KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
TAKDIR SANG RATU #1


__ADS_3

Puan tak bisa mengendalikan dirinya begitu tahu kalau Jaka juga berreinkarnasi dalam tubuh kakaknya Ratih.


"Apa kamu masih sakit, Ra? Apa perlu aku panggilkan ibumu?" tanya Ratih ketika melihat wajah Dara bertambah pucat.


"Ti-tidak! Aku gak mau membuat Ibu Nara khawatir. Apa bisa aku minum air putih?"


"Jelas aja bisa, Ra. Kamu tunggu disini aja, ya!"


Ratih langsung ke luar kamarnya untuk mengambil air putih untuk Dara.


Sementara Puan mengintip ke luar jendela. Saka sedang berbicara dengan orang lain. Sikapnya sangat berbeda ketika dengannya tadi. Mungkin Jaka sudah keluar dari tubuhnya.


Sekilas, Puan melihat bayangannya di cermin. Di sana bukanlah dirinya tetapi seorang gadis bernama Dara. Rasa bersalah menghampirinya.


Dara adalah gadis yang baik. Dia tak harus berkorban untuknya. Hanya saja, takdirnya tak bisa diubah. Puan harus tetap berada ditubuh Dara dalam waktu yang lama.


*****


"Bagaimana acaranya? Apa kamu senang, Puan?"


Setibanya di rumah, Alex langsung menanyai Puan. Dia sangat khawatir apalagi Jaka sudah menampakan diri.


"Aku sangat suka, tuan. Banyak barang-barang yang tak pernah aku lihat. Suatu saat aku juga mau merayakan pesta seperti itu. Hanya saja, aku tak pernah tahu kapan tanggal kelahiranku," jawab Puan yang pertamanya antusias menjadi sedikit sedih.


"Pakai tanggal ulangtahun puteri saya saja, non. Dua bulan lagi adalah ulang tahun puteri saya!" celetuk Nara yang mendengar ucapan Puan.


"Dua bulan lagi? Aku sangat senang. Mari kita rayakan ulang tahun puterimu, ibu Nara!"


Puan kelihatan sangat senang. Dahulu, dia tak pernah tahu kapan hati kelahirannya apalagi mengadakan pesta. Pulau kumbang terlalu sunyi, sangat berbeda dengan sekarang.


Alex sejenak melupakan masalah Jaka. Dua bulan lagi akan ada acara yang meriah di rumahnya. Itu adalah perayaan ulang tahun Dara ataukah Puan?


*****


Saka teringat perkataan Dato Patra tentang takdirnya yang adalah titisan Jaka. Juga tugasnya yang akan membawa Puan yang menitis di tubuh Dara kembali ke alamnya.


Namun pertemuan dengan Dara semalam malah dilupakannya padahal mereka sempat berjabatan tangan.


"Kakak gimana sih? Semenjak pulang jadi pelupa. Kakak gak lagi sakit, kan?"


Ratih mulai merasa heran dengan sikap kakaknya.


"Aku baik-baik saja, kok. Kakak juga gak tahu kenapa bisa jadi pelupa!"


"Sebaiknya kakak minta cuti aja, deh. Gimana kalau kita liburan ke pulau seberang. Katanya di sana ada resort yang sangat indah!" usul Ratih.


"Kakak ga bisa, Rat. Apalagi kasus pembunuhan gadis di dalam koper belum diselesaikan!"


Ratih teringat berita pembunuhan gadis di dalam koper yang tengah beredar.


"Apa benar siluman harimau yang sudah membunuh mereka, kak?" tanya Ratih penasaran.

__ADS_1


"Entahlah! Tidak ada tanda-tanda serangan harimau ditubuh gadis itu. Kakak yakin yang membunuhnya adalah manusia!' jelas Saka.


"Iya, kak. Mana ada harimau memasukan orang ke dalam koper! Pasti pembunuhnya sengaja mengalihkan perhatian," ujar Ratih seperti seorang detektif.


"Oh, iya. Temanmu yang bernama Dara itu. Apakah dia anak orang kaya? Kakak melihat mobil yang mengantarnya adalah mobil mewah!"


"Aah, Dara juga. Sikapnya jadi aneh ketika masuk sekolah. Terkadang aku merasa bukan bersama Dara tapi orang lain!"


Saka tertegun mendengar perkataan adiknya. Bisa jadi yang sekarang bukanlah Dara tapi Puan, sang ratu siluman harimau!


*****


Puan memenuhi janjinya kepada Nara untuk belajar agar Dara lulus dari sekolahnya. Kecerdasan Dara masih ada meski sudah menjadi Puan.


Alex juga selalu membimbing Puan meski sebisanya saja. Dia sangat takjup dengan kecerdasan Dara. Meski hanya gadis sederhana tapi pengetahuannya sangat luas.


