KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
KENANGAN YANG PERLAHAN MUNCUL #2


__ADS_3

Alex masih menemani Dara mengenang masa-masa indah yang pernah tercipta. Kini Dara kecil sudah beranjak dewasa.


Penampilan Dara memang jauh berbeda. Sewaktu kecil, rambutnya panjang dan sangat pemalu. Kini, Dara memiliki rambut pendek dan pemberani. Ada beberapa guratan di wajahnya seperti bekas luka.


"Sebaiknya kamu jangan sering berkelahi. Lihatlah wajahmu jadi penuh luka!"


Dara mendongak dan menatap Alex lekat.


"Bagaimana dokter tahu kalau luka ini bekas berkelahi? Apa ibuku sering cerita?"


Alex tersenyum. Dia selalu tahu apa yang dilakukan Dara.


"Aku bisa menebak. Benarkan?" jawab Alex pura-pura.


Dara jadi teringat berita pembunuhan seorang wanita tempo hari.


"Apa dokter tahu, siapa yang membunuh perempuan di dalam koper?"


Alex mengerutkan keningnya. Dia memang mendengar peristiwa itu namun tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu dia sedang melakukan operasi seorang pasien.


"Makanya lebih baik kamu hati-hati! Ada kelompok tertentu yang sedang mengejarmu!"


Dara jadi teringat dua laki-laki yang pernah bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu.


"Saya sempat bertemu dengannya. Katanya mereka adalah kelompok siluman harimau. Mereka tahu tentang tanda harimau di tubuh saya. Mereka pasti gak akan menyakiti saya!"


"Tidak! Mereka hanya menebak saja. Mereka tidak tahu pasti kalau kamu memiliki tanda itu. Hati-hatilah! Kelompok itu hanya klamuflase saja agar bisa mendapatkan manusia harimau sebenarnya dan membunuhnya!"


Dara tertegun. Dia hampir saja terjebak.


"Jangan-jangan ... perempuan itu sudah dibunuh mereka!"


Naluri detektif Dara mulai bereaksi.


"Jangan dekati mereka! Kelompok itu mempunyai niat lebih besar lagi!"


Alex menjadi sangat khawatir. Apalagi mengetahui apa yang sedang dipikirkan Dara.


Dara memang sedang memikirkan sesuatu. Sudah ada titik terang tentang siapa laki-laki yang bertemu dengannya. Makanya, Dara sangat heran karena mereka mengetahui tentang tanda itu. Dara harus menemukan mereka secepatnya.


"Ada sesuatu yang akan kuperlihatkan padamu, Ikutlah denganku!"


Dara langsung mengangguk dan mengikuti Alex tanpa bicara apapun. Kenangan itu mulai muncul sedikit demi sedikit.


Terdengar tawa anak kecil di penjuru ruangan. Sosoknya berlarian kesana kemari. Sosok anak perempuan yang sangat lucu yang manis.

__ADS_1


Tiba-tiba, gadis kecil itu berhenti. Dia melihat sesuatu di sebuah ruangan.


"Ini darah yang tuan inginkan." Seorang laki-laki menyodorkan segelas minuman berwarna merah. Dia adalah seorang pelayan.


"Baiklah, terima kasih!" ucap sosok asing berambut keemasan. Dia adalah Anthony yang sudah menjadi Alexander.


Sosok itu langsung menenggak minuman itu sampai habis tak tersisa. Disudut bibirnya masih tersisa noda merah merona.


Alex sedikit terkejut ketika melihat Dara kecil berdiri di depan pintu dengan tubuh gemetaran.


"Da-dara?"


Alex tidak menyadari kehadiran Dara kecil karena terlalu haus.


Belum lagi Dara menyahut, tubuhnya menjadi sangat lemas dan hampir terjatuh.


Tidak sampai sedetik, sosok Alex sudah berada didekat Dara kecil dan langsung menangkap tubuhnya.


