
"Yang ngutang itu kan papah nya. Kenapa kalian nagih ke mereka" ucap Adrian dengan menggunakan nada tinggi.
"Masa bodo gw ga peduli, yang gw tau mereka harus bayar hutang" ucap nya dengan menunjuk Sabrina dan juga ibu nya.
"Berapa sih hutang nya? Biar gw yang bayar" ucap Adrian dengan mengeluarkan handphone nya dan mengetik sesuatu di sana.
"Wih orang kaya nih" ucap salah satu dari mereka.
"Nih, tulis no rekening nya" ucap Adrian pada bos rentenir tersebut.
Lalu pria tersebut mengetikan beberapa digit no rekening, dan menulis nominal uang yang cukup besar. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Adrian, lagi pula dia banyak uang.
"Pergi! Dan jangan kembali lagi" ucap Adrian pada geng rentenir itu.
Ibu Sabrina yang merasa lega pun langsung terduduk lemas karena ketakutan. Sabrina pun langsung pergi ke dapur untuk mengambil air mineral dan memberikan nya kepada sang ibu.
Lalu Adrian mengajak Sabrina untuk keluar rumah. Adrian mulai menanyakan tentang hal ini, sedikit demi sedikit Sabrina mulai terbuka pada Adrian.
"Sebenarnya bokap Lo punya hutang apa sama mereka?" Tanya Adrian.
"Bokap penjudi. Dia sering minjam uang kesana kemari cuman buat judi" ucap nya dengan menatap langit yang mulai senja.
"Karena ibu sayang banget sama papah. Ibu rela kerja banting tulang buat bayar semua hutang hutang".
"Huft...gw ga tega lihat ibu kerja keras buat orang yang ga tau diri" ucap nya dengan tersenyum hambar.
"Kaya gitu juga dia tetap bokap Lo" ucap Adrian.
"Bokap? Sejak kapan? Dari dulu dia selalu kaya gitu. Ga pernah nafkahin keluarga, selalu terobsesi dengan uang" ucap nya dengan kesal.
Sepertinya Adrian sudah salah ucap, seharusnya Adrian tidak mengatakan seperti hal tadi. Bukan nya merasa lebih baik yang ada malah semakin memperburuk suasana hati.
"Gw bayar nya nyicil ya" ucap Sabrina tiba tiba.
"Bayar apa" ucap nya tak mengerti.
"Bayar yang tadi. Itu kan banyak banget" ucap nya dengan mengira ngira hutang papah nya itu.
"Santai aja, anggap aja gw lagi amal. Lagian duit gw udah numpuk di bank, kan sayang kalo ga di pake" ucap nya dengan tersenyum.
"Ye sombong amat" ucap nya dengan mengerucutkan bibir.
"Lain kali jangan sungkan minta bantuan sama gw" ucap Adrian dengan mengedipkan sebelah matanya. Sontak Sabrina langsung mengalihkan pandangannya karena salah tingkah.
__ADS_1
Sabrina beruntung sekali karena bisa berteman dengan Adrian. Mungkin suatu saat nanti, Sabrina akan menganggap lebih, lebih dari sekedar teman.
3 tahun kemudian...
Adrian sedang mengetik sesuatu di laptop nya, kini Adrian sudah tidak perlu lagi memikirkan kuliah nya, karena dia sudah lulus 3 bulan yang lalu.
Kini Adrian sedang di beri tugas sesuatu oleh ayah nya, karena sebentar lagi Adrian akan di resmikan menjadi CEO di perusahaan nya.
Karena lelah, Adrian memutuskan untuk memainkan ponsel nya. Adrian tidak memainkan game, karena itu akan melelahkan mata dan juga jari nya.
Adrian menscroll sosial media yang dia punya, tiba tiba saja notifikasi nya berbunyi tanda ada yang menyukai postingan nya.
Adrian sempat memposting sebuah foto ketika dia sedang mengerjakan sesuatu di laptop nya itu. Adrian segera melihat siapa orang pertama yang menyukai postingan nya.
Ketika nama pengguna akun itu di baca oleh Adrian, betapa terkejut nya dia.
