
"Iya gw inget" ucap Naura dengan mengerutkan dahi nya.
Adrian pun langsung mengeluarkan flashdisk dari dalam jaket nya dan meletakkan nya di atas meja. Soo Hyuk yang paham dengan situasi ini pun langsung pergi untuk mengambil laptop nya.
Dengan sangat cepat Soo Hyuk memasang flashdisk itu di laptop nya dan melihat apa yang ada di dalam flashdisk itu.
***
Beberapa hari kemudian setelah Naura, Soo Hyuk, dan juga Adrian mengumpul kan semua bukti yang ada. Kini Naura dan Soo Hyuk sudah bersiap untuk datang ke kantor polisi dan menyerahkan semua barang bukti.
Naura sangat takut karena bukti nya itu tidak di terima, atau mungkin para polisi itu tidak akan mempercayai nya lagi.
"Naura ya!" Ucap seseorang.
Naura yang kaget pun langsung menolehkan kepala nya, begitu juga dengan Soo Hyuk.
"Oh, halo pak Bram" ucap Naura ramah denga menjabat tangan.
"Sedang apa di sini?" Tanya nya.
"Ah hanya ada urusan sedikit" ucap Naura dengan tersenyum.
"Dia siapa?" Tanya Soo Hyuk.
"Ah, dia itu adalah salah satu rekan kerja di Perusahaan. Dan dia juga adalah salah satu orang yang pernah berteman akrab dengan mamah" jelas Naura.
"Kakak mu?" Tunjuk pak Bram pada Soo Hyuk.
"Ah iya pak, dia kakak saya" ucap Naura dengan tersenyum malu.
"Wah ternyata dia sangat mirip kamu" ucap pak Bram dengan meneliti setiap inci wajah Soo Hyuk.
"Hmm... Ngomong ngomong bapak ada urusan apa di kantor polisi?" Tanya Naura heran.
"Saya hanya ingin bertemu dengan sahabat saya sewaktu di SMA" ucap nya dengan mencari cari sahabat nya itu.
"Nah itu dia, dia adalah sahabat ku" tunjuk nya pada seorang polisi yang seperti nya memiliki jabatan tertinggi di antara para polisi lain nya.
Kini Naura seperti sedang memikirkan sesuatu ketika melihat polisi itu.
*Apa gw memanfaatkan kesempatan aja ya, mungkin emang terkesan ga sopan tapi apa boleh buat. Gw takut kalo sama polisi yang lain mereka ga akan percaya sama gw* batin Naura dengan masih memandang ke arah polisi itu.
"Ya sudah kalau begitu saya kesana dulu__".
"Hmm... Pak tunggu sebentar!" Ucap Naura dengan menahan pak Bram.
"Ya?".
__ADS_1
"Hmm... Apa saya boleh minta bantuan bapak?" Tanya Naura ragu.
***
Tok tok tok...
Tok tok tok...
"Iya sebentar, ga sabaran banget sih" ucap nya.
Ceklek....
Pintu itu pun di buka oleh sang pemilik. Ketika di buka dia pun kaget ketika melihat siapa yang datang.
"Selamat siang Bu, apa benar ibu yang bernama ibu Ema?" Tanya polisi itu.
"I__iya benar" ucap nya dengan gemetar.
"Kami datang ke sini karena mendapatkan laporan atas tuduhan bahwa ibu telah membunuh seseorang" ucap nya.
"Eh maksud nya apa ya, bapak jangan sembarangan ya kalo ngomong, saya ga pernah berbuat seperti itu" ucap nya dengan berteriak.
"Ada apa sih mah?" Tanya Darma yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Ada apa ya bapak datang ke rumah saya?" Tanya Darma yang sudah mulai was was.
"Iya saya sendiri" ucap nya.
"Kalau begitu bapak ikut kami ke kantor polisi juga" ucap nya dengan memberikan isyarat kepada bawahan nya agar menahan mereka segera.
"Loh ga bisa gitu dong pak"
Para polisi pun langsung menahan mereka dengan memborgol tangan mereka. Kini Ema dan Darma pun mulai bingung dengan para polisi ini.
