
"Sorry, gw bener bener nyesel karena udah pergi tanpa ngasih tau kalian semua" ucap Naura dengan menundukkan kepala nya.
"Sekarang Lo telfon Ava, dan ngobrol sama dia!" Perintah Varo.
Kini Naura merasa semakin bersalah karena dia telah menyakiti hati sahabat nya itu.
Malam ini Naura memutuskan untuk pergi ke rumah sakit di mana Ava berada. Naura berbaring di ranjang rumah sakit itu dengan berlumuran darah.
Naura berencana akan membuat kejutan untuk sahabat nya itu. Dengan sangat jahil, Naura memoles beberapa bagian tubuh nya menggunakan lipstik berwarna merah.
Bahkan Naura sudah meminta izin pada direktur rumah sakit itu. Lalu Naura menyuruh salah satu suster untuk menemui Ava dan meminta nya untuk segera menolong Naura.
"Dok!" Panggil suster itu.
"Ada apa?" Tanya Ava dengan mengetik sesuatu di komputer nya.
"Ada pasien gawat darurat dok" ucap nya dengan ngos ngosan.
Ava yang mendengar itu pun langsung berlari untuk menuju ruang pasien itu, Ava sudah bersiap dengan sarung tangan plastik nya dan beberapa alat alat medis.
Ketika pintu ruangan itu di buka, Ava bisa melihat siapa yang sedang berbaring di sana, dengan perlahan Ava maju ke arah nya untuk memastikan bahwa penglihatan nya itu salah.
"R_ra!" Panggil Ava dengan sangat lirih.
Ava tau betul siapa yang sedang di hadapan nya itu. Sahabat yang selama ini selalu dia rindukan, sahabat yang selama ini menghilang entah kemana, dan kini dia sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu.
"Ra! Huuu..." Tangis Ava pecah dengan memeluk Naura.
Naura yang tidak bisa menahan tawa pun hanya bisa menggigit bibir nya agar dia tidak tertawa.
"Cepat bantu aku untuk memasang infus!" Perintah Ava dengan menangis.
Lalu Ava mulai memeriksa bagian mana saja yang terluka, lalu Ava pun merasa aneh ketika memegang noda berwarna merah itu.
"Kok darah nya ga cair?" Gumam nya dengan menggosok darah itu menggunakan jarinya.
"Bentar bentar, ini kok_lipstik!" Ucap nya dengan membulat kan mata nya.
"Yah ketahuan deh" ucap Naura dengan cengir kuda nya.
__ADS_1
Naura pun segera bangkit dari tidur nya itu, Ava pun hanya mendelik kaget karena Naura telah mengerjai nya.
"Apa kabar?" Tanya Naura dengan tersenyum, sedangkan yang di tanya hanya terdiam membisu.
"Kenapa? Lo masih ga percaya ya kalo gw balik ke hadapan Lo?" Ucap Naura dengan memainkan satu alis nya.
Grep... Ava langsung memeluk Naura begitu kencang sampai Naura tidak bisa bernafas. Naura pun memukul punggung Ava pelan agar Ava mau menyudahi pelukannya itu.
"Lo mau bunuh gw ya" ucap Naura dengan memegang dadanya karena sesak.
"Bodo amat, lagian Lo itu kemana hah. Gw tuh hampir gila karena di tinggal Lo" ucap Ava dengan menangis.
"Cup cup anak cantik ga boleh nangis, kalo nangis di gigit kebo loh" ucap Naura dengan mengerucutkan bibir nya.
"Ah persetan sama kebo, di sruduk gajah juga gapapa" ucap nya dengan mengelap air mata.
"Maaf ya, kalo gw udah buat Lo nunggu" ucap Naura dengan membawa Ava keperluan nya.
"Harus nya Lo cerita sama gw, kenapa waktu itu Lo pergi dan kenapa Lo selalu gk angkat telfon gw" ucap Ava dengan mengerucutkan bibir nya.