Naura!" Adrian sempat membulatkan mata nya tak percaya. Adrian melihat akun Naura online kembali, padahal sudah 4 tahun Naura tidak pernah memakai akun sosial media nya lagi.
Adrian mencoba mengucek matanya karena dia takut salah melihat. Ketika di lihat lagi ternyata itu memang Naura.
Adrian mulai melihat profil akun Naura, namun sayang nya sama sekali tidak ada postingan baru di sana.
"Gw harus berpikir positif!" Ucap nya dengan menarik nafas.
Adrian kembali mematikan ponsel nya dan kembali mengerjakan pekerjaan nya. Namun sayang nya pikiran nya sama sekali tidak bisa fokus.
Adrian meraih ponsel yang dia letakkan di ranjang nya itu, Adrian melihat akun Naura kembali, tapi di situ tertulis "aktif 5 menit yang lalu" sontak hal itu membuat Adrian sangat kesal.
Bagaimana bisa Naura muncul di saat seperti ini. Kenapa dia tidak menghilang selama nya.
Lalu Adrian melihat jam di handphone, dan menunjukkan pukul 8 malam. Karena tak mau stres Adrian memutuskan untuk menghubungi Sabrina.
Di sebrang telfon...
"Sayang lagi apa?" Suara Adrian yang manja.
"Lagi marah!" Ucap nya dengan nada sedang menangis.
"Kenapa marah?".
"Lagi pengen marah aja. Pengen makan coklat" ucap nya dengan mengerucutkan bibir.
"Coklat?" Tanya Adrian memastikan.
__ADS_1
"Ya... Pengen makan es krim".
"Es krim?".
"Pengen makan bakso".
"Pengen makan bakso?" Adrian yang tidak tahu lagi dengan mood makan sang kekasih pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Iya__".
"Ah katanya lagi diet!" Ucap Adrian menahan tawa.
"Aku tetap mau!" Rengek Sabrina.
"Ya udah ayo, ayo kita makan!".
"Really?". Kini Sabrina telah mengubah suaranya menjadi manja.
"Iya".
"Seriusan?".
"Iya, ayo!". Panggilan itu pun segera Adrian tutup.
Mereka sudah berpacaran kurang lebih 6 bulan, waktu itu Adrian merasa kasihan dengan Sabrina. Ntah apa yang membuatnya berpikir bahwa Sabrina itu sangat cocok dengan nya.
Meskipun Adrian tidak mencintai Sabrina tapi Adrian yakin, suatu saat nanti dia pasti akan bisa mencintai Sabrina.
Hal itu sudah di larang oleh bunda Lisa, namun Adrian tetap kokoh pada pendiriannya.
Malam ini Adrian bergegas untuk menjemput Sabrina di rumah nya. Kini rumah Sabrina telah pindah di tempat yang lebih layak berkat bantuan dari Adrian.
Di sepanjang jalan Adrian sama sekali tidak bisa fokus, pikirannya selalu tertuju pada Naura. Adrian berpikir, apa yang akan terjadi jika nanti dia bertemu dengan Naura.
Sepertinya Adrian akan sangat sulit menerima kehadiran Naura kembali, jujur saja saat ini Adrian masih sangat mencintai Naura. Hanya saja Adrian pandai menutupi rasa ini.
"A... Buka mulut mu!" Perintah Sabrina dengan menyuapkan sepotong coklat.
"Kamu aja yang makan, aku ga mau makan coklat malam malam" ucap nya dengan mendorong tangan Sabrina.
"Makan aja, cuma sedikit kok. Coklat ini bisa buat suasana hati kamu jadi senang loh" ucap nya dengan tersenyum.
Adrian yang setuju dengan Sabrina pun langsung menerima suapan coklat dari tangan Sabrina. Kini pikirannya sudah mulai membaik berkat coklat itu.
__ADS_1
Untung saja ada Sabrina, Sabrina selalu pandai membuat Adrian merasa lebih baik. Bahkan ketika Adrian terpuruk karena kenangan masalalu pun, Sabrina turut hadir untuk menyemangati nya.