
...*Selamat Membaca*...
Kini ketiga ketua guild besar mulai bertindak serius, setelah mendengar rencana busuk Leonard yang ingin menguasai negara serta memberikan persembahan pada dewa yang tidak pernah di ketahui oleh mereka bertiga.
"Hei anak-anak, mulai dari sekarang kami akan mengurusnya. Kalian semua segera pergi dari tempat ini, lalu sampaikan pada semua orang-orang untuk menghentikan pertarungan, karena pengkhianat yang sebenarnya adalah dia." pinta Kazima sambil memberikan tugas pada teman-teman Tatsuya.
Mendengar perkataan seperti itu, ketiga teman Tatsuya menghentikan serangannya. Akan tetapi, Khilar tidak peduli dengan perintah Kazima dan tetap menyerang Leonard secara terus menerus.
"Khilar, hentikan seranganmu, bila kau terus seperti ini mana poinmu bisa habis." bujuk Merry dengan memperingatkannya.
"Benar Khilar, kita harus segera pergi dari sini dan memberitahu pada semua orang untuk menghentikan pertarungan ini." sambung Shenji.
"Sebaiknya kita ikuti perintah yang diberikan oleh tuan Kazima." sambung Zhusan.
"Aku mengerti dengan perasaanmu karena kita sama-sama teman seperjuangan dengannya. Sudahi saja seranganmu dan serahkan semuanya pada mereka." sambung Kimnung.
"Diamlah!" jawab Khilar dengan nada tinggi, sambil menunjukkan raut wajah kesalnya. "Sebelum kalian, akulah yang pertama kali berkenalan dengannya, dan sekaligus kuanggap sebagai kakakku sendiri." lanjutnya dengan meneteskan air matanya kembali.
"I-itu benar, kamulah yang pertama kali berkenalan dengannya. Akan tetapi, bila kau terus seperti ini, bisa-bisa..." tanggap Merry namun perkataannya disela oleh Khilar.
"Sudah beberapa kali, Tatsuya melindungiku dan juga kalian. Namun karena aku terlalu lemah, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya melihat dia mati tepat di depan mataku!" sela Khilar dengan meluapkan kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
Mendengar perkataan seperti itu, ke empat temannya langsung terdiam. Kazima yang mendengar percakapan mereka, dia mencoba untuk membujuknya.
"Ketahuilah nak, aku juga mengalami hal yang sama denganmu. Namun orang itu jauh lebih berarti karena dia adalah putriku sendiri. Jadi pergilah sekarang dan serahkan semuanya pada kami." bujuk Kazima sambil membandingkan perasaannya.
Perkataan yang Kazima ucapkan, dianggap sebagai penghinaan bagi Khilar. Di dalam pemikirannya, Kazima menganggap dirinya terlalu lemah untuk mengatasi orang yang membunuh Tatsuya, sampai-sampai menyarankannya menyerah.
"Aku menolak perintah yang kau berikan. Meskipun levelku berbeda jauh dengannya, mana mungkin aku akan diam begitu saja tanpa berbuat apapun!" jawab Khilar dengan berteriak, lalu dia mengucapkan kata kunci yang belum pernah dicoba sebelumnya.
"Lightning Union"
Lingkaran sihir mulai terbentuk tepat pada bagian perutnya. Lalu beberapa sambaran petir turun dari langit dan terlihat seperti di serap oleh tubuhnya.
"Zreeezzzz... Zreeezzzz... Zreeezzzz"
Semua orang yang berada di tempat tersebut, sangat terkejut dengan pengucapan kata kunci Khilar, dan tidak menyangka kalau dirinya bisa menggunakan salah satu kata kunci terkuat dari jobs mage.
"Cepat batalkan kata kuncimu itu nak! Bila tidak nyawamu bisa melayang!" pinta Kazima karena mengetahui pengurasan mana poin akan sangat cepat bila menggunakan kata kunci tersebut.
"Asalkan aku bisa membunuhnya, itu lebih dari cukup!" jawab Khilar, sambil melesat dengan cepat menuju Leonard.
"Whooosss"
Ketika jaraknya sudah berdekatan dengan Leonard, dia langsung mengepalkan tangan kanannya, lalu melesatkan sebuah pukulan yang dipenuhi dengan kekuatan petir.
"Buuuukkk"
Pukulannya itu masih belum bisa menembus pertahanan Leonard secara langsung, akan tetapi sambaran petir keluar dari pukulannya dan bercabang mengelilingi pertahan milik Leonard.
