
Dara kembali lagi ke pintu gua. Keraguan menghampiri hatinya. Dia hanya ingin mengingat kenangan yang pernah tercipta saat dirinya masih kecil.
Perlahan, Dara memasuki pintu gua yang ditumbuhi semak belukar. Kemudian masuk ke dalam lorong panjang yang diterangi lampu kecil.
Tak berapa.lama dia sudah berada di taman yang sangat indah dengan air mancur di tengahnya seperti surga.
Bayangan seorang anak perempuan hadir. Wajahnya bersinar dengan rambut ekor kuda. Dia tengah berlari seperti sedang dikejar seseorang. Suaranya menggema memecah kesunyian.
Dari balik tembok, seorang laki-laki muncul. Dia mengejar gadis kecil itu juga dengan senyuman merekah.
Dara tertegun melihat laki-laki itu. Kulitnya sangat putih dan rambutnya keemasan. Dara seperti mengenal laki-laki asing itu. Dia adalah dokter Alex!!!
Dokter Alex tersenyum kepada Dara. Perlahan bayangan itu menjadi nyata. Anehnya, wajah dokter Alex masih sama.
"Apa kabar, Dara?"
Dara masih tertegun. Berusaha tersadar dari lamunan. Namun sosok dokter Alex tetap ada.
"Ma-maaf, saya lancang masuk kesini, dok," ucap Dara sesikit gugup.
Lagi-lagi, dokter Alex tersenyum.
"Aku memang sedang menantimu. Sepertinya, ibumu sudah menceritakan sesuatu. Apa itu yang membuatmu kesini?"
"Bagaimana dokter Alex tahu soal cerita ibu saya?" tanya Dara ingin tahu.
"Aku asal menebak saja!"
Alex pura-pura meski sangat tahu apa yang ada di dalam pikiran dara.
"Apa benar saya pernah tinggal di rumah ini, dok?"
"Iya! Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan waktu kecil kamu. Saat itu kamu memang masih sangat kecil. Apa kamu sudah mengingat semuanya?"
Dara menggeleng pelan.
"Saya hanya membayangkannya saja!"
__ADS_1
Alex tersenyum. Dara kecil memang memikat hati, mengingatkannya kepada Puan ketika pertama kali bertemu.
"Masuklah! Aku akan menceritakan banyak hal padamu!"
Alex mengulurkan tangannya.
Sejenak, Dara sedikit ragu. Akhirnya dia pun menyambut menyambut uluran tangan Alex. Dara hanya ingin tahu, seberapa besar keterikatannya dengan tempat itu. Sebelum kenangannya menghilang dan menjadi seorang Puan.
*****
Saka kembali ke lokasi pembunuhan. Sepanjang hari dia melakukan olah Tkp namun tidak mendapatkan petunjuk.
Pasti ada yang salah! Tidak mungkin pembunuh itu hilang tanpa jejak.
Siluman harimau bukan hal baru bagi Saka. Bahkan dia sudah menelitinya sebelum masuk ke kepolisian. Alasannya menjadi polisi adalah agar bisa mengetahui tentang siluman harimau lebih jelas.
Ada peristiwa yang tersimpan rapi di kepalanya. Sepuluh tahun yang lalu, Saka melihat dengan mata kepala sendiri. Seseorang tengah memangsa seekor kambing sampai kehabisan darah. Kambing itu tidak terkoyak dan hanya terluka di bagian leher.
Sejak saat itu, Saka jadi takut keluar malam. Namun rasa ingin tahunya lebih besar. Ketika SMA, dia mencoba mencari tahu tentang makhluk penghisap darah. Tapi yang didengar adalah tentang manusia siluman harimau.
*****
Sementara itu di dalam gudang di pinggir pantai.
"Kalian bodoh! Mengapa membunuh gadis itu segala. Aku hanya memintamu menyingkirkannya. Kalian bisa membuangnya ke tempat jauh!"
Si Ketua sangat murka karena Rio dan Gery sudah melakukan pembunuhan.
"Maaf, ketua. Kami sudah panik. Gadis itu sudah melihat wajah kami. Kalau sampai dia ke kantor polisi, kami pasti di penjara," jelas Rio dengan wajah tegang.
"I-iya, ketua. Gak ada jalan lain lagi. Kami harus membunuh gadis itu!" ujar Gery juga.
"Kalian memang sangat bodoh. Memangnya setelah membunuh, polisi gak akan mengejar kamu? Pergilah! Jangan sampai kalian tertangkap polisi. Kita semua dalam bahaya!"
Rio dan Gery hanya menunduk. Mereka memang masih muda namun otak mereka seperti psikopat.
Sang Ketua harus memutar otak. Rencananya berantakan karena ulah anak-anak bodoh. Sepertinya dia akan turun tangan sendiri. Gadis keturunan siluman harimau itu harus ditemukan secepatnya.
__ADS_1
*****
Dara hanya diam saja ketika dokter Alex memberikan sebuah album foto. Dia sedikit ragu, takut kalau kenangannya tidak bisa kembali lagi.
"Kenapa diam saja? Lihatlah foto-foto itu. Kamu akan lihat seperti apa dirimu sewaktu kecil!"
Suara dokter Alex mengagetkan Dara.
"I-iya, dokter!"
Perlahan Dara membuka album foto itu. Dilihatnya sebuah foto seorang bayi yang masih merah di samping seorang wanita. Dara mengenali wanita itu adalah ibunya.
Namun yang membuat Dara terpaku adalah tanda di dada kirinya sudah ada sejak lahir.
"Apakah saya sudah memiliki tanda sejak lahir?" tanya Dara seraya meraba dada kirinya di mana ada tanda itu.
Alex mencoba mencerna jalan pikiran Dara.
"Ya! Kamu sudah memiliki tanda itu sejak lahir. Kamu pasti masih memilikinya sampai sekarang!"
Dara mengangguk pelan dan meneruskan membuka lembaran album foto itu.
Di sana ada seorang laki-laki asing tengah menggendong bayi. Wajahnya tidak begitu asing. Dia adalah dokter Alex!
"Apakah ini dokter?"
"Ya, itu adalah aku!"
"Dokter masih sangat muda!"
Dara mendongak dan menatap Alex lekat.
"Wajah dokter sekarang masih sama. Tidak bertambah tua sedikit pun!"
Alex tersenyum. Suatu saat Dara akan tahu siapa dia sebenarnya. Alex tak harus menjelaskan.
*****
__ADS_1