KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
SENJATA MAKAN TUAN #2


__ADS_3

Harry masih tak sadarkan diri di ruang medis di lapas. Kepalanya memang tidak terluka namun benturan yang cukup keras melukai bagian dalamnya.


"Pak Harry harus cepat dibawa ke rumah sakit, pak. Saya khawatir benturan keras itu mengakibatkan kepalanya terluka di bagian dalam!" jelas dokter lapas.


Tangan Iskandar gemetaran. Dia merasa sangat menyesal sekaligus geram dengan kelakuan kedua vampire itu. Mereka harus pergi secepatnya.


"Kurang ajar kedua orang asing itu. Mereka akan merasakan akibat perbuatannya! Siapkan semuanya. Aku akan membawa anakku ke rumah sakit!" ungkap Iskandar dengan penuh amarah.


"Baik, pak!" Dokter pun segera berbicara dengan perawat dan sipir penjara.


Tak lama kemudian, sebuah ambulance datang ke lapas dan langsung keluar lagi setwlah Harry audah berada di dalamnya. Iskandar juga mengikuti ambulance itu dengan mobilnya.


Para intel memerhatikan mereka dengan saksama. Saka belum keluar juga padahal hari sudah mulai gelap.


"Kapan agen A akan keluar?" tanya intel A1 masih cemas.


"Katanya sih tidak sampai malam. Itu karena ada masalah dengan anaknya Pak Iskandar jadi para petugas lebih waspada!" jawab A2 juga ikutan cemas.


"Mudah-mudahan semua lancar dan agen A cepat keluar lagi!"


Mereka sangat tahu keadaan di dalam lapas. Siapapun bisa masuk namun belum tentu bisa keluar lagi.


Di ruangan lain, Saka masih dalam penyamaran. Luka bekas pukulan di wajahnya mulai terasa perih. Namun Saka harus bisa menahannya karena belum bisa menemukan kedua pembunuh yang sedang dicarinya. Menurut para intel, keduanya belum keluar dari lapas sejak dari kemarin.


"Heh! Kau ikut denganku!" seru seorang sipir bertubuh tambun.


"I-iya, pak!" Saka melirik nama di dada baju sipir itu. Namanya Karso. Dia juga intel yang bertugas di dalam lapas.


Karso menarik tangan Saka yang masih terborgol. Mereka belum sempat bicara sejak Saka tiba.


Tiba-tiba, Karso menyelipkan secarik kertas di tangan Saka. Namun, dia terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kamu tunggu disini sebentar! Nanti aku akan menjemputmu lagi," ucap Karso sebelum pergi.


Ternyata, Saka berada di ruangan tanpa CCTV. Di sana banyak layar monitor yang terhubung dengan ruang tertentu. Biasanya digunakan untuk mengontrol setiap ruangan. Saka segera membaca kertas yang tadi diberikan Karso.


** Yang kamu cari ada di ruang K3. ini kunci borgolmu **


Di dalam kertas itu ada sebuah kunci yang sangat kecil. Saka tersenyum. Dia sudah terlatih untuk membuka borgol sendirian. Dengan mudah, tangannya pun terlepas dari borgol itu.

__ADS_1


Setelah itu, Saka mencari salah satu tombol yang tertuju ke ruangan nomor K3. Dia pun menekan tombol tersebut.


Tiba-tiba, sebuah layar monitor menyala. Saka melihatnya dengan saksama. Ruangan itu gelap gulita sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas. Dia pun menekan tombol lampu sehingga ruangan itu pun menjadi terang.


Tiba-tiba, muncul dua sosok menyeramkan di dalam layar monitor. Saka sangat terkejut melihatnya. Postur tubuhnya seperti manusia namun wajah mereka seperti monster! Apakah mereka sudah menjadi vampire??Saka menjadi lemas. Kedatangannya terlambat. Kedua pembunuh itu sudah menjadi monster!


*****


Nara sangat senang Ratih akan segera bertemu dengan puterinya. Mereka tidak pergi ke pulau seberang dengan perahu. Diva mengajaknya menaiki helikopter.


Nara hanya tertegun begitu sampai di depan helikopter yang sudah siap untuk berangkat. Sementara Ratih memandanginya dengan penuh takjup.


"Waah! Aku gak pernah naik helikopter. Seandainya ada Dara, pasti akan lebih menyenangkan!" celetuk Ratih yang langsung berlari mendekati helikopter itu.


Sementara itu, Nara malah menjadi pucat, "apa kita harus menaikinya?" tanya Nara yang sedikit takut dengan kendaraan itu. Dia sudah sering melihatnya namun tidak pernah mau ikut meski dokter Alex sering mengajaknya.


Diva tahu kalau istrinya sedikit takut. Dia pun menggenggam tangan Nara erat.


"Ayolah kita naik. Akan lebih cepat kalau naik helikopter! Lagipula, ada aku bersamamu!" ucap Diva menenangkan Nara.


Ternyata, Diva bisa mengendarai helikopter itu sendiri. Sebelumnya, Tuan Alex yang membawanya dari pulau seberang. Namun ketika kembali, dia memilih naik perahu bersama Puan.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di apartemen milik Alex. Mereka pun langsung menuju ke kamar Puan.