"Aduh iya deh, nanti gw ceritain kenapa waktu itu gw pergi. Kalo gitu kita keluar cari makan" ajak Naura yang di angguki oleh Ava.
Di sepanjang jalan, Naura menceritakan semua kejadian waktu itu, bahkan ketika mereka sudah sampai di tempat makan, Naura tidak bisa berhenti menceritakan bagaimana kehidupan nya di Korea.
"Jadi Lo beneran anak nya pak So Jun?" Tanya Ava.
"Seperti yang Lo dengar tadi" ucap Naura.
"Gw seneng banget karena sekarang Lo udah ketemu sama orang tua Lo yang asli, terus mereka orang kaya lagi" ucap Ava dengan suara menggoda Naura.
"Biasa aja kali" ucap nya dengan tersenyum.
"Eh iya gw mau gosip. Lo udah tau belum sekarang Bella gimana" ucap Ava dengan wajah yang mulai serius.
"Iya itu gimana, kok sekarang dia kaya gitu" ucap naura yang sudah mulai serius.
Begitu lah mereka berdua, jika sudah berkumpul pasti akan bergosip tanpa henti. (Ampunilah kedua tokoh ku ini ya Allah 😂).
Kini Ava sedang menceritakan banyak hal tentang Bella kenapa dia bisa seperti itu. Bahkan Naura tidak menyangka, karena perbuatan nya Bella sampai harus jual diri karena butuh uang.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Ema? seharus nya sebagai orang tua, dia harus mencontoh kan hal yang baik pada anak nya.
"Mencontoh kan gimana? Ibu nya aja bejat" ucap Ava dengan menyunggingkan bibir nya.
"Iya juga sih, buah jatuh tak jauh dari pohon nya" ucap Naura dengan manggut manggut.
Setelah beberapa menit kedua nya terdiam dengan asyik memandangi langit malam dan lampu lampu yang ada di setiap hamparan rumah dan juga gedung gedung yang menjulang tinggi.
Oh iya, besok gw ada tugas di Depok. Lo mau ikut?" Tanya Ava.
Naura diam sejenak hanya untuk memikirkan apakah dia bisa ikut atau tidak.
"Ok, gw memutuskan lo harus ikut" ucap Ava dengan tersenyum.
"Tenang aja, kita gk akan lama di sana kok" lanjut nya.
Ah sudah lah, mau Naura menolak seperti apa pun, Ava akan tetap mengatakan bahwa Naura harus ikut dengan nya.
Sebagai permintaan maaf nya, Naura akan ikut dengan Ava, sekalian dia akan jalan jalan ke Depok dan menikmati pegunungan yang indah itu.
"Gw kira... Lo ga akan maafin gw" ucap Naura tiba tiba.
"Gila Lo ya. Kita itu udah temenan dari orok dan gw tu tau banget gimana sifat Lo. Gw yakin, Lo pasti punya alasan kenapa Lo pergi" ucap Ava menjelaskan.
"Ahh jadi sayang" ucap Naura dengan memeluk Ava.
***
Ke esokan pagi nya, Naura sudah bangun dan sudah menyiapkan segala keperluan nya selama di Depok nanti.
Sebelum pergi ke rumah Ava, naura sudah pamit dengan So Jun dan juga kakak nya itu. Mereka juga berpamitan jika nanti nya mereka akam pulang ke Korea.
Naura memutuskan tidak akan kembali ke Korea, dan memilih tinggal di Indonesia dengan mengelola perusahaan nya nanti.
Kini Naura sudah di depan pekarangan rumah Ava, Naura sudah sangat lama tidak melihat rumah ini, sekali melihat Naura sudah bisa melihat begitu banyak perubahan pada rumah ini.
"Assalamualaikum" ucap Naura dengan mengetuk pintu.
"Waalauikum_sa...llam. Naura!" Ucap ibunda Ava.
__ADS_1
"Mama!" Panggil Naura dengan berlari menghampiri nya.
"Naura kangen banget sama mama" ucap Naura dengan memeluk Dinda.