
Sepertinya, Alex harus mengembalikan kalung yang diberikannya untuk Puan kepada Dara. Dia juga berhak memilikinya.
Dara masih bermain ayunan kesukaannya di pinggir pantai. Sesekali gadis itu tertawa melihat para siluman harimau yang sedang bermain volly pantai. Hatinya sangat senang karena memiliki banyak keluarga. Semua karena Ratu Puan.
"Apa yang sedang kamu lihat, Dara?" tanya Alex yang tidak suka Dara terus memerhatikan para pemuda siluman harimau. Dia takut, Dara terpikat kepada salah satu dari mereka.
"Lihatlah, dokter. Mereka sangat lucu dan menggemaskan!" jawab Dara tanpa menatap Alex.
Alex merasa dadanya semakin panas. Apakah dia cemburu?
"Mereka semua seperti anak-anak! Apa lucunya?!" celetuk Alex lagi.
Dara tertawa kecil, "itulah sebabnya mereka sangat lucu, dokter. Hhmmm, aku ingin tahu apakah dokter juga bisa bermain volly seperti mereka?"
Alex terperangah, "tidak! Aku tidak bisa," sergapnya.
Dara menatap Alex penuh makna. Sepertinya Dara mempunyai sebuah rencana.
"Iya, lah. Mana mungkin dokter bisa seperti mereka. Dokter itu terlalu kaku dan kolot! Aku mau main sama mereka saja lah," ungkap Dara seraya melompat dari ayunan. Dia pun mengikat gaunnya agar tidak terbang dan berjalan menuju ke para pemuda siluman harimau.
Semua menjadi riuh ketika Dara menghampiri mereka. Apalagi ketika Dara mulai memainkan bola dengan cukup mahir.
Alex merasa dadanya semakin panas begitu melihatnya. Dia pun melepaskan jas dan sepatu, kemudian menggulung lengan bajunya. Dengan keyakinan penuh, dia berjalan ke tempat Dara.
"Dokteeer?" Dara terkejut ketika melihat dokter Alex sudah di sampingnya.
Semuanya juga sangat terkejut melihat Alex di tengah mereka.
"Aku juga tidak kalah dari kalian. Ayo, kita bermain!"
Alex segera mengatur posisi. Permainan pun dimulai. Dengan lihai, Alex memainkan bola volly. Dia tidak mau Dara menganggapnya lemah.
Ternyata, sangkaan Dara salah. Dokter Alex sangat pandai bermain volly. Itu karena postur tubuhnya yang tinggi besar. Bahkan dengan mudah melumpuhkan pemain lawan.
Dara semakin terpesona, apalagi melihat dokter Alex harus jatuh bangun mempertahankan bola. Kemeja putihnya juga menjadi kotor. Biasanya dia selalu tampil bersih dan elegan. Kini, dokter Alex kelihatan lebih manusiawi.
Akhirnya permainan selesai. Alex memang sampai terengah-engah. Namun, sangat puas karena bisa menandingi kekuatan para pemuda siluman harimau.
"Minumlah, dok. Sepertinya, sebentar lagi dokter akan pingsan," ujar Dara seraya menyodorkan sebotol minuman.
"Pingsan? Apa kamu gak lihat aku masih segar seperti ini!" Alex langsung berdiri dan melompat.
Dara malah tertawa melihat tingkah dokter Alex, "iya-iya. Dokter memang ia the best, deh!" ucapnya seraya mengacungkan kedua jempol tangannya.
Alex pun ikut tertawa. Dia merasa menjadi sangat bugar seperti masa remajanya dahulu.
Tiba-tiba, Dara mendekati Alex dan menyeka keringat yang memenuhi dahinya. Alex langsung diam dan menatap Dara lekat.
"Apa yang kamu sukai dariku, Dara? Kau tahu siapa aku, kan. Di hatiku juga sudah ada orang lain!"
Dara tertegun. Tidak mengira kalau dokter Alex akan berterus terang seperti itu.