"Daraaa! Aku kangen tahu," ucap Ratih yang langsung memeluk Dara yang sebenarnya adalah Puan.


"Iya, Rat. Aku juga kangen!" ujar Puan yang menyambut pelukan Ratih dengan lebih erat.


"Kenapa kamu gak ngomong kalau kuliah disini? Untung saja aku bisa masuk meski sedikit terlambat!" gerutu Ratih.


Puan hanya tersenyum, "maafkan aku, Rat. Aku juga mendadak kuliah disini. Tuan Alex yang sudah mengatur semuanya," jawab Puan dengan sedikit rasa bersalah.


"Iya, Ra. Aku juga dibantuin Paman Diva. Katanya pemilik Universitas Anthony adalah keluarga dokter Alex!"


Puan mengangguk. Dia juga sangat mengenal siapa pemiliknya yaitu Tuan Anthony yang sekarang bernama Alex.


"Aku senang kalian sudah sampai disini. Tapi aku harus kembali ke Pulau Kumbang. Anak-anak yang lain masih ada di sana!" terang Keanu yang menjaga Puan setelah Tuan Alex pergi.


"Bapak siapa, ya? Maaf, saya adalah temannya Dara," ujar Ratih yang baru melihat Keanu.

__ADS_1


"Ini adalah pamannya Dara, Nak Ratih. Namanya adalah Keanu. Kami baru bertemu setelah lama terpisah!" jawab Nara sekaligus mengenalkan Keanu.


"Iya, Nak. Saya adalah Paman Keanu. Senang bisa tertemu dengan sahabatnya Dara. Tapi, saya harus kembali ke Pulau Kumbang!" jelas Keanu.


"Baiklah! Hubungi saudara Saka jika sudah sampai di sana," ucap Diva juga sebelum Keanu pergi.


"Apakah Kak Saka? Jadi, Paman Keanu juga mengenal kakak saya?" tanya Ratih penasaran.


"Iya, Nak Ratih. Jadi kamu adiknya Saka, ya. Senang kita semua bisa berkumpul!" ungkap Keanu yang sangat senang bisa mempunyai banyak saudara dan kawan.


Puan tersenyum penuh arti. Dia sangat bersyukur bisa melihat kebahagiaan mereka. Meskipun banyak kejadian buruk yang sudah terjadi tapi beruntung masih bisa bertemu kembali.


*****


Alex sudah sampai ke negeri para vampire. Di sana terbagi menjadi dua kerajaan. Satu adalah kerajaan vampire putih dan satu lagi adalah kerajaan vampire hitam.


Dahulu kala, Vampire putih yang ingin hidup menjadi manusia memilih untuk memisahkan diri dan membuat kerajaan sendiri. Mereka berjanji tidak akan membunuh sembarangan meskipun lawan mereka adalah vampire hitam.


Alex adalah panglima vampire putih. Sejak pertama dia tidak pernah memangsa manusia dan membunuh vampire hitam.


Untung saja ada google translet jadi bisa menerjemahkan pembicaraan yang ada di dalam negeri vampire he he he ....


Kerajaan vampire putih meliputi daratan hangat dikelilingi pegunungan sementara kerajaan hitam meliputi daratan dingin yang dipenuhi es.


Akhirnya, Alex kembali ke tempat mengobati hatinya setelah meninggalkan Pulau Kumbang. Di sana, dia mencoba melupakan Puan walaupun tidak berhasil sedikit pun.


Setelah melewati hutan lebat dengan pepohonan yang tinggi, Alex sampai di istana yang berada di tengah padang luas. Setelah Puan memberikan darahnya, Alex bisa berjalan di dunia terang tanpa kesulitan sedikit pun.


Tepat, di pintu gerbang istana. Muncul seorang vampire putih yang bertugas menjaga pintu istana.


"Selamat datang, Tuan Anthony. Sudah lama, tuan tidak ke sini," sapa seorang gadis cantik bermata biru dengan rambut panjang berwarna putih, tapi bukan uban yeee ....


Di sana, Alex tetaplah Anthony. Seperti pertama kali tiba dengan nama yang sama.


Anthony tersenyum, "keadaanku baik, Gisel. Aku akan menemui Raja. Ada hal penting yang harus aku bicarakan!" ungkap Anthony meski dia yakin, Gisel tahu tujuannya datang ke sana.


"Apa yang terjadi sampai kau kembali ke sini. Apakah kau sudah menemukan gadis siluman harimau itu?" tanya Gisel sedikit sinis.


Ada cerita sebelum Anthony memutuskan untuk kembali ke Pulau Kumbang. Gisellah yang mengatakan kalau Puan akan menitis di tubuh seorang gadis keturunan siluman harimau. Itu karena Gisel bisa meramal masa depan. Makanya, Anthony memutuskan untuk pergi meskipun tahu kalau Gisel mencintainya.

__ADS_1


Anthony tidak bisa mengatakan apa-apa. Gisel sudah tahu apa yang sudah dia alami.


*****


__ADS_2