
Puan mulai menikmati kehidupan barunya sebagai manusia biasa. Dia bisa mengikuti pelajaran seperti biasa. Kepintaran Dara masih ada padanya. Begitu juga sikap supelnya meski Puan tidak mampu mengingat semuanya.
"Hai, Dara! Gimana liburan kamu?" tanya seorang gadis muda berambut panjang. Dia adalah teman sekelas Dara.
Puan diam sesaat dan memerhatikan gadis itu lekat. Puan jadi teringat puterinya dahulu yaitu Ratih.
"A-aku mengalami kecelakaan. Aku sedikit kehilangan ingatan. Maaf, siapa namamu?"
Gadis itu tertegun. Kelihatannya Dara baik-baik saja. Sikapnya memang sedikit aneh karena bicara sangat formal.
"Namaku Ratih! Apa benar kamu sudah lupa sama aku? Lalu bagaimana dengan kesehatanmu?"
"Ratih? Namamu mirip anakku, eeh mirip sepupuku! Aku baik-baik saja," jawab Puan yang hampir keceplosan. Ternyata nama temannya Dara sama dengan nama puteri Puan.
"Syukurlah! Aku cemas banget, deh. Oh iya, nanti malam ke rumahku, ya. Hari ini kan ultahku!"
"Ultah? Apa itu ultah?"
Puan merasa asing dengan kata asing itu.
"Astaga! Kau benar-benar lupa ingatan. Ultah itu ulang tahun, Dara! Aku kecewa juga karena kamu gak mengingat ultahku. Kita kan bestie!" ungkap Ratih sambil cemberut.
"Maafkan aku. Oh iya, bestie itu apa sih?"
"Omg, Daraa!" teriak Ratih lagi sambil menepuk jidatnya.
Puan benar-benar kebingungan. Yang dia tahu, nanti malam dia harus ke rumah Ratih.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti didepan Puan dan Ratih. Alex muncul begitu pintunya dibuka.
"Tuaan, eeh dokter Alex? Ada apa ke sini?" tanya Puan yang terbiasa memanggil Alex dengan sebutan tuan.
"Tentu saja aku akan menjemputmu. Masuklah!"
Tadi pagi, Nara yang mengantarkan Dara langsung. Mereka hanya berjalan kaki karena sekolah Dara tidak jauh dari rumahnya.
"Tapi bagaimana kalai Ibu Nara datang menjemputku, dokter?"
"Ibu Nara sekarang ada di rumahku. Ayolah, kita pulang!"
"Siapa dia, Ra? Dia ganteng bener, bule lagi!" bisik Ratih.
"Bule? Apa itu bule?" Puan malah balik bertanya.
"Bule itu orang asing, Daraa! Aah kamu itu bukan tinggal di jaman bahela!"
"Jaman bahela? Aku jadi tambah bingung!"
__ADS_1
Ratih masih berdiri terpaku melihat sahabatnya menaiki mobil mewah yang dibawa bule ganteng. Dia semakin tidak mengenali Dara, sikapnya menjadi sangat aneh.
"Aku sangat bingung, dok. Gaya bicara anak muda sekarang sangat berbeda dengan jaman dahulu. Oh iya, tadi Ratih mengajakku mengikuti acara ultah di rumahnya nanti malam. Aku baru tahu kalau ultah itu adalah ulang tahun. Apakah aku harus datang?"
Alex tersenyum. Waktu memang berjalan sudah sangat lama. Begitu juga kehidupan manusianya banyak perubahan.
"Tentu saja, kamu akan datang. Dia kan temanmu!"
"Aku tidak pernah punya teman. Hanya ada tuan dan keluargaku saja. Aku sangat senang masih bisa merasakan kehidupan baru!"
Puan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Senyuman tak berhenti menghiasi wajahnya.
Alex semakin terpesona dengan Puan dengan wajahnya yang bersinar. Kemudian dia tersadar, tubuh Puan adalah Dara. Senyuman Puan adalah senyuman Dara!
Malam pun tiba. Puan mulai gelisah. Dia sangat ingin pergi ke rumah Ratih. Tapi tidak tahu harus berbuat apa.
"Biasanya, kalau ada acara ulangtahun semua yang datang memakai baju bagus, nona. Sayang, puteri saya tidak suka menghias diri. Dia hanya memakai baju lamanya yang sudah usang," cerita Nara tentang sifat puterinya.
"Puterimu sangat baik. Suatu saat aku harus bertemu langsung dengannya. Aku akan seperti dia, bu. Aku akan memakai apapun yang pernah dipakai puterimu!"
Puan sudah memutuskan untuk menjadi Dara seutuhnya. Baik itu bersikap atau kesukaannya.
