bagaimana kalau kita duduk di sana," tunjuk Puan ketika melihat batu besar tepat di depan gua tempat Alex dulu tinggal.


Alex mengangguk, dia juga sangat menyukai tempat itu. Dulu, dirinya dan Puan duduk disana sambil menikmati senja.


"Aku harus melakukan sesuatu, tuan. Mereka harus mempunyai tempat tinggal sendiri. Tanah kami harus diambil secepatnya!" jelas Puan ketika melihat para siluman harimau sedang berkumpul dari kejauhan.


"Aku akan selalu membantumu, Puan. Tapi, tanah kalian sudah dikuasai para pendatang. Jalan satu-satunya adalah membeli dengan uang!"


Puan menoleh dan menatap Alex tajam. Sepertinya, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Alex.


"Bagaimana bisa, ini adalah pulau kami? Kami berhak mengambilnya!" tegas Puan.


"Jaman sudah berubah, Puan. Pendatang lebih dominan di sini. Aku mengenal seorang pejabat pemerintahan yang netral. Dia akan membantu kita mendapatkan tanah kalian dengan cara legal!"


Puan menarik napas. Ternyata, yang harus mereka lalukan tidaklah mudah.


"Lalu, bagaimana kami bisa mendapatkan uang? Lihatlah mereka. Kami tidak ada yang kaya raya," jelas Puan dengan nada sedih.

__ADS_1


Alex tersenyum, "aku akan selalu ada untukmu, Puan. Aku akan menukar resort dan hotelku dengan pulau ini. Mereka pasti akan senang melakukannya karena harga tanah di sana lebih mahal!"


"Apakah tuan mau melakukannya? Tuan bisa kehilangan semuanya," ucap Puan yang tak tega dengan Alex.


"Tapi, aku akan memilikimu. Itu sudah cukup untukku!" jawab Alex menenangkan hati kekasihnya.


"Baiklah, tuan. Aku sangat berterima kasih atas nama anak keturunanku! Hatiku sudah tenang. Bolehkan aku terpejam sebentar di bahumu, tuan?" pinta Puan. Dia memang merasa sangat kelelahan.


"Tidurlah di bahuku. Aku akan menjagamu," ungkap Alex dengan senyuman yang sama.


Puan mengangguk dan merebahkan kepalanya di bahu Alex. Perlahan matanya pun terpejam. Kemudian semuanya menjadi gelap.


Alex menggenggam sesuatu di tangannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu. Kalung yang dulu pernah diberikan untuk Puan akan diberikannya lagi. Sekaligus meminta sesuatu yang dulu tidak sempat diungkapkan.


Tak berapa lama kemudian, Puan membuka mata. Dia kelihatan sedikit bingung, apalagi begitu melihat Alex ada di sampingnya.


"Kamu sudah bangun? Apa lelahmu sudah hilang?" tanya Alex begitu melihat Puan terjaga.


Alex tidak ingin menunggu lagi. Dia akan mengungkapkan isi hatinya saat itu juga.


"Aku akan mengembalikan kalung ini padamu. Aku juga ingin mengatakan sesuatu. Menikahlah denganku!" ungkap Alex pasti.


Puan masih menatap Alex lekat. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Dokter," ucapnya.


Ternyata yang ada di samping Alex bukanlah Puan, tetapi Dara!


Alex sangat terkejut. Dia tak bisa membedakan Puan atau Dara. Karena saat ini, dia bersama Dara.

__ADS_1


"Ka-kamu, Dara?" tanya Alex gugup. Padahal dia baru saja mengajak Puan untuk menikah.


Dara sendiri merasakan hatinya pedih begitu mendengar kalau dokter Alex sedang melamarnya. Tidak! Bukan Dara, tapi Puan.


"Maaf, aku kira kamu adalah Puan," jelas Alex yang langsung menjauh dari Dara. Dia pun kembali menggenggam kalung yang akan diberikan untuk Puan.


"Sepertinya, kedatanganku di waktu yang salah. Apa perlu aku pergi, dokter? Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya!" ungkap Dara sedikit menyindir Alex karena kelihatan kecewa.


"Tidak! Maksudku, kamu tidak perlu pergi. Pasti ada sebabnya mengapa kamu ada disini," cegah Alex.


"Aku serius, dok. Apa perlu aku tidur lagi. Mungkin nanti Ratu Puan yang akan bangun!"


Dara segera merebahkan tubuhnya di atas batu. Dia merasa tidak enak karena datang di waktu yang salah.


"Tidak! Kamu tidak perlu melakukannya, Dara!"


Alex segera menarik tangan Dara sehingga jatuh ke pelukannya. Saat itu, Alex merasakan debar di dadanya. Perasaan apakah ini? tanyanya dalam hati.


Dara sangat tahu dimana harus berdiri. Yang jelas bukan di samping dokter Alex.


"Maafkan aku, dok. Aku benar-benar tidak tahu cara mengembalikan Ratu Puan!" katanya penuh penyesalan.


Alex menatap Dara lekat. Dia tidak mengerti mengapa memiliki perasaan lain kepada Dara.


"Besok adalah hari pernikahan ibumu. Ada baiknya kalau kamu kembali. Ayolah, kita pulang. Hari sudah mulai panas!"


Tanpa sadar, Alex menarik tangan Dara dan menuntunnya melalui batu karang yang cukup terjal.


Dara terpaksa mengikutinya. Kata-kata dokter Alex masih terngiang di telinganya. "Menikahlah denganku". Ya! dokter Alex sudah melamar Ratu Puan, bukan dirinya. Tapi, mengapa Dara harus datang di saat penting seperti itu?

__ADS_1


*****


__ADS_2