Kisah Naura

Kisah Naura
episode 46 Dokter Ava yang hebat


__ADS_3

"Ra, setidak nya Lo tau kan tentang obat obatan" ucap Ava dengan menunjuk kotak obat obatan.


"Ya tau lah, gw pernah belajar di Korea" ucap nya dengan menyombongkan diri. Ava yang mendengar itu pun hanya tersenyum geli ketika mendengar penuturan Naura.


Naura segera keluar dari kamar untuk menuju halaman rumah dengan membawa speaker.


"Assalamualaikum, selamat malam Ibu dan Bapak" ucap Naura.


"Waalauikumsalam" serempak warga.


"Sebelum nya saya mohon maaf, karena telah mengganggu waktu istirahat Ibu dan Bapak".


"Kedatangan saya dan teman saya, hanya ingin membantu Ibu dan Bapak yang sedang terserang penyakit di musim hujan ini".


"Karena saya mendengar, bahwa Ibu dan Bapak tidak bisa ke kota karena keadaan jalan yang begitu rusak".


"Oleh karena itu, Ibu dan Bapak bebas berobat kepada teman saya tanpa di pungut biaya sedikit pun" ucap Naura dengan tersenyum. Sontak hal itu membuat warga bertepuk tangan karena bahagia.


"Silahkan untuk besok pagi Ibu dan Bapak sudah bisa mendaftar di sini. Pendaftaran saya buka dari jam 6 sampai jam 7".


"Untuk Ibu dan Bapak yang belum bisa mendaftar di hari besok jangan hawatir, karena pendaftaran nya akan di buka hari selanjut nya" ucap Naura dengan tersenyum bahagia.


Mereka yang mendengar nya pun bersorak bahagia karena ada yang menolong hidup mereka.


Selama ini, mereka hanya mengandalkan obat warung yang tak seberapa itu. Karena mereka menyadari pergi ke kota itu bukan satu hal yang mudah.


Setelah selesai mengurus para warga, Naura duduk di depan tv dengan memijit pinggang nya yang terasa pegal itu.


"Aduh neng Naura ke capean ya" ucap Bu Susi.


"Hehe iya nih Bu" ucap nya dengan cengir kuda.


"Bu saya boleh nanya ga" tanya Naura tiba tiba.


"Ya boleh atuh neng, masa mau nanya harus minta izin" ucap nya dengan tersenyum.


"Hehe, itu tadi saya ada lihat plang yang tulisan nya tanah ini di jual. Itu tanah siapa ya Bu" ucap Naura.


"Oh tanah yang dekat kebun jagung ya?" Tanya ibu Susi.

__ADS_1


"Nah iya itu".


"Itu mah tanah pak Dadang, itu rumah nya di samping rumah yang cat nya warna biru" ucap Bu Susi.


"Oh gitu, kira kira pak Dadang udah tidur belum ya Bu?" Tanya Naura.


"Ah jam segini mah belum neng" ucap nya dengan melihat jam dinding.


Setelah mendengar ucapan Bu Susi Naura pun segera pamit untuk keluar rumah. Naura berjalan dengan cepat untuk segera menuju rumah pak Dadang.


Naura bisa melihat beberapa orang yang sedang menonton tv, Naura pun berpikir mungkin itu keluarga pak Dadang.


Naura pun mengetuk pintu dengan mengucap kan salam. Setelah pintu itu di buka, Naura di persilahkan masuk. Mereka sudah tau siapa Naura, karena tadi pak Dadang juga turut hadir dalam pengumuman yang Naura sampaikan.


"Ada keperluan apa neng" tanya pak Dadang.


"Ah maaf saya mengganggu malam malam pak. Tadi saya denger dari Bu Susi, kalo bapak ada jual tanah yang dekat kebun jagung" ucap nya dengan tersenyum canggung.


"Oh iya bener neng, kenapa gitu?" Tanya pak Dadang.


"Ah begini pak, saya berminat untuk membeli tanah Bapak apa saya masih punya peluang untuk membeli nya pak?" Tanya Naura ragu.


