KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
SAATNYA UNTUK BERPISAH #1


__ADS_3

Malam semakin larut, Dara merasa waktunya semakin dekat. Mungkin ini adalah saat terakhir bisa melihat ibu dan ayah barunya, terutama melihat dokter Alex.


Kini, hatinya sudah bisa merelakan dan siap melepaskan. Dara sudah cukup sekedar mengetahui isi hati dokter Alex. Tak perlu lagi penjelasan jika memang yang menjadi pilihannya adalah Ratu Puan.


"Terima kasih, Ratu Puan!" bisiknya pelan, "aku titip keluargaku dan dokter Alex!" lanjutnya lagi. Kali ini tanpa air mata.


Dara meraba dadanya dan merasakan degup itu. Seraut wajah hadir, dia adalah dokter Alex. Sebuah senyuman mengembang. Dara tidak ingin menjadi egois. Biarlah waktu akan menjawab semuanya. Tugasnya adalah menunggu.


"Apa yang kamu lakukan, Dara? Hari sudah malam!"


Dara tersentak. Dokter Alex sudah berdiri di sampingnya. Aah! Kenapa dia datang lagi? Dara sudah siap merelakan. Rasa takut kembali datang. Takut kerinduan akan menyusup lagi ke relung hatinya.


"Ti-tidak, dokter. Hanya sebentar saja, kok. Aku ingin menikmati keindahan purnama untuk terakhir kali!" jawab Dara seraya memandang rembulan yang bersinar terang.


Alex ikut melihat sang rembulan, "dia sangat indah, kan?" ungkapnya.


Dara pun menangguk, "sudah lama aku tidak melihatnya," sahut Dara.


Alex mengalihkan pandangannya dan menatap Dara lekat. Menyadari hatinya belum puas melihat Dara meski seharian sudah bersamanya.


Dara menyadari kalau dokter Alex tengah menatapnya. Namun, dia pura-pura saja. Dara tidak ingin merasa berat untuk pergi.


"Aku titip keluargaku ya, dok! Tolong titip ibuku. Aku sudah tenang bisa melihatnya bahagia. Aku harap bisa melihatnya lagi nanti!" ungkap Dara tanpa mengalihkan pandangannya. Dia tidak berani menatap dokter Alex.


"Dara," panggil Alex lembut.


Dara tetap tidak mau menatapnya.


Sampai akhirnya, Alex memegang kedua tangan Dara. Gadis itu pun mau tidak mau melihatnya.


"Aku ..., aku ingin kamu juga memikirkan aku. Hatiku mungkin tidak sepenuhnya untukmu. Percayalah, aku pasti akan merindukanmu!"


Deg! Akhirnya terjadi juga. Di saat terakhir. Alex mengutarakan isi hatinya.


Dara tersenyum. Kali ini tidak akan ada kesedihan.


"Terima kasih, dokter. Terima kasih untuk semua kasih sayang yang dokter berikan. Tapi, Ratu Puan lebih memerlukan dokter. Aku sudah bisa merelakan. Maafkan jika sudah membuat dokter bingung!"


Alex menatap Dara lekat, "aku tidak bingung, Dara. Aku sangat jelas dengan perasaanku. Aku sudah memberikan sebagian hatiku untukmu!" tegas Alex.


Dara hanya bisa terpaku. Dia berusaha keras untuk tidak menangis begitu mendengar perkataan dokter Alex. Sudah lama Dara ingin mendengar penyataan itu.

__ADS_1


Gadis itu hanya tertunduk. Berharap, dokter Alex tidak melihat sebutir air mata yang menetes di pipinya.


Alex tak bisa melihat Dara seperti itu. Dia tahu kalau Dara sedang menangis. Sedetik kemudian, Alex pun menarik Dara ke dalam pelukannya.


"Aku ..., aku mencintaimu, Dara!" bisiknya.


Airmata Dara semakin deras mengalir. Bukan! Itu bukan airmata kesedihan. Tapi airmata kebahagiaan!


Beberapa saat, Alex mendekap Dara dengan erat. Dia tidak pernah melakukannya dengan Puan. Tidak dengan hati penuh degup seperti itu.


Membiarkan Dara menangis sepuasnya di dalam pelukannya. Hanya itu yang bisa dilakukan Alex.


Tiba-tiba, Alex merasakan sesuatu. Dia tidak lagi merasakan kehadiran Dara. Hatinya terasa pedih. Jiwa Dara sudah pergi.


"Tuaaan," panggil Puan. Dia menatap Alex yang tengah memeluknya.


Alex langsung melepaskan pelukannya setelah sadar Puan sudah kembali.


"Ma-maafkan aku. Aku senang kamu sudah kembali, Puan," ucap Alex yang harus bisa menata hatinya lagi.


Puan tersenyum. Dia juga sudah bisa mengerti apa yang dirasakan Alex.


"Tidak apa-apa, tuan. Aku sangat berterima kasih karena sudah menjaga Dara. Dia pantas mendapatkan hatimu!"


