
Puan belum bisa kembali ke Pulau Kumbang karena Ratih belum siuman. Dia masih khawatir dengan kejadian semalam. Ada lagi makhluk lain yang sangat misterius. Puan akan menanyakannya ketika bertemu dengan Alex nanti.
Karena Ratih belum sadar juga, Puan harus menunggunya di klinik. Mereka belum bisa pulang ke Pulau Kumbang. Ibunya pasti sangat khawatir. Puan sendiri sengaja tidak membawa handphone karena tidak tahu cara memakainya.
Puan sengaja menunggu di luar ruangan tempat Ratih di rawat. Sebenarnya, dia menunggu seseorang. Puan masih mencemaskan keadaan Alex. Terakhir, Alex sedang berhadapan dengan makhluk misterius.
Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul. Dia adalah Alex.
"Puan ...," panggilnya.
Puan langsung berdiri begitu melihat Alex dan menghampirinya.
"Tuan, bagaimana keadaanmu? Lalu siapa makhluk asing itu?" tanya Puan antusias.
Alex tersenyum, "tenanglah! Keadaanku baik-baik saja. Makhluk itu adalah Diva. Sekarang sedang bersama Nara," jelas Alex.
"Ibu Nara? Bagaiman bisa tahu soal makhluk itu adalah Diva?"
"Panjang ceritanya, nanti saja kalau sudah sampai dirumah akan aku ceritakan. Sebaiknya kita pulang saja sekarang!"
Puan terdiam, dia masih mencemaskan Ratih.
"Tapi, Ratih bagaimana? Dia belum siuman juga, tuan!"
"Keadaannya tidak apa-apa. Aku rasa dia sekarang sedang tertidur. Lagipula, ada Saka disini," kata Alex lagi yang ingin meredakan kecemasan Puan.
"Bagaimana cara kita pulang, tuan? Hari masih gelap dan belum ada kendaraan," tanya Puan yang kebingungan.
"Pegang saja tanganku! Aku akan membawamu terbang," ungkap Alex.
"Terbang?" tanya Puan seraya membayangkan maksud Alex.
"Ya, terbang. Dulu aku sering membawamu terbang melintasi hutan. Sekarang memang pemandangannya sedikit berbeda tapi aku masih bisa melakukannya!"
Puan kembali mengingat masa-masa indah mereka dahulu. Sepanjang waktu, Alex membawanya terbang mengelilingi Pulau Kumbang.
__ADS_1
"Baiklah, tuan. Aku akan ikut denganmu!"
Alex kembali tersenyum lebar. Dia pun langsung membopong Puan. Dalam sekejap, Alex pun terbang melintasi kegelapan. Orang-orang sudah mulai beraktifitas dan melihat bayangan Alex. Mereka hanya mengira kalau sudah melihat kelelawar.
Saka baru saja keluar dari ruang rawat inap Ratih untuk mencari Dara. Namun, dia tidak menemukannya. Sekilas Saka melihat sebuah bayangan melesat meninggalkan tempat itu. Namun, tidak bisa menebak makhluk apa itu.
"Maaf, sus. Apa suster melihat seorang gadis yang menunggu di sini?" Akhirnya Saka menanyakan Puan yang dikenalnya sebagai Dara kepada suster.
"Oh, sepertinya gadis itu tadi pergi dengan orang asing berambut keemasan! Dia mengatakan akan pulang duluan," jawab suster yang sempat bicara dengan Dara sebelum pergi.
"Orang asing?" Saka tidak mengenal orang asing yang membawa Dara pergi. Dia mencemaskan Dara. namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap kalau keadaan Dara baik-baik saja.
"Oh, iya. Semalam ada kejadian mengerikan. Katanya ada kera yang lepas dan menyerang anak-anak SMA. Apa bapak tidak melihat kera itu?" tanya suster ketika teringat berita yang ada di tv.
"Kera? Kami memang dari lokasi kejadian. Tapi kurang pasti kalau makhluk itu adalah seekor kera!" jawab Saka yang kembali mengingat peristiwa semalam.
Saka memang melihat makhluk tinggi besar dan penuh bulu. Juga beberapa orang asing dengan wajah mengerikan. Saka ingin tahu siapa mereka sebenarnya.