"Ah baiklah, kalau begitu saya boleh minta sertifikat tanah dan sekalian harga nya" ucap Naura.


Ntah apa yang akan di lakukan Naura dengan tanah itu, atau mungkin tanah itu akan di buat untuk kuburan nya nanti.


"Ini neng sertifikat nya, tapi kira kira buat apa ya neng sama tanah itu. Kalo saya lihat neng masih sangat muda, apa mungkin neng bisa membeli dengan harga yang tidak biasa?" Tanya pak Dadang ragu ketika melihat Naura yang keadaan nya masih sangat muda.


"Bapak tenang saja, berapun harganya akan saya beli. Karena saya sangat butuh tanah itu" ucap Naura dengan tersenyum.


Pak Dadang pun hanya tersenyum kikuk dengan Naura. Pak Dadang melupakan sesuatu bahwa Naura ini pasti orang kaya, dengan harga segitu sudah pasti akan sangat mudah bagi nya.


"Baiklah pak, uang nya sudah saya transfer lewat handphone saya. Besok atau lusa Bapak bisa cek di bank terdekat" ucap Naura dengan berlalu pergi setelah pamit.


Pak Dadang pun hanya bengong setelah melihat Naura pergi, segitu mudah nya mengeluarkan uang, orang kaya memang beda.


***


Keesokan pagi nya Naura bangun dari jam 4 untuk mempersiapkan semua nya, bahkan Naura akan membantu Bu Susi memasak.

__ADS_1


Sedangkan Ava, dia sedang mondar mandir karena pusing. Ava melupakan sesuatu bahwa warga di desa ini cukup banyak, Ava takut jika alat alat medis nya akan ada yang kurang, maka dari itu Ava sedang menghubungi papah nya agar mengirimkan orang untuk membawakan suntikkan dan beberapa obat lain nya.


Kini Naura sudah berada di bawah tenda yang dia buat tadi subuh dengan Ava. Naura sudah menyiapkan alat tulis nya untuk mendata siapa saja yang sakit.


Setalah beberapa jam, Ava memulai memeriksa pasien dengan nomer urut 1 dan seterus nya. Sedangkan Naura, dia bertugas untuk memberikan obat kepada pasien.


***


Setelah beberapa jam berlalu, naura mulai kewalahan karena obat di beberapa boxs telah habis. Padahal baru 70 pasien tapi obat sudah mulai habis.


Dengan sangat terpaksa Ava menyudahi dulu kegiatan ini. Untung nya para warga bisa mengerti, mereka pun segera pulang ke rumah masing masing.


"Cape bestie" ucap Naura dengan memejam kan mata nya.


"Eh mereka udah berangkat kesini kan?" Tanya Naura.


"Aman, pokonya besok kita mulai lagi" ucap Ava dengan membereskan beberapa sampah bekas suntikan.


"Sahabat gw hebat banget" ucap Naura dengan tersenyum ketika melihat Ava.


"Kenapa gitu?" Tanya Ava dengan malu malu.


"Lo hebat karena nolong orang tampa pamrih".


"Bahkan Lo rela ke desa desa demi nolong mereka".


"Papah bilang ke gw, dokter yang mulai itu akan menolong orang di mana pun dia berada, dan tidak akan memanfaatkan warga kecil" ucap nya bangga.


"Wah papah Suga memang ter the best" ucap Naura dengan mengacungkan kedua jempol nya.


"Sejak kapan Lo manggil bokap dengan sebutan papah?".


"Sejak kemarin" ucap nya.


Karena bosan, Naura memutuskan untuk berjalan jalan dengan Ava. Mereka berdua begitu senang ketika melewati hamparan perkebunan yang hijau itu. Bahkan sesekali Naura akan memotret pemandangan indah itu.


Ketika Naura sedang asyik dengan handphone nya, Naura tak sengaja menabrak orang dan handphone nya pun terjatuh.


"Maaf" ucap Naura dengan membungkukkan badan nya dan mengambil handphone nya.

__ADS_1


__ADS_2