
Puan baru pertama menjejakkan kaki di seberang pulau. Sejak sampai di pulau kumbang, Puan tidak pernah kemana-mana. Dia hanya tertegun melihat keramaian di pasar. Menurutnya mereka kelihatan biasa namun sifatnya bisa lebih kejam dari binatang.
"Lihatlah, Bu. Banyak baju bagus dan makanan enak!"
Ratih langsung kesenangan melihat deretan penjual makanan dan baju di dalam pasar.
"Tunggu, Ratih. Pelan-pelan saja jangan mengundang kecurigaan mereka!" ujar Puan penuh kecemasan.
"Aakh, Ibu! Gak apa-apa, kok!"
Puan hanya diam saja melihat Ratih langsung berlari ke arah kerumunan. Puan merasa kakinya masih terasa berat. Insting harimaunya mulai bergejolak. Melihat nanar orang-orang yang bisa saja membahayakan mereka.
"Iya, benar! Katanya yang menghuni rumah itu vampir!"
Baru saja Puan akan melangkahkan kaki terdengar orang yang membicarakan tentang vampir. Dia jadi teringat Anthony.
"Masa sih ada vampir? Bukannya hanya ada siluman harimau?"
"Beneran! Justru vampir itu selalu mengawasi kekasihnya yang ada di pulau kumbang. Makanya dia membangun rumah di tepi pantai agar bisa lebih mudah melihat ke sana!"
Puan merasa jantungnya berhenti. Mereka membicarakan seseorang yang sangat dikenalnya.
Ratih sudah menghilang. Menurutnya, Ratih bisa menjaga dirinya sendiri. Dia akan mencari tahu tentang vampir yang dibicarakan orang-orang.
Mungkinkah tanpa sepengetahuan Puan, Anthony masih ada didekatnya???
Puan bertekad menemukan tempat tinggal vampir yang tadi didengarnya. Dadanya masih terus berdebar. Sebentar lagi akan bertemu seseorang yang sangat dirindukannya.
*****
Ratih terlalu antusias sehingga melupakan ibunya. Apalagi dia melihat Bayu yang juga sedang membeli keperluan.
"Kak Bayu!" ujar Ratih sambil menepuk pundak laki-laki didepannya.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzin! Kamu ngagetin aku aja, Ratih."
Ratih cengengesan.
"Beli apa, Kak?"
"Ada keperluan buat pesantren. Kamu sedang apa disini?"
"Hhmmm, nyariin Kakak!"
Bayu hanya tertawa kecil.
"Anak perempuan jangan sering ngayap sendirian. Nanti kalau ada yang nyulik gimana?"
"Kalau Kakak yang nyulik, aku akan ikut dengan sukarela!"
"Dek Ratih!!!"
Bayu memang ngomong serius meski Ratih selalu bercanda.
"Ayo, kak. Disana ada permainan ayunan. Aku mau main tapi gak ada yang mendorong!"
"Aku masih banyak keperluan, Dek!"
Bayu enggan mengikuti kemauan Ratih.
"Ayolah, Kak. Aku kan gak pernah naik mainan itu!" rengek Ratih sambil memasang muka memelas.
Bayu menatap Ratih lekat. Dia seperti melihat anak kecil .
Tak berapa lama, mereka sudah berada di depan ayunan tinggi menjulang hampir menyentuh langit.
Disana sudah banyak yang mengantri. Di ayunan itu sudah ada seorang perempuan yang didorong seorang laki-laki.
__ADS_1
"Sudah ramai, Dek. Nanti aku terlambat sampai dirumah."
"Sebentar kok, kak. Kayak kakak gak tau aku aja!"
Ratih langsung masuk ke dalam kerumunan. Gak lama dia muncuk lagi dengan wajah semringah.
"Ayo, kak. Habis ini giliran kita!"
Ratih langsung menarik tangan Bayu menuju ke ayunan.
"Selamat ya, bang. Moga abang dan istri abang mendapatkan anak yang cantik dan sehat!" ujar anak muda yang memandu.
"Istri? Anak?"
Bayu bingung dengan ucapan anak muda itu.
"Iya, kak. Aku kan ngidam ingin naik ayunan itu. Kalau anak kita ileran bagaimana?"
"Dek???"
Bayu baru tersadar apa yang dikatakan Ratih sebagai alasan. Harusnya dia curiga kenapa Ratih bisa mendahului yang lain.
"Ayo, kak. Aku mau naik!"
Belum sempat menegur Ratih, gadis itu sudah berada diatas ayunan. Bayu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
Perlahan, Bayu mendorong Ratih yang sangat senang berada di ayunan itu. Dari dulu memang dia sangat ingin ikut. Sebenarnya, ayunan itu hanya untuk pasangan atau keluarga. Itulah mengapa Ratih mencari alasan sebagai suami istri.
*****
Sementara itu, Puan sudah sampai ke tempat yang diceritakan orang-orang. Di sana berdiri sebuah bangunan kokoh seperti istana. Bangunannya lebih tinggi dengan menara menjulang ke langit.
"Jadi di sinilah Anthony tinggal!"
__ADS_1
Puan sangat yakin kalau Anthony berada di dalam bangunan itu. Sebentar lagi mereka akan bertemu. Puan sedikit ragu. Dia sudah mulai menua, akankah Anthony juga sama???
*****