
Akhirnya ujian sekolah pun tiba. Puan sudah menyiapkan lahir dan batin untuk melaksanakannya dengan baik dan lancar. Tak perlu terlalu keras untuk bisa melaksanakan ujian itu. Puan terbantu karena Dara adalah gadis yang pintar.
Harry selalu mengawasi apa yang dilakukan Dara. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan dari gadis itu. Semuanya berjalan normal kecuali sifat Dara menjadi lebih pendiam.
Ayah Harry, Pak Iskandar baru saja siuman. Tapi dia sudah merencanakan sesuatu lagi.
"Kita harus menyiapkan semuanya kembali! Akan ada seseorang yang datang. Dia orang asing! Katanya dia bisa membantu kita melenyapkan para siluman harimau!" ucap Pak Iskandar masih berapi-api.
"Sudahlah, yah! Sebaiknya pikirkan kesehatan ayah dulu. Soal siluman harimau jangan dipikirkan dulu!"
"Soal itu sangat penting, Har. Mereka akan bangkit sebentar lagi. Aku yakin para siluman akan kembali berkumpul dipulau ini!" terang Iskandar.
"Setelah sekian lama, manusia biasa dan siluman harimau hidup berdampingan dalam damai. Bukankah kita yang mencari masalah baru, yah? Apa yang kita lakukan malah semakin membuatnya rumit!"
Harry memang tidak setuju dengan pemikiran ayahnya. Tapi, mau tidak mau dia harus mengikuti perkataannya.
"Kau salah, Har! Justru siluman harimau yang mencari madalah terlebih dahulu. Apa kau dengar pembunuhan gadis tempo hari. Mereka mengatakan kalau pembunuhan itu dilakukan oleh siluman harimau!"
Harry tidak bisa membantah. Dia sangat tahu kalau pembunuhan itu dilakukan karena keteledoran anak buahnya. Harry khawatir polisi akan mengetahuinya cepat atau lambat.
"Bagaimana ujianmu, Dara? Apakah lancar?"
Harry sengaja mengajak ngobrol Puan sebelum pulang. Dia masih penasaran dengan kondisi gadis itu.
"Semuanya lancar, Pak!" jawab Puan singkat. Dia tak mau terlalu banyak bicara.
"Syukurlah! Jika hasilnya sudah keluar, sebaiknya kamu langsung mengikuti ujian perguruan tinggi negeri. Saya yakin kamu pasti lolos!"
"Iya, pak. Mudah-mudahan hasil ujian saya bagus," jawab Puan ringan.
Puan merasa aneh dengan gurunya itu. Tatapannya sangat tajam namun Puan pura-pura tidak tahu.
Alex sengaja menjemput Puan ke sekolah. Hari ini adalah terakhir ujian. Dia ingin mengajak Puan makan siang di tepi pantai.
Anak-anak sekolah memandang takjup kepada Alex. Ketampanannya tidak memudar sedikit pun. Bagi Alex waktu terhenti sudah sangat lama. Ketika usianya dua puluh tahun dan tak bertambah lagi setelahnya.
"Tuaaan ...," panggil Puan dari kejauhan begitu melihat Alex di depan pintu gerbang.
Puan hanya berjalan sendirian. Ratih masih ada urusan di ruang admin.
Semua anak sekolah saling berbisik. Sebagian iri karena Dara bersama bule tampan. Sebagian lagi mengatakan hal buruk tentang Dara.
Alex bisa mendengarkan semua yang mereka pikirkan tapi dia tak peduli. Namun ada sesuatu yang mengganggunya. Ada pemikiran orang lain yang sedikit berbeda.
Ada orang yang mengetahui soal Dara sebagai siluman harimau. Alex melihat kesekitar tempat itu. Namun orang itu tidak kelihayan juga.
"Ada apa, tuan? Apa yang sedang tuan cari?" tanya Puan ketika melihat Alex clingukan.
"Ada orang yang tahu siapa Dara sebenarnya. Tapi aku tidak menemukannya!"
"Sudahlah, tuan! Mungkin orang itu sangat jauh sehingga tuan tidak bisa menemukannya."
Alex terpaksa melupakan orang yang mencurigakan itu. Mungkin yang dikatakan Puan benar.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, dari dalam gedung Harry memerhatikan Dara dari jendela yang tak terlihat dari luar. Dia bisa melihat tapi dari luar tidak kelihatan.
__ADS_1
Harry melihat jelas Dara bersama dengan orang asing. Dia teringat wajah orang asing yang sudah membawa harimau yang sudah terluka. Wajah orang asing itu sama persis. Siapa dia sebenarnya? Apakah orang asing itu siluman juga?
*****
Diva merasa sangat lega setelah mengungkapkan perasaannya kepada Nara. Hatinya sangat ringan dan melupakan takdirnya.
"Kamu kelihatan sangat senang, Diva!"
Alex bisa membaca pikiran Diva.
"I-iya, tuan. Akhirnya saya bisa mengatakan perasaan saya kepada Nara!"
"Maafkan aku karena dulu harus memisahkan kalian. Sekarang jagalah Nara. Penyakitnya semakin parah dan hidupnya tak lama lagi!"
Diva tertegun. Ucapan tuannya sangat menusuk hatinya.
