KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
TUGAS TERAKHIR #2


__ADS_3

Puan mulai serius melaksanakan tugas terakhirnya. Dia mengumpulkan semua pemuda siluman harimau termasuk Keanu, kakaknya Nara.


"Kalian bisa kuliah seperti aku, sebagian lagi bekerja di pemerintahan. Tapi kalian harus hati-hati, jangan sampai menampakan diri sebagai siluman harimau. Jika kalian membutuhkan daging hewan bisa ke tempat ini!" jelas Puan di hadapan mereka.


"Iya, kalian bisa kuliah di universitasku di pulau seberang. Sebagian bisa bekerja di rumah sakit dan kantor pemerintahan. Keanu, tolong bantu mereka. Kamu yang mengkoordinir semuanya!" Alex juga turut menerangkan. Dia mendukung apapun yang akan dilakukan Puan.


"Terima kasih, tuan. Kami tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada tuan!" ungkap Keanu.


"Tidak! Semua memang sudah ditakdirkan. Kalian harus bisa memiliki rumah kalian kembali!" jawab Alex penuh arti.


Puan mengangguk dan tersenyum, "iya, tuan. Terima kasih sudah mendukungku!" katanya.


"Aku sudah lama menunggu saat ini. Aku juga ingin Pulau Kumbang menjadi rumahmu lagi," jelas Alex tentang perasaannya.


Setelah para pemuda pergi. Tinggallah Puan dan Keanu di tempat itu. Alex mengeluarkan sebuah peti yang sudah kusam.


"Peti itu, aku merasa pernah melihatnya, tuan," ucap Puan ketika melihat peti di tangan Alex.


"Iya, Puan. Aku pernah memberikannya kepadamu tapi dulu kamu menolaknya. Ini adalah peti perhiasan dari kapal yang karam. Aku masih menyimpannya!"


Alex pun membuka peti itu dan mengeluarkan isinya. Terlihat berbagai macam perhiasan mewah dan mahal. Dia memberikan semuanya kepada Puan.


"Pakailah perhiasan itu untuk menebus rumahmu, Keanu. Mereka tidak mengenalmu sehingga bisa bergerak leluasa!" jelas Alex lagi.


Keanu menatap semua perhiasan itu. Tangannya gemetar ketika menyentuh sebuah kalung bertahtakan berlian.


"Saya rasa cukup satu saja, tuan. Saya akan melelangnya di internet agar tidak bisa terlacak. Rumah kami masih ada meskipun terbengkalai. Saya yakin masih bisa diperbaiki lagi!"


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Katakan apapun yang kamu butuhkan lagi!"


Keanu langsung mengangguk, " baik, tuan. Terima kasih atas semuanya!" katanya lagi yang tak berhenti mengucapkan terima kasih.


Puan merasa tenang karena sudah memulai tugasnya. Memang akan memerlukan waktu yang cukup lama. Setidaknya, masih ada harapan untuk keluarganya yaitu manusia siluman harimau.


*****


Keesokan harinya, Keanu mulai melakukan tugasnya mendata setiap pemuda siluman harimau. Ada sepuluh orang yang akan kuliah dan sepuluh orang lagi yang akan bekerja di pemerintahan dan masuk di kepolisian.


Mereka melanjutkan pendidikan di berbagai jurusan. Ada yang di jurusan kedokteran, hukum dan lainnya. Semua akan dipersiapkan untuk beberapa tahun ke depannya.


Keanu juga sudah mendapatkan pembeli kalung berlian yang diberikan Alex di luar negeri lewat internet. Ternyata harganya sangat mahal. Dia bisa membeli rumahnya lagi dan beberapa rumah lain yang penah ditempati siluman harimau.

__ADS_1


Puan juga sudah mengepak barang-barangnya dan siap untuk berangkat ke pulau seberang.


"Aku akan masuk universitas, bu. Tapi, sepertinya akan tinggal di pulau seberang untuk sementara waktu!" jelas Puan kepada Nara.


Nara berkaca-kaca. Dia ingin sekali melihat puterinya kuliah, "tapi, bolehkan aku mengunjungimu setiap akhir pekan?"


Puan tersenyum, "aku yang akan pulang, bu. Masih banyak yang akan aku lakukan di sini," jawab Puan.


Nara merasa tenang. Meskipun di dalam tubuh puterinya ada orang lain. Tetap saja, Nara akan merindukannya.


"A-apa boleh aku memelukmu?" tanya Nara dengan suara gemetar.


Puan segera mengangguk, "tentu saja boleh, bu. Aku akan merindukanmu," ucapnya seraya memeluk Nara.


