KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU

KISAH CINTA VAMPIRE DAN GADIS SILUMAN HARIMAU
PESAN DARI JAUH #1


__ADS_3

Akhirnya Saka bisa keluar dari lapas dengan aman. Dia sudah membawa bukti keberadaan makhluk asing di sana. Mereka adalah manusia yang sudah menjadi vampire.


Bonar sudah menunggu Saka di luar lapas dan segera membawanya pergi. Intel satu dan dua pura-pura tidak mengenal mereka. Tapi keduanya sangat lega begitu melihat keadaan Saka baik-baik saja.


"Apa yang kau temukan didalam sana? Apa kau temukan orang yang kau cari?" tanya Bonar begitu mereka sudah jauh dari lapas.


"Ada kejadian yang lebih parah. Aku sudah menemukan mereka. Tapi keduanya sudah menjadi vampire!" jelas Saka sambil meringis. Dia mulai merasakan sakit akibat bogeman Bonar yang sengaja dimintanya.


Bonar tertawa kecil begitu mendengar jawaban Saka, "gila kau! Mana ada vampire di dunia ini!" ucapnya tanpa menghentikan tawanya. Membuat mobil yang dibawanya juga ikut bergoyang-goyang.


"Memang kenyataannya seperti itu. Ada dua orang asing yang membawa virus itu dari luas negeri. Dia juga tinggal di dalam lapas!" ungkap Saka serius. Dia sangat tahu apa yang sudah terjadi di dalam sana.


"Jadi beneran! Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Bonar mulai penasaran.


Saka terdiam. Dia harus membasmi para vampire itu secepatnya. Namun, ada yang lebih berhak melakukannya. Yaitu Tuan Alex dan Tuan Diva. Keduanya juga vampire.


Daniel masih mengejar orang yang dilihatnya di dalam sel. Dia bisa melihatnya dengan mata telanjang. Berarti orang itu bukanlah manusia biasa. Namun sampai di luar lapas, orang yang dimaksudnya sudah tidak kelihatan.


"Aku sudah tidak merasakan keberadaan manusia itu lagi!" ungkap Jack yang tiba-tiba muncul.


Daniel masih ingat jelas mata manusia itu, "ya! Orang itu sudah pergi. Aku ingat tatapan matanya. Dia bisa melihatku padahal semua tahanan tidak ada yang tahu keberadaanku!" katanya.


"Aku akan mencoba mengejarnya! Dia tidak mungkin pergi terlalu jauh," ucap Jack yang langsung bergerak dalam hitungan detik.


Daniel pun tidak tinggal diam. Orang itu sudah melukainya. Dia harus menemukannya dan membalas dendam.


Kedua vampire itu pun terbang melintasi malam. Kegelapan memudahkan mereka untuk bergerak. Saat gelap, kekuatan mereka semakin meningkat.


Saka menyadari kalau ada yang mengejarnya, "cepatlah! Mereka akan menemukan kita!"


"Siapa? Vampire? Aku malah pengen ketemu dengan mereka!" celetuk Bonar. Dia tidak tahu kalau makhluk itu sangat menyeramkan.


Saka harus menyiapkan diri jika vampire itu menemukannya.

__ADS_1


"Apa kau membawa pistol?" tanyanya ketika teringat pistolnya sengaja ditinggal dirumah.


Bonar mengangguk, "ada di dalam laci itu!" katanya seraya menunjuk laci di depan Saka.


Saka segera mencari pistol itu dan mengeluarkan pelurunya. Dia pun menggigit ujung jarinya hingga berdarah. Kemudian melumuri peluru itu dengan darahnya.


Bonar merasa aneh dengan kelakuan Saka, "apa yang kau lakukan dengan pelurunya? Untuk apa kau lumuri peluru itu dengan darahmu?" tanya keheranan.


"Jika kau bertemu dengan vampire itu, tembak saja mereka. Aku bisa menjaga diriku sendiri!" jawab Saka yang kembali memasukan peluru itu ke dalam gagang pistol.


Bonar semakin kebingungan. Kemudian dia seperti melihat bayangan berkelebat dari dalam kegelapan. Wajahnya menegang. Jangan-jangan, bayangan itu adalah vampire!


Kedua bayangan itu terus terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Mereka mengikuti laju mobil yang dibawa Bonar.


Tiba-tiba, bayangan itu melompat ke arah mobil. Bonar sangat terkejut dan segera menghentikan mobilnya.