Bagaimana mungkin mereka bisa tahu soal pembunuhan ini, memang nya mereka punya bukti.
***
"Pak ini salah paham, saya tidak mungkin membunuh orang pak. Membunuh belalang saja saya tidak tega" ucap nya bermulut manis.
"Silahkan duduk Bu, ibu bisa menjelaskan nya nanti" ucap polisi itu.
Ema dan Darma pun langsung duduk tepat di depan polisi itu. Lalu polisi itu pun mengeluarkan berbagai barang bukti serta foto orang yang mereka bunuh.
"Kalian bisa melihat nya sendiri" ucap polisi dengan menyodorkan barang bukti.
Ema pun langsung melihat barang bukti itu satu persatu, dia pun terkejut ketika melihat foto yang ada di hadapan nya itu.
__ADS_1
"Veronica?" Gumam nya.
"Ya! Tentu nya ibu tau kan siapa dia?" Ucap polisi itu.
"Pak, saya tidak membunuh dia. Saya itu sangat dekat dengan nya" ucap Ema.
"Tapi dari awal saya tidak bilang kalau ibu membunuh nya?" Ucap polisi itu dengan menyunggingkan senyuman.
Skakmat!! Sepertinya Ema sedang di uji oleh polisi itu.
"Sudah lah Bu, ibu tidak bisa menyangkal lagi, semua barang bukti itu sudah mengarah ke pada ibu dan juga bapak, oh iya satu lagi... Anak bapak" Ucap nya dengan penuh penekanan.
"Saya bacakan ya" ucap polisi itu.
"Ibu Ema, dan bapak Darma. Telah melakukan pembunuhan berencana yang di lakukan sekitar 5 tahun yang lalu. Yang selanjutnya anda telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap putri korban sebanyak 2 kali__".
"Stop! Saya tidak pernah melakukan percobaan pembunuhan pak" ucap Ema dengan menggunakan nada tinggi.
"Iya benar pak, kami hanya menyuruh orang itu untuk melakukan apa yang kami suruh berarti orang itu lah yang salah" ucap Darma tak kalah ngotot.
"Jadi... Secara tidak langsung kalian telah bersekongkol. Haha, menarik" ucap nya.
Ntah sadar atau tidak, tapi Darma sudah mengakui nya sendiri bahwa memang dia lah yang mencoba membunuh Naura.
"Kasus kalian itu terlalu banyak kalau saya bacakan. Jadi kalian langsung saya masukkan ke penjara saja ya, dan tunggu lah di pengadilan untuk memutuskan berapa lama kalian akan di penjara. Oh iya satu lagi, akan saya pastikan manusia seperti kalian itu tidak akan bisa mendapatkan pengacara" ucap nya dan berlalu pergi.
Ema dan Darma pun segera di bawa oleh polisi lain untuk di masukkan ke dalam sel tahanan.
Polisi itu pun berjalan dengan santai dengan postur tubuh yang sangat gagah. Meskipun dia sudah tua, tapi umur nya sama sekali tidak menjadikan nya tua.
Flashback on
"Hmm... Apa saya boleh minta bantuan bapak?" Tanya Naura ragu.
"Ya silahkan saja!" Ucap pak Bram.
"Apa bapak bisa membantu saya untuk bicara dengan teman bapak, kalau saya lihat seperti nya beliau lebih tinggi jabatan nya dari pada polisi yang lain" ucap Naura ragu.
"Ya, dia memang lebih berkuasa dari yang lain, panggil saja komandan. Baik lah ayo saya temani kamu" ucap nya dengan berjalan mendahului Naura.
"Terimakasih pak" ucap Naura dengan mengikuti langkah kaki pak Bram
"Kenapa kamu meminta tolong pada nya, bukan kah ini sangat tidak sopan" ucap Soo Hyuk.
"Apa boleh buat, karena ini kasus pembunuhan, aku akan bicara dengan nya saja" ucap Naura.
"Hey kawan, sudah lama kita tidak bicara ya" ucap pak Bram dengan memeluk polisi itu.
__ADS_1