"Zreeeezzzzz"
"Uggghhh, dasar bocah tidak tahu diri!" teriak Leonard sambil mengaktifkan serangan laser dari pundaknya, yang ditujukan pada tubuh Khilar.
"Boossshhh"
Dalam sekejap, Khilar menghindari serangan tersebut dengan mundur beberapa meter kebelakang. Namun dia kembali menyerang Leonard dengan cara yang sama, supaya bisa menembus pertahanannya.
"Dasar keras kepala! Kalian bertiga lakukan tugas yang aku berikan, dan percayakan semuanya pada kami." pinta Kazima sambil menoleh kepada mereka bertiga.
"Tapi, Khilar..." ucap Merry, namun perkataannya disela oleh Steven.
"Kami akan melindungi anak keras kepala itu, dan kalian cepatlah pergi dari sini!" sela Steven yang baru pertama kalinya berbicara seperti itu, sambil memberikan kartu Identitas miliknya.
Kemudian Kazima dan Tommy melakukan hal sama, supaya apa yang dikatakan oleh mereka berempat dipercaya oleh anggotanya. Tanpa berpikir panjang, mereka hanya menundukkan setengah dari bagian kepalanya, lalu pergi secepat mungkin untuk memberikan kabar pada orang-orang yang sedang bertarung.
"Mereka sudah pergi, sekarang giliran kita untuk mengurus pengkhianat ini!" lanjut Steven.
"Ini pertama kalinya, aku mendengar ucapanmu seperti itu Steven." ucap Tommy dengan sedikit menertawakannya.
"Ya, aku juga sama." sambung Kazima.
"Ugghhh... Memang ucapanku barusan sangat memalukan, tapi bila tidak berkata seperti itu mereka pasti akan melakukan hal yang sama dengan bocah itu." jawab Steven dengan menyembunyikan rasa malunya.
"Hahahahaha... Aku akhirnya sedikit terhibur dengan perkataanmu barusan, namun kita sudahi bercandanya sampa disini." ajak Kazima dengan kembali serius dalam mengurus masalah di depannya.
"Tidak perlu berterimakasih, karena sudah semestinya kita bersikap seperti itu, terutama sebagai ketua guild besar negara ini." jawab Steven dengan memulai serangannya.
"Siapa bilang aku ingin berterimakasih padamu! Kalau begitu mari kita mulai." ajak Kazima dengan menyarankan untuk bekerja sama dalam menghadapi Leonard.
Steven bersama dengan 10 bayangan yang terlebih dulu dekat Leonard, kini sudah bersiap di posisinya masing-masing, lalu mengucapkan kata kunci serangan secara bersamaan.
"Killer Shadow"
__ADS_1
Sebelas lingkaran sihir mulai terbentuk tepat di hadapan mereka, lalu memunculkan 11 bayangan yang bergerak menuju Leonard.
"Swooosshhh"
Ketika bayangan tersebut berdekatan dengan Leonard, secara tiba-tiba muncul ke atas permukaan tanah lalu merubah wujudnya menjadi sebuah tombak runcing berwarna hitam yang siap menyerangnya.
Menyadari adanya serangan dari berbagai arah, dengan spontan Leonard mengaktifkan roket yang terdapat pada pundaknya, dan di arahkan secara langsung pada 11 tombak runcing milik Steven, guna untuk menghalau serangannya.
"Whooosss"
Sebuah ledakan yang cukup besar terjadi ketika roket-roket tersebut menghantam serangan milik Steven, dan menimbulkan asap hitam yang cukup tebal. Tanpa terduga, Leonard mengaktifkan serangan roket lainnya yang keluar dari dalam asap tebak, dan mengarah pada masing-masing wujud Steven.
"Whooossshh"
"Celaka!" gumam Steven dalam hatinya, yang tidak sempat untuk menghindar.
Secara tiba-tiba, beberapa bongkahan batu melesat ke arah semua roket tersebut, lalu mereka meledak secara beruntun setelah menghantam bongkahan batu tersebut.
"Boomm... Boomm... Boomm..."
"Serahkan masalah pertahanan padakau, kalian fokus saja dalam penyerangan." pinta Tommy sambil mengendalikan bongkahan batu yang berada di sekitarnya.
"Hampir saja aku melupakanmu Tommy, terimakasih." ucap Steven sambil menoleh kepadanya.
