
Dara masih menatap tajam dokter Alex. Dia sudah memastikan hatinya. Dokter Alex adalah cinta pertamanya. Hanya saja, cintanya hadir di waktu yang salah.
"Jadi dimata dokter hanya ada Puan. Baiklah! Jika begitu aku akan merelakan tubuhku untuknya!"
Entah mengapa Dara merasakan panas dimatanya. Tak lama sebutir air mata menetes.
Alex hanya diam saja. Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah lama ditunggunya. Puan akan selalu ada di hatinya.
"Maafkan aku, Dara. Puan harus melakukan tugasnya sebagai ratu siluman harimau. Aku akan sangat menghargaimu jika kamu mengerti keadaan ini!"
Dara mengusap airmatanya.
"Jika semua sudah selesai, apakah aku bisa mengisi hati dokter?"
Dara terpaksa menanyakan hal itu. Dia tahu dokter Alex sangat memerhatikannya juga.
"Dara?!"
Terdengar seseorang yang datang. Dia adalah Nara.
Dara menoleh dan sangat terkejut ketika melihat ibunya.
"Ibu?"
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bisa menyakiti Nona Puan. Ayo, kembali ke dalam rumah!"
"Tapi, bu. Aku ...."
Dara tak sempat mengatakan apapun. Ibunya sudah menarik tangannya dengan cukup keras.
Alex hanya diam saja melihat kepergian Dara. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Dara. Apa yang terjadi setelah semua tugas Puan selesai? Dia sendiri tak tahu jawabannya.
"Hentikan, bu. Tanganku sakit!" teriak Dara.
Akhirnya, Nara menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Dara.
"Apa yang sudah kamu lakukan Dara? Kamu menanyakan sesuatu yang terlarang. Dokter Alex hanya mencintai Nona Puan. Dia sudah menunggunya berreinkarnasi sampai ratusan tahun! Cintanya tak perlu ditanyakan lagi," ungkap Nara. Dia sempat mendengar perbincangan Dara dengan dokter Alex.
Mata Dara kembali basah. Dia juga menyesali perbuatannya. Tapi hatinya ingin tenang setelah mendengar jawaban dokter Alex.
"Maafkan Dara, bu. Mungkin ini terakhir Dara bisa kembali!"
"Jangan katakan itu, Dara. Kamu pasti akan kembali. Kita akan bersama-sama lagi seperti dulu. Hanya saja, ibu ingin meminta restumu. Mang Diva mengajak ibu untuk menikah. Apakah kamu menyetujuinya?"
"Mang Diva? Ibu mau menikah dengannya?"
"Iya, Dara. Sebenarnya sebelum ibu menikah, kami pernah bersama. Tapi takdir sudah memisahkan kami. Sekarang adalah waktu yang tepat. Ibu ingin bahagia bersamanya ...," jelas Nara.
__ADS_1
Dara tersenyum. Dia tahu ibunya berhak bahagia.
"Tentu saja aku setuju, bu. Mang Nara sudah seperti ayah bagi Dara. Semoga ibu bahagia bersamanya ya, bu!"
Nara tak mampu menahan perasaannya begitu mendengar ucapan Dara. Dia pun meneluk puterinya itu erat. Kini hatinya sudah tenang dan akan menjalani sisa hidupnya bersama Diva.
Dara diam saja di dalam pelukan ibunya. Cinta ibunya dan Mang Dara mampu menaklukan waktu. Sementara cintanya hanya seperti bayangan. Lama kelamàan akan terlupakan.
"Ibu Nara ...."
Nara segera melepaskan pelukannya. Suara itu bukanlah puterinya. Dara sudah menghilang.
"Maaf, nona. Saya sedikit terharu ...," jawab Nara seraya mengusap air matanya.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan puterimu dan menanyakan kabar pernikahanmu?" tanya Puan lagi.
"I-iya, nona. Tadi Dara ada di sini. Dia sudah merestui pernikahan saya dan Diva!"
"Aku juga sangat senang, bu. Tapi, mengapa mataku basah. Apa yang sudah membuatku menangis?"
Nara tak mampu mengatakan perasaan Dara. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Alex membiarkan Dara pergi bersama ibunya. Namun, dia tidak merasakan kehadiran Dara lagi. Dia sudah pergi. Alex meraba dadanya yang terasa sakit. Aneh! Apa yang bisa membuatnya merasakan sakit seperti itu???