Saka juga tidak kalah terkejut. Padahal dia tidak merasakan keberadaan vampire di dekat mereka.


"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanyanya kebingungan.


"Aakh, sialan! Cuman musang doang," gerutu Bonar.


"Tenanglah! Mereka masih jauh. Cepat, kita pergi dari sini!" ucap Saka sambil mengembalikan senjata itu ke dalam laci.


"Jangan taruh pistol itu. Kau pegang sajalah! Jaga-jaga kalau makhluk yang kau maksud itu muncul!" terang Bonar yang masih tegang.


Saka menuruti perkataan Bonar. Dia sudah tidak merasakan keberadaan makhluk itu. Mereka sudah benar-benar jauh dan tidak terkejar lagi.


*****


Puan masih berdiri di balkon kamarnya. Dia merasa Anthony atau Alex sudah sampai ke tempat tujuannya. Seorang gadis cantik berambut putih berada di sampingnya.


Kenyataanya, Puan juga bisa melihat masa lalu dan meramal masa depan. Dia terhubung dengan Gisel yang seorang peramal dan melihat apa yang dia lihat. Puan sangat senang karena Anthony dalam keadaan baik-baik saja. Meski sedikit khawatir karena kehadiran Gisel. Dia tahu kalau dulu, Anthony dan Gisel hampir menikah.

__ADS_1


"Jagalah Tuan Anthony!" bisik Puan laksana angin. Begitu lembut, tak terdengar namun sampai ke tujuan.


Gisel memenjamkan mata. Bisikan Puan yang jauhnya ribuan kilo meter sampai juga padanya. Kendala bahasa dan waktu tak mampu menghalanginya.


"Aku akan selalu menjaga Tuan Anthony, karena aku mencintainya!" balas Gisel yang juga seperti hembusan angin. Dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah dirasakan, karena sebagai vampire hatinya sudah mati.


Pesan itu sampai juga kepada Puan. Dia percaya yang dikatakan Gisel karena tidak ada satupun makhluk yang akan melukai yang dicintainya.


Alex yang kembali lagi menjadi Anthony menyadari telah terjadi sesuatu dengan Gisel. Seharusnya Puan bisa berkomunikasi dengannya. Namun sikap Gisel biasa saja.


"Gadis yang pernah kau ramal itu bernama Puan. Kini menitis di tubuh seorang gadis bernama Dara. Aku mencintai keduanya!"


Pengakuan Anthony membuat Gisel bergetar. Ada lagi makhluk lain di hati Anthony. Namun, dia hanya tersenyum tipis.


"Vampire tak punya hati, tidak akan bisa mencintai seperti manusia biasa. Apa kau lupa itu?"


"Di dalam tubuhku ada darah makhluk lain. Separuh manusia dan separuh harimau. Cinta adalah manusiawi, kekuatan adalah harimau dan kegelapan adalah vampire. Itu sudah cukup untuk membuat hatiku kembali hidup!"


Perdebatan itu selalu ada. Bagi Gisel seperti pertanyaan yang tidak ada jawaban. Dia hanya melihat Anthony sangat mencintai kekasihnya. Sesuatu yang tidak akan bisa dia rasakan.


"Apa kau tidak takut kalau Tuan Anthony tidak akan kembali lagi padamu?" tanya Gisel dingin melalui angin.


Hembusan itu menampar wajah Puan. Dia hanya tersenyum.


"Aku sangat yakin dengan cinta Tuan Anthony. Takdir mempertemukan kami kembali setelah ratusan purnama. Maka kami akan terus bersama sampai takdir yang akan memisahkan kami!"


Gisel terdiam. Ratusan purnama juga yang memisahkan dirinya dari Anthony. Nyatanya, kini mereka bertemu lagi. Gisel sangat yakin, dia tidak akan melepaskan Anthony sekali lagi.


Pesan itu pun berakhir. Puan tak bisa berkomunikasi lebih lama. Rasa kantuk menyerang dan membuatnya terlelap.


Gisel pun akan tertidur di dalam kamar yang gelap, padahal matahari masih bersinar terang.


Puan pun akan menjumpai Tuan Anthony di dalam mimpinya. Malam akan segera berakhir. Hari baru akan menyambutnya. Berharap semua akan berjalan baik-baik saja.

__ADS_1


*****


__ADS_2