"Sampai kapankah hidup Nara, tuan?"
"Tidak sampai tiga bulan lagi. Buatlah dia bahagia sebelum waktunya tiba!"
"Apakah sekarang saya boleh menikahi Nara?"
Dulu, Diva pernah menanyakan hal yang sama. Namun, Alex melarangnya. Waktu itu Diva tidak mengerti dengan maksud tuannya itu.
Ketika Dara dilahirkan akhirnya Diva mengerti. Takdirlah yang sudah memisahkan mereka.
"Apakah kamu masih mencintainya? Jika Nara tiada, mampukah kamu menahan segala kepedihan karena kehilangan orang yang kamu cintai?"
Diva terdiam sejenak. Dia sudah banyak merasakan kepedihan karena kesepian. Kehadiran Nara mampu membuat hidupnya lebih berwarna. Jika Nara pergi, Diva pasti akan kehilangan sekali.
"Saya sudah siap, tuan. Setidaknya saya masih punya kesempatan hidup bersamanya!"
"Apa? Menikah?"
Di luar dugaan, Nara seperti tersambar petir begitu mendengar perkataan Diva yang ingin menikah dengannya.
"Iya, Nara. Ayo kita menikah! Sudah sangat lama aku menunggu saat seperti ini. Kita pasti akan bahagia jika hidup bersama sebagai keluarga!"
Nara tak mampu mengungkapkan perasaannya.
"Aku ingin menanyakannya kepada puteriku dulu!"
"Tapi jiwa puterimu entah ada dimana. Aku yakin, Dara akan senang mendengarnya. Aku sudah menganggapnya puteriku sendiri sejak dilahirkan," ungkap Diva.
Nara benar-benar bingung. Di saat seperti itu, Nara sangat merindukan puterinya .....
*****
Puan menyadari hati dan jiwa Anthony sudah berubah. Beberapa kali, Anthony memandanginya dengan tatapan berbeda.
Puan juga menyadari tugasnya masih banyak. Jika semuanya selesai, Puan harus kembali ke alamnya. Jaka sudah muncul, Puan tahu apa maksud kedatangannya.
"Nona Puan," sapa Nara yang bermaksud menanyakan soal Diva.
"Ada apa, Ibu Nara?" tanya Puan lembut.
"Apakah saya bisa bertemu dengan puteri saya?"
__ADS_1
"Kau ingin bertemu dengan Dara? Adakah hal penting?"
"Tidak terlalu penting sih. Apakah saya bisa menemuinya? Sebentar saja, nona!"
Puan terdiam. Dia juga tidak tahu bagaimana caranya memunculkan Dara kembali.
"Mungkin ketika aku tertidur, Dara bisa kembali. Tapi, aku tidak tahu, bisa atau tidak. Sebaiknya, tidurlah bersamaku malam ini!"
Nara langsung mengangguk. Dia harus menanyakan soal lamaran Diva. Hati Nara tidak bisa tenang kalau Dara belum mengetahuinya.
Puan memang kembali tinggal di rumahnya Alex. Itu juga karena Alex yang memaksa karena sudah kemalaman.
Nara berencana tidak akan memejamkan matanya sampai Dara muncul. Dia akan menunggu!!!
*****
Malam kian larut. Alex belum bisa memejamkan mata. Berusaha menata hatinya yang sedang galau. Merasa bersalah karena merindukan Dara padahal Puan sudah ada di sampingnya.
Tiba-tiba, Alex melihat seseorang keluar dari dalam rumah menuju ke lorong gua.
"Puan?"
Alex baru tersadar kalau bayangan itu adalah Puan.
"Mau kemanakah Puan.malam selarut ini?" pikir Alex.
Alex memutuskan untuk mengikuti Puan. Dengan kekuatannya, Alex bisa bergerak secepat kilat.
"Puan!" panggil Alex ketika sudah sampai di dekat Puan.
Gadis itu berhenti dan membalikan badanya.
"Dokter Alex?"
Alex tercengang. Puan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan itu.
"Apakah kamu Dara?"
"Iya, dokter. Saya adalah Dara!"
Alex terkesima. Ternyata Dara masih bisa kembali ke tubuhnya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu bisa terluka dan Puan yang akan merasakan sakitnya!"
Dara terdiam. Dia tidak menyukai perkataan dokter Alex barusan.
"Apakah saya tidak berhak dengan tubuh saya sendiri. Saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan!"
"Tapi kamu bisa menyakiti Puan. Banyak orang jahat diluar sana. Bahkan mereka sudah menculikmu dan membahayakan nyawamu," ungkap Alex lagi.
"Apakah hanya ada Puan di dalam pikiran dokter? Apakah dokter tidak memikirkan saya sama sekali?" tanya Dara penuh makna.
Pertanyaan Dara membuat Alex terdiam.
"Suatu hari nanti kamu akan kembali ke tubuhmu untuk selamanya. Waktu Puan tidak akan lama. Aku mohon, dengarkanlah aku. Kembalilah ke dalam rumah!"
Dara tidak mengerti maksud dokter Alex. Dia hanya ingin memastikan perasaannya saja. Dara merasakan sesuatu kepada dokter Alex. Dia terlanjur jatuh cinta padanya!
__ADS_1
*****