*****
Tak lama kemudian, Nara muncul sambil membawa beberapa barang.
"Aku membelikanmu baju dan makanan. Untung pagi-pagi sudah ada toko yang buka! Pakailah baju itu, di depan ada toilet umum," terang Nara yang terengah-engah karena habis berlari.
Diva sendiri masih kebingungan apalagi sikap Nara yang tidak mempertanyakan keadaannya.
"Baiklah, aku akan mengganti pakaian dulu. Setelah itu kita akan pulang. Banyak yang ingin aku tanyakan padamu!" ucap Diva sebelum pergi.
Nara hanya mengangguk pelan. Sebenarnya dia masih merasakan kecemasan. Peristiwa semalam sangat menakutkan. Namun, Nara berusaha tenang di depan Diva.
*****
Harry sangat marah karena Jack dan Daniel sudah mengacaukan acaranya. Apalagi anak muridnya hampir menjadi mangsa kedua vampir itu.
"Pokoknya mulai saat ini, aku gak mau mengikuti kemauan ayah lagi. Dulu hampir saja, anak muridku menjadi korban. Semalam, kejadian itu terulang lagi. Seharusnya ayah jangan mempercayai kedua vampire itu!" tegas Harry di depan ayahnya.
__ADS_1
"Baiklah! Tapi, kamu adalah penerus kelompok pembasmi siluman. Suatu saat kau yang akan mewarisi jabatan ayah. Kau harus bertanggung jawab!" jawab Pak Iskandar tak kalah tegas.
"Jika memang begitu, aku tidak akan mengambil jalan seperti ayah. Tanah ini milik para siluman harimau. Kita hanyalah pendatang yang tak punya hak sama sekali. Ayah harus ingat itu!" ucap Harry sengit.
Pak Iskandar membiarkan Harry pergi. Puteranya itu sudah mengambil jalan lain. Dia tidak bisa mencegahnya lagi.
Kedua vampire itu sudah sampai di tempat persembunyian sampai rencana baru dilakukan. Pak Iskandar sudah terlanjur mengotori tangannya dengan darah. Dia harus menuntaskannya sampai akhir, apapun hasilnya.
*****
Diva sudah memakai baju pemberian Nara. Dia sudah kembali menjadi manusia normal. Bahkan, wajahnya menjadi lebih tampan.
Nara menjadi terpesona melihat ketampanan Diva. Dia seperti menjadi gadia remaja yang baru jatuh cinta.
"Apakah kita akan pulang sekarang?" tanya Nara, begitu Diva sampai di depannya.
"Mumpung di sini, lebih baik kita jalan-jalan dulu. Pantai disini sangat berbeda dari Pulau Kumbang. Kita akan ke Anthony Resort milik Tuan Alex. Di sana jauh lebih indah!" jawab Diva yang masih ingin berdua dengan Nara.
"Bagaimana dengan Dara? Maksudku Ratu Puan?"
Nara teringat dengan puterinya yang menjadi Puan.
"Ratu Puan sudah kembali dengan Tuan Alex. Mereka sudah sampai di Pulau Kumbang dengan selamat! Maafkan aku, soal semalam. Aku benar-benar tidak sadar. Bagaimana kamu tahu kalau aku ada disini?" tanya Diva soal dirinya.
"Aku melihatmu di pelabuhan ketika mengantar Ratu Puan. Sebelumnya, aku juga pernah melihat kamu berubah menjadi banyak bulu. Seharusnya aku memberitahumu!" jelas Nara. Dia mengira kalau Diva akan memarahinya.
Diva malah tersenyum, "aku senang kamu selalu memerhatikan aku. Entah bagaimana jadinya kalau kamu tidak datang. Mungkin aku akan menjadi makhluk itu selamanya," ujar Diva seraya meraih tangan Nara dan menggenggamnya erat.
Nara bisa bernapas lega setelah mendengar ucapan Diva.
"Aku akan selalu di sampingmu, apapun yang akan terjadi nanti!"
Ya! Nara sudah menetapkan hatinya untuk Diva. Karena Nara tahu, hidupnya tidak akan lama.
*****
__ADS_1