"Terima kasih, Puan. Aku sudah memiliki keagungan hatimu!" ucapnya seraya menggenggam tangan Puan. Rasa itu tidak sama, namun tetaplah indah.


Di balik pintu, Nara tidak berhenti mengeluarkan airmata. Dia sendari tadi berada di sana. Sebenarnya tidak bermaksud menguping. Dia hanya berniat untuk menemui puterinya untuk terakhir kali. Nara tahu, puterinya akan segera pergi.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Nara dari belakang. Dia pun sangat terkejut dibuatnya.


"Diva!!!" teriaknya meski dengan suara tertahan agar tidak kedengaran orang lain.


Diva hanya tersenyum. Dia tahu apa yang dirasakan Nara yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Aku mencarimu dari tadi. Tempat tidurku terasa dingin. Aku ingin kamu bisa menghangatkannya!" ucap Diva sambil bergurau. Dia tidak ingin Nara bersedih terlalu lama.


"Diva! Di sini bukan tempat yang tepat untuk bicara soal itu!" gertak Nara yang sedikit kesal.


Diva tersenyum. Dia sudah berhasil mengalihkan pikiran Nara.


"Makanya, kita harus segera masuk ke kamar dan naik ke ranjang agar cepat hangat!" ledeknya lagi.

__ADS_1


Nara melotot. Sebuah cubitan langsung bersarang di pinggang Diva. Langsung saja, Diva menjerit kesakitan. Namun, Nara malah menutup mulutnya.


"Jangan berisik tahu! Sudah, ayo kita pergi saja!" ucap Nara seraya menarik tangan Diva meninggalkan tempat itu.


Meski cubitan Nara masih terasa sakit, Diva merasa senang karena bisa membuat Nara melupakan kesedihannya.


Malam itu akan segera berakhir. Rembulan tetap akan bersinar terang hingga pagi menjelang. Dia tidak akan melupakan kejadian malam itu meski esok ceritanya akan berbeda lagi. Namun, cinta akan selalu abadi selamanya.


*****


Di lain tempat, Saka juga tengah menikmati rembulan. Dia merasa hampir putus asa karena tidak bisa menyelesaikan kasus yang sedang ditanganinya.


"Ada apa, kak? Kenapa melamun begitu? Lagi mikirin cewek, ya?" Ratih muncul dengan rangkaian pertanyaan.


Saka langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan adiknya.


"Cewek? Mana ada cewek yang mau sama aku? Apalagi punya adik cerewet seperti kamu. Dia pasti kabur duluan!" jawab Saka yang malahan meledek adiknya.


"Iih! Siapa yang cerewet? Aku hanya mengkhawatirkan kakak. Sudah setua ini masih jomblo. Aku juga mau kakak perempuan. Eeeh, bagaimana kakak jadian sama Dara aja. Aku pasti sangat senang punya kakak ipar sekaligus teman seperti Dara!" ungkap Ratih.


Saka semakin tertawa kencang begitu mendengar adiknya menyebut nama Dara.


"Apa jadinya kalau Dara jadi kakak iparmu. Bisa tiap malam dia itu tidur denganmu, bukan denganku!" celetuknya.


"Iyalah! Jatah kakak siang aja. Kalau malam Dara harus denganku. Kami bisa ngerumpi sepanjang malam!" lanjut Ratih tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Lalu, kapan kamu bisa punya keponakan kalau begitu? Siang kan aku kerja!" Saka melanjutkan obrolan halunya. Setidaknya bisa mengobati hatinya yang sedang putus asa.


"Oh, iya ya! Okelah kalau begitu. Aku kasih kakak waktu dua jam saja. Itu sudah cukup kan untuk bikin anak?" tanya Ratih polos.


Saka semakin tertawa kencang. Perkataan adiknya sangat menggelitik hatinya.


"Ya, ya. Cukuplah itu. Terima kasih adikku sayang. Masalahnya, apakah Dara itu mau gak sama kakak? Bisa jadi, dia itu sudah punya pacar!" ucap Saka seraya menjentikan jarinya di kening Ratih.


"Belum kok, kak. Tapi, saingan kakak itu berat. Di dekat Dara itu ada bule ganteng. Dia itu seorang dokter!"


Saka langsung terdiam. Dia pernah melihat Dara bersama laki-laki asing itu. Mereka kelihatan sangat dekat. Tatapan mereka sangat berbeda seakan tidak ada celah dalam hatinya.


"Aduh! Kalau begitu aku nyerah aja, deh. Berat kalau saingan sama bule!" lanjut Saka.


"Eeeh! Belum tentu mereka jadian. Aku pasti akan mendukung kakak. Mulai besok, aku akan mempromosikan kakak di depan Dara. Dia pasti akan tertarik! Siapa sih yang gak suka melihat polisi ganteng kayak kakak?"

__ADS_1


Lagi-lagi, Saka tergelak mendengar celotehan adiknya. Sepertinya malam itu akan terasa panjang.


*****


__ADS_2