KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
SATU RAGA DUA JIWA #3


__ADS_3

Alex menunggu Puan di tepi pantai. Banyak kenangan yang pernah tercipta di sana. Ketika dirinya masih menjadi Anthony, vampire yang terdampar di sebuah pulau. Seorang gadis kecil sudah menyelamatkan hidupnya dengan memberikan darahnya. Gadis itu adalah Puan.


Di pantai itulah, Alex mulai menyukai Puan yang sudah beranjak dewasa. Apapun yang ada pada dirinya membuat Alex jatuh cinta. Meskipun Puan bukanlah manusia biasa tetapi seorang siluman harimau.


"Tuaaan!" panggil Puan yang sudah selesai membersihkan diri.


Alex menoleh, tapi mendadak hatinya menjadi tak menentu. Yang dihadapannya bukanlah Puan tetapi Dara dengan setelan kaus dan celana panjang.


Puan terus berlari sambil melambaikan tangan menuju tempat Alex berada.


"Dara ...," bisik Alex. Yang ada di hadapannya adalah Puan namun mengapa yang ada di dalam pikirannya adalah Dara?


"Kenapa tuan melihatku seperti itu?"


Alex tersadar ketika Puan sudah ada di dekatnya.


"Aah, tidak! Aku sangat senang kamu sudah kembali segar. Ayolah! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat!"


Alex segera menggenggam tangan Puan dan mengajaknya ke tempat yang menyimpan banyak kenangan.


Puan hanya mengikuti langkah Alex tanpa bertanya lagi. Dia juga sangat senang bisa menikmati angin dan deburan ombak di tepi pantai. Puan seperti baru bangun dari tidur yang sangat panjang.


Dari kejauhan, Nara memerhatikan Puan dan Alex. Dia teringat yang dikatakan Dato Patra bahwa suatu saat Dara akan kembali ke dalam tubuhnya. Dia hanya bisa berharap waktu itu tidak terlalu lama.


Sesak yang dirasakan Nara semakin terasa. Waktunya juga tidak terlalu lama. Nara hanya bisa menarik napas panjang berharap sesaknya akan hilang.


"Minumlah obatmu. Kamu selalu lupa!"


Diva tiba-tiba muncul. Membuat Nara sedikit terkejut.


"Hei! Kamu jangan selalu menganggetkan aku, Diva. Aku bisa mati jantungan, tahu!" teriak Nara sambil mengelus dadanya.


"Ma-maafkan aku. Kamulah yang sering melamun!"


"Terserah aku mau melamun atau tidak. Kamu gak ada urusannya dalam kehidupanku!"


Nara sangat kesal dengan sikap Diva.


Sementara Diva menyadari kalau Nara sudah terlanjur hadir di dalam hidupnya. Dia tak mampu berpaling dan tak peduli.


"Kamu tahu kalau aku sangat mencemaskanmu. Obatmu! Aku menemukannya diatas lantai. Sepertinya sejak meminggu yang lalu dan jumlahnya tetap sama. Berarti kamu tidak meminumnya sama sekali!"


Diva menyodorkan obat yang ditemukannya di dalam kamar Nara.


"Kamu sudah masuk ke kamarku?"

__ADS_1


Nara segera merebut obatnya dari tangan Diva dengan sedikit kasar.


"Aku melihat pintu kamarmu terbuka dan obat itu ada di atas lantai!"


Nara baru ingat kalau tadi sudah buru-buru mengambil baju-baju Dara sehingga membuat obatnya terjatuh.


"Aku sudah lupa menyimpannya di mana. Makanya aku tidak meminum obat itu," ucap Nara pelan. Dia sedikit berbohong.


"Aku tahu kesehatanmu semakin memburuk. Setidaknya minumlah obatmu, lakukan itu untuk puterimu!"


Nara mendongak. Terkadang dia ingin menyerah. Apalagi setelah jiwa Dara menghilang, jiwanya juga ikut menghilang.


"Aku sangat merindukan puteriku ...."


Sebutir airmata menetes di pipi Nara. Dia hampir menyerah.


Kali ini, Diva tidak akan membiarkan Nara menangis sendirian. Perlahan, Diva memeluk Nara dan memberikan dadanya untuk tempatnya menangis.


Nara menangis sesungukan. Seakan beban yang sudah lama ditahannya langsung tumpah seketika. Dia memang memerlukan Diva. Hanya saja, takdir sudah memisahkan mereka.


*****


Alex membawa Puan ke gua tempat tinggalnya dulu. Gua itu tetap sama tak berubah sedikit pun.


"Ini kan gua tempat tinggal tuan?"


