Kisah Naura

Kisah Naura
episode 6 di usir


__ADS_3

"Thanks" ucap Naura dengan senyum. Luka lecetnya itu di obati dengan di bantu oleh ava dan juga adrian. Tak lama kemudian ulangan pun di mulai, Naura santai ketika mengerjakan soal tersebut, karena Naura sangat tau dengan pelajaran itu. Tidak seperti yang lain, yang menengok kanan kiri untuk meminta jawaban.


Setelah ulangan pertama selesai, kini jam istirahat dimulai. Naura tidak bisa kekantin karena kakinya semakin sakit. Sedangkan ava dia lebih memilih untuk menemani naura.


Tiba tiba saja Adrian dan varo datang membawakan bakso dan minuman nya. Ava yang melihat itu hanya tersenyum malu ketika melihat vello.


"Ini gw bawain makanan, kita makan nya bareng di sini aja" ucap Adrian yang meletakkan 4 mangkuk bakso di meja. 2 di meja Naura 2 nya lagi di meja ava.


Adrian dan Naura makan dengan cara berhadapan, begitu juga dengan varo dan ava.


"Makin sosweet aja kalian," goda Naura. Tiba tiba saja ava keselek ketika mendengar godaan dari naura. varo yang melihat itu langsung memberikan nya minum es teh manis yang dia bawa tadi.


"Ah manis banget sih kalian" ucap Naura


"Lo mau juga kaya mereka? Kalo mau tinggal bilang, gk usah pake kode kodean" ucap Adrian


"Apaan sih, jangan ngelantur Lo kalo ngomong" ucap Naura.


"Hehe iya iya cantik" ucap Adrian dengan ketawa renyah.


Di srempet orang dijalanan sudah cukup membuat Naura merasa yakin kalo ini adalah ulah mama tirinya. Ketika Naura di srempet motor, si pengendara tersebut hanya menengok dan mengacungkan jari tengah, bukankah sudah jelas bahwa ini ulah mama tirinya.


Naura harus bisa mencari orang suruhan tersebut, untuk membuka kedok jahat mama tirinya. Ketika sampai dirumah pun, mama tirinya selalu pura pura baik padanya di depan papanya. Dasar penjilat! Itu lah kata kata yang selalu Naura katakan ketika mamanya pura pura baik padanya.


Selama ini banyak sekali masalah yang menimpa Naura, mulai dari sesuatu yang tidak disengaja maupun di sengaja.


Malam ini Naura sedang duduk di teras rumah dengan memainkan ponselnya, tiba tiba saja security datang dengan membawa sebuah kotak kardus.


"Non, ada yang nitip ini ke mamang. Katanya suruh di kasihin ke non Naura" ucap security.


"Dari siapa mang?" Tanya Naura


"Gk tau, tadi tiba tiba orang nya langsung pergi," ucap nya.


Karena penasaran Naura langsung membuka isi kotak tersebut, dan ketika dibuka betapa terkejutnya Naura. Isi yang ada di dalam kotak tersebut adalah foto Naura dengan almarhum ibu nya. Tidak ada orang yang tau foto tersebut kecuali keluarganya.


Tidak hanya sebuah foto, di dalam kardus tersebut juga ada sebuah botol ukuran kecil yang sepertinya itu adalah racun. Naura baru sadar, sepertinya racun ini adalah yang di gunakan untuk membunuh ibunya.


*Siapa yang ngirim ini? Dan apa tujuannya* batin Naura dengan masih menggenggam botol tersebut.

__ADS_1


Sedangkan di dalam sana mama tirinya sedang mengintip, dia merasa puas dan tersenyum penuh kemenangan. Selanjutnya dia akan melancarkan rencana keduanya untuk menyingkirkan Naura.


"Naura" panggil mama tirinya. Segera Naura memasukkan foto dan obat itu kedalam saku celananya.


"Iya" teriak Naura


"Tolong buatkan mama dan papa teh ya" ucap mama tirinya, dengan senyum smirk.


Tanpa curiga, Naura masuk kedalam dan membuatkan teh untuk mereka dan menyajikan nya di depan mereka.


Sebelum itu mama tirinya sudah meminum racun yang sekiranya tidak akan membuat nya mati, tapi cukup untuk membuat Naura di benci oleh papanya. Racun yang di minumnya itu akan bekerja setelah 10 menit penggunaan. Tentu saja itu akan menambah kecurigaan pada Naura.


Setelah Naura menyajikan teh itu, Naura pergi ke kamar nya. Tak lama kemudian mama tirinya tiba tiba merasakan sakit di tenggorokan nya dan mulai bermain sandiwara.


"Mah, kamu kenapa mah" panik papa Naura


"Ma_ma juga_gk tau pah. Se_pertinya di minu_man itu a_ada racunnya" ucap mama tirinya dengan ucapan terbata.


