
DARAH PANAS VAMPIRE MUDA #2
Sebelum pergi, Saka berhasil berkomunikasi dengan Jaka lewat cermin. Ide itu muncul dalam keadaan kepepet setelah mendengar kalau ada orang asing yang akan melukai anak buahnya.
Saka berdiri memandangi dirinya sendiri di depan cermin.
"Hai, Tuan Jaka. Apa tuan bisa mendengarku? Apa tuan tahu siapa orang asing itu?" tanyanya coba-coba.
Saka kemudian tertawa, merasa dirinya sudah mulai gila. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika melihat bayangannya masih dengan ekspresi yang sama.
"Tu-tuan Jaka?" tanya Saka tanpa berkedip melihat ke dalam cermin.
"Ya! Aku adalah Jaka. Kamu sangat pintar bisa mengetahui bagaimana berbicara denganku!"
Saka hampir terpental ke belakang ketika melihat bayangannya benar-benar berbicara.
"Apa aku lagi bermimpi?" Saka memukul tangan dan kakinya, "aduh! Sakit. Berarti ini adalah kenyataan!" teriaknya kesakitan.
"Kamu tidak sedang bermimpi, Saka. Aku benar-benar Jaka. Aku tahu masalah yang sedang kau hadapi. Orang asing yang dimaksud anak buahmu adalah vampire!"
"Vampire? Maksud tuan, vampire yang suka menghisap darah manusia?" Saka mulai penasaran.
"Ya, benar. Ketika itu kita pernah bertemu dengan mereka di pulau seberang. Bahkan sampai terjadi pertempuran. Hanya saja, kau tidak bisa mengingatnya karena aku sudah mengambil alih tubuhmu!" jelas Jaka.
"Berarti kalau aku hilang ingatan, itu karena tuan sedang berada di tubuhku?"
Jaka mengangguk pelan.
"Terus, bagaimana bisa melumpuhkan vampire itu?" tanya Saka lagi. Dia tambah penasaran.
"Darahmu bisa digunakan untuk melumpuhkan mereka tapi tidak bisa membuat mati. Karena sebenarnya mereka memang sudah mati dan menjadi mayat hidup. Basahi peluru senjatamu dengan darahmu sedikit saja. Itu sudah membuat mereka tak berdaya!" ungkap Jaka.
Akhirnya, Saka menuruti perkataan Jaka. Dia melukai ujung jari dan membasahi pelurunya dengan darah. Dia tidak tahu apakah bisa membunuh orang asing itu yang ternyata vampire.
Beberapa waktu kemudian. Saka sudah berhadapan dengan vampire itu yang hampir saja memangsa anak buahnya. Untung saja, dia datang tepat waktu.
Peluru itu langsung menembus kulit orang asing dengan wajah menyeramkan itu. Saka sampai gemetar melihat vampire itu berteriak kesakitan dan tak berdaya. Yang dikatakan Jaka ternyata benar.
"Apakah kau baik-baik saja, Agen A1?" tanya Saka yang langsung menghampiri anak buahnya.
Laki-laki itu melihatnya dengan tatapan kosong, "apa yang terjadi, pak? Mengapa saya ada di sini?"
Ternyata, laki-laki yang mempunyai kode nama A1 itu tidak sadar kalau sudah dibawa orang asing yang ternyata adalah vampire.
"Kau hampir menjadi mangsa vampire!" jawab Saka singkat.
"Vampire? Apa kayak di film china itu, pak? Yang jalannya lompat-lompat?" tanya laki-laki itu membuat perut Saka tergelitik.
"Kalau melompat-lompat disini namanya pocong, lah!" jawabnya seraya ngeluyur pergi.
__ADS_1
Saka merasa sangat lega karena anak buahnya sudah lolos dari jebakan vampire. Sekarang dia tahu dari mana vampire itu berasal. Ternyata mereka ada di dalam lapas!
*****
Daniel terpaksa kembali ke dalam lapas dengan badan terluka. Peluru dari polisi itu sudah berhasil bersarang didalam tubuhnya.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Jack ketika melihat Daniel berlumuran darah hitam.
"Dia bisa melukaiku. Entah dia menggunakan apa, peluru itu menembus kulitku!" jawab Daniel yang meringis kesakitan.
Sudah sangat lama Jack tidak melihat vampire terluka. Seharusnya tidak ada apapun yang bisa melukai mereka.
"Siapa yang sudah melukaimu?"
"Dia seorang polisi. Kita pernah bertempur dengannya di pulau seberang! Aku sangat kesakitan. Aku membutuhkan darah manusia!"
"Tidak! Jangan manusia lagi. Masih ada seekor kambing. Kau bisa memangsanya!"
Daniel menatap Jack nanar, "apa kau membiarkan aku mati pelan-pelan?" tanyanya.
"Apa kau lupa kalau kita sudah mati? Peluru itu hanya melukai tubuhmu saja. Mereka tidak berani membunuh kita!" jawab Jack sangat yakin.
Lagi-lagi, Daniel harus menahan hasratnya untuk meminum darah manusia. Entah kapan sampai kapan dia akan bertahan.
Malam itu, Daniel hanya memangsa seekor kambing untuk menyembuhkan lukanya, namun rasa sakitnya hanya sedikit. berkurang.
Daniel mengeluarkan sendiri peluru yang bersarang di dadanya. Sudah sangat lama, dia tidak merasakan sakit. Tak lama kemudian peluru itu sudah ada ditangannya.
Terdengar teriakan Daniel ketika merobek dadanya. Rasa sakit itu sangat luar biasa.