"Ughh... Apakah dia itu Steven yang aku kenal?" gumam Tommy dalam hatinya, karena dia merasa kalau sifat Steven benar-benar sudah berubah. "Tidak perlu berterimakasih, karena ini adalah tugasku sebagai tanker." lanjutnya.
"Kalau begitu aku percayakan padamu masalah pertahanan." ucap Kazima sambil memulai serangan, dimulai dari telapak tangan kanannya yang berelemen es.
Lingkaran sihir yang cukup besar mulai terbentuk tepat di atas Leonard dalam ketinggian lebih dari 15 meter. Ratusan tombak es keluar dari dalamnya dan bersiap untuk dilesatkan.
"Hei nak, segera menyingkir dari sana, kalau tidak kau juga akan terkena seranganku!" pinta Kazima pada Khilar, sambil memperingatkannya kalau dia akan melancarkan serangan pada Leonard.
Seketika, Khilar langsung mundur secepat kilat setelah mendengar perkataan seperti itu dari Kazima, dan berdiri tepat di sampingnya. Tanpa banyak bicara Kazima mengarahkan tangan kanannya pada Leonard, lalu ratusan tombak es mulai berjatuhan.
"Whoosss"
Menyadari serangan dari atas langit, Leonard mencoba untuk bergerak dengan cepat, guna menghindari semua serangan tersebut. Akan tetapi, dia sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya, meski menggunakan 100% dari alat pendorongnya.
"Kenapa tidak bergerak? Apakah ada kesalahan dari ciptaan ku ini hah?" gumam Leonard dalam hatinya dengan sangat bingung. "Jangan-jangan ini ulah Steven?" lanjutnya sambil melihat sekelilingnya.
Tanpa disadari, 11 bayangan milik Steven sudah menyatu dengan bayangan robot besar miliknya, yang mengakibatkan dirinya tidak bisa bergerak ataupun berbuat apa-apa.
"Dasar kau Steven brengsek!" teriak Leonard dengan kesal, karena terjatuh dalam jebakannya.
"Hahahaha... Sekuat apapun perisai milikmu, sama sekali tidak dapat melindungi bayangannya sendiri. Padahal kau sudah mengetahui, kalau aku ahli dalam hal ini." jawab Steven dengan sedikit tertawa. "Sekarang matilah!" lanjutnya sambil melihat ratusan tombak es yang mengarah kepadanya dari atas langit.
Secara beruntun, tombak es milik Kazima hancur mengenai perisai kasat mata miliknya. Namun perlahan-lahan, perisai tersebut memunculkan retakan kecil dan lambat laun menjadi semakin besar.
"Kretak... Kretak... Kretak..."
Melihat retakan yang cukup besar, Khilar sedang bersiap untuk memusatkan seluruh kekuatannya pada kepalan tangan kanannya dengan niat menghancurkan perisai tersebut dalam satu kali serangan.
Meskipun hal ini mengurus mana poin sampai jatuh ke angka nol, dia akan tetap melakukannya dan tidak peduli dengan efek sampingnya nanti.
"Zreeezzz"
Setelah mengumpulkan kekuatan elemen petir pada kepalan tangan kanannya, Khilar langsung melesat dengan sangat cepat menghampiri Leonard.
"Swhooossshhh"
"Tidak nak!" panggil Kasima dengan nada tinggi, karena serangannya masih belum selesai. "Dasar bocah sembrono, Tommy lindungi anak itu dari seranganku!" lanjutnya dengan meminta bantuan pada Tommy.
"Cih, sebenarnya aku tidak suka disuruh oleh siapapun, tapi kali ini adalah pengecualian." jawab Tommy dengan kesal, namun dia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Kazima.
Beberapa bongkahan batu melayang mulai bergerak, dan tersusun seperti sebuah atap guna untuk melindungi Khilar dari serangan tombak es milik Kazima.
"Kraakk... Kraakk... Kraakk..."
Sesampainya di dekat Leonard, Khilar langsung melesatkan sebuah pukulan yang dipenuhi dengan kekuatan petir dalam kepalan tangan kanannya.
"Buuuukkkk"
"Hancurlah!" teriak Khilar dengan mengerahkan semua mana poin yang tersisa.
"Zreeeezzz"
Untuk kedua kalinya, sambaran petir mulai menyebar ke seluruh perisai milik Leonard, dengan daya tinggi sehingga perisainya hancur berkeping-keping karena tidak bisa lagi menahan serangan lain.
