
Saka bertekad harus menangkap kedua pembunuh itu hari ini juga, meskipun mereka masuk ke dalam penjara.
"Aku dari kepolisian dan mencari dua orang tersangka pembunuh yang datang kesini semalam!" ucap Saka seraya mengeluarkan tanda pengenal kepolisian.
Petugas sipir sedikit ragu, "saya akan menanyakan kepada atasan dulu, pak!" katanya seraya masuk ke dalam gedung.
Saka masih sabar menunggu. Dimana pun selalu ada birokrasi. Apalagi di gedung milik pemerintah.
"Maaf, pak. Apa ada surat penangkapan kepada dua orang tersangkanya?" tanya petugas itu lagi setelah kembali.
Saka terdiam. Dia tahu pasti akan ditanyakan soal surat penangkapan itu.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mereka dan bukan menangkapnya. Seharusnya kalian membantuku bukan malah mempersulit!" gertak Saka.
"Sekali lagi, maaf. Bapak tidak bisa masuk jika tidak ada surat itu!" ujar petugas itu datar.
Saka mengalah. Dia jadi tahu kalau semua petugas di penjara itu menyembunyikan para pembunuh. Dia hanya ingin tahu sampai di mana keterlibatan mereka sehingga orang luar bisa dengan mudah masuk ke dalam lapas.
Hari masih siang, Saka terpaksa harus kembali ke kantor tempatnya bertugas.
"Kalian tetap di sini. Hubungi aku kalau kedua tersangka keluar lapas!" pesannya kepada intel polisi yang menyamar menjadi penjual minuman.
"Siap, pak!" ucap laki-laki muda itu yang ternyata seorang intel.
Sekali lagi, Saka melihat gedung lapas dengan tatapan penuh arti. Dia merasa malam ini akan terjadi sesuatu. Saka hanya berharap tidak ada lagi yang menjadi korban.
*****
Malam semakin larut. Saka memandangi rembulan dari balkon kamarnya. Rembulan itu sangat pucat seakan mencemaskan sesuatu.
"Ka, katanya Dara kuliah di universitas Anthony di pulau seberang. Aku gak bisa bertemu lagi dengannya!" Ratih muncul dengan wajah sedih.
Saka terkejut dengan kedatangan adiknya karena sedang memikirkan hal lain. Tapi kemudian dia bisa menenangkan diri.
"Yah! Padahal kakak berniat mau menembak Dara," ujar Saka sedikit menggoda adiknya.
"Ayo kita nyusul, kak! Aku juga mau kuliah di sana," rengek Ratih.
"Tanya ayah dan ibu dulu. Mana bisa melepas kamu kuliah sendirian di sana. Kalau kepentok sedikit aja udah uring-uringan!" Saka semakin menggoda Ratih yang tambah cemberut.
"Gak, kok! Mana pernah aku kepentok. Ayolah, kak. Bantuin ngomong sama ayah dan ibu," rengek Ratih seraya menarik tangan kakaknya.
"Iya-iya. Nanti kakak bantuin. Soalnya kakak juga gak akan melepaskan calon kakak iparmu, kan?" kelakar Saka lagi.
__ADS_1
Wajah Ratih langsung semringah, "asyiiik, ayo semangat, kak!"
Saka hanya tertawa melihat adiknya yang masih seperti anak kecil. Sejenak, Saka bisa melupakan kekhawatirannya.
Sementara itu, suasana di sekitar lapas sudah mulai sepi. Hanya ada penjual minuman dan gorengan yang seorang intel.
Tiba-tiba, dua bayangan berkelebat ke dalam lapas. Kedua intel itu sangat terkejut.
"Bayangan apa tadi, boy?" tanya penjual minuman.
"Gak tau! Mungkin kelelawar. Mana ada manusia bergerak secepat itu!" jawab penjual gorengan.
"Bayangan itu sangat aneh. Aku mengira kalau mereka adalah manusia!" Penjual minuman tetap kekeh pada pendiriannya.
Sementara itu di dalam lapas, Rio dan Gerry mulai gelisah.
"Gue gak suka tempat ini. Emangnya kita penjahat seperti mereka?" Rio sudah lupa kalau mereka penah membunuh seorang wanita.