Suaranya terdengar ke seluruh ruangan di lapas. Para tahanan masih bersembunyi di dalam selimut. Malam itu terasa lama berakhirnya. Selalu terdengar teriakan mengerikan sepanjang malam.
Ternyata peluru itu sudah dilumuri darah manusia. Daniel sangat heran mengapa darah manusia bisa melukainya. Padahal, dia selalu meminum darah manusia untuk bertahan hidup.
"Ada apa dengan peluru itu?" tanya Jack yang muncul sambil membawa perlengkapan pengobatan. Mereka tetap membutuhkannya untuk menutupi luka.
"Peluru ini dilumuri darah manusia. Aku ingin tahu darah siapa yang bisa melukaiku?" Daniel masih tidak mempercayai apa yang dialaminya.
"Polisi itu! Bisa jadi itu adalah darahnya!" tebak Jack.
Daniel teringat apa yang dilakukan polisi yang sudah melukainya, "ya! Dia sangat aneh. Gerakannya sangat cepat dan kuat seperti seekor harimau. Apa dia juga siluman harimau?" Daniel semakin penasaran.
"Mungkin saja. Jika manusia biasa dia tidak akan bisa melukaimu! Aku akan mencari tahu siapa dia sebenarnya!" sahut Jack yang juga ikut penasaran.
Malam hampir berakhir. Namun waktu berjalan terasa sangat lambat. Vampire muda yaitu Rio dan Gerry masih merasakan haus meski sudah memangsa seekor kambing.
Daniel juga masih merasakan sakit yang luar biasa. Darah yang menempel di peluru itu masih ada di dalam tubuhnya. Membuat lukanya tidak bisa cepat sembuh. Dia harus bertahan sampai beberapa hari ke depan.
Jack mulai merasa khawatir kalau rencananya membangun kerajaan vampire akan terhalang. Siluman harimau adalah lawan yang tidak mudah dihancurkan.
__ADS_1
*****
Keesokan paginya, Saka menemui Diva di rumahnya. Dia baru tahu kalau ada rumah megah di pinggir pantai. Dari kecil dia selalu bermain di pantai namun tidak pernah melihat rumah itu.
"Apakah rumah ini rumah tuan?" tanya Saka sambil melihat kesekeliling rumah megah bergaya eropa itu.
"Bukan, bukan rumahku. Tapi rumah ini milik tuan Alex. Aku hanya seorang pelayan!" jawab Diva tanpa malu dengan pekerjaannya.
"Lalu, dimana Tuan Alex berada?" tanya Saka ingin tahu lebih banyak.
Tiba-tiba, masuk seorang wanita setengah baya sambil membawa nampan berisi gelas minuman dan beberapa kudapan.
"Silakan diminum, tuan," ucap Nara yang hanya bisa menunduk.
Saka seperti mengenali perempuan itu. Tiba-tiba, wajahnya berubah.
"Ibu Nara? Apa benar anda adalah Ibu Nara, ibunya Dara? Saya adalah Saka, bu. Kakaknya Ratih, teman anak ibu!" ungkap Saka yang hampir tak percaya dengan penglihatannya.
Nara baru berani mendongak ketika tamu itu menyebut namanya.
"Oh, iya. Saya adalah ibunya Dara. Kamu memang Saka, kakaknya Ratih!" sahut Nara yang juga tak kalah terkejut.
"Jadi, kalian saling mengenal?" tanya Diva yang sedikit cemburu.
"Tentu saja saya sangat mengenal Ibu Nara. Hanya saja, dulu saya jarang pulang karena pendidikan dan tugas di kepolisian!" terang Saka dengan mata berbinar.
"Oh, begitu. Sekarang Ibunya Dara adalah istriku. Berarti Dara adalah puteriku juga!" tegas Diva tentang posisinya.
Diva terdiam. Setahunya ayah Dara sudah lama meninggal.
Diva mengetahui apa yang dipikirkan Saka, "kami belum lama menikah!" ujarnya untuk memperjelas.
"Lalu, di mana Dara sekarang?" tanya Saka antusias.
"Dara melanjutkan kuliah di pulau seberang, Nak Saka. Baru kemarin dia berangkat!" jawab Nara sambil duduk di sebelah Saka.
Diva agak terganggu melihat Nara sedekat itu dengan laki-laki lain.
"Oh, pantas Ratih uring-uringan. Katanya mau menyusul Dara kuliah. Apa bisa saya menemuinya nanti, bu? Sepertinya Ratih sangat merindukan temannya itu."
"Tentu saja bisa, Nak Saka. Kamu bisa ikut dengan kami nanti sore. Saya juga gak bisa jauh darinya!" ungkap Nara yang juga merindukan Dara.
"Baiklah! Ada hal penting yang harus kami bicarakan. Bisa kamu pergi sebentar, Nara?" Diva mencari alasan agar Nara menjauhi Saka.
"Ya, sudah! Aku akan memasak untukmu. Jangan buru-buru pulang ya, Nak Saka!" Nara langsung melangkah pergi menuju dapur.
Diva malah semakin panas ketika Nara menawari anak muda itu makan.
"Tenanglah, tuan. Saya sangat menghormati Ibu Nara seperti ibu saya sendiri. Malah kalau bisa, saya akan menjadi menantunya!" celetuk Saka sedikit bergurau.
__ADS_1
Diva melotot. Baru saja Dara menjadi puterinya sudah ada yang mengaku menjadi menantu. Tidak bisa itu!!!
*****