"Praaankkkk"
"Tidak, tidak mungkin ini terjadi! Bagaimana bocah yang levelnya lebih jauh dariku dapat melakukan hal ini!" ucap Leonard dengan tidak percaya akan kelebihan yang dimiliki oleh Khilar.
"Akhinya, aku... Aku berhasil... Aku ber-hasil..." ucap Khilar dengan kata terputus-putus, lalu kedua matanya tertutup karena mana poinnya telah habis dan terjatuh dari ketinggian lebih dari 5 meter. Tanpa terduga, Kazima melesat dari tempatnya untuk menangkap Khilar.
__ADS_1
"Kreepp"
"Anak ini, sangat menarik. Aku merasa ingin melatihnya secara pribadi." gumam Kazima dalam hatinya, sambil membaringkan Khilar di tempat aman. "Sekarang saatnya untuk mengakhiri seorang penghianat!" lanjutnya sambil bersiap untuk serangan penuh.
Dua buah lingkaran sihir, mulai terbentuk tepat di depan masing-masing telapak tangan miliknya. Lalu kedua lingkaran sihir tersebut menyatu dan menciptakan sebuah cahaya yang cukup menyilaukan.
"Criinggg"
Angin yang cukup kencang mulai berputar-putar di sekitar cahaya tersebut. Setelah Kazima merasa cukup mengumpulkan energinya, dia langsung melepaskan kekuatannya sekaligus dan di arahkan tepat pada bagian perut robot besar tersebut.
"Booosssshhhh"
Serangan dari gabungan kedua elemen sangatlah dahsyat, dan membuat reruntuhan bangunan hancur dalam jalurnya. Leonard yang masih berada di dalam robotnya sama sekali tidak bisa bergerak, karena bayangan milik Steven berhasil masuk ke dalam celah-celah dan membelenggunya.
"Baaammm"
Hantaman dari serangan milik Kazima, membuat hembusan angin sangat besar, sehingga merobohkan sebagian bangunan yang berada di sekitarnya. Puing-puing berjatuhan kemana-mana, namun dengan sigap Tommy melindungi semua orang yang berada di sekitarnya.
"Arrrggghhh... Terkutuklah kalian semua! Asal kalian tahu, dewaku tidak akan tinggal diam setelah melihat apa yang terjadi padaku!" teriak Leonard dari dalam robot besarnya, sebelum meledak dan hancur berkeping-keping.
"Booooommmm"
Ledakan tersebut terdengar beberapa puluh km dari tempatnya, dan semua orang yang sedang bertarung langsung berhenti. Hempasan angin yang dahsyat kembali terjadi, hingga menghempaskan sebagian orang sampai mundur beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Ughhh, sungguh kekuatan yang luar biasa! Apakah dia melakukan hal gila lagi?" gumam Rena dalam hatinya yang menyangka kalau Tatsuya melakukan semua ini.
Beberapa detik setelah hembusan angin terhenti, Rena kembali memberikan perintah untuk menyerang. Akan tetapi ada seseorang berteriak dari kejauhan, yang meminta menghentikan pertarungan atas nama guild besar sesuai dengan yang diperintahkan oleh Kazima.
"Semua berhenti bertarung!" teriak Merry sambil berlari mendekati kedua pihak. "Hah... Hah... Hah... Sesuai dengan perintah ketiga ketua guild, secara pribadi mereka meminta untuk menghentikan pertarungan sekarang juga!" lanjutnya dengan nafas terengah-engah.
"Atas dasar apa kau berkata seperti itu?" tanya Rena dengan mengerutkan dahinya.
"Semua... Semua ini adalah kesalahpahaman. Ketua guild Red Viver, dia... Dia adalah pengkhianat sebenarnya!" jawab Merry dengan gugup, dan belum menceritakan kalau Tatsuya terbunuh olehnya.
Semua orang sangat terkejut, setelah mendengar penjelasan dari Merry seperti itu. Mereka semua masih belum percaya dengan perkataannya, sehingga wakil ketua guild Golden Tiger memberanikan diri mendekatinya.
"Hei bocah! Jangan berkata yang tidak jelas? Apa buktinya, hah?" tanya wakil ketua guild dari Golden Tiger.
"Ini adalah buktinya!" jawab Merry sambil memperlihatkan kartu Identitas milik ketua guild Golden Tiger.