"Ya! Ini adalah gua tempat tinggalku dulu. Aku tidak membiarkan siapapun memasukinya. Aku selalu menunggumu untuk masuk ke dalamnya!"


Semua yang dilalui Alex selama ratusan tahun pun menghilang seketika. Segala kepedihan dan kesepian akhirnya membuahkan kebahagiaan.


Alex pun kembali menggandeng tangan Puan. Perlahan memasuki gua yang selalu terawat dengan baik. Bahkan tenpat itu sudah dialiri listrik dan tidak gelap seperti dulu lagi.


"Tempat ini masih sama seperti dulu. Hanya saja lebih terang dan bisa melihat lebih jelas," ucap Puan dengan perasaan takjup.


Di dalam gua masih ada barang-barang yang sengaja Alex tinggalkan. Tapi hanya tinggal barang yang terbuat dari besi. Barang lain sudah hancur dimakan usia.


Alex merasa kembali menjadi dirinya yang dulu. Vampire muda yang sudah jatuh cinta dengan seorang siluman harimau. Kini, pujaan hatinya sudah terlahir kembali.


"Aku teringat kalung pemberian tuan dahulu. Seharusnya kalung itu ada padaku! Aku sudah memberi pesan agar menyimpannya sampai aku kembali."


Puan baru ingat tentang kalung pemberian Anthony dulu. Dia memeriksa lehernya tapi kalung itu tidak ada.


"Aku bahkan hampir lupa soal kaling itu. Nanti akan aku tanyakan kepada ibunya Dara!"


"Ibunya Dara? Apakah dia ada didekat sini? Aku harus menemuinya!"

__ADS_1


Alex tertegun. Sepertinya Puan harus tahu siapa Dara sebenarnya.


*****


Saka berniat untuk ke sekolah tempat gadis yang dibicarakan Kapten Aris dan Harry. Namun, saat ini sedang libur sekolah. Akhirnya dia kembali lagi ke gudang tempat harimau itu muncul. Dia sangat yakin ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti.


Tiba-tiba langkahnya terhenti. Sebuah cahaya berkilauan di kegelapan. Cahaya berwarna merah seperti mata harimau. Jangan ... jangan, harimau itu kembali!


Perlahan, Saka mendekati cahaya itu. Ternyata hanya sebuah kalung dengan liontin berwarna merah merah delima.


"Kalung siapakah ini? Tidak mungkin seekor harimau memakai kalung seperti untuk wanita!" pikir Saka.


Saka harus mencari tahu siapa pemilik kalung itu. Tapi dia tidak akan melaporkannya kepada Kapten Aris. Dia sudah tahu ada rahasia yang dipegang Kapten Aris dan korban serangan harimau.


*****


"Baiklah! Sepertinya kamu harus mengetahuinya, Puan. Sebenarnya, Ibu Nara adalah Ibunya Dara, pemilik tubuhmu sekarang ini!" jelas Alex


Puan sangat terkejut mendengar penjelasan Alex. Ternyata ibunya Dara ada di dekatnya.


"Jadi, Ibu Nara adalah Ibunya Dara?"


Nara gemetar. Dia tak menyangka dokter Alex sudah menceritakan siapa dirinya.


"I-iya, nona. Dara adalah puteri saya!"


"Pantas saja ibu selalu membantuku. Maafkan aku baru mengenalimu sekarang. Aku ucapkan terima kasih karena sudah menjaga puterimu dengan sangat baik. Anggaplah aku seperti puterimu juga, ya!" ungkap Puan bijak.


Nara mengangguk meski ada kesedihan di hatinya.


"Baik, nona. Saya akan selalu ada di samping nona."


Puan sangat senang bisa bertemu dengan ibunya Dara. Tapi dia juga khawatir. Jiwa Dara sedang tertidur karena dirinya. Puan takut ibunya Dara malah membencinya.


"Tidak! Ibu Nara tidak membencimu. Dia hanya sedih saja karena merindukan puterinya!"


"Tuan?"


Alex tahu apa yang sedang dipikirkan Puan ketika ibunya Dara sudah pergi.


"Jangan khawatir soal lain. Masih banyak yang kamu belum ketahui tentang dunia sekarang ini!"


"Justru itu aku jadi takut. Aku harus bisa menjadi puterinya juga. Lagipula aku tidak pernah merasakan punya ibu. Mulai sekarang, aku akan hidup menjadi Dara agar Ibu Nara tidak sedih lagi!"


Alex kembali tercengang mendengar keinginan Puan. Bisakah Puan hidup menjadi Dara???

__ADS_1


*****


__ADS_2