
Pagi pun datang. Puan terbangun ketika mendengar suara seekor burung yang hinggap di atas daun jendela yang sudah terbuka. Rupanya Puan sudah bangun kesiangan. Pasti Ibu Nara yang sudah membuka jendelanya.
Puan bergegas turun dari tempat tidurnya dan menghampiri burung itu.
"Selamat pagiii, burung cantik. Aku bangun kesiangan. Sepertinya semalam aku sudah tidur terlalu nyenyak!" ucap Puan sembari mengulurkan tangan. Burung itu pun seakan mengerti dan hinggap di jari Puan.
"Maaf, aku tidak punya makanan untukmu. Pergilah, carilah di tempat lain!" lanjut Puan begitu burung itu mematuk jemarinya.
Burung itu pun langsung terbang entah ke mana. Puan hanya bisa memandanginya sambil menarik napas panjang. Hatinya terasa sangat ringan. Sepertinya Dara sudah menyelesaikan semua urusannya, termasuk dengan Alex.
Tanpa sadar, Puan menyentuh lehernya. Sebuah kalung sudah ada di sana. Puan pun tersadar, Alex sudah menemukan kalung itu. Tapi dia memberikannya kepada Dara, bukan kepadanya.
"Selamat pagi, Ratu Puan. Ini sarapan Ratu," ucap Nara yang muncul sambil membawa nampan berisi bubur dan segelas teh.
Puan menatap Nara lekat. Dia ingin mengutarakan sesuatu. "Maaf, aku bangun terlambat. Tolong jangan panggil aku seperti itu, Ibu Nara. Sebaiknya, tetaplah memanggilku dengan nama anakmu meski hanya ada kita berdua!" pinta Puan.
Nara tertegun. Sebenarnya Puan sering kali mengingatkannya. Namun, dia terlalu sungkan untuk mengucapkannya.
"Maaf, saya belum terbiasa. Baiklah, Dara. Makanlah sarapanmu!"
Puan tersenyum dan memeluk Nara, "nah, begitu dong! Aku juga kan anakmu, bu," ungkap Puan seraya menggerayut manja.
Nara memang masih kaku. Dia selalu berpikiran kalau Puan bukanlah puterinya, tapi nenek buyutnya. Mungkin itulah yang membuat Nara menjadi sungkan.
"Mulai hari ini, aku akan lebih santai. Meskipun banyak yang harus dilakukan, tapi aku ingin seperti Dara. Dia selalu bisa membawa diri meski berada dalam situasi apapun. Aku senang menjadi puterimu, bu ...."
Lagi-lagi, Puan memeluk Nara. Membuat Nara merasakan kesedihannya berkurang. Dia pun tersenyum. Sepertinya sudah waktunya merelakan kepergian puterinya.
Di tempat lain, Alex menatap laut yang mulai surut. Gelombang pun tidak lagi sekuat semalam. Jika Dara masih ada, dia pasti akan berlari ke pantai. Mendecakan kakinya di atas air dan menenggelamkannya ke dalam pasir.
Pertemuan kemarin terlalu singkat. Meskipun Alex sudah mengungkapkan perasaan namun masih merasa ada yang mengganjal di hatinya.
"Selamat pagi, tuaan!" Puan muncul dengan senyuman lebar.
Alex tertegun mengira kalau di hadapannya adalah Dara.
"Mengapa menatapku seperti itu, tuan. Ayolah! Aku ingin menikmati matahari pagi di pinggir pantai!" ungkap Puan yang langsung menarik tangan Alex.
Alex masih diam saja. Dia tidak mengerti mengapa Puan bersikap seperti Dara.
Puan pun menenggelamkan kakinya ke dalam pasir. Dia melakukan kebiasaan Dara.
"Mulai hari ini, aku akan menjadi Dara. Jadi, jangan panggil aku Puan lagi, tuan!" celetuknya.
__ADS_1
"Puaan," panggil Alex yang tidak mengerti semua tingkah Puan.
Puan berhenti dan menatap Alex lekat, " kan aku sudah bilang, jangan panggil nama itu lagi. Panggillah aku Dara!" jelas Puan.
"Ada apa denganmu? Mengapa seperti ini?" tanya Alex yang masih kebingungan.
Puan hanya tersenyum. Dia sudah mantap untuk menjalani hidup sebagai Dara.
"Ada apa, tuan? Apa tuan tidak suka kalau aku menjadi Dara?"
Alex menggeleng, "tidak, bukan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan karena mendadak sekali!"
"Iya, tuan. Mulai saat ini, aku akan menjadi Dara. Sampai semuanya selesai secepatnya," jelas Puan.
Kini, Alex mengerti. Sepertinya Puan sedang cemburu dengan Dara. Tapi, Alex tidak bisa mengatakan apapun. Dia juga tidak bisa menjelaskan tentang hatinya yang masih mencintai Puan sekaligus mencintai Dara.
*****
Nara memerhatikan Alex dan Puan dari jauh. Sikap Puan sangat berbeda sejak bangun dari tidurnya. Sebagai perempuan, Nara sedikit bingung dengan apa yang dipikirkan Puan.
"Aku tidak tahu mengapa kamu jadi tukang nguping dan tukang ngintip seperti ini, Nara!"
Lagi-lagi, Diva muncul yang langsung memeluknya dari belakang.
