
Puan terbangun dan merasakan kalau Alex sudah pergi. Kerinduan pun datang padahal belum lama mereka terpisah. Waktu seakan sangat cepat berjalan, Puan harus bisa mengendalikan perasaannya demi masa depan manusia harimau.
"Apa Ratu sudah siap untuk pergi ke kampus?" tanya Keanu ketika mereka berada di meja makan untuk sarapan.
"Tentu saja aku selalu siap, tapi ada sesuatu yang terlupakan. Jangan panggil aku seperti itu. Aku kan keponakanmu, panggil saja Dara!" sahut Puan ringan.
Keanu masih sungkan meskipun Dara memang keponakannya, "baiklah, Dara!" katanya sedikit kaku.
"Bagaimana anak-anak yang lainnya. Mereka tinggal di mana?"
Puan memang tinggal di apartemen milik Alex bersama Keanu.
"Mereka tinggal di villa yang ada di pinggir pantai. Lokasinya tidak jauh dari kampus dan bisa berjalan kaki saja," terang Keanu.
Puan teringat perkataan Alex kalau ibunya akan datang, " kapan Ibu Nara akan datang ke sini? Aku sangat merindukannya," ungkap Nara.
"Mungkin nanti malam Nara dan suaminya akan sampai. Lalu, bagaimana dengan Tuan Alex. Aku tidak melihatnya pagi ini."
Keanu memang tidak bertemu dengan Alex sejak kemarin sore. Dia terlalu sibuk mengatur anak-anak muda yang masih sedikit liar.
Puan terdiam. Dia juga tidak melihatnya lagi sejak semalam.
"Sepertinya Tuan Alex sudah berangkat. Aku bahkan belum mengucapkan selamat jalan," jawab Puan sambil menghela napas. Dia menyesal mengapa semalam tertidur sangat pulas. Apa semalam Dara yang terjaga dan sempat bertemu dengan Tuan Alex?
Puan tidak merasakan kehadiran Dara lagi. Sepertinya dia tidak akan kembali dalam waktu dekat. Meskipun, Puan bisa memanggilnya kapanpun juga.
*****
Sementara itu, Diva masih berbicara dengan Saka di Pulau Kumbang.
"Bagaimana kejadian semalam? Apa kau berhasil menemukan keberadaan vampire itu?" tanya Diva penasaran.
Saka langsung mengangguk. Dia tak sabar untuk menceritakan soal dirinya yang bisa berkomunikasi dengan Tuan Jaka.
"Saya berhasil melumpuhkan salah satu vampire itu. Dia hampir saja membunuh anak buah saya. Tuan Jaka memberitahukan kalau darah saya bisa melumpuhkan vampire lewat peluru!" cerita Saka intinya saja. Dia tidak ingin ditertawakan karena berbicara sendiri di depan cermin.
Diva sangat terkejut dengan cerita Saka. Semalam dia mengetahui kalau Saka sudah menemukan salah satu vampire itu. Tapi dia tidak tahu bagaimana vampire itu bisa terluka.
"Lalu, apakah dia mati? Aku baru tahu kalau vampire bisa terluka! Berarti darahmu sama seperti racun untuk kami!" katanya penuh antusias.
"Iya, tuan. Mungkin karena Tuan Jaka sudah menitis di dalam tubuh saya!" jawab Saka yang juga masih merasa takjup darahnya bisa seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana selanjutnya? Aku harus pergi mengantarkan istriku ke pulau seberang!"
"Saya sudah tahu keberadaan para vampire itu yaitu di dalam lapas. Tapi saya tidak bisa masuk begitu saja. Ternyata lapas itu sudah dikuasai oleh Tuan Iskandar!" jawab Saka sedikit menyesali karena tidak punya kekuasaan yang lebih besar.
Diva hanya mengangguk pelan. Dia juga harus menunggu Tuan Alex pulang.
"Aku pun tidak bisa berbuat banyak. Ada peraturan di dunia vampire agar tidak membunuh sembarangan. Makanya Tuan Alex pergi untuk meminta izin dari para ketua untuk melenyapkan Jack dan Daniel. Mereka punya tujuan yang sangat membahayakan. Bukan hanya untuk manusia harimau tetapi juga manusia biasa!"
"Ayo, kita makan dulu. Aku sudah selesai memasak makanan lezat untuk Nak Saka!"
Nara muncul tiba-tiba. Wajahnya sangat cerah seperti bertemu dengan artis idola. Diva kembali merasakan sesuatu di hatinya.
"Benarkan, bu? Wah, pasti masakan Ibu sangat enak. Iya kan, tuan?" Saka sengaja menanyakannya kepada Diva. Saka tahu kalau Diva sedang cemburu. Maklum mereka kan masih pengantin baru. Usia tidak bisa menghalangi cinta, kata pujangga sih! Meski pun Diva tidak terlihat menua sedikitpun.
"Tentu saja masakannya sangat enak. Itukan masakan istriku," celetuk Diva.
"Iya, ayolah, Nak Diva. Nanti kalau dingin sudah tidak enak, looh!" Nara langsung menarik tangan Saka tanpa memedulikan tatapan tajam suaminya.
Saka tidak bisa menolak dan mengikuti langkah Ibu Nara. Dia sedikit sungkan namun sikap Ibu Nara bisa mencairkan suasana.
