
Makhluk misterius itu masih berdiri dengan tatapan nanar. Dia bukan lagi Diva yang dikenal Alex. Tapi makhluk mengerikan yang akan menyerang siapapun didepannya.
"Kembalilah! Tugasmu sudah selesai," ucap Alex tegas. Mengira, Diva menurutinya dan kembali menjadi manusia.
Namun, makhluk itu masih kelihatan garang.
"Aaaargh!!!" teriak makhluk itu seraya memukul dadanya.
Tak lama, makhluk itu pun kembali bersiap untuk menyerang Alex. Mau tidak mau, Alex harus siaga. Dia pug harus bisa menjaga diri dari serangannya.
"Diva!!!"
Tiba-tiba terdengar suara. Dari kegelapan muncul seorang perempuan. Dia adalah Nara.
Ya! Nara sudah merasakan hal buruk akan terjadi. Di pelabuhan, dia sempat melihat Diva dan mengikutinya sampai ke tempat itu.
Diva sangat terkejut melihat kedatangan Nara. Namun, efek ekstrak darah yang sudah dipakainya belum bisa mereda.
"Aaargh! Aaargh!" teriak makhluk itu lagi seakan tidak ada lagi sosok Diva di dalam tubuhnya.
Alex sudah mengetahui kedatangan Nara. Dia juga ingin tahu apakah Nara bisa mengendalikan Diva. Ternyata makhluk itu sudah mengendalikan Diva sepenuhnya.
"Pergilah, Nara. Makhluk itu sangat berbahaya. Dia bukanlah Diva yang kamu kenal!" ungkap Alex.
"Tidak, tuan. Saya tidak akan meninggalkannya. Diva! Ini aku Nara. Ayo kita pergi dari sini!" ucap Nara seraya mengulurkan tangannya.
Makhluk itu diam sesaat. Sepertinya terjadi pergolakan batin di dalam hatinya. Tiba-tiba, dia berlari kencang mendekati Nara. Tangannya ke atas siap untuk menyerang Nara.
Alex sangat terkejut dan harus melindungi Nara. Makhluk itu tidak bisa ditolong lagi.
Nara tidak takut sedikit pun. Dia tetap menatap Diva tajam tanpa berkedip sekali pun. Dia yakin, di dalam tubuh monster itu masih ada Diva. Laki-laki yang dicintainya.
__ADS_1
Ternyata benar. Tepat di depan Nara, makhluk itu kembali terdiam. Dia kelihatannya melemah meski masih belum bisa kembali ke wujud aslinya.
"Ayolah kita pergi, Diva!" ucap Nara tetap menyodorkan tangannya.
Alex hanya bisa melihat apa yang dilakukan Nara tanpa melakukan apapun. Dia merasakan kekuatan makhluk itu sudah menghilang.
Perlahan, makhluk itu memegang tangan Nara. Tak mau kehilangan kesempatan. Nara segera menggenggam tangan besar penuh bulu itu erat.
"Kami pergi dulu, tuan!" ucap Nara.
"Apa kamu yakin bisa mengendalikan makhluk itu, Nara?" tanya Alex masih khawatir.
Nara langsung mengangguk, "dia tetaplah Diva. Saya akan selalu di sampingnya apapun yang akan terjadi!"
Akhirnya, Alex membiarkan Nara pergi bersama makhluk itu. Berharap wujud Diva kembali secepatnya sebelum hari terang.
Nara terus menuntun Diva ke pinggir pantai. Tubuhnya yang kecil sangat berbanding terbalik dengan tubuh monster yang seperti raksasa itu. Meski begitu, Nara tidak merasakan takut sedikit pun.
Makhluk itu langsung terlentang di atas pasir dan kepalanya diletakkan di pangkuan Nara. Dia merasakan sangat kelelahan. Yang diinginkannya adalah hanya terpejam.
Nara terus menatap wajah makhluk penuh bulu itu. Kemudian mengelus nya perlahan. Dia tahu hari itu pasti akan terjadi.
Beberapa hari yang lalu, Nara sempat melihat Diva menyuntikan sesuatu ke tangannya. Nara berniat untuk mengagetkannya. Namun niatnya itu urung ketika melihat perubahan yang terjadi pada Diva.
Wajah Diva menjadi penuh bulu, juga seluruh tubuhnya. Nara ingin mendekatinya, namun tiba-tiba Alex muncul.
"Jangan dekati Diva. Saat ini, dia sedang melawan dirinya sendiri!" ungkap Alex. Ternyata dia juga mengetahui apa yang terjadi pada Diva.
"Sebenarnya apa yang terjadi, tuan. Mengapa Diva bisa berubah menjadi seperti itu? Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Nara penuh kecemasan.
"Aku tidak tahu! Waktu itu aku sudah peringatkan Diva. Sepertinya, dia sudah kecanduan dengan ekstrak darah yang dipakainya!"
__ADS_1
"Tolong Diva, tuan," pinta Nara.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya Diva yang bisa mengendalikan dirinya sendiri!" jelas Alex yang juga tidak tahu harus bagaimana.
Nara masih menatap makhluk penuh bulu itu. Malam akan segera berakhir dan matahari akan bersinar. Berharap Diva bisa kembali kewujudnya semula sebelum terlihat orang-orang.
Tanpa sadar Nara pun tertidur. Dia juga sangat kelelahan. Apalagi angin laut bertiup sepoi-sepoi seakan sengaja membuatnya mengantuk.
Tak lama kemudian, Nara seperti mendengar suara banyak orang.
"Apa mereka masih hidup. Apa yang mereka lalukan disini?"
"Yang laki-laki sangat aneh. Pakaiannya compang camping seperti pengemis!"
Nara pun segera membuka mata. Ternyata, suasana pantai sudah ramai. Di depannya banyak orang yang memerhatikannya dengan penuh kecemasan.
Diva juga ikut membuka mata. Wujudnya sudah kembali seperti semula. Semalam dia sudah ketiduran dan tidak ingat apapun.
"A-apa yang sudah terjadi padaku?" tanya Diva yang baru tersadar dengan pakaiannya yang lusuh. Apalagi ketika posisi kepalanya masih di atas pangkuan Nara. Dia pun segera bangun dan berdiri tegak sambil menahan malu.
"Maaf, kami harus pergi!" ucap Nara seraya menarik tangan Diva dan pergi meninggalkan tepat itu.
Diva hanya mengikuti langkah Nara dengan hati penuh tanda tanya.
"Tunggulah disini, Diva. Aku akan pergi sebentar!" ucap Nara ketika sampai ditempat yang sepi.
Diva belum sempat menjawab, Nara sudah berlari meninggalkannya. Tinggal Diva sendirian yang berusaha mengingat apa yang sudah terjadi padanya.
Semalam, Diva ingat sudah memakai ekstrak darah terlalu banyak. Dia merasa tidak akan terjadi hal buruk. Apalagi efeknya hanya banyak bulu yang tumbuh di wajah dan tubuhnya.
Ternyata setelah memakai ekstrak darah itu, Diva tidak sadarkan diri. Kemudian terjaga di pangkuan Nara. Jangan, jangan ... yang dikatakan Tuan Alex benar. Dia sudah berubah menjadi monster!
__ADS_1
*****