KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
AKHIR SEBUAH KISAH #2


__ADS_3

Seorang tahanan dibawa penjaga ke sebuah ruangan kecil. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya sangat pucat. Di atas meja sudah tersedia makanan yang enak-enak. Ada juga hamburger permintaan terakhirnya sebelum di hukum mati.


Perlahan, laki-laki bernama Salman itu mengunyah hamburger. Makanan kesukaannya itu jadi terasa hambar. Mulutnya pun sangat lemah untuk mengunyah.


Tiba-tiba, dua bayangan muncul. Dia adalah Jack dan Daniel.


Salman sangat terkejut sampai tersedak dan terjatuh dari tempat duduknya.


"Si-siapa kalian?" tanyanya dengan mata melotot.


"Kami akan membantumu keluar dari tempat ini!" jawab Jack pasti.


Salman masih gemetaran dan berusaha untuk bangun.


"Ma-maksudmu kalian bisa membantuku lolos dari hukuman mati!" tanyanya penasaran.


Daniel tersenyum tipis, "bukan hanya lolos dari hukuman. Bahkan kami akan membawa kalian keluar dari tempat ini dalam sekejap!" ujarnya.


"Apa kalian serius?"


Jack dan Daniel mengangguk pasti. Salman pun tersenyum lebar. Tangannya tidak lagi gemetar dan langsung menyantap makanannya dengan lahap.


"Tapi ada syaratnya! Kau akan memberikan rumah dan menuruti keinginan kami!"


Salman mendongak, senyuman tidak hilang dari sudut bibirnya meski mendengar persyaratan itu.


"Tenanglah! Aku akan memberikan apapun untuk kalian. Aku punya banyak kekayaan!" sahutnya sambil nyengir. Dia memang orang kaya dengan menjalankan bisnis narkoba.


Malam itu, Jack dan Daniel melaksanakan niatnya membawa tahanan yang dihukum mati itu keluar dari lapas.


Sementara itu, Saka sudah bersiap untuk menyerang lapas bersama para tentara. Mereka langsung bergerak cepat setelah melihat bukti yang diberikan Saka.


Sekitar 30 tentara merangsek ke dalam lapas. Para sipir tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan para tentara itu memeriksa sel satu demi satu.


"Tahanan yang terkena virus vampire itu ada di ruang isolasi. Hati-hatilah! Mereka sangat berbahaya. Aku akan mencari keberadaan kedua orang asing lainnya!" ucap Saka kepada Bonar yang ikut masuk ke dalam lapas.


"Apa mereka vampire? Pistolku sudah aku bersihkan. Bagaimana mereka bisa mati?" tanya Bonar yang masih takut dengan vampire.

__ADS_1


"Bawalah pistolku ini. Pelurunya sudah aku lumuri darah. Mereka akan lemah jika kau menembaknya!"


"Bagaimana denganmu?" tanya Bonar yang mengkhawatirkan Saka.


"Aku membawa pedang yang akan menebas leher mereka!" jawab Saka seraya menunjukan sebuah pedang dari dalam tas pancingan.


"Oh, pantesan. Aku kira kau mau memancing. Ternyata ada pedang di dalam tas itu!" ujar Bonar sambil terkekeh.


Suasana tegang itu sedikit hilang dengan celotehan Bonar. Padahal dia cuma menghibur dirinya sendiri.


*****


Anthony atau Alex sudah menghadap raja dan membicarakan tentang kejahatan vampire hitam di Pulau Kumbang. Intinya, Alex bisa menghukum mereka bahkan mencabut nyawanya jika diperlukan.


Namun, ada satu yang harus dilakukan Alex sebelum kembali. Dia harus menikahi Gisel yang sudah menunggunya sangat lama. Alex mendapatkan masalah baru. Sementara hatinya sudah berlari menuju kepada kekasihnya.


Puan pasti sedang menunggunya. Alex tidak akan membiarkan cinta mereka akan terhalang lagi.


"Jika kau kembali sekarang pun pasti tetap terlambat. Kekasihmu itu sudah menemukan jalan untuk kembali ke alamnya!" cetus Gisel setelah mengetahui kalau Raja merestui pernikahan mereka.


"Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada Puan?" tanya Alex dengan wajah penasaran.


Alex semakin tercengang, "mengapa baru sekarang kamu katakan! Aku harus segera menemuinya," ujarnya berapi-api.