*****
Sesampainya di pelabuhan, Saka mulai melakukan penyelidikan. Tidak banyak yang mempunyai koper yang cukup mahal. Pembunuh itu pasti orang berada.
"Apa kamu mengenali koper ini? Apa pernah ada yang membawanya ke sini?" tanyanya kepada penjaga perahu.
Laki-laki tua itu tercengang begitu melihat foto koper yang berisi mayat.
"Apa di dalam koper itu mayat perempuan?" tanyanya dengan wajah pucat.
"Iya, pembunuh itu membuang mayat perempuan di dalam koper. Sepertinya koper ini sangat mahal. Penduduk tiger island gak ada yang punya seperti itu!" ungkap Saka lagi.
"Bener-bener! Koper itu bermerk luar negeri, harganya pasti mahal. Koper itu hanya dijual di pulau seberang!"
"Apa kamu tahu siapa yang memiliki koper itu?"
"Setahuku, hanya beberapa yang memilikinya. Aku pernah melihat tuan Iskandar membawanya saat pulang!"
"Tuan iskandar? Dia kan salah satu dewan kota?"
"Iya, dia orangnya! Apa mungkin Pak Iskandar membunuh perempuan itu?"
Saka terdiam. Dewan kota seperti Pak Iskandar tidak akan membuang mayat orang sembarangan. Bisa jadi, orang terdekatnya yang sudah melakukan pembunuhan itu!
__ADS_1
*****
Pak Iskandar sudah siuman dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit meskipun lukanya belum sembuh benar. Luka di wajahnya yang paling parah sehingga wajahnya menjadi menyeramkan.
"Aku akan membunuh siluman harimau itu! Wajahku menjadi menyeramkan seperti ini!" gerutu Iskandar ketika melihat wajahnya di cermin.
"Nanti juga luka itu akan sembuh, yah!"
Iskandar menoleh. Harry sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Bagaimana penyelidikanmu? Apa sudah menemukan gadis itu?"
Harry teringat Dara yang sudah kembali sekolah dalam.keadaan baik-baik saja.
"Aku melihatnya di sekolah. Keadaannya baik-baik saja, tapi dia sudah lupa ingatan!"
"Tetap saja dia itu siluman harimau! Kali ini, siluman itu akan mati. Aku sudah mendapat kabar kalau orang asing itu ada di sini. Biar dia saja yang meneruskan pekerjaanmu!" ungkap Iskandar.
"Siapa dia, yah?" tanya Harry ingin tahu. Ayahnya bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
"Orang asing itu bernama Cristian. Dia seorang vampire!"
Harry tercengang mendengar ucapan ayahnya.
"Vampire? Dari mana Ayah menghubunginya? Mahkluk itu lebih kejam dari siluman harimau, yah! Dia bisa memangsa kita jika tak bisa memuaskannya!"
"Itulah sebabnya, Ayah mencari vampire itu. Dia bisa dengan mudah melenyapkan siluman harimau! Gantinya, ayah akan memberikan darah yang dia inginkan," jelas Iskandar.
Harry tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Tindakan ayahnya sudah di luar nalar. Sebelumnya, Harry sempat melihat bayangan dengan wajah menyeramkan berkulit pucat yang membawa siluman harimau pergi. Bisa jadi, sosok itu juga seorang vampire!
*****
"Bagaimana, Nara? Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Diva setelah beberapa hari Nara tidak mengatakan apapun.
Nara masih belum yakin. Apalagi tubuhnya terasa semakin lemah.
"Bagaimana kalau setelah menikah, penyakitku semakin parah. Apa kamu masih mau tetap bersamaku?"
Diva menatap Nara lekat dan menggenggam tangannya erat.
"Aku akan menjagamu selamanya, Nara. Kamu juga akan menjagaku selama sisa hidupmu. Berjanjilah!"
Nara mengangguk pelan. Kini, dia yang akan menjaga Diva. Apapun yang akan terjadi nanti, mereka akan selalu bersama.
Puan memerhatikan Nara dan Diva dari kejauhan. Dia teringat pada dirinya sendiri. Nara adalah keturunannya dan juga menuruni penyakitnya. Puan hanya bisa mendoakan agar Nara akan selalu berada di samping kekasihnya. Tidak dengan dirinya, dulu dan kini takdirnya selalu sama. Tak bisa hidup bersama orang yang dicintai ....
*****
__ADS_1