"Entahlah! Tahu-tahu, aku sudah menyukai dokter. Mungkin saja, aku sudah terkena pelet dokter!" jawab Dara disertai gurauan untuk menutupi kegelisahannya.
"Pelet? Apa itu?" tanya Alex pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Ada, deh. Rahasia, tahu!" jawab Dara seraya membalikan badan untuk pergi.
"Tunggu!" Alex menarik tangan Dara.
Dara bertambah terkejut. Apa yang akan dilakukan dokter Alex lagi.
"Sepertinya kalung ini adalah milikmu. Pakailah kembali dan jagalah seumur hidupmu!" ungkap Alex seraya memakaikan kaling yang dipegangnya ke leher Dara.
Dara berhenti bernapas ketika wajah mereka sangat dekat. Sebentar lagi, Dara akan pingsan!
"Apa aku berhak memilikinya, dokter? Kalung ini adalah tanda cinta dokter kepada Ratu Puan," ucap Dara yang sedikit pesimis.
"Terakhir orang yang memilikinya adalah dirimu. Maka, kalung ini juga menjadi milikmu. Lihatlah, Kamu jadi cantik memakainya!" puji Alex sambil memandangi Dara dengan penuh perasaan.
Sesaat, Dara seperti lupa ingatan. Kemudian otaknya kembali berjalan normal. Dia tahu, dokter Alex hanya bergurau.
"Aah! Dari dulu juga aku sudah cantik. Lihatlah mereka! Semua tergila-gila padaku!" ucap Dara seraya menunjuk ke para pemuda yang memerhatikannya dengan penuh takjup.
Alex merasa darahnya mendidih begitu melihat para pemuda itu melambaikan tangan kepada Dara.
"Ingatlah! Kamu hanya milikku!" bisik Alex sambil berjalan melewati Dara.
Dara pun terpaku. Kali ini tubuhnya langsung membeku begitu mendengar ucapan dokter Alex.
Sementara, Alex tersenyum puas. Dia sudah jujur mengutarakan hatinya kepada Dara. Namun, entah mengapa dirinya merasa sudah mengkhianati Puan.
*****
Saka terus mengikuti Harry yang ternyata menuju ke tempat tinggal Pak Iskandar. Dia menunggu sampai kedua orang yang melakukan pembunuhan itu muncul. Tapi, sampai Harry pergi keduanya tidak kelihatan.
Di persimpangan jalan, Harry sengaja mencegat Saka. Membuat Saka sangat terkejut.
"Untuk apa kamu mengikutiku?" tanya Harry sedikit kesal.
Sepertinya Saka harus berkata jujur, "aku sudah tahu kalau kau terlibat dengan pembunuhan gadis di dalam koper. Aku sudah memelihat file ini. Kamu dalangnya, kan?"
Saka memperlihatkan secarik kertas kepada Harry. File itu berisi keterangan soal dua orang. Saka sengaja menjebak Harry.
Harry sangat terkejut begitu melihat file yang diberikan Saka. Dia ingat menyimpan file itu di meja kerjanya.
"Apakah kau sudah mengambilnya dari meja kerjaku?" tanya Harry yang ingat kalau Saka datang ketika acara di rumahnya.
Saka tersenyum, jebakannya berhasil. "Ya! Aku sudah mengambilnya dari rumahmu. Katakan saja dimana kedua orang ini?"
"Mereka adalah anak muridku. File itu untuk data di tempat les. Aku tidak tahu kalau mereka sudah melakukan pembunuhan!"
Ternyata, Harry tahu kalau Saka ingin menjebaknya.
"Mereka terlihat membawa koper merah yang kamu miliki. Berarti kamu juga terlibat dalam pembunuhan itu!" desak Saka lagi.
Harry tersenyum tipis, "aku pernah bilang koperku itu sudah hilang. Aku baru tahu ternyata merekalah yang sudah mengambilnya! Silakan tangkap mereka, pak. Mereka adalah pencuri!"
