
Puan memang sangat tertarik dengan benda yang bernama buku. Dia melihat halaman demi halaman dengan sangat antusias.
Anthony sangat menyayangkan kalau semua buku itu dalam bahasa belanda atau bahasa asing lainnya.
"Kemarilah! Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu."
Sedikit ragu, Puan mengikuti perkataan Anthony.
"Sebelum membaca, kamu harus menulis dulu. Lihatlah dan perhatikan yang akan aku tulis!"
Anthony menuliskan sesuatu di atas kertas. Itu adalah nama Puan.
"Ini adalah namamu, P U A N!"
Anthony mengeja hurufnya satu persatu.
"Jadi inikah namaku? P U A N!"
Puan mengikuti ucapan Anthony.
"Tulislah namamu disini."
Puan kebingungan.
Tiba-tiba, Anthony meraih tangan Puan dan menarik tubuhnya lebih dekat.
"Peganglah tanganku ...," bisik Anthony.
Puan terpaku. Menahan napas begitu Anthony menggenggam tangannya erat.
"Ayolah, jangan bengong!"
Puan tersadar dan mengendalikan dirinya lagi.
__ADS_1
Suasana gua itu menjadi sunyi. Hanya ada dua makhluk yang sedang belajar menjadi manusia.
"Horeee, aku sudah bisa, Tuan. Lalu ..., bagaimana menulis namamu?"
Anthony tersenyum dan menuliskan namanya di kertas kusam itu.
"A N T H O N Y, namaku adalah Anthony!"
Kali ini, Puan terdiam. Tersadar baru mengetahui nama Anthony sebenarnya. Matanya sedikit berkaca.
"Jadi nama Tuan adalah Anthony?"
Anthony ikut tertegun. Baru sadar kalau selama ini, Puan hanya memanggilnya Tuan dan tidak pernah memanggil namanya.
"Aakh! Kenapa aku bodoh sekali. Sudah sepuluh tahun tapi aku tak pernah memberitahukan namaku. Jadi, setelah ini panggillah namaku saja. Anthony!"
"Anthony ...."
Lidah Puan terasa kaku.
Anthony melotot. Sifat Puan memang seperti itu. Terkadang, Anthony menjadi sedikit jengkel.
"Terserahlah!"
Anthony beranjak dari tempat duduk. Dia tidak ingin lebih lama berdebat dengan Puan.
Sementara Puan kembali asyik melihat buku-buku.
"Lihatlah, Tuan. Dia sangat cantik! Seperti dalam negeri dongeng."
Anthony menoleh dan memerhatikan apa yang dilihat Puan. Ternyata Puan sedang melihat noni belanda yang lengkap memakai riasan dan gaun yang sangat cantik. Meski tanpa warna, namun kecantikan mereka masih terlihat.
"Jadi, seperti ini gadis-gadis di negerimu, Tuan. Mereka sangat cantik! Kalau aku bertemu pasti akan jatuh cinta! Seharusnya kamu mendapatkan salah satu dari mereka, Tuan!"
__ADS_1
Anthony terdiam. Mereka memang sangat cantik tapi dari kalangan bangsawan. Mereka tidak akan mau bersamanya. Kecuali Karen.
"Oh, iya. Aku mempunyai sesuatu untukmu!"
Anthony segera menghampiri peti besar yang didapatnya dari kapal dulu. Dia pun segera membukanya dengan antusias. Tak lama wajahnya berubah cerah.
"Lihatlah! Aku punya gaun seperti di dalam buku itu!"
Puan tercengang. Anthony sedang memegang gaun seperti yang ada di dalam buku.
Gadis itu langsung melonjak kesenangan dan mendekatinya.
Anthony tersenyum melihat Puan berputar-putar kegirangan dengan gaun menempel ditubuhnya. Sesaat dia tertegun.
"Pakailah gaun itu! Aku akan keluar. Tapi jangan lama-lama, lima menit saja aku akan kembali!"
Anthony langsung berjalan keluar gua. Sementara Puan kebingungan karena tidak tahu bagaimana memakai gaun itu. Dia pun beberapa kali mencobanya meski selalu gagal.
Sepuluh menit berlalu. Anthony sudah membayangkan Puan yang sudah memakai gaun. Dia pasti sangat cantik. Namun begitu kembali, dia hanya melihat Puan terduduk sambil melihat gaun dengan wajah sedih.
"Mengapa kamu belum memakai gaun itu?"
Puan mendongak. Matanya sedikit berkaca.
"Aku tidak tahu cara memakainya!"
Anthony tersenyum. Entah bagaimana perasaannya terhadap Puan. Dia masih saja seperti anak kecil.
"Maafkan aku, seharusnya aku membantumu."
Anthony meraih tangan Puan dan membantunya berdiri. Sedikit demi sedikit, dia membantu Puan memakaikan gaun yang memang sangat susah.
Hampir setengah jam, akhirnya Puan berhasil memakai gaun yang diberikan Anthony. Sementara Anthony hanya tertegun melihatnya.
__ADS_1
Kini, Puan hampir berubah seperti seorang pengantin. Anthony merasakan jantungnya kembali berdegup kencang. Meski dia harus tetap sadar. Puan tidak akan pernah menjadi pengantinnya.
*****