
Harry segera menemui ayahnya yang sudah berada di Pulau Kumbang. Dia sangat tidak nyaman melihat kedua vampire yang menyebalkan.
"Mereka sangat menyebalkan dan memperlakukan aku seperti pembantu. Seharusnya ayah tidak main-main dengan mereka!" ucap Harry yang tak mampu menahan perasaannya lagi.
Iskandar memang sudah hampir sembuh meski masih duduk di kursi roda.
"Baiklah! Suruh mereka ke alamat ini. Banyak orang tak berguna yang bisa menjadi santapan mereka!" Iskandar menyerahkan sebuah kertas bertuliskan alamat.
#Penjara Pulau Kumbang
Harry malah terdiam begitu membaca tulisan di kertas itu.
"Apa ayah yakin? Penjahat itu juga manusia. Apa perlu mengorbankan mereka untuk mendapatkan keinginan ayah?"
Iskandar menatap tajam puteranya, "mereka pantas mati daripada menjadi benalu. Sudahlah! Jalankan saja perintahku."
Harry tidak tahu harus bagaimana lagi selain melakukan perintah ayahnya. Acara perpisahan anak muridnya akan berlangsung dua hari lagi. Para vampire itu harus segera pergi sebelum acara dilangsungkan.
Saka yang sedang berada di pelabuhan, sekilas melihat Harry yang mondar mandir menyeberang dalam satu hari. Penjaga toko koper mengatakan kalau Harrylah pemilik koper tempat pembuangan mayat.
"Selamat siang. Apa kabar Pak Harry?"
Harry sangat terkejut ketika Saka sudah berdiri di sampingnya. Dia tahu kalau Saka adalah seorang polisi.
"Selamat siang, maaf saya sedang buru-buru!" ujar Harry yang sengaja menghindar.
"Tunggu sebentar, pak. Saya ingin menanyakan sesuatu kepada bapak!" Saka mengeluarkan hape dan membuka galeri fotonya. "Apakah bapak mengenal koper ini?"
Harry terpaksa melihat foto yang ditunjukkan Saka. Wajahnya sedikit berubah begitu melihatnya.
"Itu kan sebuah koper yang berisi mayat perempuan!"
__ADS_1
Saka terpaku. Dari mana Harry bisa mengetahui soal mayat itu. Padahal potongan mayatnya sudah dia hapus dan tidak terlihat lagi. Jangan, jangan ....
"Ya, betul. Apakah bapak mengenali koper ini?"
Harry mengerutkan keningnya. Dia memang mengenali koper itu. Ketika anak buahnya membunuh seorang perempuan, dia menyuruhnya membuangnya ke laut.
"Sepertinya mirip dengan punya saya. Tapi koper saya sudah lama hilang!" alibi Harry.
"Hilang? Boleh saya tahu kapan hilangnya?" Saka tak mau kehilangan kesempatan dan terus mendesak Harry.
"Entahlah, aku lupa. Maaf, aku harus segera pergi!" Harry langsung ngeluyur pergi begitu kapal penyeberangan bersandar.
Saka hanya terdiam sambil memerhatikan kepergian Harry. Akhirnya dia tahu kalau Harry mengetahui siapa pembunuhnya. Bisa jadi Harry sendiri!
*****
"Ayahku sudah menemukan tempat untuk kalian. Jadi ..., pergilah ke tempat ini! Besok aku akan mengadakan acara di sini. Aku tidak mau ada masalah!" Harry segera menemui Jack dan Daniel dan berharap kedua vampire itu segera pergi.
"Ya, aku juga ingin tahu pesta orang sini. Pasti menyenangkan!" sahut Daniel dengan wajah semringah.
Sangat berbeda dengan Harry yang semakin kesal dengan kedua vampire itu, "tidak! Kalian tidak boleh diketahui siapapun. Silakan pergi!" ujar Harry berusaha sopan.
"Baik-baiklah! Kami akan pergi," ucap Jack hanya untuk meredakan kekesalan Harry.
Harry sedikit tenang begitu mendengar ucapan Jack. Namun hatinya belum tenang sebelum acara anak muridnya selesai tanpa masalah.
*****
"Nanti malam aku harus mengikuti perpisahan kelas di rumah guruku. Apakah boleh aku pergi, tuan?" tanya Puan ketika acara perpisahan sebentar lagi akan dilaksanakan.
"Pesta perpisahan? Di mana rumah gurumu?" Alex malah bertanya lagi.
__ADS_1
"Di pulau seberang! Aku akan pergi bersama kawanku. Namanya Ratih. Namanya seperti puteriku!" terang Puan.
Alex juga masih ingat nama puteri Puan, "baiklah! Tapi, jangan menjauh dari teman-temanmu!" jawab Alex yang memperlakukan Puan seperti anak kecil.
"Siap, tuan!" ujar Puan dengan sikap seperti prajurit dengan memberi hormat.
Alex tertegun. Lama-kelamaan, sikap Puan seperti Dara. Aah! Kenapa Alex masih mengingat gadis itu?
*****
Puan segera menemui Nara dan mengantarkannya ke rumah Ratih.
"Biar ibu antarkan sampai pelabuhan. Kamu belum terbiasa menaiki kapal penyeberangan."
"Bukannya Dara sering bolak balik menyeberang, bu? Katanya sering mengambilkan obat ibu di rumah sakit Anthony!" sela Ratih.
Nara sedikit gugup, "oh iya, ibu lupa! Maklum sudah tua," ungkap Nara memberi alasan.
Puan hanya tersenyum melihat sikap Nara. Meski dalam keadaan sakit, Nara selalu ceria. Puan jadi ingat dirinya sendiri yang dulu menahan sakit. Bahkan tersenyum pun sangat berat.
Akhirnya, Puan akan menaiki kapal penyeberangan. Terakhir, Anthony atau Alex membawanya dari rumah sakit dengan helikopter. Kini, Puan bisa menikmati pemandangan laut yang sangat indah.
"Hati-hatilah! Kehidupan di pulau seberang sangat berbeda. Di sana jauh lebih ramai dan banyak orang jahat!" pesan Nara yang masih sedikit cemas.
"Tenanglah, Bu Nara. Dara kan jago karate. Dengan satu jurus orang-orang jahat itu pasti keok!" celetuk Ratih sambil memperagakan sikap seperti seorang jagoan.
Nara tertawa kecil. Dia lupa kalau yang dilihat Ratih adalah Dara, "iya-iya! Pokoknya jika acaranya sudah selesai kalian harus langsung pulang."
"Baik, bu!" ucap Puan sebelum menaiki kapal penyeberangan.
Nara masih terus melambaikan tangan padahal kapal sudah mulai menjauh. Perasaannya tidak enak melepaskan kepergian Puan. Sayang, Diva juga tidak kelihatan. Dia pasti mau menemani Puan. Tapi, di manakan Diva sekarang?
__ADS_1
*****