KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
MENIKAHLAH DENGANKU! #2


__ADS_3

Diva mengajak Nara mampir ke toko gaun pengantin. Besok adalah hari yang sudah lama ditunggu, yaitu hari pernikahan mereka.


"Pilihlah gaun yang kamu inginkan. Esok adalah hari yang sangat membahagiakan untuk kita," ungkap Diva setelah sampai di depan toko.


Nara hanya tertegun melihat deretan gaun pengatin yang sangat indah. Tapi, dia merasa tak pantas untuk memakainya.


"Tidak, Diva. Semuanya terlalu mewah untukku. Aku hanya ingin pakaian sederhana saja!" ungkap Nara.


Diva tersenyum. Setelah sekian lama, sifat Nara tidak berubah.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Nara. Baiklah! Tapi, kali ini kamu tidak bisa menolak lagi!" tegas Diva.


Nara mengangguk. Usianya tidak lagi muda, gaun itu hanya untuk anak muda. Dia membayangkan kalau puterinyalah yang memakainya.


"Aku berharap masih sempat melihat puteriku memakai gaun indah itu," ucapnya dengan nada sedikit melow.


Diva tahu kalau Nara sedang merasa sedih.


"Jangan khawatir, kita berdua akan melihatnya nanti."


Nara tersenyum tipis. Dia tak pernah berhenti berdoa agar masih bisa melihat puterinya bahagia. Tapi, sekarang Dara entah ada di mana. Nara jadi merindukannya.


Diva mengetahui apa yang sedang dipikirkan Nara. "Tenanglah! Dara selalu ada didekat kita."


Nara menatap Diva tajam, "kamu sudah membaca pikiranku, ya?" cecarnya.


Diva tertawa kecil, "kamu kan tahu kalau aku bisa membaca pikiranmu!"


Tanpa sadar, Nara menghadiahkan Diva sebuah cubitan dipinggangnya.


"Aaauuw!" Otomatis Diva berteriak kesakitan. Kali ini, dia tidak tahu rencana Nara mencubitnya.


Tak lama kemudian, mereka sampai di toko perhiasan.


"Ingat janjimu, sekarang tidak bisa menolak apapun lagi!" tagih Diva seraya menyerahkan sebuah cincin kawin.


Nara tidak bisa menolak seperti janjinya. Lagipula, cincin itu adalah lambang cinta mereka.


Tiba-tiba, mata Nara basah. Dia teringat cincin kawinnya yang terpaksa dijual untuk berobat ayah Dara. Padahal dulu, Diva sudah menawarkan bantuan uang untuknya.


Diva menggenggam tangan Nara erat dan menghapus air matanya.


"Mulai saat ini, tidak akan ada lagi air mata. Tersenyumlah karena kita akan bahagia selamanya!" ucap Diva penuh makna.


Akhirnya, Nara menghapus sisa airmatanya dan tersenyum. Ya! Dia akan merasakan kebahagiaan bersama Diva.

__ADS_1


*****


Menjelang malam, Nara baru sampai di rumah dokter Alex. Acara pernikahannya dengan Diva akan dilaksanakan di sana.


"Ibu ...."


Nara sangat terkejut begitu melihat Dara di kamarnya.


"Da-dara? Benarkah kamu Dara, puteriku?" tanyanya keheranan. Mengira kalau yang didepannya adalah Puan.


"Iya, bu. Ini aku, Dara! Aku menunggu dari tadi. Ibu kemana saja, sih!" ungkap Dara yang sedikit bawel.


Nara pun tersenyum lebar. Cara bicara Dara memang seperti itu.


"Ibu senang kamu kembali, Dara. Tapi, bagaimana dengan Ratu Puan?"


Dara diam sejenak. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku juga tidak tahu, bu. Tiba-tiba, aku terjaga di samping dokter Alex. Bahkan dia sempat melamarku. Aah, maksudku melamar Ratu Puan!" ralat Dara.


Nara menatap Dara tajam. Dia tahu perasaan Dara sebenarnya. Puterinya itu sudah jatuh cinta dengan dokter Alex.


"Bagaimana perasaanmu, Dara? dokter Alex sangat mencintai Ratu Puan. Jangan biarkan hatimu terluka!"


Dara tertawa kecil, "terluka? Gak kok, bu. Aku malah senang karena dokter Alex sudah bertemu cinta sejatinya. Sudahlah, bu. Bagaimana soal pernikahan ibu? Bukankah besok acaranya?"


Sebenarnya, Alex mendengar apa yang sedang dibicarakan Dara dengan ibunya. Dia jadi merasa bersalah. Sementara, Puan selalu ada di hatinya.


"Bagaimana, tuan? Apakah saya bisa menikah disini?" tanya Diva.


Alex sedikit terkejut. Tidak biasanya dia tak mendengar kedatangan Diva.


"Oh, tentu saja boleh, Diva. Aku malah senang kamu menikah di sini!" jawab Alex singkat.


"Saya harap, tuan juga akan menikah suatu hari nanti," ungkap Diva. Dia juga menginginkan tuannya itu bahagia.