Mereka seperti ibu dan anak yang akan terpisah jauh. Keduanya berpelukan sangat erat seperti tidak akan berjumpa lagi.


Tanpa terasa, air mata mengalir di pipi Nara. Sebenarnya, dia merasa tubuhnya semakin lemah. Nara sangat takut tidak bisa bertemu dengan puterinya lagi.


"Jangan menangis, bu. Hatiku juga jadi ikutan sedih," ucap Puan yang juga ikut menangis. Nara seperti ibu yang tidak pernah dimilikinya.


"Ikutlah denganku, Puan. Kita akan naik helikopter agar lebih cepat!" ucap Alex yang muncul tiba-tiba.


Puan menggeleng pelan, "tidak, tuan. Kita akan naik kapal penyeberangan saja. Pemandangan di sana jauh lebih indah!"


"Baiklah, jika itu maumu. Aku juga sudah lama tidak naik perahu!"


Alex memutuskan untuk ikut bersama Puan. Dia juga sudah sangat lama tidak naik kapal penyeberangan.


Puan sangat senang katena Alex mau menemaninya naik kapal penyeberangan. Kali ini, adalah untuk yang pertama. Dahulu, mereka tidak sempat melakukannya karena Alex sudah pergi. Puan malah sering pergi bersama anak-anak dan suaminya, Jaka.


Alex sangat terganggu karena banyak orang di pelabuhan. Sangat berbeda ketika dia pergi dengan Diva dahulu. Bahkan tak satupun yang pergi kecuali mereka.


'Ada apa, tuan? Apa tuan sakit?" tanya Puan ketika melihat wajah Alex semakin pucat.


Alex menggeleng, "terlalu panas di sini!" jawab Alex singkat. Dia tidak ingin Puan khawatir.


Puan mendekati Alex dan menghapus keringat yang membasahi keningnya.


"Maafkan aku. Seharusnya aku pergi sendiri saja! Lagi pula ada Keanu dan yang lain juga!" katanya.


Puan memang tidak pergi sendirian. Masih ada Keanu dan beberapa pemuda. Mereka pasti akan menjaganya.

__ADS_1


Justru itulah yang membuat Alex khawatir. Dia tidak ingin Puan dikelilingi anak-anak muda yang masih liar.


*****


Nara masih berdiri tertegun sambil memandangi beberapa pakaian Dara yang masih ada di jemuran. Dia mulai merindukan puterinya dan juga Ratu Puan.


Sesekali, Nara batuk-batuk. Dadanya mulai terasa panas lagi. Jika sudah begitu, Nara hanya akan mengusap dadanya beberapa kali. Namun, batuknya belum reda juga.


"Sebaiknya kita menyusul puterimu. Kamu juga harus ke rumah sakit!"


Seperti biasa, Diva selalu datang tiba-tiba. Nara sudah mulai terbiasa.


"Aku hanya terlalu memikirkan puteriku. Nanti juga reda batuknya," jawab Nara sambil melanjutkan menjemur pakaian.


Diva tidak tinggal diam. Dia segera mengambil baju basah yang ada di tangan Nara.


"Biar aku saja yang menjemur sisanya. Kamu duduk sajalah. Lagipula, badanku mulai pegal kalau gak bergerak!'


Nara diam saja dan membiarkan Diva melanjutkan pekerjaannya. Dia hanya duduk di kursi yang menghadap ke pantai. Perlahan batuknya mereda.


"Tempat ini jadi sangat sepi seperti dulu! Aku sudah mulai terbiasa melihat anak-anak muda itu!" katanya menatap pantai yang sunyi.


"Hhmmm, bukannya ada aku?" Diva sedikit cemburu.


"Tentu saja, kamu berbeda. Mereka selalu energik dan bersemangat. Melihat mereka juga membuatku ikut semangat!" jelas Nara.


Diva merasa dadanya semakin panas, "aku juga penuh semangat!"


Diva langsung melompat-lompat seperti kuda. Melihat itu, Nara malah tertawa. Dia sangat senang sudah ada Diva di dekatnya.


"Kamu itu bukannya semangat! Tapi kayak cacing kepanasan," ungkap Nara lagi.


"Tentu saja aku bersemangat. Apalagi sudah mempunyai istri secantik kamu!" ujar Diva seraya memeluk Nara.


"Diva! Malu aah," ujar Nara mengingatkan.


"Malu sama siapa? Di sini kan tinggal kita berdua!" Diva terus saja memeluk Nara.


Nara baru tersadar kalau di tempat itu hanya tinggal mereka berdua. Dengan adanya Diva, ternyata tidak terlalu membosankan.


*****

__ADS_1


__ADS_2