"Tidak, Puan. Aku sudah membelikanmu pakaian yang kamu suka. Pakailah!"
Tiba-tiba Alex muncul sambil memberikan sesuatu.
"Benar, Puan. Itu adalah sebuah gaun. Seperti yang kamu pakai dahulu!"
Mata Puan berbinar ketika melihat gaun berwarna merah jambu di tangannya.
"Gaun ini sangat indah, tuan," ucap Puan penuh kekaguman.
Nara hanya diam saja melihat dokter Alex sangat memerhatikan Puan. Dia teringat ketika masih tinggal disana, dokter Alex juga sangat memanjakan Dara. Pakaian ataupun mainan selalu diberikan untuk puterinya.
"Tapi maaf, tuan. Aku tidak akan memakai gaun cantik ini!"
Alex terkejut mendengar ucapan Puan.
"Mengapa, Puan. Dulu kamu sangat menyukai gaun!"
"Karena aku hidup di tubuh puterinya Ibu Nara. Dara tidak menyukai pakaian seperti ini. Aku tidak akan merubah kebiasaannya!"
Nara ikut terkejut. Dia tidak menyangka Puan sangat bijak.
"Lagipula, teman-temanku akan curiga kalau sikap Dara berubah. Aku ingin menjadi diri Dara seperti biasanya!" lanjut Puan lagi.
Alex mengerti apa yang dikatakan Puan. Dia juga merasa lebih nyaman kalau Dara seperti dulu.
__ADS_1
Akhirnya, Puan jadi juga datang ke pesta ulang tahun Ratih. Nara mengantarkannya sementara Diva menunggu di dalam mobil.
Alex memilih hanya memerhatikannya dari kejauhan. Dia khawatir terjadi hal buruk kepada Dara. Perlahan, Alex merasa kebingungan. Sebenarnya siapa yang dia khawatirkan. Puan atau Dara!
"Aku sangat senang kamu datang, Ra. Oh iya, kenalkan kakakku. Dia baru pulang dari tugas di luar kota. Namanya adalah Kakak Saka!" ucap Ratih sambil menarik tangan kakaknya yang ternyata adalah Saka.
Saka tidak terkejut melihat Dara di depannya. Tadi pagi, dia sudah melihat foto Dara bersama adiknya.
"Hai, aku kakaknya Ratih. Namaku adalah Saka!"
Saka mengulurkan tangannya. Mengira kalau Dara akan mengenalinya. Namun ekspresi gadis itu biasa saja.
"Selamat malam, Kak Saka. Aku adalah teman sekelas Ratih. Namaku Dara!" ucap Puan yang menyambut uluran tangan Saka.
Tangan Puan dan Saka pun terpaut. Sejenak waktu terasa terhenti.
"Mulai saat ini, aku akan menjagamu, Puan!" bisik Saka yang sudah menjadi Jaka.
Puan sangat terkejut dan melepaskan tangannya. Dia tak menyangka Saka mengetahui siapa dirinya.
"Si-siapa kamu?" tanya Puan keheranan.
"Aah, kamu ini aneh banget sih, Ra. Ini adalah Kak Saka. Dia itu seorang polisi. Tapi, kenapa kak Saka memanggil kamu dengan nama lain?"
Ratih merasa heran juga dengan sikap kakaknya.
"Temanmu ini mengingatkan aku dengan istri temanku, Jaka. Nama istri Jaka adalah Puan. Tugas Jaka adalah membawa istrinya itu kembali ke rumah mereka!"
"Apa istri teman kakak itu kabur dari rumah?"
"Bisa seperti itu. Mungkin dia hanya ingin menghirup udara segar di tempat lain saja!" jawab Jaka sesederhana mungkin. Berharap Puan menyadari arti perkataannya.
"Maaf, apakah aku bisa duduk? Aku sedikit gemetaran. Aku sedang gak enak badan!" ucap Puan mengalihkan perhatian.
"Ayo ke kamarku aja, Ra. Lagipula acaranya belum dimulai!"
Ratih langsung menarik tangan Puan. Dia menjadi sangat khawatir dengan keadaannya.
Jaka hanya tersenyum tipis. Akhirnya Puan tahu keberadaannya juga.
"Apa yang sudah terjadi padaku?" tanya Saka yang kembali lupa ingatan. Lagi-lagi, Dia melupakan apa yang baru saja terjadi.
Di tempat lain, Alex merasakan sesuatu. Takdir selalu mempunyai rencana. Ternyata Jaka sudah berada di dekat Puan!
Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tidak akan membiarkan Jaka mengambil Puan. Mereka baru saja bertemu dan tak akan terpisah lagi!
*****
__ADS_1