Sesaat kemudian semuanya menjadi gelap. Dara tidak ingat lagi kejadian selanjutnya.


*****


"Dara!"


Suara dokter Alex menyadarkan Dara dari lamunannya. Sepertinya Alex mengetahui apa yang sedang dipikirkan Dara. Dia tidak akan mengubahnya sedikitpun sampai semua kenangan kembali.


"Lihatlah! Di sanalah tempat kamu sering bermain."


Dara kembali tertegun. Di hadapannya ada sebuah ayunan tepat di depan pantai. Sewaktu kesana pertama kali Dara tidak melihatnya karena sudah malam.


"Ayunan itu terlalu kecil. Apa saya dulu bisa menaikinya?"


Alex tertawa kecil.


"Dulu kamu memang masih kecil. Kalau sekarang mungkin sudah tidak muat! Apa kamu mau menaikinya lagi?"


"Saya mau dokter! Tapi pasti gak muat juga."


"Besok datanglah lagi! Aku akan membuat ayunan yang lebih besar!"


"Benarkah, dokter?" tanya Dara dengan mata penuh binar.


Alex langsung mengangguk. Binar di mata Dara membuatnya merasakan sedang bersama Puan.


*****

__ADS_1


Malam semakin larut. Saka terus menelusuri sudut kota sampai menemukan petunjuk tentang pembunuhan perempuan di dalam koper. Saka sangat yakin kalau pembunuhnya tidak jauh dari Tkp.


Tak lama, Saka sampai di atas bukit. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia melihat seorang gadis berjalan di kegelapan. Langkahnya sangat pasti dan tidak takut sama sekali.


"Berhenti!" ucap Saka ketika gadis itu sudah sampai di depannya.


"A-ada apa?"


Ternyata gadis itu adalah Dara yang baru pulang dari istana Alexander.


"Apa yang kamu lakukan di tempat gelap sendirian. Apa kamu tahu baru saja terjadi pembunuhan? Apa kamu tidak takut ada orang jahat?"


Dara melotot. Sikap laki-laki itu sangat aneh. Dia jadi teringat perkataan dokter Alex agar berhati-hati kepada siapapun yang ditemuinya.


"Saya hanya cari angin saja! Ini sudah mau pulang."


Dara langsung beranjak pergi tanpa memedulikan laki-laki itu.


Namun sampai beberapa saat, laki-laki masih mengikutinya. Sepertinya dia adalah orang jahat!


Dara merasa harus memberi pelajaran laki-laki itu. Dia cepat bersembunyi di sudut yang gelap. Laki-laki itu kelihatan clingukan mencarinya.


"Kamu mau berbuat jahat, kan? Kamu itu salah orang, tahu!"


Dara tiba-tiba muncul tepat didepan Saka dengan kuda-kuda siap menyerang. Wajah gadis itu kelihatan tegang.


Saka tertegun melihatnya. Tak lama, dia malah tertawa.


Dara merasakan laki-laki itu semakin aneh.


"Mengapa kamu malah tertawa? Mau aku beri pelajaran?!"


Dengan sigap Dara mulai menyerang lebih dahulu. Dia tak mau kecolongan.


Saka yang seorang polisi dengan mudah menangkis setiap serangan gadis itu. Bahkan bisa melumpuhkannya dalam waktu singkat.


"Aku adalah seorang polisi dan bukan penjahat seperti yang kamu pikirkan!" ucap Saka yang sudah menaklukan Dara.


Dara sangat terkejut mendengar ucapan laki-laki itu yang ternyata seorang polisi.


"Aku gak percaya kalau kamu polisi! Siapa tahu itu cuman modus aja."


"Baiklah! Aku akan membawamu ke kantor polisi agar kamu percaya!"


"Apa? Kantor polisi?!"

__ADS_1


Dara mungkin sudah salah kira. Dia gak mau berurusan dengan polisi. Ibunya bisa ngamuk tujuh hari tujuh malam!!!


*****


__ADS_2