Wakil ketua guild tersebut, benar-benar terkejut setelah melihat kalau kartu Identitas itu asli milik ketua guild mereka yaitu Tommy Quanzi. Tanpa berpikir panjang, wakil ketua guild tersebut memerintahkan seluruh anggotanya untuk berhenti menyerang, dan mundur sembari mengurus yang terluka.
Di tempat lain juga, Kimnung, Zhusan dan Shenji melakukan hal yang sama seperti Merry, sehingga semua orang berhenti menyerang sambil mundur mengurusi orang-orang yang terluka.
Setelah melakukan hal itu, mereka bertiga langsung berkumpul di tempat Merry sambil beristirahat sejenak, dan menenangkan hati serta pikirannya.
"Kenapa raut wajah kalian seperti itu? Padahal kalian sudah sangat membantu kami dalam menangani mereka semua." tanya Rena sambil menghampiri mereka bertiga.
"Hei, wajar saja kan bila mereka beraut wajah seperti itu, karena ini pertama kalinya bagi mereka masuk ke dalam pertarungan antar sesama manusia." sambung Aurel.
"Oh ya, kalian ini kan temannya Tatsuya. Lalu dimana dia sekarang? Apakah dia langsung masuk ke dalam gedung untuk menemui kekasihnya?" tanya Rena pada mereka bertiga.
Detak jantung mereka bertiga berdebar sangat kencang, ketika diajukan pertanyaan dari Rena. Mereka terdiam sambil menundukkan kepalanya, dan bingung harus bagaimana menjawabnya.
"Tatsuya... Dia... Dia..." jawab Merry dengan perkataan terputus-putus, lalu berhenti dan menangis kembali.
"Kenapa kamu menangis? Apakah ada yang salah dengan pertanyanku?" tanya Rena dengan sangat penasaran.
"Bukan... Bukan itu masalahnya." jawab Shenji dengan singkat dan tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Lantas kenapa kalian bersikap seperti itu? Apakah terjadi sesuatu padanya?" tanya Rena dengan perasaan tidak tenang.
"Ta-Tatsuya... Dia telah mati bersama dengan Mikha, dan pelakunya adalah pengkhianat itu..." jawab Kimnung dengan menahan rasa sedihnya.
Mendengar jawaban seperti itu, tubuh Rena mulai lemas secara tiba-tiba. Dia masih belum percaya dengan perkataannya, dan tanpa sadar menarik baju Kimnung.
"Kau jangan asal bicara? Bagaimana mungkin dia mati begitu saja?" tanya Rena dengan nada tinggi, sambil memegang baju Kimnung sekuat tenaga.
"Tenanglah Rena, kita tanyakan apa yang terjadi secara baik-baik pada mereka." bujuk Aurel sambil memegang tangannya.
"Singkirkan tanganmu dariku Aurel!" pinta Rena dengan raut wajah kesal.
"Memang sangat sulit untuk menerima kenyataan, tapi hal itu terjadi tepat di depan mata kami semua. Bahkan tuan Kazima selaku ayahnya Mikha melihatnya juga, jadi harus bagaimana lagi aku harus mengatakannya?" ucap Shenji dengan nada kesal serta memasang wajah sedih.
Seketika Rena melepaskan genggaman tangannya, lalu dia terjatuh dan menahan berat badannya menggunakan kedua tangannya. Air matanya mulai menetes membasahi kedua pipinya, lalu terjatuh pada permukaan tanah.
"Clakk"
"Kenapa? Kenapa aku sangat sedih? Padahal dia itu orang yang sangat menyebalkan. Tapi kenapa hatiku sakit, setelah mendengar kabar kalau dirinya sudah mati?" gumam Rena dalam hatinya, sambil berusaha menghentikan tangisannya. Namun tangisannya tidak kunjung berhenti, karena perasaan yang dimilikinya sangat nyata terhadap Tatsuya.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
__ADS_1
...(Untuk sementara update episode terbaru masih belum bisa ditentukan. Namun satu hal yang pasti, setiap minggu bakalan ada episode baru pada pukul 21.00 WIB. Besar keinginan setiap hari, namun Author juga memiliki kesibukan tersendiri di RL, jadi tolong dimaklumi. 🙏)...
...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini serta saran dan bantuannya agar lebih semangat untuk terus up episode terbaru. Pendapat anda sangat berharga bagi pemula seperti saya....