KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
SATU RAGA DUA JIWA #2


__ADS_3

Nara menyelinap pergi ketika dokter Alex muncul. Dia merasakan sesuatu bergemuruh begitu melihat perlakuan dokter Alex kepada puterinya. Tidak! Dia itu Puan!!!


Tanpa sadar, Nara sampai gemetar menahan perasaan sedih dan amarahnya. Membuat mangkuk yang tengah dipegangnya hampir jatuh.


"Hei! Jangan melamun. Mangkuk ini usianya sudah seratus tahun. Seharusnya kamu memperlakukannya lebih hormat karena usianya lebih tua darimu!" ujar Diva yang muncul tiba-tiba. Hampir saja mangkuk yang dipegang Nara jatuh kalau tidak diambilnya.


Nara tak bereaksi. Terdengar napasnya yang memburu. Tak berapa lama matanya mulai basah.


Diva tak sanggup melihat Nara seperti itu. Tapi, dia juga tidak bisa menolongnya.


"Ayolah! Aku juga mau bubur buatanmu. Sudah lama kamu gak membuatnya," ucap Diva lagi dengan nada suara lebih lembut.


"Kamu bisa mengambilnya sendiri!" jawab Nara ketus.


Diva tersenyum. Dia teringat pertemuannya pertama kali dengan Nara yang masih remaja.


Sikap Nara memang sedikit judes. Itu karena Nara hidup sebatang kara dan berjuang sendirian.


"Aku kira setelah menua sikapmu akan berbeda. Ternyata sama saja!" celetuk Diva sambil mengambil bubur di dalam panci. Tapi bubur itu bukan untuknya.


Nara mendongak dan menghapus airmata di pipinya.


"Maksudmu apa?"


"Kamu itu masih saja judes tapi cengeng!"


"Apa?!"


Nara mulai naik darah. Diva terkadang terlalu jujur sehingga membuat Nara sedikit kesal.


"Aku gak judes dan cengeng. Kamu salah! Aku ini orang yang tegar."


"Aah, masa?" goda Diva lagi.


"Jangan ngajak berantem ya, Diva!"


Nara melotot sambil mengepalkan tangannya.


"Nah, begitu dong. Panggil aku Diva. Aku sangat merindukannya!"


Diva menatap Nara lekat. Dia memang merindukan masa-masa mereka sangat dekat dahulu.


Nara hanya diam saja setelah mendengar kata-kata terakhir Diva. Cerita mereka memang berhenti di tengah jalan. Sampai sekarang pun belum berakhir. Namun, Nara tak sanggup meneruskannya.


Diva berjalan dengan gontai sambil membawa bubur untuk dokter Alex dan Puan. Namun ingatannya melayang ke masa yang telah lalu.


"Maafkan aku, Diva. Aku tahu perasaanmu kepada Nara. Tapi jika kalian bersatu, keturunan terakhir siluman harimau tidak akan terlahir! Aku sudah menunggunya selama ratusan tahun. Kamu juga tahu soal itu, kan?"


Kata-kata dokter Alex kembali terngiang. Untuk itulah Diva memilih mundur. Takdir tidak akan pernah menyatukannya dengan Nara.

__ADS_1


"Silakan makan buburnya Tuan, dan Nona Puan," ucap Diva seraya meletakan nampan berisi dua mangkok bubur dan dua gelas teh di atas meja.


"Terima kasih!" ucap Alex.


"Ibu ke mana?" tanya Puan.


Alex dan Diva sangat terkejut mendengar pertanyaan Puan.


"I-ibu?" tanya Alex. Dia berusaha mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran Puan. Entah mengapa, dia gagal mengetahuinya.


"Ya, Ibu Nara! Aku sudah bilang padanya akan memanggilnya dengan sebutan ibu. Katanya, dia punya puteri seperti aku!" jelas Puan.


Sepertinya, Puan harus mengetahui kejadian sebenarnya. Namun Alex belum siap mengatakannya.


"Oh, Ibu Nara sedang memasak untuk makan siang, nona. Maaf, saya permisi!"


"Oh, nanti aku akan membantunya di dapur. Boleh kan?"


Diva menoleh pada tuannya. Alex hanya menganggukan kepalanya.


"Baik, nona. Nanti saya akan kasih tahu Ibu Nara!"


"Aku sangat senang! Sudah lama aku tidak memasak."


Puan hampir melompat kegirangan karena sangat senang bisa beraktifitas seperti manusia normal.


"Kamu bisa melakukannya nanti, Puan. Kalau sudah sarapan, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ujar Alex yang sudah memikirkan banyak rencana untuk Puan.


Alex tercengang mendengar ucapan Puan yang mirip Dara. Hanya saja, dia tidak bisa merasakan kehadiran Dara di sana.


