
Alex membiarkan Puan melakukan apapun yang diinginkannya. Semua pakaian yang biasa dipakai Dara pun dikenakannya juga. Bahkan sifat dan gaya Dara yang sedikit tomboy pun ditirunya.
"Aku mau naik sepeda motor! Ajari aku, tuan. Sebentar lagi aku akan kuliah. Aku tidak mau Diva mengantarku setiap hari!" ungkap Puan siang itu.
Kali ini, Alex tak bisa membiarkan Puan. Sepeda motor sangat berbahaya jika tidak mahir menaikinya.
"Tidak apa-apa, Puan. Aku yang akan mengantarmu setiap hari!" ucap Alex mengira kalau Puan membatalkan niatnya.
"Dara! Namaku adalah Dara. Apa tuan sudah lupa?" tanya Puan sambil melotot.
"Baiklah, Dara. Kamu tidak perlu naik sepeda motor jika mau pergi kuliah. Aku akan selalu ada di sampingmu!" jelas Alex lagi.
"Tidak, tuan. Kata Ibu Nara, Dara bisa membawa sepeda motor. Aku pasti bisa melakukannya juga, tuan!" ucap Puan sedikit berkeras.
"Maafkan Puan, maksudku, Dara.Aku tidak bisa menuruti kemauanmu soal itu. Aku tidak mau menyesal jika hal buruk terjadi padamu!" Alex juga berkeras.
"Ya, sudah. Aku akan minta diajari anak-anak muda itu. Mereka pasti bisa menaiki naik sepeda motor!"
Puan ngeluyur pergi ke arah anak-anak muda siluman harimau. Mereka sliweran tanpa memakai baju. Kelihatan bentuh tubuhnya yang atletis.
Alex mulai risih melihatnya. Bukan karena iri dengan bentuk tubuh mereka. Tapi, ada sedikit cemburu jika Puan atau Dara di dekat mereka. Alex hanya bisa memerhatikan apa yang dilakukan Puan dari jauh.
"Maaf, Ratu. Kami tidak bisa melakukannya. Kami takut Ratu terluka!" jawab salah satu dari anak-anaka muda itu.
Puan cemberut. Dulu dia terbiasa naik kuda dan sering jatuh. Pasti sama saja jika naik sepeda motor.
Alex hanya tersenyum dari jauh. Dia tahu, para pemuda itu tidak ada yang berani mengikuti kemauan Ratunya.
"Aku sudah bilang kan? Mereka juga takut terjadi hal buruk padamu. Sebaiknya ikut saja denganku. Aku punya sesuatu yang sangat kamu sukai!" ucap Alex.
Kali ini, Puan mengalah. Dia hanya diam sambil mengikuti langkah Alex. Tak lama kemudian, Puan melihat sesuatu yang menakjupkan. Kini, seekor kuda berwarna putih sudah ada di hadapannya.
"Tuaaan! Ini kan seekor kuda!" teriak Puan yang tak mampu menahan rasa senangnya.
Alex ikut merasa senang melihat senyuman kembali menghiasi wajah Puan.
"Iya, Dara. Tentu saja, itu seekor kuda. Ayolah, aku bantu kamu menaikinya!" ujar Alex yang tanpa sadar menyebut nama Dara.
Puan tertegun. Seharusnya dia senang mendengar Alex memanggilnya Dara. Entah mengapa hatinya sedikit perih.
Tapi, Puan tidak mau merusak suasana saat ini. Dia pun langsung menyusul Alex.
__ADS_1
"Kalau kuda sih aku sudah mahir, tuan. Aku bisa menaikinya sendiri, kok!" ungkap Puan percaya diri. Dia pun segera mendekati kuda itu.
Ternyata perkiraannya salah. Ternyata kuda itu malah ketakutan ketika Puan memegangnya. Hampir saja, Puan terjatuh. Untung saja, Alex ssgera menangkap tubuhnya.
"Tuh kan! Kuda itu belum mengenalmu, Dara. Kamu harus mengenalnya dengan baik baru bisa menaikinya!" ucap Alex sedikit keras.
Puan terdiam. Dia merasa sedikit sedih karena tidak bisa melakukan dengan baik, meski hal yang kecil sekalipun.
Alex tahu, Puan sedang merasa sedih. Dia pun segera menaiki kudanya.
"Naiklah, ayo kita kuda bersama!" ungkapnya seraya mengulurkan tangan.
Mata Puan berbinar. Dia pun segera menyambut ukuran tangan Alex dan menaiki kuda di depannya.
Hari itu menjadi lebih berwarna. Semua ganjalan di hati Puan pun sirna. Peristiwa dahulu pun kembali terulang. Mereka sering berkuda berdua menikmati hari sampai menjelang senja.
