
Puan menatap puluhan anak keturunannya yang sedang berada di pinggir pantai. Mereka adalah para siluman harimau yang sudah diusir dari rumahnya sendiri. Yang disesalkan Puan adalah dia tidak ada ketika semua kejahatan itu terjadi.
Matanya mulai memanas, tak lama sebutir air mata. Semuanya tidak terjadi jika Puan tidak membiarkan manusia biasa tinggal di pulau kumbang.
"Biarkan suamiku tinggal di sini, bu. Kami kan sudah resmi menjadi suami istri!" pinta Ratih, puterinya yang sudah menikah dengan manusia biasa.
"Tatanan kehidupan siluman harimau akan berbeda jika mereka tinggal di sini, Ratih. Bukan ibu tidak menyukai suamimu. Dia anak yang baik, tapi suatu saat nanti manusia biasa akan menyingkirkan kita!" ungkap Puan hari itu. Apa yang dikatakannya menjadi kenyataan. Bahkan sampai sekarang, siluman harimau terusir dari tanahnya sendiri.
Ada apa, Puan? Mengapa kamu menangis?" Tiba-tiba, Alex muncul.
Puan segera menghapus airmatanya. "Tidak apa-apa, tuan. Saya hanya kasihan dengan mereka semua. Pulau kumbang dahulu hanya milik siluman harimau. Kini, mereka malah tidak punya rumah!" ungkap Puan dengan sesekali mengusap airmata yang masih tersisa.
"Mungkin ... seharusnya saat itu, saya ikut bersama tuan saja! Mereka pasti tidak akan terluka!" lanjut Puan.
Alex menatap Puan lekat dan meraih tangannya. "Takdir sudah merencanakan semuanya, Puan. Apapun yang terjadi pasti ada sebab akibatnya!"
"Aku takut, pertempuran akan membuat mereka semakin tersakiti," ucap Puan pelan.
"Tidak akan ada pertempuran! Aku yakin kamu bisa mengalahkan mereka dengan cara lain!"
"Apa yang harus saya lakukan, tuan? Situasi dan kondisi sekarang sangat berbeda dengan dahulu!"
Alex tersenyum, "tenanglah! Akan selalu ada jalan. Hanya waktunya saja yang belum tepat."
Alex mulai mencari cara yang lebih baik. Pertempuran memang hanya akan membuat semakin banyak yang terluka. Alex juga tidak ingin, Puan ikut terluka.
Puan teringat tentang Keanu, kakaknya Nara. "Salah satu dari siluman harimau itu adalah kakaknya Nara. Dia menceritakan peristiwa pembantaian para siluman harimau ketika mereka masih kecil. Apakah tuan tahu kejadian itu?"
Alex kembali menarik napas panjang, "aku selalu datang terlambat! Ketika sampai kesini, peristiwa itu sudah terjadi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hampir semua siluman harimau pergi, kecuali Nara!"
"Lalu, bagaimana dengan Dato Patra? Apakah tuan mengenalnya?"
Alex mengangguk. Dia sangat mengenal Dato Patra. "Ya, aku mengenalnya. Beliaulah yang sudah memberitahukanku soal Nara," jawab Alex. Ada sesuatu lagi yang dia ketahui.
__ADS_1
"Apakah Dato Patra adalah titisan Dato Kumbang?"
Alex tercengang. Ternyata Puan sudah mengetahuinya.
"Bagaimana kamu tahu? Padahal kalian belum pernah bertemu?" tanyanya keheranan.
"Aku hanya merasakan saja. Dulu, Dato Kumbang yang sudah menemukan dan menjagaku! Aku sangat ingin bertemu dengannya," jelas Puan tentang perasaannya.
"Aku tidak tahu di mana Dato Kumbang tinggal! Dulu, dia hanya menitipkan Nara padaku," ungkap Alex lagi.
Puan sedikit kecewa. Namun, dia sangat yakin Dato Kumbang akan kembali
*****
Keanu senang bisa bertemu dengan adiknya. Tapi ada hal yang belum sempat mereka bicarakan.
"Apakah kamu bisa menjadi harimau juga, Nara?" tanyanya.
"Syukurlah! Menjadi siluman harimau sangat berat, selalu diusir dan dijauhi orang. Bagaimana kehidupan puterimu?"
"Dara baru saja menjadi siluman harimau sebenarnya. Tapi sejak kecil sudah ada tanda. Seperti gambar harimau di dada kirinya. Ketika sakit juga menyukai daging mentah."
Dara jadi merindukan puterinya. Seandainya Dara ada, dia pasti sangat senang sekali bertemu dengan pamannya.
"Gambar harimau? Jadi, Dara akan menjadi penerus tahta Ratu Puan selanjutnya!"
"Penerus tahta? Tidak! Aku ingin Dara hidup seperti manusia biasa. Dia akan kuliah dan mewujudkan cita-citanya menjadi dokter!"
"Dokter? Mengapa harus menjadi dokter?"
Nara terdiam. Dia tahu jawabannya. Itu karena Nara menderita sakit parah.
"Kakak, ayolah ikut bersamaku!" ajak Nara. Dia tidak ingin tenggelam dalam kesedihan karena teringat dengan Dara.
__ADS_1
"Ke mana?" tanya Keanu ingin tahu.
"Ke rumahku dan melihat isi kota. Tapi, ada jalan pintas yang lebih cepat!"
Keanu beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Nara.
Mereka berjalan ke belakang rumah dan melewati lorong yang cukup panjang. Tak lama mereka sampai di ujungnya.
"Apa kakak mengenali tempat ini?" tanya Nara begitu sampai di atas bukit.
"Ini kan bukit di belakang rumah kita! Aku ingin tahu apakah rumah kita masih ada," ucap Keanu yang langsung berjalan menuruni bukit.
Nara mengejar Keanu yang berjalan lebih cepat. Dia ingin tahu kemana kakaknya pergi.
Tak berapa lama, mereka berada di depan sebuah rumah besar yang tak terawat. Nara sering melewati rumah itu jika mau ke rumah dokter Alex.
Keanu berdiri terpaku melihat rumah tua yang ditumbuhi semak belukar itu. Dulu dia pernah tinggal di sana bersama orang tua dan adiknya.
"Ternyata rumah kita masih ada!" ucap Keanu lirih.
"Apakah ini rumah kita, kak? Aku tidak menyangka padahal sering lewat didepannya!"
Keanu mengangguk. "Ya, ini adalah rumah kita. Aku kira sudah hancur!"
"Tapi, apakah kita bisa tinggal lagi di sana?"
Keanu kembali terdiam, waktunya belum tepat. Dia baru saja sampai dan tidak ingin membuat keributan.
"Aku akan menanyakannya kepada Ratu Puan. Aku sudah cukup senang karena rumah kita masih ada!"
Keanu kembali terkenang dengan peristiwa menyedihkan itu. Mereka membunuh orang tuanya tepat di depan rumah. Untuk sementara, Keanu harus menyimpan balas dendamnya.
*****
__ADS_1