Waktu itu, Alex sempat mengantar Dara pulang dengan berjalan kaki.


"Aku juga mau menjadi dokter seperti dokter Alex!" ungkap Dara tiba-tiba.


Alex sampai menghentikan langkahnya begitu mendengar perkataan Dara.


"Mengapa kamu mau menjadi dokter? Seorang dokter itu sangat sibuk. Bahkan tak ada waktu untuk dirinya sendiri!"


"Apa dokter Alex juga seperti itu? Tapi mengapa masih bisa menemani saya?" tanya Dara sedikit bercanda.


Alex malah menjadi gugup.


"Tentu saja aku ingin bisa menyembuhkan penyakit ibuku. Aku tahu penyakit ibu semakin parah. Aku berharap bisa menjadi dokter secepatnya!" jawab Dara lugas.


Alex terpaku. Yang dikatakan Dara benar. Penyakit ibunya semakin parah. Kanker paru-paru! Bahkan penyakit itu tidak bisa disembuhkan sampai sekarang.


"Ibumu baik-baik saja jika teratur minum obat! Kau hanya harus lebih memerhatikannya!"


Saat itu Dara terdiam. Tapi Alex mengetahui apa yang ada didalam pikirannya. Sebenarnya Dara sangat sedih.


"Tuan, tuaan! Apakah tuan sedang melamun?"


Lamunan Alex langsung buyar begitu mendengar suara Puan.


"Oh i-ya, Puan. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu!" jawab Alex jujur.


"Apakah sedang memikirkan Dara?"


Alex tertegun. Ternyata Puan bisa membaca jalan pikirannya.


"Aaah, bukan Dara. Ada orang lain!" jawab Alex tak ingin membuat Puan khawatir.


"Tak apa, tuan. Dara adalah gadis yang baik. Pasti banyak orang yang merindukannya!"


"Puan ...," ucap Alex yang sedikit terkejut dengan ucapan Puan.

__ADS_1


Puan hanya tersenyum meski hatinya bergemuruh. Dia menyadari Alex bukankah Tuan Anthony yang dahulu. Kehadiran Dara mampu mengisi hatinya yang terlalu lama kosong.


Alex tak bisa menjelaskan apa-apa lagi. Dia juga tak mengerti pikirannya menjadi sangat kacau. Bayangan Dara selalu datang silih berganti. Dia tidak bisa membedakan antara Puan dan Dara.


*****


Nara menyadari penyakitnya semakin parah. Waktunya semakin sempit dan berharap bisa bertemu lagi dengan puterinya sebelum ulang tahun Dara yang sebentar lagi.


"Istirahatlah, wajahmu sudah sangat pucat, Nara!" ujar Diva yang selalu muncul tiba-tiba.


"Diva! Aku sudah bilang jangan datang seperti ini. Jantungku hampir copot, tahu!"


"Maafkan aku. Aku terbiasa berjalan tanpa suara!"


"Semua manusia pasti berjalan dengan suara. Memangnya kamu hantu?"


Diva terdiam. Dia saja tak tahu apakah seorang manusia atau hantu.


"Minumlah obatmu, Nara. Apa aku harus mengambilnya sekarang juga?"


"Gak usah! Nanti juga aku akan minum. Kenapa sih kamu cerewet bener?" ucap Nara sedikit meninggi.


"Itu karena aku sangat mencintaimu, Nara!"


Nara tertegun mendengar ucapan Diva. Apa dia salah dengar ya?


"Apa? Aku gak dengar?"


Diva tersenyum. Dia tak tahu apakah Nara serius atau sedang bercanda.


"Karena aku sangat mencintaimu, Nara!" ungkap Diva dengan suara cukup kencang.


Nara tercengang. Ternyata pendengarannya masih normal.


"Apa perlu aku katakan lebih kencang lagi!"


"Jangan, Diva! Kamu gila, ya?" ucap Nara seraya menutup mulut Diva dengan telapak tangannya.


"Nanti nona Puan dan Tuan Alex bisa mendengar suaramu!"


Diva semakin senang dengan sikap Nara. Dia sudah tak tahan untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Sudahlah! Aku gak akan teriak lagi."


Diva melepaskan tangan Nara dan menggenggamnya erat.


"Aku sudah terlalu lama menunggu. Saatnya kamu tahu apa yang aku rasakan, Nara. Aku gak mau kehilanganmu jadi minumlah obatmu dan kita akan hidup bersama selamanya!"


Nara menarik napas panjang. Ya! Nara memang sudah menunggu ungkapan hati Diva dari semenjak lama. Tapi sekarang sudah terlambat! Sebentar lagi hidupnya akan berakhir ....


*****

__ADS_1


__ADS_2