
Nara teringat ketika Dara baru saja dilahirkan. Dibahu kirinya ada sebuah tanda mirip gambar wajah harimau. Tanda itu semakin jelas ketika Dara tumbuh.
Tanda itu tidak bisa hilang. Nara tahu leluhurnya adalah siluman harimau. Hampir setengah abad tidak ada yang menurunkan kekuatan siluman harimau. Dara adalah yang terakhir.
"Suatu saat, Dara harus menerima takdirnya. Dia adalah reinkarnasi Puan, ratu siluman harimau terakhir. Dia yang akan membangkitkan kerajaan siluman harimau!"
Dato Patra menjelaskan tentang takdir yang akan Dara jalani. Nara sangat khawatir dengan kehidupan yang akan dijalani puterinya itu nanti.
Saat kecil, Dara pernah sakit panas. Dia gak mau makan sehingga tubuhnya sangat lemah. Tanda di tubuhnya mulai bereaksi. Dara histeris karena merasakan panas yang sangat luar biasa.
"Berikan seekor ayam utuh yang baru saja dipotong. Biarkan darahnya mengalir sehingga bau amisnya menyeruak!"
"Ayam yang baru dipotong? Apa yang akan Dara lakukan dengan ayam itu, Dato?"
"Lihatlah rekasinya nanti!"
Nara mengikuti perintah Dato Patra. Ayam yang baru saja dipotong itu dibawa ke kamar Dara. Darahnya masih mengalir dan bau amis menyebar ke seluruh ruangan.
Nara sedikit ragu meninggalkan ayam itu. Takut Dara malah tambah sakit.
Dara yang tertidur mulai bereaksi ketika mencium bau amis darah. Perlahan Dara bangun dan mencari asal bau amis itu.
Dihadapannya ada sebuah nampan besar dengan seekor ayam dengan darah yang mengalir dari lehernya.
Tanda harimau di bahu Dara semakin panas. Sesaat kemudian, Dara pun memakan ayam itu tanpa jijik sedikit pun!!!
Nara yang mengintip dari balik pintu langsung gemetar. Dia melihat puteri kecilnya melahap ayam itu dengan penuh nafsu.
"Ibu!!!"
Nara tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Dara.
__ADS_1
"Nanti aku pulang terlambat lagi. Ada tugas kelompok!"
Dara sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Awas kalau kamu berkelahi lagi!"
"Iya, ibuku sayang!"
Dara pun memeluk ibunya dengan penuh kehangatan. Meski sedikit galak, Dara sangat mencintai satu-satunya keluarganya itu.
"Oh, iya. Nanti mampirlah ke rumah sakit. Tolong ambilkan obat untuk ibu!"
Sakit asma Nara memang sering kambuh dan obatnya sudah habis.
"Berarti Dara harus menyeberang pulau dong, bu. Jangan marah kalau pulangnya agak malam, ya!"
"Iya! Yang penting kamu jangan berkelahi lagi!"
Dara memberi hormat seperti prajurit sebelum beranjak pergi.
Nara hanya menatap puterinya itu sampai menghilang. Dia pernah mendengar cerita tentang kisah leluhurnya yang bernama Puan. Kisah cintanya dengan laki-laki asing yang tak pernah bersatu.
Sebagai reinkarnasi Puan. Akankah Dara juga akan mengalami kisah cinta yang sama?
*****
Di tempat lain. Istana yang ditinggalkan Anthony kini sudah berubah menjadi rumah sakit yang cukup besar bernama Anthony Hospital. Di sebelahnya, perkebunan disulap menjadi hotel mewah yang juga diberi nama Anthony Hotel and Resort.
Di bagian belakang yang agak sedikit jauh ada peternakan sapi yang sangat besar. Tak nampak sedikit pun kalau tempat itu pernah ditinggali seorang vampir.
"Gimana, apa pesanan tuan sudah jadi?" tanya seorang laki-laki muda yang berpakaian setelan jas rapi.
__ADS_1
"Sebenarnya darah itu untuk apa, sih? Setiap tiga kali sehari tuan selalu mendapatkan kiriman darah sapi dari peternakan!" tanya Sari, pelayan perempuan di hotel itu.
"Untuk pengobatan tuan. Sudahlah, jangan banyak tanya!"
Pelayan itu segera mengambil semangkuk darah segar di atas nampan dan beranjak pergi.
"Aku tahu! Darah itu pasti untuk obat awet muda tuan. Lihatlah foto di dinding. Itu dibuat sudah seratus tahun namun wajah tuan masih sama!"
Sari masih saja penasaran.
"Bukan! Katanya itu foto leluhurnya tuan. Namanya Tuan Anthony. Sedangkan nama tuan adalah Tuan Alexander!"
"Oh, iya aku lupa. Terus darah itu untuk apa?"
"Entahlah!"
Pembicaraan itupun berakhir. Tak seorang pun yang tahu untuk apa darah itu.
Di dalam sebuah ruangan di bagian atas hotel, seorang laki-laki muda berparas bule tengah bermain golf. Penampilannya sangat energik. Dia adalah Alexander.
"Maaf, tuan. Pesanan tuan sudah ada di dalam kamar," ucap pelayan yang tadi membawakan darah segar. Dia adalah Dipa. Pengikut pertama Anthony.
"Oke! Terima kasih, Dipa."
Alexander segera memberikan stik golf kepada pelayan itu dan berjalan menuju ke kamarnya.
Dipa menarik napas panjang. Waktu cepat berlalu dan dia masih tetap disana. Menjaga dan melayani tuan yang pernah memberinya kehidupan.
Alex tersenyum melihat darah segar di atas meja. Diapun meminum darah itu tanpa jijik sedikit pun seperti sedang meminum air kelapa.
Alex menyibak tirai jendela. Di seberang terlihat pulau kumbang yang sudah menjadi Tiger Island. Alex menarik napas panjang. Penantian panjangnya sebentar lagi akan berakhir.
__ADS_1
*****