
Rio dan Gerry terus saja berteriak dan memukul dinding tempatnya dikurung. Keduanya sudah tak sadarkan diri. Yang diinginkannya adalah darah segar.
Eembeek ...
Tiba-tiba terdengar suara seekor kambing. Suaranya juga menggema ke seluruh ruang isolasi. Beberapa orang tahanan yang juga sedang dikurung mendengar suara itu.
Sangat aneh ada suara kambing di dalam lapas. Mereka mencoba mencari tahu dengan mengintip lewat lubang pintu yang sangat kecil. Tidak terlihat apa-apa. Begitu juga ketika mereka menempelkan telinganya di dinding. Suara kambing itu tak terdengar lagi.
Ternyata seorang sipir sudah menutup mulut kambing itu dengan lakban sehingga tidak bisa berteriak lagi. Mereka harus segera memasukkan kambing itu ke dalam ruangan tempat Rio dan Gerry terkurung.
Seorang sipir membuka pintu rahasia yang hanya dibuat untuk memasuki makanan. Mereka mendorong kambing itu ke dalamnya.
Rio dan Gerry tidak menunggu lama ketika melihat kambing yang masih hidup di depannya. Mereka langsung memangsa kambing itu dengan buas. Mengisap darahnya sampai tak bersisa.
Dua orang sipir yang membawa kambing itu mengintip dari jendela kecil. Mereka pun menggidig ketika melihat kambing itu di mangsa sampai kehabisan darah.
Mereka buru-buru pergi setelah vampire itu selesai makan. Keduanya tidak ingin menjadi mangsa selanjutnya.
*****
Jack kembali ke lokasi kapal karam. Dia ingat jelas ketika kapal itu mulai terendam air. Untung saja masih ada perahu karet yang kosong.
Sebenarnya, dia sudah membawa banyak perhiasan dan uang yang ditinggalkan pemiliknya. Tapi, Jack masih menyisakan sebuah peti di dalamnya.
"Pasti Anthony yang sudah mengambil peti perhiasan itu!" katanya dalam hati. Dia tahu Anthony atau Alex sedang tidak ada di sana, makanya Jack berani memasuki wilayah itu.
"Pergilah! Aku tidak akan tinggal diam jika kau kembali lagi!"
Terdengar suara lewat telepati. Jack mengenali suara vampire pribumi itu.
"Aku akan pergi setelah mengambil barang milikku!" jawab Jack juga lewat telepati.
"Barang itu juga bukan milikmu! Semua yang ada disini sudah menjadi milik Tuan Anthony!" seru Diva lagi.
"Aku akan tetap mengambilnya suatu saat nanti!"
Jack terpaksa meninggalkan tempat itu. Dia tidak mau bertempur lagi dalam waktu dekat. Pasukan vampirenya belum siap.
Diva masih berdiri di depan jendela kamarnya. Dia merasa lega setelah mengetahui Jack sudah pergi. Sangat berbahaya kalau vampire itu bisa masuk dengan mudah. Tapi Diva tidak bisa memberitahu tuannya. Untuk sementara, dia tidak bisa meninggalkan Nara sendirian.
*****
"Bagaimana keadaan kedua vampire baru itu?" tanya Jack setelah kembali ke dalam lapas.
"Mereka sudah tenang setelah memangsa seekor kambing. Tapi, aku masih serasa lapar!" ungkap Daniel yang juga menginginkan darah segar.
Jack menggeleng pelan, "untuk sementara kita tidak bisa mencari mangsa. Tunggulah kedua vampire muda itu melewati masa kritisnya. Setelah itu mereka yang akan mencarikan mangsa untuk kita!" ungkapnya.
Daniel sedikit kesal, "aku tidak bisa menunggu lama. Banyak tahanan yang bisa menjadi mangsa kita kapan saja. Mengapa harus menunggu?"
"Sabarlah! Rencana kita jauh lebih penting!" jawab Jack sedikit keras.
"Lihatlah! Aku tidak bisa menunggu terlalu lama!"
__ADS_1
Jack hanya melihat Daniel pergi tanpa melarangnya sama sekali. Rencananya harus berjalan lancar. Dia tak segan melenyapkan siapapun yang menghalanginya. Termasuk Daniel yang sudah bersamanya selama puluhan tahun.
*****
Sebenarnya Alex tetap mengawasi Pulau Kumbang meski dari kejauhan. Dia tahu kalau Jack masuk ke dalam wilayahnya dan mencari kapal karam.
Alex sengaja tidak melakukan apapun agar Jack tidak bisa melacak keberadaannya. Dia memercayakan semuanya kepada Diva. Dia yakin kalau Diva menjaga Nara dengan baik.
Menjelang fajar, Alex meninggalkan Puan sendirian. Dia tak risau lagi karena Nara juga akan menyusul. Namun, ada sesuatu di dalam hatinya. Rasa berat karena harus meninggalkan Puan setelah menunggunya sekian lama.