"Tidak akan ada gunanya! Pernikahan kita harus dilaksanakan sekarang juga. Kali ini, kau tidak bisa pergi lagi!" teriak Gisel geram. Dia tidak akan membiarkan Anthony pergi.


"Maafkan aku, Gisel. Tidak dahulu ataupun sekarang hatiku hanya milik Puan!" sahut Anthony.


"Bagaimana dengan gadis itu? Tubuhnya yang dipakai kekasihmu. Kau juga mencintainya, kan?"


Anthony terdiam mendengar pertanyaan Gisel. Kini, dia tak tahu apakah harus bersedih atau bahagia.


"Aku mencintai keduanya. Kau hanya seperti saudara bagiku!" jawab Anthony pasti.


Gisel tersenyum tipis. Kali ini dia pasti menang.


"Kau tidak bisa menghiraukan titah raja! Kalau kamu menolak, maka gelar bangsawanmu akan dicabut!" Gisel keceplosan. Padahal Anthony tidak tahu soal gelar itu.

__ADS_1


Anthony tertegun. Dia tidak membutuhkan gelar bangsawan. Vampire tetaplah vampire. Anthony hanya bisa mencintai agar menjadi manusia.


"Tidak ada alasan lagi aku tetap di sini. Aku akan menemui raja dan melepaskan gelar itu!"


Anthony pun berlalu. Tinggal Gisel yang diam termenung. Anthony masih sama seperti dulu. Kali ini lebih keras karena ada dua hati di dalam tubuhnya.


*****


Puan melangkahkan kakinya menuju ke bibir pantai. Dia ingin merasakan kakinya terendam air laut untuk terakhir kalinya. Meski pun malam semakin gelap, Puan tidak akan melewatkannya.


Seharusnya ada Tuan Anthony di sana. Memegang tangannya erat dan menemaninya sampai pagi menjelang. Semua itu hanyalah kenangan.


Tidak seharusnya kenangan itu masih melekat. Puan hanyalah buih yang akan hilang dengan sendirinya. Meskipun takdirlah yang membuatnya kembali.


"Puaan ...."


Puan menoleh. Ada Ibu Nara di hadapannya. Puan tersenyum. Kali ini dia tidak akan membantah panggilannya.


"Iya, Ibu. Aku di sini!" jawab Puan sambil mengulurkan tangan.


Nara terdiam sesaat. Dia tidak bisa berbohong kalau merasakan kesedihan karena waktu Puan tidak lama lagi. Nara pun menyambut uluran tangan Puan dan menggenggamnya erat.


"Apa yang kamu lakukan disini? Angin malam akan membuatmu sakit," ucap Nara seraya membelai rambut Puan yang mulai panjang. Dia hampir lupa kapan Dara mempunyai rambut sepanjang itu.


"Tidak apa-apa, bu. Hanya sebentar saja. Esok pagi, aku tidak akan merasakan seperti ini lagi. Seperti buih itu, aku pun akan ikut menghilang!" ucap Puan pelan.


Tanpa terasa, mata Nara menjadi basah. Dia tidak tahu apa harus bersedih karena kehilangan atau bahagia karena puterinya akan kembali.


Puan tersenyum dan menatap Nara lekat, "kalau rindukan aku, lihatlah buih itu, bu. Aku pasti akan datang!" katanya seraya menunjuk buih di atas air laut yang timbul tenggelam diterjang ombak.


"Apa disana kamu akan bahagia?" tanya Nara dengan airmata di pipinya.


Puan mengangguk, "di sana ada keluargaku juga. Aku ingin ibu selalu sehat agar bisa mendampingi Dara. Jalannya masih sangat panjang dan banyak rintangan," pesannya sambil memeluk Nara erat. Tanpa terasa air mata menetes di pipinya.


Malam itu, Puan menangis di dalam pelukan Nara. Ada baiknya Tuan Anthony tidak ada di sana. Kesedihan Puan sedikit berkurang. Takdir memang mempertemukan mereka dan akan selalu memisahkan. Ini adalah terakhir kalinya karena tidak akan ada lagi pertemuan.


Di bagian dunia lain, Anthony berada di atas menara kastil dan memandang ke lautan lepas. Angin menerbangkan jubahnya namun tidak dihiraukan. Hari itu tiba juga. Puan akan kembali ke alamnya dan akan bersama keluarganya lagi. Tak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Anthony hanya bisà mengikhlaskan kepergian Puan. Hatinya tersayat dan terasa sangat pedih. Meskipun dia tahu, vampire tak punya hati!!!

__ADS_1


*****


__ADS_2