"Ya! Aku juga menginginkannya. Soal kejadian kemarin malam. Aku harap kamu tidak memakai ekstrak darah lagi. Entah bagaimana jika kamu berubah menjadi makhluk itu untuk kedua kali. Aku takut kau malah tidak bisa kembali menjadi manusia!" jelas Alex.


"Iya, tuan. Saya tidak akan memakainya lagi. Saya akan kembali meminum darah binatang saja seperti dulu!" jawab Diva meyakinkan hatinya juga. Yang dikatakan Alex benar. Diva sendiri tidak ingat sama sekali ketika berubah menjadi makhluk menyeramkan. Dia tahu malah akan menyakiti orang didekatnya.


*****


Saka masih memegang file yang ditemukan di rumah Harry. Bukan hanya dua orang asing tapi juga siapa yang sudah membunuh perempuan di dalam koper tempo hari.


Tapi Saka tidak melaporkan kepada atasannya. Dia tahu kalau Kapten Aris adalah anak buah Pak Iskandar. Saka harus menangkap dua orang yang sudah melakukan pembunuhan. Wajah mereka sudah terlihat jelas dalam File. Saka tinggal mencarinya di tempat persembunyiannya.

__ADS_1


"Ingatlah wajah kedua orang ini. Mereka pasti akan keluar dari persembunyiannya!" pesan Saka kepada petugas pelabuhan yang juga seorang intel.


"Baik, pak. Saya akan perhatikan dengan baik. Kalau kedua orang asing ini, sepertinya saya melihatnya kemarin malam. Wajah asing dan tubuh mereka yang tinggi mudah untuk diingat;" ungkap laki-laki setengah baya itu. Dia sudah cukup lama bekerja di bagian intel. Biasanya petugas yang jujur malah lebih sering ditugaskan di lapangan.


"Benarkah? Berarti mereka sudah sampai di Pulau Kumbang. Aku akan menyelidikinya lebih dalam lagi!"


Saka merasa kedua orang asing itu masih berhubungan dengan Pak Iskandar. Yang harus dilakukan adalah mencari keberadaan mereka secepatnya.


Baru saja Saka akan beranjak pergi, dia melihat Harry. Dia baru saja turun dari kapal penyeberangan. Saka akan mengikutinya. Dia sangat yakin kalau Harry akan menemui ayahnya.


*****


Dara tertegun melihat ibunya sangat cantik dengan gaun pengantin. Sudah lama, Dara tidak melihat ibunya dandan.


"Ibu sangat cantik!" serunya sambil memeluk sang ibu dari belakang.


Nara sangat terkejut karena Dara tiba-tiba memeluknya.


"Ibu malah malu setua ini akan menikah lagi. Bagaimana perasaanmu, Dara? Apakah ibu sudah membuat ayahmu terluka?"


Dara tersenyum, "ayah pasti senang melihat ibu seperti ini. Ibu pantas bahagia!"


Dara memeluk ibunya semakin erat.


"Ibu punya sesuatu untukmu, Dara!" ucap Nara seraya menyerahkan sebuah gaun kepada Dara.


"Apa ini, bu?"


"Pakailah gaun itu. Ibu sangat ingin kamu memakai gaun. Kamu pasti tambah cantik," jelas Nara.


Dara menatap gaun berwarna biru muda yang diberikan ibunya. Dara sangat menyukai langit dan birunya laut. Dia melihat semuanya ada pada gaun itu.


Alex masih berada di ruang kerjanya. Dia hanya berdiri di depan jendela dan memerhatikan halaman belakangnya yang berubah menjadi taman yang dipenuhi bunga-bunga.


Suatu saat, Alex sangat ingin berada di taman seperti itu. Mengikat janji sehidup semati dengan Puan. Tapi .... mengapa yang terbayang adalah wajah Dara. Alex semakin membenci dirinya sendiri. Seperti apakah hatinya sekarang ini? Di sana ada dua wanita yang sama-sama dicintainya.


"Dokter ...."


Lamunan Alex buyar ketika mendengar suara memanggilnya. Dia pun segera menoleh. Ternyata Dara sudah ada di depannya.


Alex hanya terpaku melihat Dara yang memakai gaun. Dia sangat cantik seperti mutiara yang penuh sinar. Seharusnya Alex tidak terkejut karena dialah yang membelikan gaun itu.


"Da-dara?" tanyanya memastikan. Selalu saja, Alex tidak bisa membedakan Puan atau Dara.


"Bagaimana penampilanku, dokter? Cantik kan?" tanya Dara sambil berputar-putar sehingga gaunnya melambai. Tanpa terasa, ujung gaunnya pun terinjak. Sedetik kemudian tubuhnya limbung.

__ADS_1


Alex segera menangkap tubuh Dara yang hampir jatuh. Dara pun malah jatuh ke pelukannya. Alex kembali termangu. Dadanya berdegup kencang. Alex tidak bisa membohongi hatinya lagi. Dia mencintai Dara!


*****


__ADS_2