Ada kerinduan juga dengan sosok Dara. Sikapnya yang sedikit tomboy membuat Alex sering kali melupakan siapa dirinya.
"Ayo, dok! Aku akan mengajakmu naik sepeda motor!" ajak Dara sore itu. Dia menemukan motor Diva yang tersimpan di gudang.
Tentu saja Alex tidak mau menuruti perkataan Dara. Mana mungkin dia membonceng seorang wanita. Bisa hilang harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Dengan mudah, Dara bisa menghidupkan motor model trail itu kemudian menaikinya mengelilingi pantai.
Alex sempat khawatir melihat Dara menaiki motor itu. Tapi, tak lama rasa khawatirnya hilang ketika melihat Dara tertawa sambil mengendarai motor garang itu.
Alex hanya bisa tersenyum bila mengingat peristiwa itu. Dara selalu melakukan sesuatu yang sedikit ekstrem. Kemudian Alex teringat Puan juga merengek minta izin untuk naik sepeda motor. Tentu saja, Alex melarangnya. Dia lupa kalau mereka berada dalam tubuh yang sama.
*****
Daniel keluar dari tempat persembunyiannya di dalam lapas. Hatinya sedikit panas karena perkataan Jack. Sudah lama mereka tidak bertengkar.
Sebenarnya, Daniel bisa dengan mudah memangsa siapapun. Untuk apa menunggu lama padahal tenggorokannya terasa sangat kering.
Ketika baru keluar dari lapas, Daniel melihat dua orang laki-laki yang masih berjualan padahal sudah lewat tengah malam. Salah satu dari mereka bisa menjadi mangsanya!
Daniel tidak tahu kalau keduanya adalah intel kepolisan. Mereka sudah mencurigai Daniel. Mengapa orang asing bisa dengan mudah keluar dari penjara?
"Ada apa, tuan?" Salah satu dari mereka mendekati Daniel.
"Aku memerlukanmu! Ikutlah denganku!" ucap Daniel lagi seperti menghinoptis. Laki-laki itu pun menurutinya tanpa bertanya lagi.
Seorang laki-laki yang lain segera memberi pesan kepada Saka kalau ada orang asing yang sangat aneh.
Saka yang ada di dalam kamarnya langsung menerima pesan itu. Dia memang tidak bisa tidur apalagi setelah menyadari ada orang lain di dalam tubuhnya.
~~~ Siap! Aku akan kesana!~~~
Saka langsung ke lapas yang tak jauh dari rumahnya dengan menaiki sepeda motor. Dia harus sampai ke tujuan dalam waktu singkat.
Sementara itu, intel polisi yang mempunyai nama samaran A1 itu masih berada di bawah hipnotis Daniel. Dia sudah berada di sebuah gudang yang remang-remang.
__ADS_1
Daniel tersenyum puas melihat calon mangsanya. Sebentar lagi rasa hausnya akan hilang. Dia pun segera mendekatinya dan siap menancapkan taringnya di leher laki-laki itu.
Tiba-tiba, terdengar suara sepeda motor yang semakin mendekat. Daniel terpengaruh dengan suara itu.
Sedetik kemudian, Sebuah sepeda motor menerjang pintu gudang. Ternyata, Saka yang muncul. Dia datang tepat waktu.
"Hentikan! Atau kau akan aku tangkap!" seru Saka sambil mengacungkan senjatanya.
Daniel tertawa sinis, "kau? Ternyata kita bertemu lagi. Tapi senjata itu tak mempan di tubuhku!" katanya yakin. Daniel masih ingat siapa Saka.
"Baiklah! Kau akan merasakannya sendiri!"
Saka segera menembakan senjatanya ke arah Daniel. Peluru itu langsung menembus dadanya.
Aaaargh ....
Terdengar suara erangan Daniel. Dia tidak menyangka kalau peluru itu berhasil bersarang di tubuhnya. Dia pun mundur beberapa langkah sambil menahan sakit.
"Bagaimana peluru itu bisa melukaiku? Apa yang taruh di dalamnya?" tanya Daniel keheranan.
Saka hanya tersenyum penuh kemenangan, "aku tidak akan memberitahumu. Pergilah! Jika bertemu lagi aku tidak akan membiarkanmu hidup!" ancam Saka.
Daniel terpaksa harus pergi meninggalkan calon mangsanya sambil merasakan kesakitan. Dia tidak bisa membaca pikiran Saka sehingga tidak tahu benda apa yang sudah menembus kulitnya.
Sebenarnya, Saka sudah bisa berkomunikasi dengan Jaka yang mengetahui rahasia kelemahan vampire. Makanya dia bisa dengan mudah mengalahkan Daniel. Tapi Saka tidak mau membunuhnya. Ada yang lebih berhak melakukannya, yaitu Alex.
__ADS_1
\*\*\*\*\*