Puan sudah merasa yakin. Jalannya lebih terang ke depan. Saatnya untuk melakukan tugas terakhir.
*****
Para tahanan semakin resah. Kemarin malam seorang tahanan mati tanpa sebab. Tapi, semua sudah tahu kalau dia menjadi mangsa siluman harimau.
"Kita tidak bisa tinggal diam! Siluman harimau itu harus kita bunuh!" ucap seorang laki-laki penuh tato dibadannya.
"Iya, bener. Gue gak mau jadi korban siluman itu berikutnya!" sahut tahanan bertubuh kerempeng.
"Menurut gue, kalo elo sih aman. Soalnya badan loh itu kerempeng, mana ada dagingnya!" ujarnya disambut tawa yang lain.
"Tapi, mengapa sebelumnya dia dibawa ke ruang isolasi, ya? Mana bisa siluman masuk ke sana?" seorang tahanan mulai penasaran.
"Kata orang yang sedang diisolasi. Sebelumnya ada dua buah bayangan tinggi besar yang datang ke tempat itu. Wajahnya memang gak kelihatan tapi tubuhnya yang tinggi cepat dikenali!" bisik tahanan lain. Dia takut kalau ada sipir yang mendengar karena info itu sangat rahasia.
"Mungkin dia gendoruwo!" celetuk yang lain.
"Mana ada gendoruwo jaman sekarang. Jelas mereka itu bule kesasar. Mengapa mainnya ke dalam penjara?"
"Ssstt, ada sipir!" bisik salah satu tahanan itu.
Semuanya terdiam ketika seorang sipir terlihat. Pembicaraan semakin hangat namun terpaksa berhenti. Mereka langsung merebahkan diri meski pikirannya sudah berjalan entah kemana.
*****
__ADS_1
Harry terpaksa mengirim Rio dan Gerry ke dalam penjara. Dia mengatakan kalau tempat persembunyian yang paling aman adalah di tempat itu.
Tangannya sudah terlanjur kotor. Harry tidak bisa mengelak dari tugas sang ayah. Termasuk menutupi jejak pembunuhan yang dilakukan anak buahnya yaitu Rio dan Gerry.
"Mengapa kita harus bersembunyi di dalam penjara. Memangnya gak ada tempat aman yang lain apa?" tanya Rio yang sedikit kesal.
"Iya, ketua memang aneh. Kita hanya melaksanakan tugas untuk melenyapkan gadis itu. Mengapa sekarang kita juga yang harus masuk penjara!" ujar Gerry tak kalah kesal.
Mereka bicara sangat serius sampai tidak tahu ada yang memerhatikan mereka. Harry sudah menyebar foto keduanya kepada semua intel kepolisian yang ada di pelabuhan.
"Iya, pak. Mereka orang yang sama!" ucap itu yang langsung menghubungi Saka.
"Tolong ikuti mereka. Aku akan menyusulmu!" jawab Saka lewat hapenya.
"Siap, pak!" jawab intel itu.
Dia pun melakukan perintah Saka dan mengikuti kedua buronan itu. Sesampainya di depan penjara, dia pun kembali menelepon Saka.
"Sekarang mereka masuk ke dalam penjara, pak. Petugasnya langsung menyuruh mereka masuk tanpa diperiksa lagi!" jelasnya.
"Baiklah, aku akan ke sana!" jawab Saka yang sudah berada di dalam mobil. Dia pun segera menuju ke penjara.
Tak lama kemudian, Saka sampai di tempat itu. Intel kepolisian masih ada di sana.
"Saya melihatnya langsung, pak. Mereka bisa masuk ke dalam penjara dengan mudah!" lapor intel itu.
Saka mengangguk, "baiklah! Besok saya akan melihatnya. Pasti ada orang dalam yang meloloskan mereka masuk!"
"Tapi, pak. Kata intel yang bertugas di sini. Sebelum kematian seorang tahanan, ada sesuatu yang aneh. Dia melihat dua bayangan tinggi besar masuk ke dalam penjara. Gerakan mereka sangat cepat sehingga tidak kelihatan wajahnya!" ungkap intel itu.
"Dua bayangan tinggi besar?" Saka teringat dengan laki-laki bule yang ada di dekat Dara. Postur tubuhnya juga tinggi. Sewaktu di rumah Harry juga melihatnya meski dari jauh.
Kemudian Hari teringat file yang diambilnya dari ruang kerja Harry. Dia pun mengeluarkan Hapenya.
"Tanyakan kepada rekanmu itu, apakah orang ini adalah orang yang dilihatnya?" perintah Harry.
"Siap, pak!"
Malam itu, Saka memutuskan tidak pulang dan tetap menunggu di tempat itu. Besok dia akan melakukan hal yang sangat penting.
*****
__ADS_1