"Kita memang pernah melakukan kejahatan. Tapi mereka tidak akan bisa mengungkapnya!" sambung Gerry.
"Ya, betul. Seharusnya kita menolak masuk ke tempat ini!" ucap Rio lagi.
Sekarang, mereka berada di dalam ruangan kecil dan pengap. Penyesalan selalu datang terlambat. Tidak ada jalan untuk keluar lagi.
"Si-siapa kalian?" tanya Rio dengan wajah tegang.
Kedua bayangan itu tinggi dan berkulit putih pucat. Rambut dan mata mereka keemasan dan coklat. Keduanya adalah Jack dan Daniel.
"Kalian sudah datang!" ucap Jack yang sudah menunggu Rio dan gerry.
"Si-siapa kalian?" tanya Rio dengan suara gemetar.
"Kalian akan menjadi anak buah kami!" seru Jack sambil menyeringai.
Rio dan Gerry sangat terkejut ketika melihat wajah kedua orang asing itu berubah menjadi menyeramkan. Dua buah taring muncul dari sela-sela giginya.
Tak ada jalan keluar, Rio dan Gerry sudah terpojok. Sedetik kemudian, kedua orang asing itu sudah ada di dekat mereka. Kemudian menancapkan taringnya di leher keduanya.
Terdengar suara erangan memecah kesunyian ke seluruh ruangan dan menembus ke dalam sel penjara.
Para tahanan menggidig ngeri mendengar suara mengerikan itu. Mereka memilih pura-pura tidur dan tidak mendengarnya.
Tak berapa lama, Rio dan Gerry tergeletak ke atas lantai. Kali ini, tubuh mereka tidak mengering seperti korban sebelumnya.
__ADS_1
"Mereka akan bangkit lagi dan menjadi pengikut kita!" ungkap Jack seraya mengelap sisa darah di sudut bibirnya.
"Ya! Sudah waktunya kita bangun kerajaan vampire di sini," ucap Daniel juga.
Tak sampai lama, tubuh Rio dan Gerry yang sudah tak bernyawa pun bergerak lagi. Mata mereka pun terbuka dan menjadi merah, semerah darah!
Jack dan Daniel tersenyum puas. Sebentar lagi kerajaan vampire akan segera terwujud.
*****
Diva terbangun di tengah malam. Dia merasakan kehadiran vampire semakin bertambah.
"Ada apa, Diva?" tanya Nara ketika menyadari Diva terbangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa, tenggorokanku hanya kering. Kamu tidurlah lagi, aku akan mencari minum sebentar!" jelas Diva seraya menyelimuti Nara lagi.
"Apa perlu aku ambilkan? Aku yang lupa membawa air minum ke kamar!" ujar Nara yang sedikit bersalah.
Diva tersenyum tipis, "tidak. Aku saja yang ingin minum. Kamu tidurlah lagi," ungkapnya.
Nara mengikuti perkataan Diva. Dia pun kembali memejamkan mata. Tak berapa lama, Nara pun terlelap lagi.
Diva segera keluar dari dalam kamar menuju ke ruang belakang. Perasaannya masih belum tenang. Dia pun mencoba melacak keberadaan para vampir dengan telepati. Namun tidak membuahkan hasil.
Alex juga merasakan hal yang sama. Dia berada di dalam apartemen miliknya dan menatap pulau kumbang. Sesuatu telah terjadi di sana.
"Apa tuan mendengarku?"
Alex mendengar suara Diva yang menghubunginya lewat telepati.
"Iya, Diva. Aku mendengarmu!" jawab Alex juga lewat telepati.
"Ada vampire lain di sini, tuan. Aku khawatir jumlah mereka semakin banyak," ungkap Diva.
"Aku mengira kalau kedua vampir itu sudah pergi. Kamu carilah mereka. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Aku masih ada urusan di sini!" jelas Alex.
"Baik, tuan. Saya akan mencari mereka lebih keras!"
Pembicaraan itu berakhir. Diva merasa tenang karena sudah berkomunikasi dengan tuannya. Namun, malam itu juga dia harus menemukan para vampir.
Alex masih merasa khawatir. Sepertinya pertarungan para vampire tidak bisa dihindari. Dia harus melakukan sesuatu meski harus menemui para ketua Vampir di luar negeri.
*****
__ADS_1