Saka hanya terdiam. Harry sangat pintar bersandiwara. Sepertinya, Saka harus bekerja lebih keras lagi untuk mengungkap pembunuhan itu.
"Baiklah! Terima kasih atas kerjasamanya. Saya harap kita tidak bertemu di saat anda ada di pengadilan!" sindir Saka sebelum pergi.
__ADS_1
Harry masih berdiri mematung meski Saka sudah tidak kelihatan lagi. Penyesalan selalu datang terlambat. Harry tidak bisa mengelak lagi jika semuanya terbongkar. Saat itu kian mendekat.
*****
Penjara Pulau Kumbang.
Setiap sel di penjara sudah mulai sesak. Banyak penjahat berkumpul di sana. Pencuri, perampok, bandar narkoba semua jadi satu. Bahkan untuk bernapas saja sangat susah.
Suasana semakin riuh ketika sipir penjara datang. Dia menghentakan gagang tongkat ke jeruji hingga membuat suara berisik.
"Hei! Kau ikut aku!" katanya sambil menunjuk seorang tahanan yang masih muda.
Anak muda itu sangat terkejut. Dia masuk penjara gara-gara mencuri sepeda motor. Wajahnya berubah cerah mengira kalau dirinya sudah dibebaskan.
Seorang petugas membuka pintu sel dan mengeluarkan pemuda itu.
"Iya, pak. Apa saya dibebaskan, pak?" tanya tahanan muda itu.
"Jangan banyak tanya! Ikut saja denganku," jelas kepala sipir bertubuh tambun itu.
Tahanan muda itu langsung diam dan mengikuti langkah para petugas. Dia memasang wajah penuh kebanggaan karena dibebaskan padahal baru saja masuk sel.
Wajahnya langsung berubah ketika melewati ruang kunjungan.
"Kok tidak ke ruangan itu, pak? Saya mau dibawa kemana?" tanyanya mulai curiga. Dia ingin kabur tapi tangan dan kakinya masih diborgol.
"Diamlah, berisik tahu!" bentak kepala sipir.
Sekali lagi, tahanan muda itu diam. Perasaannya mulai tidak enak ketika sampai di ruangan bawah tanah yang gelap dan pengap. Ternyata tempat itu adalah ruang isolasi buat tahanan yang membangkang.
"Kenapa saya dibawa kesini, pak. Saya tidak melakukan kesalahan!" komplainnya.
Kepala aipir tidak.menjawab. Dia membuka salah satu pintu sel yang sangat gelap.
"Masukkan dia ke sana!" perintah kepala sipir kepada anak buahnya.
"Ja-jangan, pak. Jangan masukan saya ke sana. Saya baru saja masuk, pak!"
Namun, para petugas sipir tak memedulikan teriakan tahanan muda itu dan mendorongnya ke dalam sel.
Tahanan muda itu jatuh tersungkur dan wajahnya menjadi sangat pucat ketika para sipir meninggalkannya.
Belum lagi, tahanan muda itu sadar. Di depannya muncul dua sosok menakutkan. Tubuhnya tinggi besar dan berkulit putih.
"Si-siapa kalian?" tanya tahanan muda itu dengan suara gemetar.
Sosok itu tak bersuara. Dia hanya menyeringai dan kelihatan taringnya yang tajam di sela-sela gigi.
Tahanan muda itu sudah terpojok dan tidak bisa bergerak lagi. Sosok menakutkan itu semakin mendekat. Tak berapa lama terdengar suara mengerang dan kemudian kembali sunyi.
Tahanan muda itu pun tergeletak di atas lantai dengan tubuh mengering. Darahnya tidak tersisa sedikit pun.
Para tahanan di sel lain juga sedang ketakutan. Bau anyir darah menyeruak. Membuat siapapun yang ada di ruangan itu pasti bulu kuduknya merinding. Satu lagi tahanan menjadi korban.
*****
__ADS_1