"Tidak mungkin mah" ucap papa Naura


"Tapi_tadi yang mem_buat minuman itu_adalah na_naura" ucapnya masih terbata.


Yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar adanya, bahwa yang membuat minuman itu adalah Naura tadi. Jika memang Naura membencinya dia pasti akan diracuni juga, tapi ternyata hanya istrinya yang diracuni. Itu artinya Naura hanya membenci istrinya.


Dengan marah, dia berjalan ke arah kamar Naura. Sedangkan Naura dia sedang mengamati racun tersebut. Braaakkk....


Suara pintu di buka dengan cara di tendang terdengar sangat nyaring hingga membuat Naura terlonjak dari duduknya.


"Anak kurang ajar" marah nya dengan merebut sesuatu yang sedang di pegang oleh Naura.


"Oh jadi ini, ini yang kamu masukkan kedalam minuman istriku" ucapnya dengan menunjuk sebuah botol kecil


"Apa maksud papah, aku gk ngerti", ucapnya yang masih bingung dengan keadaan.


"Kamu sengaja kan mau membunuh istriku, kurang ajar kamu" plakkkk... Suara tamparan keras di pipi Naura, sampai membuat telinganya berdengung.


"Papah nampar aku?" Ucap Naura yang tak percaya telah di tampar oleh papanya sendiri. Padahal papanya tidak pernah menamparnya sama sekali.


"Ya, kamu pantas mendapatkan nya" ucapnya dengan menggunakan nada tinggi.

__ADS_1


"Apa yang papah tau hah, istri papah itu yang udah bunuh mamah. Mamah meninggal itu karena dia pah, dia yang udah ngeracunin mamah" ucapnya yang sudah tidak bisa menahan emosi.


"Anak kurang ngajar, anak set*n. Berani beraninya kamu menuduh istri ku berbuat seperti itu" marahnya dengan mencopot sabuk yang dia kenakan dan mulai memukul Naura menggunakan sabuk.


"Rasakan ini" ctaaakkk... Ctaaakkk. suara pukulan nya begitu terdengar jelas di telinga Naura.


"Cukup! Cukup tuan. Tolong maafkan non Naura" ucap bi Ijah dengan memeluk Naura.


Naura hanya diam tanpa menangis, ingin menangis tapi dia tidak mau terlihat lemah.


"Minggir kamu, atau kamu mau saya pukul juga" teriaknya pada bi Ijah.


"Bi, pergilah! Biarkan dia berbuat semaunya" ucap Naura dengan mendorong bi Ijah dengan tangan gemetarnya.


"Enggak non, bibi gk mau. Biarin bibi aja yang gantiin non Naura" ucapnya dengan menangis.


"Kurangajar kamu" marahnya dan akan melayang kan sabuk itu kepada bi Ijah, namun niatnya terhalang ketika Naura berdiri dan memegang sabuk itu dengan erat.


"Jangan pernah kamu menyakiti orang yang aku sayangi" ucapannya penuh dengan penekanan.


"Oh, sudah berani tidak sopan kamu sama saya ya. Pergi kamu dari rumah saya! Pergi!!dan awas kamu kalo masih ada di sini ketika saya pulang nanti" ucapnya dengan menunjuk Naura. Papa nya itu segera pergi dan menyusul istri nya yang sudah di larikan kerumah sakit.


"Bi, bibi gapapa kan" ucap Naura


"Bibi gapapa non. Tapi luka non Naura harus segera di obati biar gk infeksi" ucapnya dengan mengusap air matanya.


"Gk ada waktu bi, Naura harus segera pergi dari rumah ini" ucapnya dengan bergegas mengemasi baju dan alat sekolahnya.


"Non, jangan pergi dari sini" ucap bi Ijah


"Gk bisa bi, Naura harus tetap pergi dari sini" ucapnya yang sudah memasukkan barang barangnya kedalam tas.


"Naura pamit, assalamualaikum" ucap Naura dengan memeluk bi Ijah.


"Waalauikumsalam, hati hati non"ucapnya.


Naura keluar rumah papanya dengan menggunakan motor matic nya.


Di jalan Naura merasakan perih pada tubuhnya yang terkena terpaan angin malam itu. Naura turun dari motor matic nya, dan duduk di sebuah kursi, taman itu terlihat tidak terlalu banyak orang.

__ADS_1


Naura duduk dengan memandangi tangan dan kakinya yang terlihat lebam, lecet, dan berdarah. Naura juga merasakan sakit pada pipinya, Naura ingin menangis tapi air matanya itu ia tahan karena tidak mau di dengar oleh orang.


Naura mengeluarkan sebuah foto yang ada di dalam sakunya, dia memandangi wajah ibu nya yang cantik itu, dengan berkata...


__ADS_2