"Bagaimana, Nak Saka? Enak kan masakan saya? Dara juga pandai memasak meski jarang. Tapi masakannya juga enak, kok!" ujar Nara seperti sedang mempromosikan puterinya.
Sebenarnya, Nara ingin suatu saat nanti bisa bersanding dengan Saka yang seorang polisi. Perasaan Dara kepada dokter Alex tidak bisa di pegang. Sudah jelas kalau dokter Alex hanya mencintai Ratu Puan.
"I-iya, bu. Masakan ibu memang enak sekali. Saya juga ingin merasakan masakan Dara, bu!"
Mata Nara semakin bersinar. Dia sangat yakin kalau Saka juga menyukai Dara.
"Kalau begitu, sabar dulu ya, Nak Saka. Dara sekarang sedang serius kuliah. Mungkin dua atau tiga tahun sudah lulus. Dara kan sangat pintar. Dia pasti lulus dengan cepat!" ungkap Nara panjang lebar.
Diva tidak suka kalau Nara terlalu banyak bicara soal Dara di depan Saka. Dia tahu kalau Tuan Alex juga menyukai Dara.
"Sudahlah! Biarkan tamu kita makan dulu. Nanti saja bicaranya!" tegas Diva.
Saka hanya diam dan menikmati makanannya. Dia tahu kalau Diva tidak suka kalau Ibu Nara menjodohkan Dara dengannya.
Nara juga tidak bicara lagi. Kali ini, ucapan Diva seperti petir yang menggelegar. Tapi, dia akan tetap menjodohkan Dara dengan polisi tampan itu. Masa depan Dara sudah jelas bila dengannya.
*****
Alex sudah berada di dalam pesawat terbang. Mungkin sekarang sudah puluhan kilometer jauhnya dari Pulau Kumbang. Sangat berat untuk pergi setelah bertemu dengan pujaan hatinya.
__ADS_1
Namun, yang lebih berat adalah peristiwa semalam. Sebenarnya dia ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Puan. Namun, dia tertidur sangat pulas. Alex tidak tega membangunkannya.
Sebelum pergi, Alex sempat mencium kening Puan. Namun, sedetik kemudian mata Puan terbuka. Ternyata, Dara sudah kembali ke dalam tubuhnya.
Tentu saja Alex sangat terkejut. Mengira kalau Dara tidak akan kembali lagi.
Dara hanya menatap Alex tanpa bicara. Matanya sudah mengisyaratkan banyak kata. Kemudian sebutir air mata menetes. Terus mengalir membasahi pipinya.
Alex merasa hatinya tak menentu. Dia seperti tertangkap basah sedang selingkuh. Rasa bersalah tak akan pernah hilang dari hatinya.
Perlahan, Alex mengusap airmata di pipi Dara. Sekali lagi, dia pun mencium kening gadis itu. Kali ini, ciuman itu memang tertuju kepadanya.
"Aku harus pergi. Tidurlah dengan tenang. Aku akan merindukanmu," ungkap Alex dengan penuh perasaan.
Dara hanya tersenyum tipis. Dia pun kembali memejamkan mata. Namun, airmatanya tak berhenti mengalir.
Alex terpaksa meninggalkan Dara seperti itu. Tak ada apapun yang bisa dilakukannya lagi. Kecuali hatinya yang terus bergemuruh.
*****
Pagi-pagi, sebuah mobil mewah sampai di depan gerbang lapas. Tidak kelihatan siapa yang ada di dalamnya karena kacanya hitam kelam.
Intel A1 dan A2 masih tetap memantau dalam penyamarannya menjadi penjual makanan dan minuman di depan lapas.
~~ Siapa yang ada di dalam mobil itu?
A1 bertanya ketika menyadari tidak bisa melihat ke dalam mobil mewah itu. Seperti biasa, mereka berkomunikasi lewat pesan di hape.
~~ Aku juga gak bisa melihat ke dalamnya. Aku akan melihat nomor mobilnya aja!
Jawab intel A2 juga lewat pesan di hapenya. Dia pun segera berdiri dan membawa sebuah ember kecil. Dia akan pura-pura mengambil air dari toilet di depannya.
Intel A1 mengangguk dan hanya melihat A2 bergerak. Dia melihat seorang sipir mendekati mobil itu. Kaca mobil di bagian depan pun di buka. Sopirnya berbicara dengan sipir itu.
Spontan intel A1 berpura-pura selfi dengan bagian belakangnya ke arah mobil mewah itu. Dia pun memeriksa fotonya kemudian tersenyum. Dari sana kelihatan wajah sopir mobil mewah itu.
Intel A2 pun sempat melirik ke arah belakang mobil dan menghapal nomor kendaraan itu.
Tak lama kemudian, mobil mewah itu masuk ke dalam lapas. Jelas orang yang ada di dalamnya bukanlah orang biasa. Hanya pejabat saja yang bisa keluar masuk lapas dengan bebas.
~~ Bagaimana? Apa nopol kendaraan itu sudah kamu ketahui? Aku akan mengirim fotonya pada agen A! Tanya intel A masih lewat hape.
__ADS_1
A2 segera mengirim nopol mobil mewah tadi. Mereka pun hanya mengangguk. Pedagang lain sudah mulai berdatangan. Mereka harus lebih hati-hati agar tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
*****