*****


"Ini, baju-baju Non Puan," ujar Nara yang membawakan baju-baju Dara yang biasa dia pakai. Tapi semuanya hanya kaus dan celana panjang. Dara memang tomboy bahkan tidak punya gaun satupun.


"Terimakasih, Bu. Tapi ..., saya gak terbiasa memakainya!"


Puan memeriksa pakaian yang diberikan Nara. Tak satupun yang biasanya dia pakai.


"Maaf, non. Adanya hanya ini," jawab Nara merasa miris dengan sikap puterinya.


"Apakah tidak ada gaun sama sekali?" tanya Alex yang memerhatikan dari tadi.


Puan menggeleng. Dia merasa kurang nyaman dengan semua pakaian itu.


"Sebenarnya ini punya anak saya, non. Dia memang tomboy dan tidak suka memakai gaun!"


Kepribadian Puan dan Dara memang sangat berbeda. Dulu Puan hanya memakai gaun yang diberikan Anthony dari kapal yang karam. Sampai dewasapun, gaun itu masih bisa dipakai.


Alex jadi teringat bagaimana Puan sangat senang ketika mendapatkan gaun-gaun para noni belanda yang tertinggal di kapal. Puan juga semakin anggun ketika memakai gaun-gaun itu.

__ADS_1


"Pakailah dulu yang ada, nanti aku akan membelikan gaun untukmu!" celetuk Alex ketika melihat Puan masih kebingungan.


"Baiklah! Apakah Ibu Nara mau membantuku memakainya?"


Nara terdiam. Merasakan kalau puterinya yang sedang bicara.


"Baik, nona. Saya akan membantu nona!"


Puan memang hanya memakai pakaian rumah sakit. Alex tidak sempat membelikannya pakaian karena hari sudah malam.


*****


Saka masih penasaran dengan harimau yang menghilang tiba-tiba. Tidak ada jejaknya sama sekali di sekitar tempat kejadian.


Tapi Saka teringat perkataan salah satu saksi. Dia melihat orang asing berkulit pucat membawa harimau itu. Bahkan orang asing itu tidak terlihat di mana pun.


"Selamat siang. Saya Saka dari kepolisian!" sapa Saka ketika sampai di ruangan tempat Iskandar dirawat.


"Selamat siang, pak! Ada apa, ya?" Harry yang sedang menjaga ayahnya sedikit terkejut dengan kedatangan Saka. Dia mengira peristiwa itu sudah ditangani kawan ayahnya.


"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin menjenguk saja. Bagaimana keadaanmu dan Bapak Iskandar?"


"Saya sudah baikan, hanya tinggal sedikit luka saja. Tapi ayah saya masih koma!"


Saka menganggukan kepalanya.


"Hhmmm, sebenarnya saya masih penasaran dengan harimau liar itu. Bagaimana dia bisa menyerang kalian? Darimana datangnya harimau itu?"


Saka tak mampu menahan rasa penasarannya lagi.


Harry menjadi kebingungan. Semuanya harus ditutupi. Seharusnya Aris yang sudah melakukannya.


"Saya sudah bicara dengan Kapten Aris. Jadi, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" jawab Harry sedikit keras.


"Ooh iya. Maafkan saya! Saya memang belum bicara lagi dengan Kapten Aris. Baiklah! Saya permisi dulu. Semoga pak Iskandar cepat sadar dan kembali seperti semula!"


Saka memilih untuk pergi. Dia mengerti kalau Harry tidak akan mau bicara padanya. Rasa penasaran semakin besar. Saka mencium sesuatu yang mencurigakan dan sikap Harry.


Ketika sudah di luar rumah sakit, Saka melihat bayangan Aris yang baru sampai. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti Aris.


"Tadi ada polisi yang kesini. Namanya Saka!" jelas Harry begitu Aris masuk ke dalam ruangan.


"Aku belum bertemu dengannya lagi. Tapi kamu gak usah khawatir. Soal Pak Iskandar aku yang urus. Masalah gadis itu. Apa kamu bisa memberikan datanya? Aku harus menemukannya!"


"Dia adalah anak muridku di sekolah. Namanya Dara!"


"Baiklah! Aku akan mencarinya. Apa kamu benar-benar melihat kalau gadis itu berubah menjadi harimau?"


"Tentu saja, aku melihatnya dengan jelas. Satu lagi yang harus kamu temukan. Seseorang berkulit pucat seperti orang asing. Dia yang membawa harimau itu pergi!"

__ADS_1


Saka menahan napas ketika mendengar pembicaraan mereka. Apakah ada gadis yang berubah menjadi harimau? Jadi siluman harimau itu benar-benar ada!!!


*****


__ADS_2