Diva tergelak melihat istrinya mengamuk seperti itu, "apa sih yang kamu lihat sampai serius begitu?" tanya Diva penasaran. Dia pun melihat ke luar jendela. Dari sana, dia melihat Tuan Alex dan Ratu Puan sedang berduaan di tepi pantai.
"Ooh, pantas. Kamu lagi ngintip orang pacaran, ya?" celetuknya.
Nara cemberut. Diva selalu saja menggodanya.
"Ratu Puan sangat aneh. Sejak bangun tadi pagi, dia ingin dipanggil Dara saja. Aku terpaksa menurutinya. Aneh! Apa yang sedang dipikirkannya, ya?" jelas Nara sambil lanjut memerhatikan keluar jendela.
"Masa kamu gak tahu, sih? Ratu Puan itu sedang cemburu dengan puterimu. Dia ingin dipanggil Dara agar seperti dia!" celetuk Diva.
Nara tertegun, "cemburu? Masa Ratu Puan bisa cemburu?"
Diva tertawa lagi, "jelas bisa dong, Sayang. Ratu Puan juga manusia meski siluman harimau. Tanpa sadar, dia ingin menjadi Dara agar mendapatkan perlakuan yang sama apalagi dari tuan Alex. Sepertinya Ratu Puan tahu kalau Tuan Alex mencintai puterimu!" jelas Diva panjang lebar.
Nara malah kliyengan mendengar penjelasan diva. Dia baru tahu kalau dokter Alex juga mencintai puterinya.
"Apa benar dokter Alex mencintai Dara?" tanyanya heran.
"Aah, kamu ini memang kurang peka. Tentu saja kelihatan jelas kalau dokter Alex mencintai Dara!"
__ADS_1
Nara tertegun. Dia memang tidak mengetahui kalau dokter Alex punya perasaan kepada Dara. Namun, Nara malah cemas mengetahuinya. Pantas saja Ratu Puan menjadi seperti itu.
"Apa kamu sangat terkejut sampai gak bisa berkata-kata?" Diva heran dengan sikap istrinya yang menjadi pendiam.
"Aku hanya cemas dan takut kalau Ratu Puan membenci Dara karena dokter Alex menyukainya," jawab Nara lirih.
Diva menyadari kekhawatiran Nara, "tenanglah! Ratu Puan hanya sedang melawan dirinya sendiri. Setelah ini semua akan kembali seperti semula," ungkap Diva seraya menggenggam tangan Nara erat.
*****
Saka merasa heran karena suasana di kantor kepolisian tempatnya bertugas sedikit riuh. Mereka saling berbisik dengan wajah serius.
"Ada apa sih? Mengapa kantor jadi seriuh ini?" tanya Saka seraya duduk di sebelah rekannya. Dia pun meletakan nampan berisi makan siang di atas meja.
"Ada peristiwa mengerikan di penjara semalam. Apa kamu gak tahu?" tanya seorang rekan Saka di kepolisian. Namanya Pramudya.
Saka tidak tahu apa yang dimaksud rekannya, "tahu apaan? Semalam aku gak mendengar apa-apa, Pram!" jawabnya.
Pram mendekati Saka dan mulai berbisik, "ada pembunuhan lagi, Tkpnya di penjara. Ada seorang tahanan yang ditemukan mati. Jasadnya sangat mengerikan tanpa darah setetespun. Tapi anehnya jasad itu menghilang!" ceritanya.
"Menghilang? Lalu, siapa yang sudah melihat jasad tahanan itu?" tanya Saka yang mulai penasaran.
"Katanya dibuang ke hutan dan dimakan harimau. Aku baru tahu masih ada harimau di sini. Bukankah semua harimau di pulau ini sudah binasa?" jelas Pram dengan wajah penuh misteri.
"Bagaimana semua harimau itu binasa? Bukankah dulu penghuni pertama pulau ini adalah harimau?" Saka semakin ingin tahu.
Pram menoleh ke kanan dan ke kiri seperti tidak ingin ada orang yang mendengar perkataannya.
"Dulu ada pembantaian harimau besar-besaran yang dilakukan pemimpin dewan kota. Namanya Pak Iskandar!"
Saka tertegun. Ternyata banyak yang mengetahui peristiwa itu. Saka hanya ingin tahu kebenaran berita itu.
"Mengapa pihak kepolisian tidak menyelidiki pembantaian itu?"
Pram menggeleng, "itu yang tidak aku mengerti. Sepertinya pihak kepolisian bungkam. Katanya ada orang dalam yang bekerja sama dengan Pak Iskandar untuk menutup kasusnya!"
Pram menyeruput kopinya sebentar, "sebenarnya, Pak Iskandar bukan hanya membunuh binatang. Tapi juga membunuh beberapa penduduk asli. Dia mengatakan kalau mereka adalah siluman harimau! Sebenarnya itu hanya kamuflase aja. Pak Iskandar melakukannya untuk menguasai harta benda mereka!" lanjutnya lagi.
Saka semakin penasaran, "jadi Pak Iskandar yang menjadi dalang semua itu. Bisa jadi kasus sekarang juga ulahnya!" tebak Saka.
Pram terdiam sambil manggut-manggut, "bisa jadi. Tapi kasusnya gak bisa selesai. Kau tahulah! Kita tidak bisa berbuat apa-apa!"
Akhirnya, Saka juga menjadi pendiam. Dia memilih melanjutkan makannya. Tapi, kepalanya sudah terisi tentang sosok Pak Iskandar. Sosok yang sangat ambisius dan kejam.
__ADS_1
*****